Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 2 –Suara yang Memikat Pandangan
Suara tangisan anak kecil itu terus terdengar, makin lama makin jelas seolah pemiliknya bergerak mendekat perlahan dari balik kabut tebal. Nada suaranya terasa sangat asli, penuh kesedihan dan ketakutan yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa iba tanpa sadar. Namun Arga tetap berdiri diam di tempat, matanya menyipit mengamati sekeliling dengan waspada, tangannya masih menggenggam erat gagang pisau pusaka di pinggang dan kantong berisi garam di saku bajunya.
Ia mengingat pesan Kakek Wito berulang kali di dalam hati: “Mereka tidak akan menyerang secara kasar seperti binatang buas. Cara paling ampuh mereka adalah memainkan perasaan manusia. Begitu hatimu tergugah rasa kasihan, penasaran, atau marah, saat itulah celah terbuka dan mereka bisa masuk menguasai akal sehatmu.”
Tangisan itu semakin keras, disertai suara terisak yang terputus-putus. Dari balik gumpalan kabut yang bergerak pelan, mulai terlihat sosok kecil yang berjalan terhuyung-huyung. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa, mengenakan baju kurung berwarna putih yang sudah kotor dan basah kuyup, rambutnya panjang menjuntai menutupi sebagian wajah, dan kakinya telanjang menyentuh tanah yang becek.
“Pak… Tuan… tolong saya… Saya tidak bisa pulang… Tempat ini gelap dan dingin…” seru suara anak itu sambil terus menangis, tangannya menjulur ke depan seolah ingin meminta bantuan.
Kalau ini terjadi di tempat lain dan waktu yang wajar, Arga pasti sudah berlari mendekat untuk menolong. Tapi di sini, di tengah tanah kuburan lama yang dilarang ini, nalurinya memberi peringatan keras. Ia melihat lebih teliti. Langkah kaki anak itu terlihat aneh—kakinya tidak benar-benar menginjak tanah sepenuhnya, melainkan melayang sedikit di atas permukaan, meninggalkan jejak yang samar dan segera tertutup kabut begitu ia bergerak. Bau yang dibawanya pun berbeda dari bau anak biasa; ada bau tanah basah yang bercampur dengan aroma kapur dan sesuatu yang membusuk, semakin terasa tajam saat sosok itu mendekat.
“Siapa kau? Dan mengapa ada di tempat terlarang ini?” tanya Arga dengan suara tegas, tidak menunjukkan rasa takut maupun iba, hanya kewaspadaan murni. Ia tidak melangkah maju, juga tidak mundur sedikit pun.
Sosok kecil itu berhenti beberapa meter di hadapannya. Tangisannya tiba-tiba terhenti seketika, terlalu tiba-tiba hingga terasa janggal. Suasana menjadi sunyi kembali, hanya terdengar desiran angin yang berhembus pelan melewati pepohonan di kejauhan. Rambut panjang itu perlahan terangkat tertiup angin, memperlihatkan wajah yang seharusnya membuat siapa pun terenyuh—namun justru membuat darah Arga terasa membeku.
Wajah itu tidak memiliki mata, hidung, maupun mulut yang jelas. Hanya permukaan kulit yang pucat keabu-abuan, halus seperti tanah yang dipadatkan, tanpa lekukan apa pun. Namun di tempat mata seharusnya berada, terlihat dua titik cahaya redup berwarna putih pucat yang menyala perlahan, seolah bara yang hampir padam.
“Kau tidak kasihan melihatku menderita di sini?” suara itu keluar dari udara, bukan dari mulut yang tidak ada. Nadanya berubah drastis—tidak lagi lirih seperti anak kecil, melainkan dalam, berat, dan bergema di dalam kepala Arga seolah berbicara langsung ke pikirannya. “Selama puluhan tahun kami terperangkap di sini, tidak ada yang berani datang, tidak ada yang mau mendengar keluh kesah kami. Kau datang membawa cahaya dan benda suci… Apakah kau datang untuk membebaskan kami, atau hanya akan menambah satu jiwa lagi di antara gundukan ini?”
Arga menarik napas panjang, menguatkan hatinya. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan salah satu wujud dari kekuatan yang menguasai tempat ini—bukan makhluk tunggal, melainkan kumpulan energi jiwa yang mati dalam ketidakadilan dan rasa sakit, menyatu menjadi satu kekuatan yang memiliki akal untuk menipu.
“Aku datang bukan untuk menyakiti atau menambah penderitaan kalian,” jawab Arga dengan tenang, suaranya tidak gemetar meski punggungnya terasa dingin merinding. “Aku datang hanya untuk memastikan batas yang sudah disepakati dulu tetap terjaga. Kalian tinggal di wilayah ini, dan kami tinggal di luar sana. Selama tidak ada gangguan, tidak ada alasan untuk saling mengganggu.”
Sosok tanpa wajah itu perlahan mengangkat kedua tangannya yang kurus dan panjang, jari-jarinya ramping dengan ujung yang runcing seperti akar pohon. Seketika, dari sekeliling gundukan tanah di sekitar mereka, muncul suara berdesir yang keras. Tanah di permukaannya terangkat sedikit, dan dari celah-celahnya keluar asap putih tipis yang segera menyatu menjadi kabut yang lebih pekat lagi, menyelimuti tubuh Arga hingga pandangannya menjadi kabur.
“Kau pikir batas itu cukup untuk menahan kami?” bisik banyak suara serentak yang datang dari segala arah, memenuhi udara. “Batas itu sudah mulai rapuh sejak hujan panjang ini. Air hujan menghapus tanda-tanda perlindungan, tanah melunak dan membuka jalan bagi kami untuk melangkah keluar. Kami lelah terkurung di tempat yang gelap dan sepi ini… Kami ingin merasakan hangatnya sinar matahari, mendengar tawa anak-anak, menghirup udara yang bebas…”
Arga segera teringat pesan Kakek Wito. Dengan gerakan cepat namun tenang, ia merogoh kantongnya, mengambil segenggam garam yang sudah dicampur abu tungku, lalu melambungkannya ke udara sambil melafalkan doa yang diajarkan lelaki tua itu. Begitu butiran garam itu menyentuh kabut, terdengar suara mendesis seperti air yang dituang ke bara api, dan kabut yang tebal itu perlahan menyurut, membuka kembali pandangannya. Sosok tanpa wajah itu juga mundur selangkah, seolah terbakar oleh butiran itu, dan kembali bersembunyi di balik gumpalan kabut yang tersisa.
Namun perlawanan itu baru saja dimulai. Dari arah lain, di balik gundukan tanah yang lebih besar dan terlihat lebih tua, muncul wujud lain yang lebih besar dan mengerikan. Tingginya hampir dua meter, tubuhnya dibalut kain kafan yang sudah usang dan berlumuran tanah serta lumut, kakinya terbungkus akar pohon yang menjalar masuk ke dalam tanah seolah menyatu dengan bumi. Kepalanya menunduk rendah, rambutnya panjang dan kusut menjuntai menutupi seluruh bagian atas tubuhnya, namun saat ia mengangkat kepalanya perlahan, Arga melihat wajah yang sudah membusuk, kulitnya mengelupas memperlihatkan tulang pipi yang menyembul, dan matanya kosong menatap lurus ke arahnya dengan tatapan yang penuh amarah terpendam.
Itulah yang disebut Kakek Wito sebagai Jelmaan Tanah, penguasa tempat ini yang menjadi inti dari semua gangguan yang terjadi. Ia adalah wujud terkumpulnya seluruh energi negatif dari ratusan jiwa yang meninggal mendadak dalam penderitaan, serta kemarahan alam yang merasa diusik dan tidak dihormati.
“Orang-orang di luar sana melupakan kami,” suara Jelmaan Tanah itu terdengar sangat berat, membuat tanah di sekitarnya sedikit bergetar setiap kali ia berbicara. “Mereka menutup jalan, melarang orang datang, dan berpikir dengan melupakan keberadaan kami maka semuanya akan selesai. Tapi luka yang tidak diobati tidak akan sembuh, ia hanya akan membusuk dan menyebarkan racunnya. Tanda larangan yang mereka buat sudah lemah… dan kau yang datang ke sini akan menjadi saksi, atau menjadi korban pertama yang mengingatkan mereka.”
Arga mundur perlahan selangkah demi selangkah, tetap menjaga jarak aman, sementara tangannya siap mencabut pisau pusaka yang konon terbuat dari besi tua yang sudah diredam dan diberi doa turun-temurun. Ia tahu senjata itu tidak bisa membunuh makhluk ini selamanya, karena ia bukanlah makhluk yang hidup dan bernyawa seperti manusia biasa. Namun ia bisa mengusirnya sementara waktu dan menciptakan ruang untuk memperkuat kembali tanda pelindung yang ada di batas wilayah.
“Kalian memiliki alasan untuk marah dan merasa terasing, aku mengerti itu,” kata Arga, mencoba berbicara dengan nada yang tidak menantang namun tetap tegas. “Tapi melukai orang-orang yang tidak bersalah, membuat mereka sakit dan takut, bukanlah jalan untuk menyelesaikan rasa sakit yang kalian rasakan. Jika batas ini tetap terjaga, maka tidak akan ada gangguan dari kedua belah pihak. Aku datang bukan untuk berperang, tapi untuk memperbaiki apa yang mulai rusak.”
Jelmaan Tanah itu terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan ucapan itu, namun amarahnya tidak mudah padam. Ia mengangkat kedua tangannya yang besar, dan seketika gundukan-gundukan tanah di sekeliling Arga mulai bergerak. Tanah di permukaannya retak-retak, dan dari celah itu muncul banyak tangan kurus dan kotor, menjulur keluar seolah ingin menangkap kaki dan pergelangan kakinya untuk menahannya agar tidak bisa bergerak.
Arga segera bertindak cepat. Ia mencabut pisau pusakanya, mengayunkannya melingkar di sekeliling tubuhnya, dan setiap kali ujung besi itu menyentuh udara di dekat tangan-tangan yang menjulur itu, terdengar suara mendesis dan tangan-tangan itu segera ditarik masuk kembali ke dalam tanah seolah terbakar. Sambil terus melawan, ia meraih seikat daun sirih dan kemenyan yang dibawanya, menyalakannya dengan korek api, lalu melambungkan asapnya ke segala arah. Asap yang keluar berwarna agak kekuningan dan beraroma tajam, membuat kabut semakin menyurut dan menekan gerakan Jelmaan Tanah itu agar tidak mendekat lebih jauh.
“Kau hanya bisa menahan sesaat saja, manusia!” teriak Jelmaan Tanah itu dengan suara menggelegar. “Begitu kekuatan benda-benda itu habis, kami akan melangkah keluar dan menutupi seluruh desa dengan kabut ini, membawa serta penyakit dan kematian seperti yang terjadi puluhan tahun yang lalu!”
Arga melihat sekelilingnya dengan pandangan yang lebih jernih sekarang. Di tengah hamparan tanah itu, ia melihat sebuah batu besar yang tertanam tegak, tertutup lumut tebal dan akar-akar pohon yang menjalar melilitnya. Itu pasti adalah tanda utama yang menjadi pusat perlindungan dan batas wilayah ini. Jika ia bisa mencapai batu itu dan membersihkan serta memperkuatnya, maka kekuatan yang menahan Jelmaan Tanah dan jiwa-jiwa terkurung itu akan kembali kuat seperti semula.
Namun jarak antara dirinya dan batu itu masih cukup jauh, dan di sepanjang jalan itu dipenuhi gundukan tanah yang setiap saat bisa mengeluarkan tangan-tangan penahan atau wujud-wujud penipu yang berusaha mengganggu pikirannya. Ia menarik napas panjang, memantapkan hati, lalu melangkah maju dengan langkah yang pasti, siap menghadapi segala rintangan yang ada di depannya, menyadari bahwa perjalanannya baru saja memasuki bagian yang paling berbahaya.