Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 3 WAY FIGHT
Matahari sore di Kota Cikampek perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan gumpalan awan jingga yang perlahan berubah menjadi keunguan kelam. Jam belajar di SMK PGRI Cikampek telah usai. Lorong-lorong sekolah yang tadinya riuh oleh gemuruh berita bersatunya Cijalu kini berangsur hening.
Ryuka berjalan santai menelusuri jalanan komplek menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Ryuka melemparkan tas sekolahnya ke sofa, mengganti seragam kusamnya dengan kaos hitam polos dan jaket berkerudung.
Namun, sebelum Ryuka sempat melangkah keluar dari pintu depan, dua sosok pria berbadan tegap sudah berdiri menunggunya di teras. Sebas dan Denza.
Denza melipat tangannya di dada, menatap Ryuka dengan raut wajah sangat serius di bawah remang lampu teras. "Lu mau ke mana malam-malam gini, Ryuka?"
Ryuka menyunggingkan cengiran santainya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Cuma mau jalan-jalan bebas cari angin. Kenapa sih? Muka kalian berdua tegang banget."
Sebas menghembuskan napas panjang sambil memegang ponselnya yang masih menyiarkan berita darurat pergerakan wilayah. "Jangan keluar malam ini, Tuan muda, Saya sama Denza udah baca berita pergerakan fraksi luar. Malam ini... anak-anak Cijalu diprediksi bakal mulai merembes dan masuk ke wilayah Sukaseri. Situasi di perbatasan lagi memanas."
"Cijalu?" kekeh Ryuka menggelengkan kepala. "Halah, makin seru dong kalau gitu. Gua cuma mau keliling bentar."
Tanpa mengindahkan peringatan Denza dan Sebas, Ryuka melompati pagar rumah dan melesat menghilang di balik kegelapan lorong pemukiman Sukaseri.
Denza menatap punggung Ryuka yang menjauh, lalu menghembuskan napas berat. "Anak itu... bener-bener gak bisa ditahan kalau udah menyangkut bahaya."
Malam makin larut, menenggelamkan Cikampek dalam dinginnya angin malam.
Ryuka berjalan menyusuri tiap sudut wilayah Sukaseri tanpa arah yang jelas. Langkah kakinya membawa Ryuka terus berjalan hingga tanpa sadar dia telah melewati batas zona aman Sukaseri dan sampai di sebuah kawasan perbatasan yang terkenal kumuh dan rawan—Bakan Jati.
Bakan Jati adalah zona abu-abu. Bangunan-bangunan tua yang terbengkalai, jalanan sempit yang minim penerangan, serta lorong-lorong berdebu menjadi pemandangan utama di kawasan ini.
SRET... KREET...
Di salah satu sudut dinding bangunan terbengkalai, belasan remaja berandalan bertato tipis sedang sibuk menyemprotkan cat kaleng, mencoret-coret tembok dengan logo geng mereka.
Ryuka yang berjalan sambil bersiul santai tidak memperhatikan jalanan di depannya yang gelap.
TAK! BRAAAK!
"Ups..."
Kaki Ryuka secara tidak sengaja menendang tumpukan kaleng cat aerosol yang berada di ubin. Kaleng cat berwarna merah dan hitam itu terguling, isinya tumpah membasahi lantai beton dan mengenai sepatu beberapa anak geng di sana.
Aktivitas mencoret tembok seketika terhenti. Belasan anak berandalan Bakan Jati menoleh cepat, menatap Ryuka dengan tatapan menusuk.
"Woy, Bangsat! Lu punya mata gak, Hah?!" bentak salah satu berandalan berambut pirang, melangkah maju menghampiri Ryuka. "Lu tau ini cat buat nandain teritori siapa?!"
Ryuka mengangkat kedua tangannya santai, menyunggingkan senyum tanpa rasa bersalah. "Sori, Sori... Gelap banget lorong lu pada, gak kelihatan. Lagian tembok jelek gitu diapain juga tetep jelek."
"APA LU BILANG?!"
Perdebatan panas meletus seketika! Belasan anak Bakan Jati langsung mengurung Ryuka dari berbagai sisi. Namun, sebelum adu jotos pecah, gema langkah kaki yang berat terdengar dari balik lorong gelap.
Sesosok pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam bertuliskan logo serigala melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya keras, matanya tajam memancarkan aura penguasa lokal.
Dialah Adung—pemimpin dari Liberian Gang, satu-satunya fraksi kuat yang menguasai dan memerintah seluruh wilayah Bakan Jati!
"Ada apa ini?" suara Adung berat menggelegar.
Anak buahnya langsung memberi jalan. "Bos! Anak tengil dari luar ini numpahin cat kita, terus ngatain teritori kita jelek!"
Adung menatap Ryuka dari atas ke bawah, merasakan hawa yang tidak biasa dari Ryuka. "Anak Sukaseri, Hah? Lu berani bikin ulah di Bakan Jati?"
Adung mengangkat tangannya, dan dalam hitungan detik, dari lorong-lorong sempit Bakan Jati, puluhan anggota Liberian Gang keluar membanjiri jalanan! Jumlah mereka melonjak drastis hingga mencapai sekitar 40 orang lebih, mengepung Ryuka dari segala penjuru.
Ryuka melirik sekelilingnya, menyapu jumlah massa yang terlalu banyak untuk dilayani sendirian di gang sempit. "Wah... kalau 40 orang di gang sempit gini sih konyol."
SRET!
Tanpa membuang waktu, Ryuka berbalik badan dan melesat lari secepat kilat menembus barikade!
"KEJAR DIA! JANGAN MEMBIARKAN DIA LOLOS DARI BAKAN JATI!!" teriak Adung memberi perintah! Ratusan langkah kaki memburu Ryuka di tengah kegelapan malam.
Sementara itu, di tempat yang berbeda...
Di sebuah warung makan tenda di pinggir jalan utama kota, Zela sedang duduk sendirian. Di depannya terhidang sepiring nasi goreng hangat. Zela yang memang tipe menyendiri menikmati makan malamnya dengan tenang di bawah remang lampu jalanan.
CRASH!
Tiba-tiba, sebuah kayu balok dihantamkan ke meja makan Zela hingga piring kaca pecah berkeping-keping!
Zela langsung menghentikan sendoknya di udara. Matanya memicing dingin. Di luar tenda warung, puluhan orang berseragam jaket hitam telah mengurung warung makan tersebut.
Sesosok pria tinggi dengan luka gores di pelipisnya melangkah masuk ke dalam tenda. "Jadi... lu yang namanya Zela?"
Tanpa menunggu Zela menjawab...
BAM!
Pria itu melayangkan satu pukulan lurus yang sangat cepat mengincar wajah Zela!
Zela menangkis pukulan itu dengan lengan kirinya, terdorong mundur dua langkah. Zela tahu bertarung di dalam warung kecil hanya akan merugikan pemilik warung. Dengan sigap, Zela melemparkan uang kertas ke atas meja kasir, lalu melompat keluar dari tenda warung menuju jalanan kota!
"BAYARANNYA DI MEJA, PAK!" teriak Zela sambil melesat lari.
"JANGAN BIARKAN ZELA LOLOS! POJOKKAN DIA DI JALAN UTAMA!" teriak segerombolan orang itu mengejar Zela!
Zela berlari cepat menembus jalanan kota yang sepi dan kosong di tengah malam. Namun, di sebuah persimpangan jalan beton yang terkunci oleh lorong gedung tinggi, langkah Zela terhenti. Puluhan musuh telah mengepung depan dan belakangnya.
Pria yang memukul Zela tadi melangkah maju sambil merenggangkan lehernya. Pria itu adalah Fatah Sewu—wakil pimpinan tertinggi dari geng CBC (Cikampek Boys Celebrity) yang dipimpin oleh Friza!
Bukan cuma CBC, di samping Fatah Sewu berdiri sesosok pria berwajah keras bernama Aditya—pemimpin dari fraksi Andul yang menguasai wilayah Cikopo! Cikopo adalah wilayah strategis perbatasan antara Sukaseri dan gerbang masuk Cikampek dari arah Purwakarta.
"Gak ada jalan lari lagi buat lu, Zela," ucap Fatah Sewu dingin.
Zela memasukkan tangannya ke dalam saku, menatap Fatah dan Aditya dengan mata dinginnya. "CBC sama Andul boys... Jadi fraksi dari Slonong boys udah bergerak?"
Saat situasi makin terdesak dan mereka hendak mengeroyok Zela...
TAP... TAP... TAP...
Dari balik bayangan lorong gelap di belakang Fatah dan Aditya, melangkah keluar seorang pria dengan jas kemeja gelap yang lengannya digulung. Rokok menyala terselip di bibirnya. Suara bass-nya yang sangat familiar memecah keheningan malam.
"Sudah lama tidak bertemu... adik kelas yang merepotkan."
Zela menoleh, matanya membelalak tipis. Sosok yang keluar dari kegelapan itu adalah... Friza!
Friza menatap Zela dengan tatapan mata yang teramat dingin, tajam, dan penuh intimidasi—sangat berbeda dengan penampilannya saat di sekolah tadi siang.
"Ini pertama kalinya kita bertemu di malam hari, bukan, Zela?" lanjut Friza, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam.
Zela mendengus kesal, menyunggingkan senyum sinisnya. "Cih... Friza. Sepertinya lu emang beneran ingin mati malam ini."
Tiba-tiba...
GEDUBRAK!!
"WOY SIALAN! KALO JALAN LIHAT-LIHAT DONG!!"
Dari arah belokan lorong, seseorang berlari membabi buta dan langsung menabrak punggung Zela hingga keduanya hampir tersungkur ke tanah!
Zela yang emosi memutar badannya hendak memukul orang itu, tapi matanya membelalak kaget saat melihat siapa yang menabraknya. "Ryuka?!"
Ryuka yang terengah-engah memegangi lututnya mendongak. "Lho? Zela? Kok lu ada di sini?!"
Friza yang berdiri di depan mereka langsung menepuk jidatnya sendiri, menghembuskan napas lelah. "Hahh... bener-bener merepotkan."
Aditya dari fraksi Andul dan Fatah Sewu dari CBC sudah tidak sabar lagi. Urat di dahi Aditya menonjol. "Friza! Cukup basa-basinya! Kita habisi mereka berdua sekaligus malam ini, lalu buat mereka berdua bisa jadi pion kita di dunia malam!"
Mendengar hal itu, Ryuka yang bingung langsung memarahi Friza. "Woy, Friza! Maksud anak buah lu apa-apaan nih?! Mau jadiin gua pion?!"
"Diem lu, Ryuka!" bentak Zela menyikut perut Ryuka keras. "CBC sama fraksi Cikopo lagi berusaha nguasain wilayah Sukaseri seutuhnya! Mereka butuh petarung independen kayak kita buat dijadikan pion di garis depan!"
Ryuka dan Friza seketika malah terlibat cekcok adu mulut konyol di tengah pengepungan! Namun, sebelum perdebatan mereka bertiga selesai...
HURRAAAHH!!
Gemuruh langkah kaki puluhan orang mengguncang arena persimpangan jalanan kota! Dari arah lorong timur, puluhan anggota Liberian Gang dari Bakan Jati yang mengejar Ryuka tadi akhirnya sampai!
Adung melangkah di depan pasukannya, menyapu pandangan ke arah persimpangan yang kini dipenuhi oleh fraksi CBC dan Cikopo.
"Wah, wah, wah..." Adung terkekeh sinis, menyilangkan rantai besi di tangannya. "Sepertinya ada pertempuran yang sangat menarik di sini malam ini!"
Fatah Sewu berteriak murka ke arah Adung. "Ini bukan urusan Bakan Jati, Adung! Berani-beraninya kalian melangkah keluar dari teritori kalian dan masuk ke wilayah kita!"
Zela yang melihat kedatangan puluhan anak Bakan Jati langsung memalingkan wajahnya, memarahi Ryuka dengan suara melengking. "WOY RYUKA! Lu napa malah bawa anak-anak Bakan Jati ke sini, Hah?! Lu makin memperburuk keadaan aja, Sialan!!"
Ryuka membela diri sambil memelototi Zela. "Gua gak sengaja numpahin cat mereka, Bego!"
"MATI KALIAN SEMUA!!"
BOOOMM!!
Pertempuran tak terkendali pecah seketika di tengah jalanan kota yang sepi! Tiga kubu saling hantam secara membabi buta!
Di tengah kecamuk bentrokan, Zela sibuk melayani serangan kroco-kroco dari geng CBC, melepaskan pukulan dan tendangan presisinya. Ryuka bertarung membabi buta menumbangkan satu per satu anak buah Bakan Jati yang mengurungnya.
Sementara itu, para pimpinan berdiri saling berhadapan: Adung dari Liberian Gang bertarung sengit adu fisik melawan Fatah Sewu dari CBC! Sedangkan Friza dan Aditya berdiri tenang di garis belakang, saling mengunci pandangan tanpa bergerak sedikit pun.
TAP... TAP... TAP...
Di puncak kerusuhan tiga kubu itu... gema langkah kaki yang sangat masif membelah malam. Suara benturan sepatu bot beton terdengar begitu dominan dari arah persimpangan utara.
Seketika, atmosfer di persimpangan jalan mendadak dingin dan membeku. Hawa membunuh yang sangat pekat merayap masuk, membuat semua orang yang bertarung refleks menghentikan pukulan mereka!
Dari balik kegelapan gang selatan, bermunculan puluhan barisan pasukan berjaket hitam. Dan di depan barisan masif itu... berdiri lima orang pilar!
Seluruh orang di persimpangan—termasuk Friza dan Adung—membelalakkan mata kaget setengah mati!
Cijalu Bersatu telah tiba!
Di garis depan berdiri lima pimpinan baru Cijalu yang bersatu:
Dari Cijalu Atas (BASTARD): Edu Agustian dan Galang Adnansyah!
Dari Cijalu Bawah (LAPENDOS): Bastian Nugraha, Azka Alif, dan Ahmad Zaelani!
Bentrokan tiga kubu yang tadinya pecah kini mendadak bergeser menjadi bentrokan raksasa: Aliansi CBC & Andul vs Liberian Gang (Bakan Jati) vs (Bastard) dan (Lapendos)Cijalu Bersatu!
Friza melangkah maju, matanya menatap tajam ke arah Edu Agustian dan Bastian Nugraha. Untuk pertama kalinya, raut wajah Friza tampak terkejut.
"Kenapa kalian bisa bersatu?!" tanya Friza dengan suara berat. "Setahu gua... lu berdua sama fraksi kalian saling benci dari dulu!"
Edu Agustian dan Bastian Nugraha yang berdiri berdampingan di depan pasukannya menyunggingkan senyum dingin. Mereka menjawab pertanyaan Friza secara berbarengan dengan suara tegas yang membahana:
"Karena kita... udah punya Pemimpin Baru yang sanggup menguasai seluruh Cikampek!"
DEG!!
Pernyataan itu bagaikan petir di malam hari! Semua orang yang ada di sana—Friza, Adung, Aditya, Zela, hingga Ryuka—terpaku kaget! Sosok seperti apa yang sanggup menundukkan BASTARD dan LAPENDOS sekaligus hingga mereka mau tunduk di bawah satu komando?!
Suasana berada di titik paling panas, siap meletus menjadi perang saudara antar-wilayah terbesar dalam sejarah Cikampek!
BZZZZT... BZZZZT...
Tiba-tiba, ponsel Friza di dalam saku bajunya bergetar hebat. Friza mengangkat ponselnya, mendengarkan pesan darurat dari jaringan aliansi utama Slonong Boys.
Setelah mendengarkan pesan itu selama beberapa detik, Friza mematikan ponselnya, lalu mengangkat tangannya ke udara.
"Tarik mundur seluruh pasukan CBC!" perintah Friza tegas.
Fatah Sewu kaget. "Tapi Bos—"
"Gua bilang tarik mundur!" potong Friza dingin.
Melihat CBC menarik mundur pasukannya karena panggilan darurat Slonong Boys, Adung dari Bakan Jati menyapu pandangan ke arah pasukan Cijalu yang sangat masif. Adung menghembuskan napas gusar. "Cih... Gua udah gak tertarik lagi malam ini." Adung memberi sinyal pada Liberian Gang untuk mundur kembali ke wilayah Bakan Jati.
Melihat dua kubu mundur, Edu Agustian dan Bastian Nugraha tidak mengejar. Pasukan Cijalu Bersatu berbalik arah dan mundur teratur kembali ke kegelapan malam, menyisakan misteri besar tentang siapa pimpinan tertinggi yang berhasil menyatukan mereka.
Persimpangan jalanan kota kembali hening, menyisakan pecahan kaca, debu pertempuran, serta Ryuka dan Zela yang berdiri berdua di tengah jalanan yang sepi.
Ryuka menatap ke arah tempat pasukan Cijalu menghilang, menyunggingkan senyum tipisnya di bawah sinar rembulan malam Cikampek.
Perang besar dunia bawah tanah Cikampek... resmi memasuki babak yang paling mengerikan.