Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Pesta Dansa
Ballroom hotel malam itu penuh kristal, musik waltz modern, dan senyum keluarga kaya yang tidak pernah benar-benar mencapai mata.
Keira masuk di samping Rayhan dengan gaun malam hitam yang jatuh seperti air gelap. Tahi lalat merah di ujung matanya terlihat tajam di bawah lampu, lebih mencuri perhatian daripada kalung safir di lehernya. Beberapa tamu yang semula sedang berbicara berhenti sejenak. Mereka tidak menatap lama secara terang-terangan, tetapi mata mereka kembali lagi dan lagi.
Rayhan berhenti setengah langkah.
"Aku berubah pikiran," gumamnya.
"Tentang apa?"
"Kita pulang."
"Kita baru datang."
"Mereka melihatmu terlalu lama."
Keira menatapnya datar. "Kamu yang mengajakku."
"Kesalahan strategi."
Steven yang muncul dari belakang tertawa. "Ray, muka lo seperti orang mau beli seluruh ballroom lalu matikan lampunya."
Rayhan mengabaikannya.
Keira mengambil gelas mocktail dari pelayan yang lewat. Ia tahu malam ini bukan sekadar pesta. Ini panggung lain. Di bawah cahaya yang tampak elegan, orang-orang seperti Brandon Oei dan Denny Kurniawan terbiasa menyembunyikan masa lalu di balik jas mahal.
Di sisi lain ruangan, Brandon berdiri dengan wajah lebih tirus sejak skandal Oei Group. Senyumnya kaku setiap kali seseorang menyebut bisnis keluarganya. Di sampingnya ada Denny, masih memakai penyangga ringan di pergelangan tangan akibat insiden lama yang tidak pernah masuk berita besar. Dua orang itu melihat Keira hampir bersamaan.
Keira mengangkat gelas sedikit.
Senyum kecil. Singkat. Cukup.
Denny membeku, lalu membalas dengan senyum yang terlalu cepat. Brandon menyipitkan mata, mencoba mengingat apakah ia pernah melihat perempuan itu. Ingatannya berhenti di tempat yang gelap, di lorong sekolah, pada wajah gadis lain yang dulu mereka anggap tidak penting.
Rayhan langsung menoleh. "Kamu kenal dia?"
"Tidak."
"Lalu kenapa tersenyum?"
"Karena dia menatap."
"Semua orang menatap."
"Aku tidak mungkin tersenyum ke semua orang."
Rayhan menatap Denny seperti ingin menghapusnya dari ruangan. Tangannya bergerak ke punggung Keira, menempel terlalu lama, seolah memberi tanda kepemilikan yang tidak diminta. Keira tidak menepis, tetapi tubuhnya menegang cukup halus untuk membuat Rayhan sadar.
Ia menurunkan tangan.
"Maaf," katanya pendek.
Keira meliriknya. Permintaan maaf itu kecil, tetapi tidak biasa dari Rayhan. Sayangnya malam ini ia tidak datang untuk memperbaiki Rayhan. Ia datang untuk menarik dua ular keluar dari sarangnya.
Sebelum Rayhan bergerak ke arah Denny, Lilian Hartono muncul bersama Vanessa. Lilian mengenakan kebaya modern warna perak, anggun dan dingin. Vanessa berdiri di sampingnya dengan gaun biru pucat, wajah tenang seperti perempuan yang sudah disiapkan untuk difoto bersama keluarga Hartono sejak lahir.
"Rayhan," panggil Lilian.
Rayhan menahan napas pendek. "Mama."
Lilian menatap Keira, lalu kembali pada Rayhan. "Engkong ingin menyapa beberapa tamu. Temani Mama."
"Aku bersama Keira."
"Keira bisa menunggu."
Kalimat itu halus. Justru karena halus, penghinaan di dalamnya lebih terasa. Seorang tante sosialita di dekat mereka pura-pura membetulkan gelang agar bisa mendengar.
Vanessa tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Ray. Aku bisa menemani Tante Lilian kalau kamu sibuk."
Rayhan menatap Vanessa. "Aku tidak minta."
Senyum Vanessa retak seujung kuku.
Lilian memucat sedikit. "Rayhan."
Keira menyentuh lengan Rayhan. "Pergilah. Aku ambil minum."
"Aku tidak mau meninggalkanmu dengan orang-orang seperti ini."
"Kalau kamu terus berdiri di sini, mereka akan semakin tahu aku penting bagimu."
Kalimat itu membuat Rayhan diam. Ia benci mengakuinya, tetapi Keira benar. Di dunia seperti ini, perhatian Rayhan adalah mahkota sekaligus target.
Rayhan menunduk ke telinganya. "Jangan hilang."
"Aku bukan anak kecil."
"Justru itu masalahnya."
Sebelum pergi, Rayhan membisikkan sesuatu yang membuat napas Keira berhenti setengah detik.
"Kamu perempuan pertamaku, Kei. Jangan beri senyum seperti itu pada pria lain."
Keira menatapnya.
Di tengah ballroom penuh suara, kalimat itu jatuh terlalu pribadi. Rayhan tidak mengatakan dengan bangga, melainkan dengan kecemburuan yang hampir polos. Untuk sekejap, topeng Keira retak. Ia hampir bertanya apakah Rayhan tahu betapa berbahayanya terdengar seperti itu.
Lalu ia kembali tenang.
Lilian membawa Rayhan ke arah Engkong. Vanessa mengikuti, tetapi sebelum pergi ia menoleh pada Keira.
"Kamu cepat sekali membuat diri terlihat nyaman di keluarga orang," katanya lirih.
Keira tersenyum. "Aku hanya berdiri. Kalau itu membuatmu tidak nyaman, mungkin masalahnya bukan aku."
Mata Vanessa menajam. Ia pergi tanpa membalas.
Keira menunggu sampai Rayhan cukup jauh. Lalu ia berjalan ke koridor menuju toilet.
Denny menyusul lebih cepat dari dugaan.
"Bu Keira, kan?" sapanya.
Keira pura-pura terkejut, lalu tanpa sengaja menginjak sepatu Denny. Hak sepatunya menekan cukup keras sampai wajah Denny berubah.
"Maaf."
"Tidak apa-apa." Denny tersenyum lebar, menahan sakit. "Kalau yang menginjak secantik ini, saya rela."
Keira menarik kakinya. "Anda teman Rayhan?"
"Kenalan. Denny Kurniawan."
"Keira."
"Saya tahu."
Cara Denny mengatakan itu membuat kulit Keira hampir merinding, bukan karena takut, melainkan karena ingatan. Dulu suara pria ini lebih muda, lebih keras, dan suka tertawa saat orang lain menangis. Sekarang ia memakai jas mahal dan parfum mahal, tetapi mata yang sama masih ada.
Keira membiarkan jeda kecil. "Kalau begitu, senang berkenalan."
Denny mengeluarkan ponsel. "Boleh saya simpan kontak? Siapa tahu suatu saat bisa... kerja sama."
Keira tahu maksudnya bukan kerja sama. Ia juga tahu tipe pria seperti Denny merasa paling hidup ketika bisa mengambil sesuatu yang dekat dengan pria lebih kuat.
Ia tetap memberi nomor WhatsApp.
Saat kembali ke ballroom, Steven melihat Keira keluar dari toilet dengan mata sedikit basah karena ia baru saja mencuci wajah. Ia langsung salah paham.
"Keira, lo nangis?"
"Tidak."
"Karena Tante Lilian?"
"Steven."
"Oke, aku panggil Ray."
"Jangan."
Terlambat. Steven sudah pergi dengan wajah panik. Keira menghela napas pendek. Di sisi panggung kecil, Brandon sedang menatap Denny yang baru kembali dari koridor. Curiga kecil mulai muncul di wajahnya. Bagus. Benih pertama selalu harus terlihat tidak disengaja.
Malam itu berakhir lebih cepat dari yang direncanakan. Di apartemen, Rayhan mencoba menghibur Keira dengan cara yang canggung: membelikan dessert, memijat bahu, lalu bertanya apakah Lilian mengatakan sesuatu.
"Mama terlalu keras," katanya sambil membuka kotak dessert ketiga. "Aku akan bicara dengannya."
"Tidak perlu."
"Dia membuatmu menangis."
"Aku tidak menangis."
"Steven bilang matamu basah."
"Steven terlalu mudah panik."
Rayhan duduk di depannya. "Kalau ada orang di rumahku yang membuatmu merasa kecil, aku tidak akan diam."
Keira menatap dessert yang terlalu banyak di meja. Perhatian Rayhan sering datang seperti badai, berlebihan dan sulit ditolak. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang hampir membuatnya lengah.
Sebelum tidur, ia memposting foto langit berbintang dari balkon hotel ke Instagram Story. Tidak ada wajah. Tidak ada caption.
Lima menit kemudian, pesan Denny masuk.
Langitnya cantik. Tapi pasti kalah dari yang memotretnya.
Rayhan melihat notifikasi itu ketika mengambil ponsel Keira dari meja untuk mematikan alarm yang terus berbunyi.
Ruang kamar mendadak sunyi.
Keira keluar dari kamar mandi dan melihat wajah Rayhan.
"Siapa Denny?"
"Orang di gala."
"Kenapa dia punya nomormu?"
"Dia meminta."
"Dan kamu beri?"
"Nomor kerja."
Rayhan tertawa pendek, sangat dingin. "Dia menggoda kamu."
"Aku bisa membaca."
"Dan kamu biarkan."
Keira menatapnya. "Apa yang akan kamu lakukan?"
Rayhan tidak menjawab. Ia mengambil jaket dan berjalan keluar.
Pintu tertutup keras.
Keira berdiri di tengah kamar, menatap layar ponsel yang masih menyala. Di layar itu, Denny mengirim satu pesan lagi.
Kalau besok kosong, saya bisa jemput.
Keira menghapus senyum dari wajahnya, lalu mematikan layar.
Umpan sudah dimakan.