NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Kembali ke Lorong Sempit

Matahari perlahan mulai bergeser ke arah barat.

Sinar keemasan sore hari memantul indah di atas kaca-kaca gedung pencakar langit PT Adhikari Corp.

Di dalam ruangan kerja utama lantai 50 yang sangat luas dan mewah, suasana kembali sunyi.

Badai perebutan kekuasaan yang dimotori oleh Hartono dan para pengkhianat kini telah usai sepenuhnya.

Seluruh aset, sistem, dan kendali mutlak perusahaan telah kembali berada di tangan sang pemilik sejati.

Andra berdiri tegak di balik dinding kaca raksasa yang transparan.

Dari ketinggian lantai 50, ia menatap ke bawah ke arah bentangan luas kota Jakarta.

Kendaraan-kendaraan berlalu-lalang tampak bagaikan semut kecil yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Meskipun ia kini berdiri di puncak singgasana ekonomi tertinggi yang dipuja banyak orang.

Pikiran pria berjaket usang itu tidak sedikit pun terpikat oleh kemewahan tersebut.

Di dalam benaknya, bayangan sebuah warung kecil di perkampungan kumuh terus berkelebat jelas.

Bayangan senyuman tulus seorang wanita bernama Kirana yang menunggunya dengan penuh kesetiaan.

Sekretaris pribadi Andra melangkah masuk secara perlahan ke dalam ruangan.

Ia membungkuk hormat sambil membawa beberapa dokumen laporan akhir restrukturisasi perusahaan.

"Tuan Besar, seluruh proses pembersihan dewan direksi sudah selesai dilaporkan ke pihak berwenang," lapor sang sekretaris dengan suara tenang.

"Kelompok investasi asing yang mendukung Hartono juga telah memutuskan untuk menarik seluruh gugatan hukum mereka."

Andra mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kaca.

"Bagus," jawab Andra dengan nada datar.

"Pastikan tidak ada lagi celah bagi tikus-tikus berdasi untuk mencoba bermain-main di belakang perusahaan ini."

"Baik, Tuan Besar. Semua pengamanan telah diperketat secara maksimal," balas sekretaris tua itu patuh.

Sesaat kemudian, sang sekretaris ragu-ragu sejenak sebelum kembali bersuara.

"Um... apakah Anda langsung kembali ke kediaman utama keluarga besar di kawasan elite, Tuan?"

Andra menggelengkan kepalanya perlahan.

Ia berbalik badan, lalu merapikan jas formal yang melekat di tubuh atletisnya.

"Tidak," ucap Andra tegas.

"Siapkan kendaraan penyamaran yang biasa kita gunakan."

"Kita kembali ke perkampungan."

Sang sekretaris tua sedikit terkejut mendengar keputusan bos besarnya itu.

Namun, ia tahu betul bahwa jalan pikiran Tuan Andra tidak pernah bisa diubah oleh siapa pun.

"Baik, Tuan. Saya akan segera menyiapkan semuanya di lantai dasar."

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan biasa yang tidak mencolok keluar dari basement gedung PT Adhikari Corp.

Mobil itu meluncur tenang menembus kemacetan lalu lintas sore hari di ibu kota.

Perjalanan menuju pinggiran kota memakan waktu sekitar satu jam lebih.

Hingga akhirnya, kendaraan sederhana itu memasuki lorong sempit perkampungan kumuh tempat warung kecil Kirana berada.

Suasana sore di perkampungan itu tampak mulai berangsur-angsur tenang.

Anak-anak kecil mulai kembali berlarian kecil di jalan setapak setelah lelah bermain seharian.

Beberapa ibu rumah tangga tampak membereskan jemuran pakaian di depan rumah mereka masing-masing.

Ketika mobil sederhana yang ditumpangi Andra berhenti di ujung gang utama.

Beberapa warga yang melihatnya langsung menundukkan kepala ketakutan.

Mereka masih ingat betul bagaimana gerombolan pengawal berjas hitam mencengkram wilayah itu sehari sebelumnya.

Andra membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar mengenakan kembali jaket kain usang miliknya.

Ia berjalan santai menyusuri lorong sempit menuju warung kecil yang menjadi pelabuhan hatinya.

Setibanya di depan warung, ia melihat pintu gulung besi setengah terbuka.

Dari celah pintu tersebut, tampak cahaya lampu neon kuning menyala hangat menerangi ruangan dalam.

Andra melangkah masuk perlahan melewati ambang pintu.

Bau harum masakan rumahan langsung menyambut indra penciumannya.

Di dapur kecil belakang, Kirana tampak sedang sibuk membereskan piring-piring bekas pelanggan sore tadi.

Wajah wanita itu tampak sedikit lelah, namun sorot matanya menyiratkan ketenangan yang luar biasa.

Kirana tidak sengaja menoleh ke arah depan ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.

Begitu melihat sosok pria berjaket usang berdiri di hadapannya.

Piring di tangan Kirana hampir terlepas dari genggamannya karena rasa terkejut dan bahagia yang meluap.

"Mas...?" panggil Kirana dengan suara bergetar pelan.

Wanita itu segera meletakkan piring di tangannya, lalu berlari kecil menghampiri Andra.

Tanpa memedulikan tangan nya yang masih sedikit basah, Kirana langsung memeluk erat pinggang suaminya.

Air mata kebahagiaan menetes deras membasahi dada baju Andra.

"Kamu akhirnya pulang..." bisik Kirana terisak pelan penuh kerinduan.

Andra tersenyum hangat, membalas pelukan itu dengan mengeratkan sebelah tangannya merangkul pundak Kirana.

Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.

"Iya, Kir... aku sudah pulang," jawab Andra lembut.

"Dan aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu lagi."

Di luar warung, malam mulai turun perlahan menyelimuti perkampungan kumuh tersebut.

Namun, di dalam warung kecil yang sederhana itu.

Kehangatan cinta yang tulus membakar habis segala dinginnya dunia luar.

Malam semakin larut di perkampungan kumuh itu.

Suara jangkrik bersahutan di balik dinding kayu warung yang mulai usang.

Andra masih memeluk erat istrinya dengan penuh kelembutan.

Kirana merasa sekujur tubuhnya dipenuhi rasa aman yang luar biasa.

Tidak ada lagi rasa takut akan hari esok yang suram.

Semua beban hidup seolah lenyap dalam dekapan hangat sang suami.

"Tidurlah, Kir," bisik Andra pelan di dekat telinga istrinya.

Kirana mengangguk lemah sambil memejamkan mata indahnya.

Nafas teratur wanita itu perlahan mulai terdengar.

Ia jatuh tertidur pulas di dalam pelukan suaminya yang perkasa.

Andra menatap wajah damai Kirana dalam temaram lampu kuning.

Tekad di dalam hatinya semakin bulat untuk melindungi wanita itu selamanya.

Ia tahu lembaran hidup baru mereka baru saja dimulai.

Segala badai masa lalu telah sepenuhnya tertinggal di belakang.

-Keesokan hari

Pagi semakin terang di perkampungan kumuh.

Sinar matahari menyinari lantai semen warung kecil.

Andra merapikan meja kayu di depan warung.

Ia menyapu sisa debu dengan sapu ijuk tua.

Kirana menyiapkan bahan masakan di dapur.

Bau harum bumbu dapur mulai tercium keluar.

Beberapa tetangga berjalan melintas di depan warung.

Mereka menyapa Andra dengan senyuman ramah.

Tidak ada lagi tatapan curiga dari warga.

Semua orang kini menaruh rasa segan yang tinggi.

Andra mengangguk pelan membalas sapaan mereka.

Ia tetap bersikap tenang dan tidak sombong.

Kirana keluar membawa nampan berisi gelas kopi.

Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.

"Minumlah dulu, Mas," ucap Kirana tersenyum.

Andra mengambil gelas itu lalu meminumnya.

"Masakanmu selalu yang terbaik," puji Andra tulus.

Pipi Kirana merona merah mendengar pujian itu.

Suasana pagi terasa begitu damai dan hangat.

Keduanya menikmati momen kebersamaan yang sederhana.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung terlalu lama.

Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di ujung gang.

Mobil sedan hitam berpelat nomor khusus itu mencolok.

Warga sekitar langsung menepi karena ketakutan.

Pintu mobil terbuka dan keluarlah sekretaris tua.

Ia berjalan cepat menyusuri lorong sempit perkampungan.

Sekretaris itu langsung membungkuk di depan Andra.

"Maaf mengganggu pagi Anda, Tuan Besar," ucapnya.

Andra meletakkan gelas kopinya dengan pelan.

Ia menatap tajam ke arah sang sekretaris tua.

"Ada apa lagi di pusat kota?" tanya Andra.

"Ada dokumen penting yang harus Anda tanda tangani."

"Ini menyangkut investasi besar di luar negeri."

Andra menghela napas panjang mendengar laporan itu.

Ia melirik sekilas ke arah istri tercintanya.

Kirana mengangguk pelan memberikan izin kepada suaminya.

"Pergilah selesaikan tugasmu, Mas," kata Kirana.

"Aku akan baik-baik saja menunggu di sini."

Andra berdiri lalu merapikan jaket usang nya.

Ia mengecup kening Kirana penuh rasa sayang.

"Aku akan segera kembali secepat mungkin," janjinya.

Andra melangkah pergi meninggalkan warung kecil itu.

Ia masuk ke dalam mobil mewah yang menunggunya.

Kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan gang sempit.

Kirana kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.

Ia merasa tenang karena suaminya kini jauh lebih kuat.

Di dalam mobil, Andra membaca berkas penting.

Matanya meneliti setiap detail angka dengan cermat.

Pikiran tajam seorang CEO kembali mengambil alih.

Tidak ada celah sedikit pun bagi kesalahan kecil.

Mobil melesat kencang membelah jalanan ibu kota.

Gedung-gedung tinggi menyambut kedatangan sang penguasa.

Andra turun di basement gedung PT Adhikari Corp.

Para pengawal langsung menyambut di pintu lift.

Langkah kaki Andra bergema di lantai eksekutif.

Semua karyawan membungkuk hormat saat ia lewat.

Pintu lift khusus terbuka menuju lantai 50,

Andra duduk kembali di singgasana kerjanya.

Ia menanda tangani dokumen penting itu.

Dalam hitungan menit, semua urusan selesai tuntas.

"Semua sudah beres, Tuan," lapor sekretaris tua.

"Bagus, sekarang siapkan mobil untuk pulang."

Andra tidak ingin berlama-lama di kantor megah.

Pikirannya sudah kembali kepada sang istri tercinta.

Mobil mewah kembali meluncur ke arah pinggiran.

Menembus padatnya lalu lintas sore hari ibu kota.

Setibanya di gang sempit, Andra turun berjalan kaki.

Ia kembali mengenakan identitas sederhananya di sana.

Pintu warung terbuka menyambut kepulangannya.

Kirana tersenyum manis melihat suaminya datang.

"Kamu cepat sekali pulangnya, Mas," ucap Kirana.

Andra memeluk erat tubuh istrinya dengan hangat.

"Aku tidak bisa lama-lama jauh darimu," bisiknya.

Malam kembali turun menutupi perkampungan kumuh.

Keduanya menikmati makan malam sederhana bersama.

Hidangan rumahan itu terasa sangat istimewa.

Kebahagiaan sejati akhirnya bersemayam di hati mereka.

Tidak ada lagi bayangan kelam masa lalu.

Yang ada hanyalah masa depan penuh cinta kasih.

Andra dan Kirana saling menguatkan satu sama lain.

Menjalani hari demi hari dengan penuh rasa syukur.

Warung kecil itu menjadi saksi bisu cinta mereka.

Sebuah kisah tentang kesetiaan di balik kesederhanaan.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!