Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Handoko terlihat lebih tua di ruang kunjungan tahanan.
Seragam tahanan membuat bahunya yang dulu selalu tegak di podium kampus tampak mengecil. Namun matanya masih sama. Mata seorang laki-laki yang terbiasa menyebut kalah sebagai strategi dan menyebut takut sebagai kehati-hatian.
Suparti duduk di seberangnya. Payung cokelat berdiri di sisi kursi, kering, tertutup rapi. Ia sengaja membawanya. Bukan untuk mengancam, tetapi agar Handoko ingat bahwa perempuan di depannya bukan lagi tubuh yang bisa ia dorong ke sudut.
"Kau datang juga," kata Handoko.
"Cynthia bilang kau ingin bicara."
"Aku ingin menyelesaikan secara baik-baik." Handoko melirik penjaga, lalu merendahkan suara. "Kita pernah menjadi suami istri. Tidak perlu saling menghancurkan sampai habis."
Suparti hampir tertawa. "Kau baru ingat kata suami istri setelah semua rekeningmu dibekukan?"
Rahang Handoko mengeras. "Jangan sombong hanya karena beberapa orang membantumu."
"Beberapa orang?" Suparti membuka tas, mengeluarkan ponsel, tetapi tidak menyalakannya. "Kau tahu siapa yang semalam datang mencari Alexander?"
Nama itu membuat mata Handoko bergerak.
Suparti melihatnya. Tepat seperti yang ia duga.
"Jenny," katanya.
Handoko memaksa wajahnya tetap datar. "Jangan bawa dia."
"Kenapa? Takut?"
"Jenny sakit. Dia tidak ada urusan dengan perceraian kita."
Suparti menatap laki-laki itu cukup lama. Dulu ia pernah iri pada Jenny. Iri pada cara Handoko berbicara lembut padanya, pada kesediaannya menghabiskan uang untuk perempuan itu, pada sabarnya menunggu satu pesan dari cinta lama.
Sekarang rasa itu hilang.
Yang tersisa hanya jijik.
"Dia tidak sakit," kata Suparti. "Dia mengaku sendiri."
Handoko menegang.
Suparti membuka rekaman beberapa detik. Suara Jenny terdengar jelas: Handoko terlalu mudah. Dia ingin dipuja, aku memberinya pujian. Dia ingin uangnya terasa berguna, aku pura-pura sakit.
Wajah Handoko berubah pucat.
Suparti menghentikan rekaman sebelum penjaga mendekat. "Masih mau membela dia?"
"Itu potongan."
"Selalu begitu jawaban orang tertangkap. Potongan. Salah paham. Dijebak." Suparti menyimpan ponselnya. "Kau boleh tetap percaya padanya. Tapi ingat, semakin lama kau menolak cerai, semakin banyak bukti yang akan masuk ke berkas."
Pintu ruang kunjungan dibuka. Seorang pria berkemeja rapi masuk membawa map biru. Ia menunduk singkat pada penjaga, lalu duduk di samping Handoko.
"Pak Handoko," katanya. "Saya Hendra Wibowo, S.H. Kita sudah bicara lewat kuasa keluarga."
Handoko tampak lega melihat pengacaranya, tetapi kelegaan itu tidak bertahan lama ketika Hendra membuka dokumen.
"Bu Suparti," kata Hendra dengan suara profesional, "pihak Pak Handoko bersedia membahas penyelesaian harta bersama sepanjang ada itikad baik."
"Itikad baiknya berapa?" tanya Suparti langsung.
Hendra berkedip sekali. Mungkin ia tidak menyangka perempuan di depannya akan memulai dari angka.
"Usulan awal, lima puluh lima persen untuk Ibu."
Suparti mengambil payung, memindahkannya ke sisi lain kursi, lalu berdiri.
Handoko panik. "Kau mau ke mana?"
"Pulang. Kalau aku hanya diberi lima puluh lima persen setelah tiga puluh tahun hidup dari seratus ribu rupiah sebulan, aku lebih baik biarkan hakim membaca semua daftar harta dan semua rekeningmu satu per satu."
Hendra cepat mengangkat tangan. "Bu Suparti, duduk dulu. Itu usulan awal."
"Kalau begitu jangan mulai dengan menghina."
Handoko mengepalkan tangan. "Kau serakah."
Suparti berbalik menatapnya. "Serakah? Kau punya rumah, tanah, rekening, dan uang kampus yang tidak pernah kau jelaskan. Aku dulu harus menghitung apakah seratus ribu cukup untuk beras, garam, dan obat masuk angin. Lalu sekarang aku disebut serakah karena meminta bagian yang seharusnya?"
Handoko membuka mulut, tetapi tidak ada kalimat yang keluar.
Hendra menarik napas. Ia sadar lawannya bukan perempuan yang mudah digertak.
"Baik," kata Hendra. "Tujuh puluh persen untuk Bu Suparti, tiga puluh persen untuk Pak Handoko, dengan catatan aset yang sudah masuk perkara pidana tetap tunduk pada proses penyitaan negara."
Suparti duduk kembali. "Tulis jelas. Jangan ada rekening tersembunyi yang nanti disebut salah hitung."
Hendra mencatat.
Handoko menatap dokumen itu seperti melihat kuburannya sendiri. "Aku tidak akan menandatangani."
"Tidak apa-apa," kata Suparti. "Aku hanya perlu menunggu sidang. Sambil menunggu, rekaman Jenny bisa masuk sebagai bukti bahwa perempuan yang kau biayai bertahun-tahun menggunakan penyakit palsu untuk menarik uang dari harta bersama."
"Kau kejam."
"Aku belajar darimu."
Handoko memukul meja kecil hingga penjaga menoleh. "Jangan sok bersih! Kau pikir kasus Yuyun itu bisa kau pakai terus untuk menekan aku? Anak itu lemah. Dunia akademik memang keras. Kalau dia tidak kuat..."
Suparti bergerak begitu cepat sampai Hendra sendiri terdiam.
Ia tidak memukul. Ia hanya mencondongkan tubuh, matanya menusuk Handoko.
"Selesaikan kalimatmu."
Handoko terdiam.
"Katakan di depan pengacara dan penjaga bahwa gadis yang hancur karena kalian itu lemah. Katakan. Biar kutambahkan ke berkas."
Hendra langsung menutup map setengah panik. "Pak Handoko, mohon jaga ucapan."
Suparti menatap Hendra. "Tulis juga bahwa klien Anda masih merendahkan korban."
Hendra tidak menjawab, tetapi tangannya tidak berhenti mencatat.
Handoko melihat itu dan untuk pertama kalinya sorot matanya goyah. Ia sedang kehilangan kendali, bukan hanya atas harta, tetapi atas cerita yang selama puluhan tahun ia kuasai.
Hendra meminta jeda singkat. Di kafe kecil dekat area pengunjung, kopi hitam di meja mereka tidak disentuh. Pengacara itu tampak lelah, tetapi tetap menjaga nada sopan.
"Bu Suparti, secara hukum saya tetap mewakili Pak Handoko," katanya. "Namun saya harus mengingatkan, perkara pidana yang menjerat beliau membuat ruang tawar sangat sempit."
"Saya tidak meminta simpati Pak Hendra."
"Saya tahu." Hendra menatap map biru. "Justru karena itu saya bicara jelas. Jika beliau menarik persetujuan, rekaman dan aliran dana ke Bu Jenny akan memperburuk posisinya dalam sengketa harta bersama. Saya akan menyampaikan itu."
Suparti mengangguk. Ia tidak menyukai Hendra, tetapi ia menghargai orang yang berbicara dengan bahasa yang bisa dipertanggungjawabkan.
"Sampaikan juga," katanya, "saya tidak lagi takut menunggu."
Hendra menutup map. "Saya rasa Pak Handoko yang sekarang takut pada waktu."
Mereka kembali ke ruang kunjungan dengan map yang sama, tetapi wajah Handoko tidak lagi sama.
Suparti menyodorkan pulpen.
"Tujuh puluh tiga puluh. Besok di pengadilan kau setujui. Kalau kau berubah pikiran lagi, aku pastikan semua rekaman diputar terbuka."
Ia menaruh satu lembar salinan di depan Handoko. Di sana tertulis daftar transfer ke rekening Jenny, tanggal kunjungan hotel, dan catatan pembelian obat palsu yang dulu dipakai Jenny untuk menguras uang. Handoko membaca tiga baris pertama saja, lalu wajahnya makin kusut.
"Semua ini akan masuk berkas?"
"Kalau kau memaksaku."
Handoko memandang pulpen itu.
Jari-jarinya gemetar karena marah, malu, dan mungkin takut pada satu nama yang selama ini ia puja.
Akhirnya ia mencengkeram pulpen sampai buku jarinya memutih.
"Aku tanda tangan."