NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11.Terperangkap dalam Perjanjian

“Kau pikir tembok tipis ini bisa menahanku selamanya? Buka pintunya! Sekar! Pak Budi! Tolong aku!” jerit Raisa sekuat tenaga, tinjunya menghantam permukaan pintu berkali-kali hingga kulitnya pecah dan darah segar menetes perlahan menuruni buku jari lalu jatuh ke lantai marmer yang dingin. Namun pintu itu tak bergeming sedikit pun, terasa keras dan dingin seolah terbuat dari besi tempa raksasa yang telah ditempa berabad-abad lamanya, tak bisa ditembus oleh apa pun—entah itu tenaga manusia biasa maupun kekuatan yang baru saja ia sadari ada di dalam dirinya. Ia mencoba mendobraknya dengan bahu, menendangnya sekuat tenaga, bahkan mencoba menyelipkan ujung gagang sisir logam ke celah pintu, namun semua usahanya sia-sia belaka. Rasanya seperti menabrak dinding batu yang tak berujung, semakin ia berusaha, semakin kuat pula pertahanan yang melawan usahanya.

Kini ia berbalik menghampiri jendela besar yang memandang langsung ke halaman depan rumah. Dengan tangan gemetar namun penuh amarah yang meluap-luap, ia meraih vas bunga keramik berat yang terhampar di meja rias, lalu mengayunkannya sekuat tenaga menghantam kaca jendela itu. Bunyi benturan terdengar nyaring memecah keheningan kamar, namun apa yang terjadi tak seperti yang ia bayangkan. Kaca itu tak pecah berantakan menjadi ribuan keping tajam, melainkan melar seperti karet kenyal yang lentur saat terkena hantaman keras, lalu perlahan kembali ke bentuk semula seolah tak pernah tersentuh apa pun. Raisa melongo tak percaya, napasnya tersengal kaget, lalu ia mencoba sekali lagi dengan kursi kayu jati yang berat, namun hasilnya tetap sama persis—tak ada retakan sekecil apa pun, tak ada celah yang terbuka sedikit pun.

“Tidak mungkin... ini tidak masuk akal! Tak ada kaca yang bisa seperti itu! Tak ada pintu yang tak bisa dibuka!” isaknya parau, tangannya kini berdenyut perih dengan luka memar lebar dan luka menganga yang terus mengucurkan darah segar. Selama dua jam penuh ia terus berjuang tanpa henti, mencoba segala cara yang terlintas di benaknya untuk melarikan diri seperti mengetuk, memukul, mendobrak, mencoba merobek tirai jendela yang tebal, hingga mencari celah kecil di pinggiran kusen pintu yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengungkitnya. Namun rumah itu seolah bernyawa sendiri, seolah memiliki kesadaran untuk menolak melepaskannya keluar. Setiap teriakan minta tolong yang meledak dari kerongkongannya seakan tertelan oleh dinding tebal yang tak bersuara, tak sampai sedikit pun ke telinga Sekar atau Pak Budi yang berada tak jauh dari sana, sibuk dengan urusan rumah tangga seolah tak ada apa-apa yang terjadi di dalam kamar itu.

Hingga akhirnya tenaganya habis sepenuhnya, seakan tersedot keluar dari pori-pori kulitnya satu per satu. Raisa merosot perlahan jatuh ke lantai yang dingin dan licin, memeluk kedua kakinya erat sambil meringkuk seperti bayi yang ketakutan di tengah kegelapan. Air mata tak lagi mengalir deras, hanya rasa lelah luar biasa dan keputusasaan yang mendalam yang menyelimuti seluruh raganya. “Aku sudah terperangkap...” gumamnya pelan, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang tertahan di kerongkongan. “Ini bukan warisan... ini bukan pemberian tulus dari kakekku. Ini adalah perjanjian perbudakan dengan iblis.”

Ia mengangkat kepala perlahan, menatap tajam ke arah pintu tertutup itu dengan pandangan yang bercampur amarah dan keputusasaan. “Keluarlah, Arya! Jika kau begitu hebat dan berkuasa mengatur segala hal di sini, temui aku sekarang juga! Jangan hanya bersembunyi di balik pintu terkunci dan dinding pelindungmu! Apa kau pengecut yang tak berani menghadapi orang yang kau ikat dalam perjanjian ini?!” teriaknya sekali lagi sekuat sisa tenaga yang ada, namun ruangan itu tetap sunyi senyap seolah tak ada satu pun makhluk hidup yang mendengar panggilannya.

Di lantai dua yang remang dan penuh hawa panas samar, Arya berdiri diam memegang pelan pipinya yang masih terasa hangat bekas tamparan gadis itu tadi. Anehnya, tak ada rasa marah atau dendam yang menyelimuti hatinya. Justru sentuhan itu membangkitkan kembali perasaan lama yang sudah ratusan tahun ia kubur dalam-dalam di dasar kesadarannya—rasa menjadi manusia yang memiliki perasaan, yang bisa merasakan sakit, hangat, dan perhatian, bukan sekadar api yang melahap segalanya tanpa perasaan. Selama berabad-abad menjaga perjanjian suci ini bersama keturunan Margono, tak satu pun dari mereka yang berani mendekat, apalagi menyentuhnya dengan berani dan penuh emosi seperti itu. Raisa adalah yang pertama, bahkan saat wujud aslinya yang mengerikan pun tak sepenuhnya membuat gadis itu mundur tanpa perlawanan.

Jatmika berlutut rendah di hadapan tuannya dengan sikap penuh hormat namun tampak gelisah. “Tuan, setelah setelah mengurung Nona Raisa agar tidak melukai dirinya sendiri karena panik, apa langkah selanjutnya yang harus kami lakukan? Kekhawatiran saya, jika dibiarkan terus begini, emosinya akan semakin meledak dan berbahaya bagi dirinya sendiri.”

Arya mengalihkan pandangan dingin namun teduh ke arah pelayannya yang setia. “Awasi saja gerak-geriknya dari kejauhan. Pastikan ia tidak melakukan hal konyol yang dapat melukai dirinya sendiri secara fatal. Dan satu hal lagi yang tak boleh kau lupakan—jangan pernah lagi kau tampakkan wujud aslimu kepadanya tanpa izinku secara langsung. Kau sudah cukup menakutinya, dan aku tak ingin ia semakin takut padamu.”

“Baik, Tuan. Segera saya laksanakan dengan penuh ketelitian,” jawab Jatmika hormat sebelum perlahan mundur menghilang ke dalam bayangan gelap lorong lantai dua.

Arya berbalik perlahan menghadap cermin besar berbingkai perak tua yang memantulkan bayangan aslinya seperti sosok pria gagah berwajah tampan namun seluruh tubuhnya dilalap api biru dan merah yang tak pernah padam, sorot matanya tajam namun tersembunyi kesepian yang mendalam selama berabad-abad. Ia meraba pantulan wajahnya sendiri dengan tangan yang memancarkan api kecil. “Aku adalah Ba nas pati, makhluk terkutuk yang hidup dalam api abadi,” bisiknya pelan pada bayangan sendiri dengan nada penuh kepahitan. “Bukan manusia biasa yang bisa dicintai, dihargai, atau disentuh dengan hangat seperti Raisa. Singkirkan keinginan gila itu dari hatimu, Arya. Kau hanya penjaga perjanjian, bukan pemilik hati manusia itu.”

Tiga hari berlalu begitu lambat dan terasa menyiksa bagi Raisa. Di luar kamar, Jatmika dengan halus namun pasti mengubah ingatan Sekar dan Pak Budi, menanamkan bayangan seolah Raisa memang baik-baik saja, sibuk beristirahat atau merapikan barang-barang peninggalan kakeknya di dalam kamar. Tak ada rasa curiga sedikit pun dari mereka berdua, seolah semua itu memang kenyataan yang nyata dan tak perlu dipertanyakan lagi. Sementara di dalam sana, Raisa semakin kurus, wajahnya pucat pasi, dan matanya cekung karena tak makan dan tak tenang beristirahat, menolak segala bentuk pemberian dengan teguh.

Ketika Jatmika datang dengan menyamar sebagai Sekar membawa nampan berisi makanan hangat yang aromanya menggugah selera, pintu kamar terbuka sendiri seketika tanpa suara. “Nona Raisa, silakan makan dulu sedikit saja. Ini makanan manusia biasa yang baru saja dimasak, bukan persembahan untuk makhluk gaib. Kau butuh tenaga untuk berfikir jernih dan melanjutkan hidupmu,” ucap Jatmika dengan nada lembut yang persis seperti suara pelayan setianya.

Namun Raisa hanya membalikkan badan memunggunginya, menatap dinding kosong dengan pandangan yang kosong namun penuh keteguhan. “Bawa pergi makanan itu. Biarkan aku pergi dari sini sekarang juga, atau biarkan aku mati kelaparan dan menjadi hantu seperti kalian. Aku tidak mau makan makanan yang disodorkan sebagai tanda perbudakan.”

“Nona, sebaiknya kau terima takdir ini dengan lapang dada,” bujuk Jatmika lagi dengan sabar. “Di bawah perlindungan Tuan Arya, kau akan aman dari segala bahaya yang mengintaimu. ”

Raisa menoleh perlahan, matanya menyala penuh ketegasan meski tubuhnya gemetar hebat karena kelemahan. “Aku tidak mau menjadi budak iblis! Walaupun aku belum terlalu mendalami ajaran agamaku dengan sempurna, aku tahu siapa Tuhanku dan kepada siapa aku harus berlindung. Aku tidak butuh perlindungan makhluk yang mengikatku dengan perjanjian yang tak pernah aku setujui!”

“Ini bukan kehendak kami yang mengikatmu, Nona. Ini adalah takdir penerus Margono yang sudah tertulis sejak perjanjian pertama disepakati ratusan tahun silam. Kaulah yang terpilih oleh semesta untuk meneruskan tugas mulia ini,” tegas Jatmika tanpa bermaksud menakutinya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Raisa meraih bantal di sampingnya lalu melemparnya dengan sisa tenaga yang masih ada, bantal itu jatuh lemas tak jauh dari kaki Jatmika. “Pergi! Tinggalkan aku sendiri dan jangan ganggu aku lagi!” bentaknya parau namun tegas.

Jatmika menghela napas pelan penuh keprihatinan, lalu mengambil kembali nampan yang tak tersentuh sedikit pun itu dan menghilang perlahan menutup kembali pintu rapat seperti semula seolah tak pernah ada yang datang. Raisa kembali menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang mulai berkaca-kaca, berbisik pelan namun penuh harap yang tak mau padam meski keadaan terasa mustahil,“Aku ingin bertemu denganmu, Arya... Jika kau memang bagian dari takdirku, keluarkan aku dari sini dan jelaskan semuanya secara jujur...”

Tak lama kemudian Jatmika sudah kembali berdiri di hadapan Arya melaporkan segala kejadian itu dengan rinci. “Tuan, Nona Raisa terus menolak makan dan minum dengan teguh. Jika keadaan ini dibiarkan terus berlanjut, kekuatan fisiknya akan habis sepenuhnya dan ia bisa mati kelaparan sebelum sempat memahami tugasnya.”

Arya terdiam sejenak, sorot matanya yang tadinya tajam perlahan meredup menyiratkan kegelisahan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Aku tahu bahayanya.” Tanpa menambah sepatah kata pun, sosoknya perlahan menghilang dari hadapan Jatmika bagai asap yang terbawa angin, menyisakan sisa hawa panas yang perlahan mendingin di ruangan itu.

Di dalam lelapnya yang tak sadar karena kelelahan, Raisa mendapati dirinya berdiri di tengah hamparan tanah hangus hitam dan tumpukan reruntuhan bangunan yang tak berbentuk lagi. Asap tipis masih mengepul perlahan dari sisa arang yang masih panas, menghadirkan bau terbakar yang menyengat hidung. Langit di atas sana berwarna kelabu pekat suram seolah tak akan pernah kembali cerah selamanya.

“Ini... di mana tempat yang mengerikan ini?” gumamnya pelan memandang sekeliling dengan perasaan ngeri yang tak terlukiskan, bulu kuduknya meremang merasakan hawa dingin yang tak wajar di tengah bekas api yang begitu dahsyat.

Tak lama kemudian, sosok pria yang ia cari-cari dan ia minta temui muncul perlahan dari balik kabut asap tebal—wujud asli Arya yang tubuhnya dilalap api abadi yang menakutkan namun memancarkan wibawa yang tak tertandingi. “Ini adalah sisa Kerajaan Kepatihan yang musnah ratusan tahun silam,” ucap Arya dengan suara berat yang bergema bagai dentuman guntur pelan namun berwibawa. “Tempat ini musnah hingga tak bersisa karena kejahatan, keserakahan, dan pengkhianatan yang merajalela di antara orang disini.”

Raisa menatap lekat sosok itu, meski wujudnya mengerikan namun ada kebenaran dan kesetiaan yang terpancar jelas dari mata api itu. “Kau... kau benar-benar Arya yang selama ini disembunyikan?”

“Benar. Bukankah kau yang memintaku menampakkan diri dan menjelaskan segalanya?” jawab Arya dengan nada tenang yang tak lagi mengancam.

“Aku ingin memutuskan perjanjian ini!” seru Raisa mantap meski suaranya masih bergetar memikirkan nasibnya. “Aku tidak ingin keturunanku kelak bernasib sama seperti aku, terkurung, terikat, dan dipaksa memikul beban yang tak pernah mereka minta!”

Arya menggeleng pelan dengan tatapan sedih yang jarang terlihat. “Di tengah kehancuran dahsyat ini, hanya keturunan Margono yang selamat dan mampu menjaga keseimbangan yang tersisa. Dan kita bersama menjaganya—itu sudah menjadi tugas suci yang diemban sejak perjanjian pertama disepakati dengan kesepakatan penuh.”

“Menjaga apa sebenarnya yang begitu berharga hingga harus mempertaruhkan kebebasan dan nasib generasi demi generasi?” tanya Raisa mendesak ingin tahu kebenaran yang utuh.

Belum sempat Arya melanjutkan penjelasannya, tanah tempat mereka berdiri tiba-tiba bergetar hebat seolah gempa bumi dahsyat melanda, lalu perlahan retak dan terbelah menjadi dua bagian yang dalam dan gelap. Dari celah dalam yang tak berdasar itu, melayang naik perlahan sebuah bola bercahaya kuning keemasan yang memancarkan kehangatan menenangkan namun juga kekuatan dahsyat yang tak terbayangkan akal manusia. Bola itu berhenti tepat di hadapan mereka, berkilau lembut seolah memiliki nyawa sendiri dan memancarkan perlindungan kepada siapa pun yang menghargainya.

“Ini... apa benda yang begitu indah dan kuat ini?” tanya Raisa terpesona sekaligus takjub melihat pancaran cahayanya yang menembus kegelapan.

“Ini adalah Inti Sakti,” jelas Arya pelan namun serius dan penuh penghormatan. “Selama ratusan tahun, seluruh keturunan Margono menjaga keberadaannya agar tidak jatuh ke tangan makhluk jahat atau manusia serakah yang ingin menggunakannya untuk kekuasaan semata. Sekarang giliranmu untuk memegang amanah ini. Jika kekuatan suci ini dikuasai oleh pihak yang salah, desa Suka Makmur dan seluruh penghuninya yang ramah itu akan musnah terbakar menjadi abu persis seperti kerajaan ini.”

Bayangan wajah-wajah ramah warga desa yang tulus menerimanya, membantu kakeknya, dan menyambutnya dengan hangat kembali melintas begitu jelas di benak Raisa. Ia tak sanggup membayangkan senyum hangat mereka, tawa riang anak-anak desa, dan kehidupan sederhana mereka berubah menjadi abu, air mata, dan keputusasaan yang mengerikan. Di dalam hatinya, rasa takut dan kemarahan perlahan berganti dengan keteguhan yang baru tumbuh kokoh. Mungkin ini memang takdir yang tak bisa ia tolak, namun ia tak akan membiarkan orang-orang yang tulus menyayanginya binasa sia-sia. ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!