NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Rumah Kita

Kiara tidak langsung mengirim foto itu.

Jarinya berhenti di atas tombol kirim, sementara Rayhan masih berdiri di belakangnya. Ponsel di tangannya tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk menyimpan sesuatu sebesar perasaan yang baru saja ditunjuk Cici.

"Kenapa ragu?" tanya Rayhan.

"Fotonya jelek."

"Tidak."

"Kak Rayhan cuma kelihatan setengah."

"Cukup."

"Kopi tidur, piring buahku berantakan, laptopku juga miring."

"Itu rumah."

Satu kata itu membuat Kiara menunduk lebih dalam.

Rumah.

Selama empat tahun terakhir, kata itu lebih sering berarti tempat menaruh tubuh, bukan tempat hati boleh tinggal. Rumah kontrakan lama terasa sempit karena utang Pak Song. Rumah sakit terasa dingin karena Kevin tidak pernah membuka mata. Rumah Besar keluarga Tan terlalu megah untuk disebut miliknya.

Namun ruang keluarga ini, dengan Kopi tidur di bawah meja dan Rayhan menunggu fotonya dikirim, pelan-pelan menyelinap ke bagian hidup yang selama ini kosong.

Kiara menekan kirim.

Ponsel Rayhan berbunyi sesaat kemudian. Ia melihat foto itu, lalu menyimpannya tanpa komentar panjang.

"Sudah?"

"Sudah."

"Untuk apa?"

"Arsip."

"Arsip apa?"

Rayhan memasukkan ponsel ke saku. "Hal penting."

"Kak Rayhan punya folder khusus untuk hal penting?"

"Ada."

"Namanya apa?"

Rayhan menatapnya sebentar, seolah menimbang apakah jawaban itu terlalu banyak untuk diberikan malam ini. Lalu ia berkata datar, "Rumah."

Kiara kehilangan kata lagi.

Kiara ingin bertanya lebih jauh, tetapi Kopi bergerak dalam tidur. Kaki depan kanannya berkedut sedikit. Ia langsung menoleh, khawatir, dan pertanyaan itu tertinggal di udara.

Keesokan paginya, Kiara kembali ke Kota Barat Post dengan mata yang jauh lebih segar daripada dua hari sebelumnya. Galih mengangkat ibu jari begitu melihatnya masuk.

"Draft kamu semalam rapi," katanya. "Bu Ratna cuma minta bagian lead dibuat lebih menggigit."

"Akhirnya aku tidak dimarahi?"

"Belum. Hari masih panjang."

Cici muncul dari belakang partisi, membawa dua gelas es kopi. "Aku dengar ada reporter magang yang sekarang punya anak anjing polisi."

"Dia bukan anak," protes Kiara sambil menerima gelas. "Dia senior pensiun."

"Oke, anak senior."

"Cici."

"Gue cuma mau tahu, rumah Kak Rayhan sekarang udah berubah jadi panti K9?"

Kiara hampir tersedak. "Jangan ngomong keras-keras."

Cici menurunkan suara, tetapi matanya makin berkilat. "Jadi beneran rumah Kak Rayhan?"

"Aku tinggal sementara."

"Sementara yang udah enam bulan?"

Kiara menatapnya tajam.

Cici langsung mengangkat dua tangan. "Oke, oke. Gue nggak tanya status. Gue cuma tanya, lo bahagia nggak?"

Pertanyaan itu tidak seberisik godaan Cici. Justru karena lembut, Kiara tidak punya jawaban cepat.

Ia menatap layar komputernya yang masih menampilkan revisi feature Reza. Di sisi layar, ada tab marketplace berisi karpet kecil, mangkuk cadangan, dan mainan gigitan khusus anjing besar.

"Aku..." Kiara berhenti. "Aku merasa rumah itu tidak sedingin dulu."

Cici yang biasanya langsung menggoda, kali ini diam sebentar. Lalu ia mendorong es kopi ke dekat tangan Kiara.

"Kalau begitu, jangan pura-pura semua cuma numpang."

Kalimat itu mengikuti Kiara sampai sore.

Setelah jam kerja, ia mampir ke pet shop dekat kantor. Awalnya hanya mau membeli tisu pembersih kaki. Lima belas menit kemudian, keranjangnya berisi tisu, sikat bulu, mangkuk lipat, selimut tipis, dan mainan tali yang kata penjaga toko cocok untuk anjing besar yang tidak boleh terlalu banyak bergerak.

Rayhan menelepon saat ia sedang menghitung diskon.

"Di mana?"

"Pet shop."

"Sendiri?"

"Iya. Dekat kantor."

"Aku jemput."

"Kak Rayhan masih di Polda."

"Aku sudah selesai."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Kamu membawa barang banyak."

Kiara melihat keranjang belanja, lalu menatap penjaga toko yang sedang menambahkan satu botol cairan pembersih lantai ramah hewan.

"Tidak banyak."

"Foto."

"Apa?"

"Kirim foto barangnya."

Kiara mengirim foto. Tiga detik kemudian, suara Rayhan kembali datar.

"Aku jemput."

Ia datang dua puluh menit kemudian dengan Fortuner hitam. Masih memakai kemeja kerja, lengan digulung sedikit, wajahnya lelah tetapi matanya langsung memindai kantong belanja.

"Ini namanya tidak banyak?"

"Diskon."

"Diskon tidak membuat barang jadi lebih ringan."

"Tapi membuat hati ringan."

Rayhan mengambil semua kantong tanpa membiarkan Kiara membawa satu pun.

"Kak Rayhan, aku bisa bawa."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku mau bawa."

Kalimat sesederhana itu membuat Kiara kehilangan bahan protes.

Di rumah, Kopi menyambut mereka dengan ekor bergerak hati-hati. Ia tidak boleh berlari, tetapi seluruh tubuhnya jelas ingin maju. Kiara langsung berjongkok, membuka salah satu kantong.

"Lihat, aku beli ini."

Mainan tali merah keluar dari plastik. Kopi mengendusnya, lalu menggigit pelan. Ekor besarnya bergerak lebih cepat.

"Jangan tarik," kata Rayhan.

"Aku tahu."

"Kopi juga jangan tarik."

Kopi menggigit tali, menatap Rayhan, lalu meletakkannya di kaki Kiara.

Kiara tertawa. "Dia memberi aku hadiah."

"Dia memberi kamu masalah."

"Kak Rayhan cemburu lagi?"

"Aku menjaga jahitan."

"Alasan Kak Rayhan makin kreatif."

Malam itu, mereka mengatur barang-barang baru. Selimut tipis dilipat di samping alas utama. Tisu pembersih kaki diletakkan dekat pintu. Cairan pembersih masuk lemari bawah wastafel. Kiara memasang karpet kecil di jalur menuju pintu belakang, lalu berdiri memandangi hasilnya dengan puas.

"Bagian sini licin kalau habis dipel," katanya. "Di rumah kita, Kopi harus aman."

Tangannya berhenti di udara.

Rayhan yang sedang menempel jadwal obat baru di kulkas tidak langsung bergerak.

Kopi mengunyah mainan tali tanpa peduli dunia baru saja berubah.

"Apa tadi?" tanya Rayhan pelan.

Kiara menggigit bibir. Ia bisa mengelak. Bisa bilang salah bicara. Bisa tertawa dan mengganti topik.

Namun Cici benar.

Jangan pura-pura semua cuma numpang.

Kiara menoleh. Wajahnya panas, tetapi suaranya tidak lari.

"Di rumah kita," ulangnya lebih pelan.

Mata Rayhan berubah.

Tidak banyak. Hanya sedikit lembut di sudutnya, sedikit diam di napasnya. Namun Kiara melihatnya. Ia selalu melihat hal kecil yang Rayhan coba sembunyikan.

"Baik," kata Rayhan. "Rumah kita."

Ia membuka laci ruang keluarga dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Kiara bingung. Sebuah frame foto kecil, masih kosong.

"Kak Rayhan beli kapan?"

"Siang."

"Untuk apa?"

Rayhan mengambil ponsel, membuka foto yang Kiara kirim semalam, lalu menunjukkan layar. "Ini tidak boleh hanya jadi arsip."

Kiara menatap foto itu lagi. Meja berantakan. Piring buah. Kopi tidur. Setengah wajah Rayhan.

Rumah mereka.

"Nanti aku cetak yang lebih bagus," gumamnya.

"Yang ini cukup."

"Tapi aku tidak siap difoto."

"Justru karena itu."

Kiara tidak tahu harus menjawab apa. Ia akhirnya duduk di sofa, memeluk bantal kecil untuk menyembunyikan senyumnya. Kopi membawa mainan tali ke dekat kakinya, lalu berbaring hati-hati.

"Aku temani Kopi sebentar," kata Kiara. "Kasihan dia masih adaptasi."

Rayhan melihat jam. "Lima belas menit. Setelah itu naik dan tidur."

"Siap, Pak Polisi."

"Kiara."

"Iya, iya. Lima belas menit."

Ia tidak tahu, Rayhan akan menyesali pemberian waktu lima belas menit itu.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!