NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Rahasia yang Manis

"Mencoba tidak lari saat kau datang."

Reynard menatap Seraphina seperti kalimat itu lebih berharga daripada semua kontrak yang pernah ia tanda tangani.

Ia tidak langsung tersenyum. Justru karena ia menahan diri, Seraphina bisa melihat betapa besar dampak kalimat itu padanya. Pria yang bisa membuat ruang rapat tunduk dengan satu tatapan kini duduk di kursi meeting Astoria pukul subuh, menggenggam tangannya seolah takut gerakan terlalu cepat akan membuat keberanian kecil itu pergi.

"Aku akan datang pelan-pelan," katanya.

Seraphina mengangkat alis. "Kau? Pelan-pelan?"

"Aku bisa belajar."

"Kau sudah mengucapkan itu beberapa kali."

"Karena gurunya sulit."

Seraphina hampir tertawa. "Kau sedang menyalahkanku?"

"Aku sedang memuji tantangan."

Udara subuh masuk melalui celah pendingin ruangan. Di luar, langit Jakarta mulai terang. Di dalam, ruang meeting masih berantakan: gelas kopi kosong, kabel, papan tulis penuh coretan, dan dua orang yang terlalu lelah untuk berpura-pura tidak sedang berada di ambang perubahan besar.

"Kalau kita mencoba," kata Seraphina pelan, "apa artinya?"

Reynard tidak menjawab sembarangan. Ia menatapnya seperti sedang menimbang kata, bukan karena tidak yakin, melainkan karena ingin memberi bentuk yang tidak membuatnya terpojok.

"Artinya aku mengejarmu dengan izinmu. Artinya kau boleh marah, boleh takut, boleh meminta waktu. Artinya aku tidak mendekati perempuan lain, tidak memberi ruang pada salah paham, dan tidak memperlakukanmu seperti opsi."

Seraphina menelan sesuatu yang hangat dan menyakitkan.

"Itu terdengar seperti pacaran."

"Kalau kau mengizinkan kata itu."

Kata pacaran terasa aneh di lidah Seraphina. Terlalu sederhana untuk semua yang sudah mereka lewati. Terlalu remaja untuk orang yang baru saja melawan keluarga dan sabotase bisnis. Namun mungkin justru itu yang ia butuhkan: sebuah kata sederhana yang tidak dimiliki Hendrawan, tidak ditentukan Kevin, tidak ditawar di meja keluarga.

"Aku mengizinkan," katanya.

Reynard menutup mata sesaat.

Ketika ia membukanya, tatapannya begitu lembut sampai Seraphina harus memalingkan wajah.

"Tapi ada satu hal," lanjutnya cepat.

"Katakan."

"Untuk sementara, jangan umumkan."

Reynard tidak terlihat tersinggung. "Karena Astoria?"

"Astoria, proyek DKI, keluarga Lim, Wijaya. Kalau semua orang tahu sekarang, mereka akan menjadikan hubungan ini senjata. Mereka akan bilang aku menang karena kau. Mereka akan bilang aku menolak Kevin karena punya Hartono. Aku belum selesai membangun pijakanku sendiri."

"Aku mengerti."

"Aku tidak ingin menyembunyikanmu karena malu."

"Aku tahu."

"Aku hanya ingin memilih kapan dunia boleh masuk."

Reynard mengangkat tangan Seraphina, berhenti sebentar meminta izin lewat tatapan. Ketika Seraphina tidak menarik diri, ia mengecup punggung tangannya.

Sentuhan itu ringan, tetapi membuat dada Seraphina bergetar.

"Kalau rahasia itu caramu melindungi dirimu," kata Reynard, "aku akan menjaganya."

"Kau tidak keberatan?"

"Aku ingin meneriakkan namamu ke seluruh Jakarta." Ia menatapnya. "Tapi aku lebih ingin kau merasa aman."

Seraphina tidak punya jawaban untuk kalimat itu.

Pagi benar-benar datang. Staf pertama Astoria masuk pukul enam lewat tiga puluh dan hampir menjatuhkan tas ketika melihat Reynard Hartono keluar dari ruang meeting sambil membawa kotak makanan kosong.

Seraphina keluar dua langkah di belakangnya, wajahnya tenang meski telinganya terasa panas.

Staf itu berkedip. "Pagi, Bu. Pagi, Pak Rey."

"Pagi," jawab Reynard datar, seolah pewaris Hartono Group memang biasa berada di kantor kecil Astoria saat matahari terbit.

Seraphina menatap stafnya. "Kamu tidak melihat apa pun yang relevan dengan pekerjaan."

Staf itu langsung mengangguk terlalu cepat. "Tidak lihat apa-apa, Bu. Saya bahkan belum bangun sepenuhnya."

Setelah Reynard pergi, ponsel Seraphina bergetar.

Pesan dari Natasha.

Aku mencium sesuatu.

Seraphina menatap layar. Dari mana dia tahu?

Pesan kedua masuk.

Jangan panik. Aku mencium gosip dari staf Jason, bukan dari wajahmu. Walaupun wajahmu pasti mencurigakan.

Seraphina mengetik:

Tidak ada gosip.

Natasha membalas:

Kalimat orang bersalah.

Seraphina menutup ponsel sebelum tersenyum terlalu jelas.

Hari itu berjalan seperti biasa, kecuali semuanya tidak lagi sama. Reynard mengirim pesan siang hari, bukan bertanya proyek, melainkan:

Pacarku sudah makan?

Seraphina hampir tersedak air mineral.

Ia mengetik:

Kata itu tidak boleh dipakai sembarangan di jam kerja.

Balasan Reynard:

Baik. Bu CEO sudah makan?

Seraphina menatap layar, kalah oleh senyumnya sendiri.

Sore harinya, mereka bertemu dalam rapat resmi Hartono-Astoria.

Di ruang meeting Astoria, Reynard duduk di sisi meja sebagai Pak Rey dari Hartono Group. Seraphina duduk di seberangnya sebagai Bu Sera dari PT Astoria Teknologi. Di antara mereka ada tim legal, analis sistem, dan dokumen kerja sama yang penuh catatan.

"Bu Sera, apakah timeline integrasi modul bisa disesuaikan dengan jadwal pilot DKI?" tanya Reynard dengan nada formal.

Staf operasional mencatat serius.

Seraphina menahan keinginan untuk menatapnya terlalu lama. "Bisa, Pak Rey. Tapi kami perlu akses data simulasi lebih awal."

"Akan kami siapkan."

Semua terdengar normal.

Sampai ponsel Seraphina menyala di bawah meja.

Pesan dari Reynard:

Kau terlihat terlalu jauh.

Seraphina hampir menjatuhkan pena.

Ia mengangkat mata. Reynard masih menatap dokumen dengan wajah datar, seolah tidak baru saja mengirim pesan yang membuat telinganya panas.

Seraphina membalas tanpa mengubah ekspresi:

Ini rapat.

Balasan:

Aku tahu. Itu masalahnya.

Seraphina menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum.

Analis sistem yang sedang menjelaskan risiko integrasi berhenti. "Bu?"

Seraphina langsung kembali profesional. "Lanjutkan. Bagian latency tadi ulangi."

Rapat selesai tanpa seorang pun menyadari bahwa di bawah meja, dua orang yang baru sepakat berpacaran diam-diam sedang belajar menahan senyum seperti menyimpan rahasia paling berbahaya di ruangan.

Ketika Reynard pergi, ia hanya mengangguk sopan.

"Terima kasih atas waktunya, Bu Sera."

Seraphina mengangguk sama sopannya. "Sama-sama, Pak Rey."

Namun begitu pintu lift menutup, pesan baru masuk.

Aku ingin mencium pacarku setelah rapat tadi. Tapi aku patuh aturan.

Seraphina menatap layar sampai stafnya bertanya apakah ada revisi kontrak mendadak.

"Tidak," jawabnya cepat. "Tidak ada."

Malamnya, setelah semua orang pulang dan kantor kembali sepi, Reynard datang menjemput. Kali ini ia tidak membawa dokumen, tidak membawa proposal, tidak membawa alasan kerja.

Ia hanya berdiri di depan pintu kaca Astoria, menunggu Seraphina mengunci kantor.

"Ke mana?" tanya Seraphina.

"Teluk Mutiara."

"Kenapa?"

"Aku ingin memberimu satu tempat untuk mengingat hari ini."

"Hari ini?"

Reynard menatapnya. "Hari pertama kau tidak lari."

Seraphina menggenggam tali tasnya lebih erat.

"Besok jadwal pilot masih padat."

"Aku tahu. Kita tidak lama."

"Ini terdengar seperti jebakan romantis."

"Benar."

Seraphina menatapnya, lalu akhirnya tertawa kecil.

"Setidaknya kau jujur."

Reynard membuka pintu mobil untuknya. "Mulai sekarang, aku akan berusaha begitu."

Seraphina masuk ke mobil, membawa rahasia baru yang terasa hangat di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!