Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 16
"Demi apapun,aku merasa itu bukan sebentuk perhatian biasa...."
Untuk kesekian kalinya,Najwa Aulia kembali terngiang ucapan kamila kemarin di kantor.Dan untuk kesekian kalinya juga ia menahan nafas,untuk mengusir pemikiran tentang hal itu,yang mulai sering mengganggunya.
"Kau baik-baik saja?" Nafisa menepuk lembut pundaknya.Najwa tersenyum dan mengangguk.Nafisa duduk di sampingnya,berselonjor sebagaimana dirinya.Menikmati langit sore dari teras asrama.
"Aku masih kepikiran ucapan Kamila kemarin". Nafisa menghela nafas "kamu tau,Kalau Kamila punya rasa sama Ra Adlan?"
"..."Najwa menggeleng menatap Nafisa dengan terlonjak.
"Dia berani menilai seperti itu pasti meliputi dua hal".
"Apa?"
"Subjectif dan Objectif...."
" Subjectif,orang yang menyukai seseorang cenderung lebih peka terhadap orang yang di sukainya.Biasanya ia mampu melihat dengan lebih jeli bahkan terhadap hal yang kecil sekalipun.
Objectif.berdasarkan apa yang ia lihat.Bukti yang ada".Nafisa menjelaskan
"Menurutku itu bukan sebuah bukti ... bukti seperti apa yang Kamila bilang" sahut Najwa.
"Aku juga berpikir begitu Najwa,tapi di lain sisi aku juga melihat hal yang lain."
"Apa?"
"Aku cukup tau bagaimana Ra Adlan,kami hampir se umuran,walau bukan teman sepermainan." Nafisa tergelak, ia memang alumni Al Falah.Rumahnya juga tak jauh dari pesantren.Pasti ia cukup tau dengan tumbuh kembang putra sulung Kyai Umar Fanani itu walaupun tak sepenuhnya tau,seperti yang di ucapkannya barusan.
Dia itu,Ibrahim Adlan maksudnya,adalah seorang yang sangat membatasi diri bila berkaitan dengan non muhrim,bahkan terhadap yang masih family perempuan,bicara seperlunya,bila berkomunikasi juga jarang menatap lawan bicaranya bila perempuan maksudnya.Tapi dia ramah pada siapapun.Sudah begitu sikapnya sejak akil baligh.Atau mungkin sejak kecil.
"Yang di lakukannya padaku tidak berlebihan,tidak perlu menjadi pembahasan panjang." Najwa menatap Nafisa.gadis manis itu mengangguk.
"Memang tidak berlebihan,namun agak di luar kebiasaan.Karna itulah,kenapa jadi pertanyaan"jawab Nafisa dengan cukup puitis
"Aku minta,kita tidak perlu membicarakan ini Fisa,
ini hanya kemungkinan kan,semacam tebak tebakan.Sungguh aku tidak mau berpikir lain terhadap Ra Adlan." Najwa menatap Nafisa dengan seksama.
Jujur.pikirannya mulai terganggu,dan ia merasa masih cukup waras untuk menjerumuskan diri dalam dugaan tak berdasar yang hanya akan merugikan dirinya sendiri saja.
"Kalaupun memang benar,apa yang di lakukan Ra Adlan padaku,tidak pernah dilakukannya pada orang lain,aku anggap itu keberuntunganku mendapatkan perlakuan demikian dari putra orang shalih seperti beliau" katanya lagi.
"Baiklah,aku paham" Nafisa mengusap pundak gadis ayu itu pelan seraya senyum.
"Tapi Bagaimana jika seandainya,seandainya ya..Ra Adlan memang menyukaimu?" nafisa masih penasaran.Ia merasa permintaan Najwa itu adalah karna gadis ayu itu ingin menghindar bukan karna ia tak suka jika hal itu adalah benar.
"Aku tidak pernah membayangkan hal itu,jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu" jawabnya.
"Keluargaku sudah memutuskan untuk menerima lamaran itu .... " ujarnya kemudian dengan suara lirih.
"Benarkah??" Nafisa sedikit terlonjak.
"Ia.besok salah satu perwakilan keluarga akan memberitaukannya pada Bu Nyai"
"Dan kau sendiri bagaimana Najwa?"
"Doakan aku ya ...!!" Najwa menatap sendu ke arah Nafisa.Sepertinya ia belum terlalu yaqin.
"Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
****
"Sudah bangun Mas?" Ning Alisya tersenyum menatap kakaknya yang nampak duduk santai di balkon kamarnya seraya menyesap secangkir kopi susu.
"Hmmm" Ibrahim Adlan menelengkan kepalanya sedikit, ke arah adiknya yang main masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Capek banget ya Mas,aku sudah tiga kali ke sini,Mas Adlan masih tidur saja" Alisya duduk di samping kakaknya.
"Ia.aku gak istirahat sama sekali dalam perjalanan,pingin cepat sampai rumah".
Berjam-jam menempuh perjalanan dari pesantrennya di Tuban dengan menyetir mobilnya sendiri membuatnya cukup kelelahan,hingga ia tertidur begitu saja begitu sampai rumah,tak terasa waktu sudah sore.
"Pasti,Mas kangen aku". Alisya mengkedip-kedipkan
matanya menatap wajah kakaknya yang masih tetap tampan saja,meski baru bangun tidur gitu.
" Salah satunya." Ibrahim Adlan mencubit kecil ujung hidung mancung adiknya itu.
" Lalu,yang lainnya?"
"Rahasia."
"Rahasia apa Mas?" Alisya menatap penasaran.
"Namanya rahasia,siapapun gak boleh tau."
"Jangan-jangan,Mas Adlan kangen salah satu santriwati ya"
"Sembarangan..." Ibrahim Adlan mengkibas kibaskan tangannya.
"Mas,lusa aku mau balik ke pesantren,Mas Adlan yang antar ya". Alisya sedikit merajuk,Mengoyang-goyangkan lengan kakaknya itu.
"Bawa sopir!,biar Mas gak capek nyetir sendiri." katanya lagi masih dengan model merajuknya. "ya,Mas??"
"Bukannya kamu harus balik pesantren hari ini?"
"Di tunda.Aba dan Umi ada acara."
"Acara apa ... oya,Aba dan Ummi kemana,aku tidak lihat mereka?"
"Pergi kerumah Mbak Najwa Aulia".
" Ada keperluan apa?"
"Lamaran "
"Lamaran apa?"
" Aduhh Mas Adlan gak tau ya!?"
Ibrahim Adlan menggeleng seraya menyesap kopinya lagi sedikit demi sedikit.
"Mbak Najwa tunangan sama mas Irfan Zidni,kakak sepupu kita."
Uhuk..pemuda tampan itu tersedak,tak hanya itu gelas ditangannya lepas begitu saja dan jatuh ke lantai.Isinya tumpah membasahi kain sarungnya.
"Aduhh Mas kok sampai tumpah sihh?" Alisya menatap kakaknya yang nampak terbengong,seperti tak menyadari pakaiannya yang basah oleh tumpahan kopi.
" Mas gak apa apa?" Alisya menggoyangkan lengan kakaknya itu menatap hawatir.
Ibrahim Adlan menggeleng dan segera mengkibas kibaskan pakaiannya yang basah .
"Mas Adlan kok sampai kaget gitu sihh?" tanya Alisya sambil memungut gelas yang jatuh dilantai,untungnya tidak pecah.
Tanpa menjawab pertanyaan Alisya,
Ibrahim Adlan bangkit menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadinya itu.Alisya memandangi kepergian kakaknya seraya menghela nafas.
" kok mas adlan jadi anehh?" batinnya.
***
"Aku perlu mengucapkan terima kasih yang tak terhingga,yang tak terbatas padamu."kata Irfan Zidni.
Meski tak melihat wajah kakak sepupunya itu,Ibrahim Adlan dapat menilai dari suaranya kalau ia tengah senang sekali ketika mengucapkan kalimat tersebut.
"Terima kasih untuk apa Mas?"
"Karna kau telah menjadi perantara jalan takdirku dik".
" Waduh apa ini maksudnya Mas?"
"Ia.jadi perantara untukku menemukan jodohku ... jodoh.?? ia .aku yaqin ia adalah jodohku." Irfan Zidni sembari bermonolog.Suaranya terdengar penuh penekanan dan juga semangat secara bersamaan.
"Jadi,Mas irfan?"
"Ia,,aku sudah menemukan pilihan hatiku sendiri dik Adlan".
"Syukurlahh, berarti gak perlu lagi ada drama perjodohan ya?"
"Begitulah" Irfan Zidni terkekeh kedengarannya.
"Apa salah satu keluarga besar Al Galah? ". Ibrahim Adlan langsung dapat menebak.Karna ketika Irfan Zidni berkunjung ke Al Falah beberapa waktu lalu,
sepupunya itu sempat mengungkapkan harapannya
untuk bisa berjodoh dengan salah satu keluarga besar Al Falah.
Yang di maksud keluarga besar Al Falah,termasuk di dalamnya,santri ,pengajar,pengurus,maupun memang keluarga masyayikh Al Falah sendiri.
"Tepat." Sahut Irfan Zidni
"Alhamdulillahh." Ibrahim Adlan berseru senang.
"Lalu kapan Mas?" tanya nya lagi.
"Insha-Allah secepatnya,kan kalau sudah menemukan yang tepat,gak boleh berlama-lama untuk menuju halal." sahut Irfan Zidni penuh semangat,kedengarannya.
" Wahh ada yang lagi berbahagia nihh"
"Ia,setidaknya sekarang aku sudah terbebas dari ancaman akan di langkahi oleh adik sepupuku yang tampan, yang dari usia belia saja sudah sering di jodoh-jodohkan.". sahut Irfan Zidni.
sadar kalau dirinya yang di maksud,Ibrahim Adlan tertawa berderai.
Pemuda tampan itu mendesah untuk kesekian kalinya,teringatkan perbincangannya dengan Irfan Zidni di telfhon beberapa saat lalu ketika dirinya masih ada
di Tuban,mengurusi administrasi.
"tak ku sangka mas,jika orang yang kau maksud itu adalah,najwa aulia".batinnya.
sekali lagi..mohon dukungannya ya semuanya.
tinggalkn like,kometn dan vote nya...
di tunggu..
nangiss bombay malam2 😭😭