Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Rani, boleh kita bicara sebentar?" panggil Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan, sementara sorot matanya tertuju kepada wanita yang sedang merapikan vas bunga di ruang tamu.
"Tentu, Pak Adrian." jawab Rani pelan. Wajahnya dipenuhi rasa heran, sementara ia segera meletakkan vas itu di atas meja.
"Silakan duduk." ucap Adrian sopan. Wajahnya dipenuhi ketenangan, sementara tangannya menunjuk sofa di hadapannya.
"Baik." sahut Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa gugup, sementara ia duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya.
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Adrian mengembuskan napas perlahan sebelum akhirnya membuka pembicaraan.
"Rani, aku ingin menanyakan sesuatu yang mungkin cukup pribadi." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi keraguan, sementara tatapannya tetap lembut.
Rani mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa, Pak. Silakan." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi ketenangan, meski ada sedikit kegelisahan di matanya.
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan pernikahanmu?" tanya Adrian hati-hati. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu. "Setelah semua yang dilakukan suamimu kepadamu... apakah kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga itu, atau memilih mengakhirinya?"
Mendengar pertanyaan itu, senyum tipis di wajah Rani perlahan memudar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya..." ucap Rani terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kesedihan, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.
Adrian tidak menyela. Ia membiarkan Rani mengumpulkan keberaniannya.
"Saya sudah bertahan terlalu lama, Pak." lanjut Rani lirih. Air mata mulai mengalir di pipinya. Wajahnya dipenuhi luka yang selama ini ia pendam. "Saya terus berharap dia berubah... tetapi yang saya terima hanya penghinaan, kebohongan, dan pengkhianatan."
Adrian mengepalkan tangannya pelan. Tatapannya berubah dingin saat mengingat semua laporan yang diterimanya mengenai penderitaan Rani.
"Jadi... keputusanmu sudah bulat?" tanya Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi kepedulian.
Rani mengusap air matanya perlahan.
"Iya, Pak." jawabnya mantap. Wajahnya dipenuhi tekad. "Saya ingin bercerai."
Adrian mengangguk pelan.
"Itu hakmu." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Dan jika itu memang keputusan yang sudah kamu pikirkan dengan matang, aku akan menghormatinya."
Rani menatap Adrian dengan mata yang masih basah.
"Terima kasih, Pak." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa haru.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kalau begitu, biarkan aku membantumu."
ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Aku akan menyewa pengacara terbaik untuk mengurus seluruh proses perceraianmu."
Rani langsung menggeleng cepat.
"Tidak, Pak. Saya tidak ingin merepotkan Bapak." ucap Rani gugup. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan.
"Itu bukan sebuah kerepotan." balas Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Tidak ada seorang pun yang pantas bertahan dalam pernikahan yang hanya dipenuhi penderitaan."
Rani kembali terdiam. Air matanya kembali menetes.
"Selama ini saya selalu berpikir harus menghadapi semuanya sendirian." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa haru. "Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan akan membantu saya."
Adrian tersenyum tipis.
"Mulai sekarang kamu tidak sendirian lagi." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Serahkan urusan hukumnya kepadaku. Kamu hanya perlu menyiapkan diri untuk memulai hidup yang baru."
Tangis Rani akhirnya pecah.
"Terima kasih, Pak Adrian." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.
Saat itu juga...
Tok... tok... tok...
"Masuk." ucap Adrian tenang. Wajahnya kembali dipenuhi kewibawaan.
Nathan memasuki ruangan dengan langkah cepat.
"Maaf mengganggu, Tuan." ucap Nathan hormat. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
"Leonard baru saja menghubungi saya."
Adrian langsung berdiri.
"Ada kabar apa?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Nathan menarik napas panjang.
"Leonard berhasil menemukan mantan guru SD Bu Rani." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "Namun sebelum album foto dan data sekolah sempat diperiksa, seseorang melempar batu ke dalam rumah."
Raut wajah Adrian langsung berubah dingin.
"Disertai sebuah ancaman." lanjut Nathan. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Pelakunya meminta Leonard menghentikan penyelidikan, kalau tidak nyawa mereka menjadi taruhannya."
Tatapan Adrian menajam.
"Berarti..." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Nathan mengangguk mantap.
"Ya, Tuan." jawabnya tegas. "Seseorang sedang berusaha keras menutupi masa lalu Bu Rani."
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan.
Adrian menatap ke arah jendela dengan sorot mata yang semakin tajam.
"Kalau mereka sampai mengirim ancaman..." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi tekad."Berarti Leonard sudah berada sangat dekat dengan kebenaran."