NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Garis yang Mulai Tegas

Tetapi di dalam dada Rayhan, satu dugaan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

Sementara itu, hidup Keira di D.N justru sedang bergerak ke arah yang lebih terang.

Pagi Senin, Naomi memanggil tim desain ke ruang meeting. Di layar besar, konsep After the Fold sudah masuk tahap pengembangan kampanye. Sketsa Keira dipasang di tengah board, dikelilingi pilihan warna, material, dan foto mock-up produk.

Keira duduk di samping Salma, mencoba tidak terlalu sering menatap layar.

Salma menyikutnya pelan. "Jangan pura-pura biasa. Itu karyamu di tengah."

"Aku tahu."

"Mukamu seperti mau minta maaf ke layar."

Keira hampir tertawa. "Aku tidak begitu."

"Begitu banget."

Naomi mengetuk meja satu kali, membuat ruangan diam. "Konsep ini sudah disetujui untuk masuk presentasi regional. Keira akan memimpin bagian visual narrative. Salma pegang warna dan material. Tim lain mendukung eksekusi."

Beberapa kepala menoleh ke arah Keira.

Ada yang tulus senang.

Ada juga yang menilai ulang, seolah baru sadar perempuan pendiam di meja dekat jendela itu tidak sekadar pandai membantu.

Keira menarik napas. "Baik, Ci Naomi."

Naomi menatapnya. "Aku tidak mau kamu hanya bilang baik. Aku mau kamu memimpin."

Kata itu terasa asing.

Memimpin.

Di Rumah Yanto, Keira terbiasa mengerjakan tanpa disebut. Di D.N, untuk pertama kalinya, seseorang memintanya berdiri di depan nama pekerjaannya sendiri.

"Saya akan coba."

"Bukan coba. Kerjakan."

Salma berbisik, "Amin."

Keira menunduk menahan senyum.

Setelah meeting selesai, beberapa rekan mulai mendatangi meja Keira untuk bertanya soal detail motif. Keira menjelaskan satu per satu, awalnya pelan, lalu semakin lancar. Ia menunjukkan bagaimana garis lipatan bisa diterapkan ke scarf, mini bag, dan lining kotak kemasan.

Saat ia berbicara, ia lupa takut.

Salma berdiri di belakangnya dengan dua kain sample di tangan, wajahnya bangga seperti agen artis.

Menjelang siang, Naomi meminta Keira memimpin sesi kecil untuk menyatukan arah visual. Keira berdiri di depan whiteboard, spidol di tangan, sementara lima orang dari tim desain dan visual merchandising duduk menunggu.

Awalnya suaranya hampir terlalu pelan.

Lalu ia melihat garis lipatan di board, sesuatu yang ia pahami lebih baik daripada rasa takutnya sendiri.

"Kita jangan membuat semua produk memakai motif penuh," katanya. "Kalau scarf sudah kuat, mini bag cukup mengambil satu potongan garis di sudut. Packaging jangan mengulang motif besar. Cukup emboss tipis di bagian dalam tutup kotak. Pembeli akan merasa menemukan rahasia kecil saat membukanya."

Seorang rekan dari visual mengangguk. "Jadi detailnya tidak berteriak."

"Iya. Perempuan yang kita tuju tidak perlu membuktikan diri dengan logo besar. Dia ingin sesuatu yang terasa personal."

Naomi yang berdiri di dekat pintu tidak berkata apa-apa, tetapi ia mencatat.

Ketika sesi selesai, salah satu rekan yang biasanya jarang bicara kepada Keira menghampiri dan berkata, "Brief-nya jadi lebih jelas. Thanks, Keira."

Ucapan terima kasih itu kecil.

Tetapi bagi Keira, rasanya seperti garis pertama yang berhasil ia tarik sendiri tanpa tangan siapa pun di atas tangannya.

"Lihat," bisik Salma setelah orang-orang bubar. "Kamu bisa."

Keira menatap layar tablet. "Aku masih takut salah."

"Semua orang bisa salah. Bedanya, kamu biasanya belum salah sudah minta maaf dulu."

Keira diam sebentar.

"Rayhan juga pernah bilang begitu."

Salma langsung memutar kursi. "Oh, sekarang sudah Rayhan? Bukan Pak Rayhan?"

Pipi Keira menghangat. "Sal."

"Aku cuma memastikan perkembangan bahasa. Penting untuk penelitian."

"Penelitian apa?"

"Penelitian tentang perempuan jatuh cinta yang mulai lupa pakai gelar."

Keira tertawa lebih lepas daripada yang ia rencanakan.

Salma melihat tawa itu, lalu senyumnya melunak. "Aku senang lihat kamu begini."

"Begini bagaimana?"

"Seperti orang yang akhirnya punya tempat pulang selain kamar kecil di Rumah Yanto."

Tawa Keira mereda, tetapi kali ini dadanya tidak sakit seperti dulu.

"Aku juga masih belajar percaya."

"Pelan-pelan. Tapi jangan mundur hanya karena Kiara atau Meilan pasang muka."

Keira mengangguk.

Ponselnya bergetar.

Ray.

Makan siang sudah?

Keira menatap pesan itu, lalu membalas:

Belum. Meeting baru selesai.

Jawaban Rayhan datang:

Turun ke lobby lima menit lagi. Jangan takut, bukan mobil mencolok.

Keira menatap layar, bingung.

Salma yang membaca dari samping langsung menepuk meja pelan. "Wah. Layanan makan siang pribadi."

"Dia tidak bilang datang."

"Justru itu lebih berbahaya."

Lima menit kemudian, Keira turun ke lobby. Di depan gedung D.N, bukan Rayhan yang menunggu, melainkan pengemudi biasa dengan kantong makan siang dari restoran rumahan terkenal. Tidak ada logo Harto, tidak ada mobil mewah yang memancing gosip.

Di atas kantong ada catatan kecil:

Makan dulu. Memimpin butuh tenaga.

Keira menatap tulisan itu lama.

Rayhan tahu tentang meetingnya karena Keira sempat bercerita semalam. Ia tidak datang mengganggu. Tidak membuat keributan. Hanya memastikan ia makan di hari ketika ia diminta memimpin.

Keira membawa makan siang itu kembali ke lantai desain. Salma membuka tutup kotak dengan ekspresi terharu berlebihan.

"Aku restui."

"Kamu tidak diminta."

"Aku tetap restui."

Mereka makan bersama di pantry. Nasi hangat, ayam kecap, sayur bening, dan sambal kecil yang dipisah karena Rayhan ingat Keira tidak terlalu kuat pedas. Hal kecil itu membuat Keira diam beberapa detik.

Salma tidak menggoda.

Kali ini ia hanya menyodorkan sendok. "Makan, Kei."

Sore harinya, Keira mengirim foto kotak makan yang sudah kosong kepada Rayhan.

Habis. Terima kasih.

Rayhan membalas:

Bagus. Aku bangga.

Dua kata terakhir membuat Keira menatap layar lebih lama daripada seharusnya.

Aku bangga.

Di rumah tempat ia tumbuh, kata itu hampir tidak pernah datang untuknya.

Malam itu, Rayhan membaca balasan Keira di dalam mobil sebelum menemui Gio. Untuk beberapa detik, wajahnya melembut.

Lalu Gio membuka pintu mobil depan dan masuk.

"Pak, perawat kepala yang disebut Rina sudah ditemukan."

Rayhan mengunci layar ponsel. "Di mana?"

"Tinggal di Bekasi. Dia menolak bertemu di rumah. Katanya kalau Bapak benar-benar ingin tahu catatan malam pertama K.Y. masuk klinik, Bapak harus siap menerima bahwa catatan resminya palsu."

Rayhan menatap ke depan.

"Dia punya salinan?"

"Belum mau mengaku. Tapi dia menyebut satu tempat."

"Apa?"

Gio menoleh dari kursi depan. "Arsip lama RS Jiwa rekanan di Bogor."

Nama itu membuat udara di mobil turun beberapa derajat.

Rayhan menatap pantulan lampu jalan di kaca depan.

"Atur pertemuan."

"Baik, Pak."

Di ponselnya, pesan Keira masih terbuka.

Aku bangga.

Rayhan menutup mata sebentar.

Jika catatan resmi itu palsu, maka seseorang bukan hanya mengambil masa lalu Keira.

Seseorang menulis ulang penderitaannya agar tampak seperti kesalahannya sendiri sepenuhnya.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!