Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Jebakan
Seseorang sudah mengganti isi surat itu lebih dulu.
Seline menatap kertas kosong di atas meja, lalu pelan-pelan menurunkan pisau pemotong kertas. Rasa takut yang tadi menekan dadanya tidak hilang, tetapi berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Kalau isi aslinya sudah hilang, berarti ada dua kemungkinan.
Pertama, orang yang memasang jebakan berubah pikiran.
Kedua, ada orang lain yang lebih dulu menyadari jebakan itu dan menyingkirkan isinya.
Kemungkinan pertama terlalu baik untuk rumah Hartono. Kemungkinan kedua terlalu berbahaya karena Seline tidak tahu siapa yang bergerak.
Ia tidak punya waktu menebak terlalu lama.
Dari luar kamar, terdengar langkah beberapa orang mendekat. Bukan satu. Setidaknya tiga pasang. Suara Vivian mudah dikenali dari tawa kecilnya yang sengaja dibuat ringan.
Seline menatap kertas kosong itu sekali lagi.
Jika mereka datang untuk mencari surat, maka mereka yakin ada sesuatu yang bisa ditemukan. Kalau Seline hanya menunjukkan kertas kosong, mereka bisa berkata ia sudah menyembunyikan isi aslinya. Kalau ia membuang kertas itu, ia terlihat lebih bersalah. Ia butuh sesuatu yang membuat jebakan itu tampak bodoh, bukan hanya gagal.
Matanya bergerak ke kotak alat gambar.
Ia mengambil pensil, menahan napas, lalu menggambar cepat di kertas kosong itu. Bukan garis halus Tao. Bukan lampion, bukan wajah, bukan sesuatu yang bisa membuat Kevin menatapnya curiga lagi. Hanya tiga ekor kucing bulat dengan ekspresi berbeda: satu tidur, satu menjilat kaki, satu menatap kosong seperti Darren saat belajar Bahasa Inggris.
Di bawahnya ia menulis kecil, Untuk Darren, supaya tidak takut sekolah baru.
Tulisan itu sederhana. Gambar itu sengaja dibuat ringan, hampir seperti coretan kakak untuk adik.
Ketukan pintu terdengar.
"Seline?" suara Tante Chen lembut. "Tante boleh masuk?"
Seline memasukkan ponsel ke saku, meletakkan kertas bergambar itu kembali ke dalam amplop, lalu membuka pintu.
Tante Chen berdiri di depan bersama Vivian dan Tante Liu. Di belakang mereka ada seorang pelayan perempuan membawa nampan teh, seolah kunjungan itu benar-benar bentuk perhatian keluarga. Beberapa langkah lebih jauh, Jessica tampak menyusul dengan wajah curiga.
"Tante?" Seline bertanya, pura-pura tidak tahu.
Tante Chen menatap wajahnya dengan penuh kasih sayang yang terlalu rapi. "Tante kepikiran soal surat tadi. Kamu baru tinggal di sini. Kalau ada orang luar yang membuatmu tidak nyaman, jangan ditanggung sendiri."
Vivian melongok ke dalam kamar. "Kami cuma khawatir. Surat pribadi dari pria luar bisa jadi masalah kalau salah ditangani."
Jessica langsung menyela dari belakang, "Kamu sudah memutuskan pengirimnya pria?"
Vivian tersenyum. "Aku bilang kalau."
Seline membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk, Tante."
Ia sengaja tidak terlihat panik. Kamar itu rapi. Koper tertutup. Tablet dan sketsa tersembunyi di tempatnya. Di meja hanya ada amplop putih, buku sekolah Darren, dan gelas air.
Tante Chen masuk dengan langkah pelan, seolah benar-benar tidak ingin mengganggu. Matanya menyapu meja, ranjang, lemari, lalu kembali pada amplop.
"Kamu sudah baca?"
"Sudah."
"Isinya apa?" Vivian bertanya terlalu cepat.
Seline menatapnya sebentar. "Gambar."
Ruangan menjadi diam.
Tante Chen masih tersenyum. "Gambar?"
"Iya." Seline mengambil amplop dari meja dan mengeluarkan kertas itu. "Sepertinya ada yang iseng menitipkan. Mungkin untuk Darren."
Ia membuka lipatan kertas.
Tiga ekor kucing bulat muncul di hadapan mereka.
Tante Liu tidak bisa menahan diri. "Oh."
Jessica melihat gambar itu, lalu langsung menggigit bibir agar tidak tertawa. Vivian membeku. Wajah Tante Chen tetap tenang, tetapi warna di matanya berubah.
"Untuk Darren, supaya tidak takut sekolah baru," Jessica membaca tulisan di bawah gambar, suaranya terlalu ceria. "Lucu juga."
Seline menunduk sedikit. "Darren memang suka kucing. Saya pikir mungkin Jason atau salah satu anak muda di rumah ini bercanda."
"Aku tidak menggambar kucing," kata Jessica cepat, lalu tertawa kecil. "Tapi kalau aku yang buat, kucingnya pasti lebih jelek."
Vivian mengambil setengah langkah maju. "Itu saja?"
"Iya."
"Tidak ada tulisan lain?"
Seline menatapnya dengan polos. "Vivian berharap ada tulisan apa?"
Pertanyaan itu membuat udara berhenti.
Tante Liu melirik Vivian. Pelayan yang membawa nampan menunduk lebih dalam. Jessica akhirnya tidak menahan senyumnya lagi.
Vivian cepat berkata, "Aku hanya bertanya."
"Saya juga hanya menjawab."
Tante Chen mengulurkan tangan. "Boleh Tante lihat amplopnya?"
Seline menyerahkan amplop tanpa ragu. Ia sudah memotret semuanya. Tante Chen memeriksa bagian depan, bagian perekat, lalu isi kertas sekali lagi. Seline memperhatikan jari perempuan itu berhenti sepersekian detik pada noda tinta di sisi nama.
Tante Chen tahu noda itu ada.
Atau setidaknya ia tahu seharusnya ada sesuatu di sana.
"Aneh," kata Tante Chen akhirnya. "Kalau hanya gambar, kenapa tidak langsung diberikan ke Darren?"
"Mungkin orangnya malu," jawab Jessica sebelum Seline sempat bicara. "Atau mungkin memang cuma anak-anak iseng."
Vivian tidak mau kalah. "Tetap saja, barang dari luar harus diperiksa. Bagaimana kalau ada surat lain?"
"Surat lain?" Jessica mengangkat alis. "Di kamar Seline? Kamu mau menggeledah?"
Kata itu keluar terlalu jelas.
Tante Chen langsung menegur lembut, "Jess, jangan bicara kasar. Tidak ada yang menggeledah. Kami hanya memastikan Seline aman."
Seline menatap Tante Chen. Inilah inti kedatangan mereka. Bukan melihat surat. Mencari isi yang mereka kira masih ada.
Ia tersenyum kecil.
"Kalau Tante khawatir, silakan lihat meja saya. Tapi saya ingin Jess tetap di sini."
Tante Chen terdiam sejenak.
Dengan meminta Jessica tetap ada, Seline membuat ruangan ini punya saksi yang tidak berada di pihak Tante Chen. Menolak akan terlihat aneh. Menerima berarti setiap gerakan dilihat.
"Tentu," kata Tante Chen akhirnya.
Pemeriksaan itu berlangsung pendek tetapi memalukan. Tante Chen tidak menyentuh barang terlalu kasar. Vivian yang lebih gelisah, membuka buku sekolah Darren, melihat ke bawah meja, bahkan melirik tempat sampah kecil.
Yang mereka temukan hanya catatan matematika, daftar buku, satu bungkus permen kosong Darren, dan kertas latihan Bahasa Inggris dengan coretan marah bertuliskan grammar is evil.
Jessica mengambil kertas itu dan tertawa. "Aku suka Darren."
Seline hampir tersenyum, tetapi ia tetap menunduk sopan.
Vivian berdiri dengan wajah kesal. "Mungkin dia sudah membuangnya."
"Membuang apa?" tanya Seline.
Vivian sadar terlalu cepat bicara. "Maksudku, kalau ada sampah dari amplop."
"Amplopnya masih ada. Kertasnya juga masih ada." Seline menunjuk meja. "Kalau Vivian merasa ada yang kurang, mungkin Vivian tahu seharusnya isinya apa?"
Kali ini Tante Chen yang bergerak.
"Cukup," katanya lembut, tetapi nadanya memotong. "Sepertinya memang hanya salah paham. Seline, maaf Tante membuatmu tidak nyaman. Tante hanya khawatir."
Seline menunduk. "Saya mengerti, Tante."
Ia tidak berkata tidak apa-apa. Karena memang tidak apa-apa adalah kebohongan yang terlalu murah.
Tante Chen keluar lebih dulu. Tante Liu mengikuti dengan wajah canggung. Vivian berhenti di ambang pintu, menatap Seline dengan mata yang tidak lagi manis.
"Kamu pintar juga," bisiknya.
Seline menjawab sama pelannya, "Saya hanya belajar cepat."
Vivian pergi.
Jessica menutup pintu setelah memastikan mereka cukup jauh, lalu menatap Seline.
"Itu gambar buatanmu?"
Seline mengambil kertas kucing dan melipatnya lagi. "Coretan saja."
"Coretan yang menyelamatkanmu."
"Untuk sementara."
Jessica tidak tertawa lagi. "Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang mengirim?"
"Tidak."
Seline tidak mengatakan bahwa kertas itu awalnya kosong. Ia belum siap membagi bagian itu, bahkan pada Jessica.
Sore menjelang ketika Seline keluar untuk mengambil air panas bagi Darren yang baru pulang dari sekolah. Di lorong menuju pantry, Wilson berdiri bersandar pada dinding, seolah sudah menunggunya.
Seline berhenti. "Ko Wilson."
"Kamu tahu surat itu jebakan."
Seline memegang termos lebih erat. "Saya tahu surat itu aneh."
"Bukan itu yang kutanya."
Nada Wilson tetap dingin, tetapi tidak setajam sebelumnya. Di rumah besar ini, orang yang bicara langsung justru terasa lebih mudah dihadapi daripada orang yang tersenyum.
"Kalau Ko Wilson tahu itu jebakan, kenapa tetap memberikannya pada saya?"
Pertanyaan itu membuat mata Wilson berubah sedikit.
"Karena kalau bukan aku yang memberi, orang lain akan memberi dengan cara yang lebih kotor."
Seline tidak menjawab.
Wilson meluruskan tubuh. "Aku tidak tahu isinya. Aku hanya tahu Tante Felicia ingin surat itu sampai ke tanganmu di depan orang-orang."
"Kenapa bilang pada saya sekarang?"
"Karena aku tidak suka dipakai." Wilson menatapnya beberapa detik. "Dan karena kamu tidak sebodoh yang mereka kira."
"Amplop itu sudah terbuka saat sampai padaku," lanjutnya.
Seline mengangkat mata.
Wilson memasukkan satu tangan ke saku celana, ekspresinya tetap datar. "Tante Felicia bilang mungkin satpam tidak sengaja merusaknya. Tapi dia tidak kaget. Vivian juga tidak kaget. Mereka hanya menunggu kamu membuka isi surat itu di depan orang."
"Ko Wilson melihat isinya?"
"Tidak." Jawabannya cepat. "Aku sengaja tidak melihat. Kalau aku melihat, mereka bisa bilang aku saksi."
Seline baru memahami alasan tatapan Wilson di ruang tengah tadi. Bukan bantuan yang hangat. Bukan juga pembelaan. Ia hanya menyisakan ruang kecil agar Seline bisa memilih sendiri.
"Jadi Ko Wilson tahu mereka ingin menggunakanmu juga."
"Di rumah ini, semua orang pernah dipakai." Mulut Wilson menegang tipis. "Bedanya, ada yang sadar, ada yang menikmati."
Seline merasakan sebagian ketegangannya turun, tetapi tidak cukup untuk percaya.
Wilson melewati dirinya, lalu berhenti satu langkah di sampingnya.
"Aku bukan musuhmu."