NovelToon NovelToon
Dimanjakan Oleh Cintanya

Dimanjakan Oleh Cintanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.

​Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.

​"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian sang penguasa

Sementara mobil mewah Rayyan membelah jalanan kota dengan rencana yang sudah tersusun rapi, di sudut lain kota ini, dunia seakan berhenti berputar bagi Aira.

​Di dalam sebuah kamar tidur kecil yang terletak di bagian paling belakang rumah keluarganya—kamar yang jauh berbeda dari kamar mewah milik saudara tirinya—Aira masih meringkuk di atas kasur. Dia menarik selimut tebalnya hingga ke dagu, menyembunyikan tubuhnya yang gemetar. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak pilu di pipinya yang pucat.

​Pagi ini, Aira memilih untuk membolos dari jadwal kuliah Akuntansinya. Dia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bangkit, apalagi berjalan menuju kampus. Setiap kali dia mencoba menggerakkan kakinya, rasa nyeri yang hebat dan asing di bagian bawah tubuhnya langsung menjalar, memaksanya untuk kembali terbaring menahan sakit.

​Rasa perih itu menjadi bukti nyata atas apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Malam itu adalah pengalaman pertama bagi Aira. Kesucian yang selama ini dijaganya dengan penuh kehati-hatian, telah renggut dalam satu malam penuh ketidaksengajaan di kamar nomor 309.

​"Kenapa mereka jahat sama aku..." bisik Aira lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Ingatannya berputar pada wajah teman-teman kampusnya yang tertawa saat memberinya minuman semalam. Mereka sengaja menjebaknya. Aira tahu mereka ingin mencelakakannya, tetapi ingatan selanjutnya justru membuat jantung Aira berdegup kencang karena takut sekaligus bingung.

​Dia salah memasuki kamar. Di dalam kegelapan itu, dia tidak menemukan preman-preman yang berniat jahat padanya, melainkan seorang pria asing dengan tubuh tegap dan aroma maskulin yang begitu kuat. Pria yang semalam merenggut seluruh dunianya dengan bisikan serak yang penuh gairah namun terasa begitu dominan. Aira tidak ingat wajah pria itu dengan jelas karena kamar yang terlalu gelap dan kesadarannya yang terenggut alkohol, namun dia ingat betul bagaimana cengkeraman tangan pria itu yang menyelamatkannya sekaligus menghancurkannya dalam waktu yang bersamaan.

​Tok! Tok! Tok!

​"Aira! Kamu malas-malasan lagi?! Ini sudah jam berapa? Cepat keluar dan cuci baju-baju kakakmu!"

​Suara gedoran pintu yang keras disertai teriakan melengking dari ibu tirinya membuyarkan lamunan Aira. Itu adalah makanan sehari-harinya di rumah ini. Sejak ayahnya sibuk dengan posisinya di perusahaan cabang Wijaya Group, rumah ini sepenuhnya dikuasai oleh ibu dan saudara tiri Aira. Aira selalu menjadi pihak yang kalah, yang selalu disalahkan atas segala hal.

​Aira menggigit bibir bawahnya, menahan ringisan perih di tubuhnya agar tidak terdengar sampai ke luar kamar. "I-iya, Tante... sebentar lagi Aira keluar," jawabnya dengan suara bergetar, berusaha menahan tangis.

​Di bawah selimutnya, Aira hanya bisa memeluk lututnya sendiri. Dia merasa sangat kotor, hancur, dan sendirian. Dia tidak tahu siapa pria yang menidurinya semalam, dan dia hanya bisa berdoa dalam hati agar jalannya tidak pernah bersilang lagi dengan pria asing yang menakutkan namun memikat di kelab malam itu.

​Aira tidak pernah tahu, bahwa pria "asing" yang sangat ingin dia lupakan itu adalah Rayyan wijaya—pemilik tunggal dari tempat ayahnya mencari nafkah, dan seseorang yang saat ini sedang mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk menjemput Aira dari penderitaannya.

Layar ponsel di atas meja kerja kayu jati yang mewah itu menyala, memecah keheningan ruang kerja utama CEO Wijaya Group. Rayyan Wijaya baru saja menyelesaikan tanda tangan pada beberapa dokumen penting ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa.

​"Pak Rayyan, ada laporan dari anak buah yang Anda utus ke kampus Nona Aira," ujar sang asisten sambil membungkuk hormat.

​Rayyan meletakkan pena mahalnya, lalu bersandar pada kursi kebesarannya. Matanya menatap asistennya dengan pandangan tajam yang menuntut informasi instan. "Katankan."

​"Jadwal kuliah Nona Aira seharusnya sudah dimulai sejak pagi tadi, Pak. Namun, menurut keterangan dari beberapa teman sekelasnya, Nona Aira tidak hadir. Dia mengirimkan pesan izin tidak masuk kuliah dengan alasan sakit."

​Mendengar kata sakit, rahang tegas Rayyan langsung mengeras. Sorot matanya yang dingin seketika berubah menjadi penuh kilatan emosi yang sulit diartikan.

​Rayyan tentu tahu persis apa penyebab "sakit" yang dialami gadis berusia 20 tahun itu. Bayangan tentang bagaimana kasarnya efek obat bius semalam membuat Rayyan bertindak di luar kendali, ditambah dengan fakta bahwa itu adalah malam pertama bagi Aira, membuat rasa bersalah—dan kepemilikan yang asing—kembali bergejolak di dada sang CEO terkaya.

​"Sakit, ya..." gumam Rayyan dengan suara rendah yang terdengar berbahaya.

​Dia tahu Aira pasti sedang ketakutan, kesakitan, dan sendirian di rumahnya. Apalagi mengingat profil Aira sebagai anak broken home yang selalu ditindas oleh ibu dan saudara tirinya, Rayyan bisa membayangkan bahwa gadis polos itu tidak akan mendapatkan perawatan yang layak di rumah tersebut. Bisa jadi, dia malah dipaksa bekerja di saat tubuhnya sedang tidak berdaya.

​Rayyan berdiri dari kursi kebesarannya, mengancingkan jas hitamnya dengan gerakan cepat dan berwibawa. Aura dominannya langsung memenuhi ruangan.

​"Siapkan mobil," perintah Rayyan mutlak kepada asistennya.

​Asistennya tertegun sejenak. "Maaf, Pak, tapi tiga puluh menit lagi Anda ada rapat koordinasi dengan para direksi perusahaan cabang—termasuk ayah dari Nona Aira."

​Rayyan menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh dengan senyum tipis yang terasa dingin. "Undur rapatnya sampai sore ini. Atau kalau perlu, batalkan. Ada hal yang jauh lebih mendesak yang harus saya urus sekarang."

​Rayyan tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri kondisi gadis vanila yang telah salah memasuki kamarnya semalam. Dia akan mendatangi rumah Aira, tempat di mana gadis itu selalu kalah, dan menunjukkan pada dunia bahwa mulai hari ini, Aira berada di bawah perlindungan penuh seorang Rayyan Wijaya.

1
Adinda
panggil itu ayang beb, honey, atau mas begitu Aira
Brenda
akhirnya 😄
Ryuu
cepet updateeee
Ryuu
👍
beybi T.Halim
aira payah.,🙈seharusnya dia faham apa yg terbaik untuk dirinya,yg punya suami penguasa bisnis, kesel lah akhirnya babynya jadi korban
Ryuu
Huhhh kerenn bgt
Ryuu
Baguss nggk ngebosenin sejauh ini
Ryuu
Keren bgt thor ceritanyaa
beybi T.Halim
🤭🤭hedeh..berbunga2 kertas tuu...dah bilang cinta aja susah bener lahh😁
beybi T.Halim
masa panggil nama?.,panggil mas kek apa daddy. kan romantis..sekalian jagiya lah🤭
beybi T.Halim
asek...ketahuan deh..lagi baby boom
beybi T.Halim
ada adegan pingsan gak yaa.,br ketahuan aira hamil,kok aku nunggu2 pov kepajikan seorang rayyan wijaya😁
beybi T.Halim
yaa semoga gak ada drama ulat2 lah br terkendali semua keromatisan sang penguasa🤭
beybi T.Halim
kesini dl...suka deh cerita romantis spek2 daddy 🤭😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!