Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Pembunuh di Tengah Malam
Anak ini, jelas bukan anak hilang biasa.
Meilan bangun dari sofa dan berjalan mendekat. Sani masih berdiri di dekat jendela, satu tangan menahan perut, wajahnya pucat karena nyeri dan tertangkap basah.
"Mau pergi?" tanya Meilan.
Sani menunduk. "Saya cuma... ingin lihat luar."
"Orang yang benar-benar lupa ingatan biasanya takut pada luar. Kamu justru menghitung jalur keluar."
Ia tidak menjawab.
Meilan menunjuk kasur lipat. "Tidur. Kalau kamu ingin terus pura-pura, setidaknya pura-puralah dengan tubuh yang masih bisa berdiri besok."
Sani kembali ke kasur. Saat ia berbaring, matanya sesaat menatap laci tempat liontin hijau disimpan. Meilan melihatnya, tetapi tidak membahas.
Tiga hari berikutnya, rumah itu hidup dengan aturan baru.
Sani tidak boleh keluar kamar depan tanpa izin. Sari mengganti perban sesuai instruksi Dr. Zhou. Lala setiap pagi meletakkan satu benda kecil di dekat kasurnya, kadang stiker, kadang biskuit, kadang daun kering yang menurutnya "bagus". Bobo mengawasi dari jarak aman, tidak percaya sepenuhnya. Yan lebih diam lagi, tetapi selalu duduk di posisi yang bisa melihat Sani dan pintu. Hugo, yang awalnya takut pada darah, mulai berani bertanya apakah luka Sani sakit.
"Sakit," jawab Sani suatu pagi.
Hugo mengangguk serius. "Kalau sakit, jangan sok kuat. Nanti dimarahi Ci Mei."
Sani hampir tersenyum.
Meilan pura-pura tidak melihat.
Di luar, Darto melaporkan bahwa dua motor asing beberapa kali melewati Griya Asri. Tidak berhenti, tidak bertanya, tetapi terlalu lambat untuk sekadar tersesat. Meilan memindahkan posisi tidur anak-anak ke kamar tengah, memasang bel kecil di pintu belakang, dan meminta Sari tidak menyalakan lampu dapur setelah jam sepuluh.
Sani memperhatikan semua itu dari kasurnya.
"Bu Meilan," katanya pelan ketika rumah sudah tenang, "saya bisa pergi kalau merepotkan."
"Kamu bisa pergi setelah jahitanmu tidak terbuka hanya karena batuk."
"Kalau orang yang mengejar saya datang?"
"Maka mereka salah memilih rumah."
Sani menatapnya. Untuk pertama kalinya, ekspresi remaja itu tidak sepenuhnya terkontrol. Ada rasa heran di sana, juga sesuatu yang hampir seperti iri. Mungkin ia tidak terbiasa ada orang dewasa berkata begitu tanpa menuntut imbalan.
Malam keempat datang terlalu sunyi.
Tidak ada hujan. Tidak ada suara warung. Bahkan anjing tetangga yang biasanya menggonggong pada apa pun diam sejak sore.
Meilan tidak suka keheningan yang terlalu rapi.
Ia mematikan lampu ruang tengah lebih awal, menyuruh Sari tidur bersama anak-anak, lalu duduk di dapur dengan segelas air. Pisau kecil ada di bawah meja. Ponsel dengan nomor darurat Nelson tersimpan di saku.
Pukul dua lewat sedikit, bel kecil di pintu belakang berbunyi satu kali.
Sangat pelan.
Meilan berdiri.
Bayangan pertama muncul di dekat jendela dapur. Orang itu memakai pakaian gelap dan sarung tangan. Gerakannya terlatih, bukan preman pasar. Ia memeriksa kunci, lalu memberi isyarat ke halaman.
Lima orang.
Mereka tidak datang untuk menakut-nakuti. Mereka datang untuk mengambil nyawa.
Meilan membuka pintu dapur sebelum mereka sempat membukanya dari luar.
Orang pertama membeku.
Meilan menarik pergelangan tangannya, memutar siku, lalu menekan titik di lehernya. Tubuh pria itu kehilangan tenaga sebelum sempat mengeluarkan suara. Ia jatuh ke lantai dapur seperti karung basah.
Orang kedua melompat dari jendela.
Meilan melempar gelas ke wajahnya. Saat pria itu refleks menutup mata, lutut Meilan menghantam perutnya. Ia menekuk, dan pukulan pendek di bawah telinga membuatnya roboh.
Sani terbangun di ruang depan. Matanya melebar ketika melihat dua tubuh di lantai. Ia mencoba bangun, tetapi rasa sakit membuatnya menahan napas.
"Jangan bergerak," kata Meilan tanpa menoleh.
Tiga orang tersisa masuk dari halaman.
Salah satu membawa pisau lipat. Yang lain membawa tongkat pendek. Orang terakhir berdiri sedikit di belakang, tangan di balik jaket. Pemimpin.
"Serahkan anak itu," katanya dalam suara rendah. "Kami tidak mencari masalah denganmu."
Meilan mengambil kain lap dan mengikat rambutnya. "Kalian sudah masuk dapurku."
"Perempuan, jangan ikut campur."
"Terlambat."
Pria dengan tongkat maju dulu. Meilan mundur setengah langkah, membiarkan tongkat menghantam rak kosong. Bunyi kayu pecah membuat Sari terbangun di kamar. Ia hampir berteriak, tetapi Bobo lebih cepat menutup mulutnya dengan tangan kecil.
"Mama bilang diam," bisik Bobo.
Lala gemetar di pelukan Sari. Yan menarik Hugo menjauh dari pintu kamar. Anak-anak tidak keluar. Mereka takut, tetapi patuh.
Di dapur, Meilan menendang lutut penyerang pertama dari samping. Bunyi retak pendek terdengar. Pria itu jatuh sambil menahan jerit. Pria berpisau menyerang dari kiri. Meilan menahan pergelangan tangannya dengan talenan kayu, memukul tulang tangannya sampai pisau jatuh, lalu menghantam dagunya dengan siku.
Dua lagi.
Pemimpin akhirnya mengeluarkan pistol kecil dari balik jaket.
Sani memucat. "Awas!"
Meilan sudah bergerak sebelum suara Sani selesai. Ia menarik pria berpisau yang setengah sadar sebagai penghalang. Pemimpin ragu sepersekian detik, cukup bagi Meilan untuk melempar pisau jatuh ke arah lampu.
Lampu dapur pecah.
Gelap menelan ruangan.
Dalam gelap, telinga Meilan bekerja lebih cepat daripada mata. Napas, gesekan sepatu, kain jaket. Ia meraih pergelangan bersenjata dari samping, memutar ke atas, lalu menghantamkan siku ke tenggorokan pria itu. Pistol jatuh. Meilan menendangnya ke bawah lemari.
Pemimpin tersedak, mencoba melawan. Meilan menekan wajahnya ke meja, mengunci tangannya ke belakang.
"Siapa yang mengirim kalian?"
Pria itu tertawa serak. "Kamu tidak tahu anak itu siapa."
"Karena itu aku bertanya."
"Terlambat. Mereka akan datang lagi."
Meilan memperkuat tekanan sampai pria itu mengerang.
"Siapa?"
Ia tidak menjawab.
Sani berdiri dengan susah payah di pintu ruang depan. Wajahnya lebih pucat daripada kertas. Namun yang membuat Meilan memperhatikan bukan rasa takutnya, melainkan cara rahangnya mengeras saat mendengar kata "mereka". Anak ini tahu.
Meilan tidak memaksa di depan Sani.
Ia mengikat kelima orang itu dengan kabel dan kain sprei, memotret wajah, tangan, senjata, serta posisi masuk mereka. Lalu ia memakai kartu SIM cadangan untuk mengirim laporan anonim ke nomor polisi wilayah: lima penyusup bersenjata di Griya Asri, diduga terkait penculikan dan percobaan pembunuhan.
Sebelum polisi datang, ia memeriksa saku mereka satu per satu memakai sarung tangan plastik. Tidak ada dompet. Tidak ada kartu identitas. Hanya satu ponsel murah tanpa daftar kontak, dua earpiece kecil, dan kunci motor tanpa gantungan. Orang biasa yang datang mencuri tidak menghapus dirinya sebersih ini.
Pada lengan pemimpin, ada bekas tato yang sengaja dibakar sebagian. Meilan memotretnya dari beberapa sudut. Simbol itu tidak ia kenal, tetapi cara mereka bergerak membuatnya yakin: ini bukan kelompok lokal Leo.
Terlalu bersih.
Terlalu mahal.
"Mereka bukan orang restoran," kata Sani pelan dari ruang depan.
Meilan menoleh. "Kamu tahu siapa mereka?"
Sani menutup mulut. Sesaat tadi ia lupa perannya sebagai anak hilang tanpa ingatan.
"Saya... cuma menebak."
"Tebakan anak amnesia cukup tajam."
Ia menunduk, jemarinya mencengkeram selimut. Rasa sakit, takut, dan rasa bersalah bercampur di wajahnya. Ia masih remaja. Sepandai apa pun ia menutup rahasia, beban membawa pembunuh ke rumah yang penuh anak kecil tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Meilan mendekat dan merendahkan suara. "Dengar. Aku tidak akan memaksamu bicara malam ini. Tapi kalau ada hal yang bisa membuat anak-anak di rumah ini selamat, kamu harus mengatakannya sebelum terlambat."
Sani mengangkat mata.
"Mereka mungkin datang lagi," bisiknya.
"Aku tahu."
"Kenapa tetap menolong saya?"
Meilan menatap kamar tengah, tempat Lala masih menangis kecil dalam pelukan Sari dan Bobo berusaha terlihat berani.
"Karena kalau aku mulai memilih anak mana yang pantas diselamatkan berdasarkan seberapa besar masalahnya, aku tidak berbeda jauh dari orang yang mengejarmu."
Darto datang setelah melihat pesan singkat dari Meilan. Ia hampir jatuh ketika melihat lima pria terikat di dapur.
"Mbak Mei..."
"Jangan sentuh apa pun. Polisi akan datang."
Nelson juga menerima salinan foto tanpa nama pengirim. Dua puluh menit kemudian, mobil patroli tiba. Meilan sudah mengganti pakaian, Sari sudah menenangkan anak-anak, dan Sani kembali berbaring seperti pasien lemah yang tidak tahu apa-apa.
Polisi membawa kelima pria itu. Karena bukti senjata dan rekaman foto jelas, tidak ada ruang untuk menyebut ini salah paham.
Setelah mobil patroli pergi, barulah Lala keluar dari kamar. Wajahnya basah oleh air mata. Ia memeluk kaki Meilan tanpa bertanya apa pun.
"Mama bau obat," gumamnya.
"Mama akan mandi."
Bobo berdiri di belakangnya, wajah kecilnya kaku. "Orang jahat sudah pergi?"
"Sudah."
"Akan datang lagi?"
Meilan tidak ingin berbohong.
"Mungkin. Tapi Mama sudah siap."
Bobo mengangguk pelan, lalu menggenggam tangan Lala lebih erat. Ia tidak mengatakan akan melawan. Ia hanya membawa adiknya kembali ke kamar, persis seperti perintah yang sudah diajarkan Meilan. Malam itu, kepatuhan kecil itu terasa lebih berharga daripada keberanian yang salah tempat.
Pagi hari, rumah masih berbau obat dan kayu pecah. Sari masuk dapur dengan mata merah tetapi tetap menyalakan kompor.
"Mbak Mei, semua belum sarapan."
"Kamu bisa istirahat."
"Kalau tidak masak, saya malah makin takut."
Ia membuat bakmi sederhana, kuahnya bening, ayamnya disuwir kecil, bawang gorengnya wangi. Mangkok pertama ia berikan kepada Sani.
"Makan pelan. Lukamu bisa sakit kalau terburu-buru."
Sani menerima mangkuk itu. Ia menatap bakmi lama, lalu menyuap satu sendok.
Matanya berubah.
"Enak," katanya pelan.
Sari tersipu. "Cuma bakmi biasa."
"Tidak. Ini..." Ia berhenti, seperti sadar terlalu banyak bicara. "Ini yang paling enak."
Sari menunduk, tetapi sudut bibirnya naik.
Meilan melihat dari meja makan dan tidak berkomentar.
Siang itu, saat semua orang sibuk memperbaiki pintu dapur, Sani diam-diam meminjam ponsel lama yang biasa dipakai Darto untuk memutar musik anak-anak. Ia membuka portal berita.
Judul pertama membuat napasnya berhenti sejenak.
`Pewaris Sutanto Group, Adrian Sutanto, Diduga Menghilang. Manajemen Bungkam.`
Sani menatap layar lama sekali.
Lalu ia mematikan ponsel, melihat ke dapur tempat Sari sedang mencuci mangkuk, dan tersenyum sangat tipis.