NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Dua Pilihan di Ujung Jarum Waktu

Angin malam bertiup pelan menerpa wajah kami berdua yang masih diam terpaku di balkon. Pesan misterius itu terasa seolah masih menyala terang di layar ponselku, setiap katanya menusuk hingga ke dalam sanubari. Erlan perlahan mengambil ponsel itu dari tanganku, menatapnya lekat-lekat seolah bisa menemukan jejak siapa pengirimnya hanya dengan pandangan mata. Namun dia tahu persis seperti aku: pesan ini bukan berasal dari orang yang ingin berkuasa atau membalas dendam, melainkan suara dari hukum alam itu sendiri yang menagih janji yang tak tertulis.

"Masa lalu yang abadi atau masa depan yang mungkin terjadi..." gumamnya pelan, suaranya penuh kebingungan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Apa maksudnya? Apakah kita harus memilih antara tetap membawa semua kenangan dan rasa sakit itu selamanya, atau melupakan semuanya dan memulai hidup baru tanpa mengenal satu sama lain lagi?"

Pikiranku berputar hebat menyusuri segala kemungkinan mengerikan itu. Jika benar itu pilihannya, maka takdir sedang memainkan permainan paling kejam bagi kami. Cinta kami tumbuh dari kepedihan masa lalu, dari kesadaran bahwa kami tidak ingin kehilangan satu sama lain lagi. Jika ingatan itu diambil, maka ikatan yang menyatukan kami akan lenyap begitu saja. Namun jika kami mempertahankannya, apakah benar-benar ada masa depan yang menanti kami? Atau kami hanya akan hidup dalam ketakutan abadi bahwa keseimbangan itu suatu saat akan runtuh dan merenggut salah satu dari kami?

Keesokan paginya, aku terbangun lebih awal dari biasanya. Erlan masih tertidur pulas di sampingku, wajahnya tampak lelah meski dalam tidurnya dia terus menggenggam tanganku erat seolah takut aku akan menghilang dalam mimpi. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang baca tua di rumah itu, berharap ada satu halaman lagi yang belum kubaca dengan saksama. Di sana, di bagian paling bawah rak buku yang tertutup debu tebal, aku menemukan sebuah buku jilid kulit berwarna hitam pekat yang tidak ada judulnya.

Saat membukanya, getaran aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Tulisan di dalamnya adalah gabungan tulisan tangan kakek Erlan dan nenek buyutku, seolah mereka menulisnya bersama-sama. Di sana tertulis penjelasan yang selama ini kami cari, kekuatan untuk melintasi waktu itu tidak pernah memberikan "kesempatan kedua" secara cuma-cuma. Setiap kali ada yang kembali hidup, alam semesta menciptakan dua jalur waktu yang bertabrakan. Dan untuk mencegah hancurnya seluruh realitas, jalur itu harus segera disatukan kembali dengan satu cara: salah satu dari kalian harus memilih untuk "kembali ke tempatnya".

Bukan berarti mati, namun berarti menghapus keberadaannya di dunia ini. Semua orang akan melupakan keberadaannya, semua jejak langkahnya akan hilang seolah tak pernah ada, dan hanya orang yang memilih tetap tinggal yang akan mengingat segalanya selamanya sebagai beban seumur hidup. Atau ada pilihan kedua: kalian berdua tetap hidup berdampingan, namun pintu waktu akan tertutup rapat dan tidak akan pernah bisa dibuka lagi bersama dengan hilangnya semua kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin masih akan terjadi di masa depan.

Tangan gemetar menutup buku itu perlahan. Jadi pilihan itu bukan sekadar melupakan atau mengingat. Itu adalah pilihan antara menghapus diri sendiri demi kebahagiaan orang yang dicintai, atau hidup bersama namun dengan pedang bermata dua yang tergantung di leher seumur hidup. Dan yang paling menyakitkan: buku itu menegaskan bahwa batas waktu untuk memilih hanya tinggal tiga hari lagi. Setelah itu, alam akan mengambil keputusan sendiri dan keputusannya pasti akan jauh lebih kejam daripada apa pun yang bisa kami bayangkan.

Saat aku hendak menyembunyikan buku itu agar Erlan tidak membacanya dan merasa terbebani, suara langkah kaki terdengar dari pintu. Erlan berdiri di sana, wajahnya pucat pasi. Dia sudah melihat isi buku itu dari belakang bahuku. Dia berjalan mendekat perlahan, lalu berlutut di depanku, menatap mataku dengan pandangan yang penuh kesedihan namun juga penuh tekad yang tak tergoyahkan.

"Jangan pernah berpikir untuk memilih menghapus dirimu, Dian," ucapnya tegas, suaranya bergetar menahan tangis. "Jika harus ada yang pergi, maka itu adalah aku. Aku sudah merasakan betapa menyakitkannya hidup tanpamu sekali. Aku tidak sanggup membiarkanmu merasakan rasa sakit yang sama lagi."

"Kau bicara omong kosong!" potongku tak kuasa menahan emosi, air mata mulai mengalir deras. "Aku yang memulai semua ini. Aku yang memohon pada takdir untuk kembali. Jika ada yang harus bertanggung jawab, itu adalah aku. Kau tidak berhak mengorbankan dirimu demi kesalahan yang bukan kau buat!"

Kami berdebat cukup lama, masing-masing bersikeras ingin mengambil pengorbanan terberat itu demi menyelamatkan nyawa orang yang dicintai. Hingga akhirnya kami menyadari satu hal yang menyedihkan: kami berdua sama-sama tidak sanggup hidup tanpa satu sama lain, namun kami juga tidak sanggup membiarkan dunia di sekitar kami hancur karena keegoisan kami. Di tengah kebimbangan itu, Dimas datang menghampiri kami dengan wajah serius. Dia membawa sebuah dokumen lama yang berhasil dia temukan di antara tumpukan barang bukti Paman Haris.

"Mungkin ada jalan ketiga," ucapnya pelan saat kami duduk bersama di ruang tengah. "Paman Haris sebenarnya sudah menemukan cara untuk memutus ikatan itu tanpa harus menghapus salah satu dari kalian. Tapi dia menyembunyikannya karena dia ingin membiarkan kalian hancur oleh pilihan itu sendiri. Syaratnya sungguh berat, kalian harus berjanji secara tulus untuk melepaskan keinginan kalian untuk mengubah takdir siapa pun lagi. Kalian harus melepaskan kekuatan itu sepenuhnya dan membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai jalurnya, sekalipun itu berarti melihat orang yang kalian sayangi terluka atau meninggal nanti tanpa bisa mencegahnya."

Hening kembali menyelimuti ruangan. Itu berarti kami harus hidup dengan ketakutan abadi, mengetahui bahwa kami memiliki kemampuan untuk membantu namun tidak diperbolehkan melakukannya. Itu berarti melepaskan senjata satu-satunya yang kami miliki untuk melindungi keluarga kami di masa depan. Namun setidaknya... itu berarti kami berdua bisa tetap hidup bersama, berpegangan tangan menua bersama hingga rambut kami memutih.

Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku melihat Erlan yang terlelap namun alisnya terus berkerut gelisah. Aku menyadari satu hal penting: cinta sejati bukan berarti selalu memiliki kekuatan untuk melindungi orang yang kita cintai dari segala bahaya. Cinta sejati adalah berani berdiri di sampingnya dan menghadapi segala bahaya itu bersama-sama, walau tangan kita kosong dan hati kita penuh ketakutan.

Namun saat aku mendekat untuk memeluknya, sebuah cahaya samar keluar dari liontin dan cincin yang menyatu di leherku. Cahaya itu membentuk tulisan baru di udara, kali ini seolah berbicara langsung pada hatiku: "Hati yang rela berkorban seringkali menyembunyikan kebohongan yang paling menyakitkan. Ingatlah, pengorbanan yang tidak saling diketahui nilainya bukanlah kasih sayang, melainkan beban yang akan memisahkan kalian selamanya."

Apakah pesan itu memperingatkan kami agar tidak saling berkorban diam-diam? Atau apakah ada jebakan lain yang tersembunyi di balik jalan ketiga yang ditawarkan Dimas? Dan mengapa Paman Haris yang jahat itu justru menyimpan cara penyelamatan ini, bukannya memanfaatkannya untuk menghancurkan kami? Semakin kami mendekati jawaban, semakin banyak teka-teki baru yang bermunculan, seolah takdir sedang menguji ketulusan hati kami hingga ke batas paling ujung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!