Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Dengan langkah pelan Akbar berjalan menyusuri jalanan di pinggiran kota dekat rumah sakit, ia memilih berjalan ke apartemen yang tak jauh dari rumah sakit berada.
"Maaf..maafkan aku Luna, semua ini terjadi karena ulahku tak jujur denganmu sedari awal dulu. Maafkan aku sayang maaf.."gumam lirih Akbar disepanjang jalan.
Tatapan nampak kosong dan tak fokus.
Brak..
"Hei anak muda kalau jalan liat dengan mata, ini jalanan bukan milikmu ini jalan umum."ucap ibu paruhbaya.
Akbar yang tak fokus, tak sengaja menyenggol ibu paruhbaya yang berjalan di depannya.
"Maaf..maafkan saya bu."ucap Akbar.
Lalu ia melanjutkan lagi jalan kakinya, kurang lebih 10 menit Akbar sampai di apartemen.
"Cukup bagus tempat ini, yang penting dekat dengan Luna."kata Akbar melihat isi dalam apartemen.
Ia pun memilih membersihkan tubuhnya dan beristirahat sejenak, lelah pikiran dan tenaga membutuhkan istirahat cukup untuknya.
- -
Tit..tit..tit..
Suara rekam jantung di nakas menunjukkan kondisi wanita yang terbaring di atas brankar stabil dan cukup bagus.
Perlahan gerakan jari telunjuk kanan muncul lalu hilang lagi, tak ada siapapun yang tau kemajuan kondisi Luna ini meski saat ini Luna masih belum nampak siuman dari tidur panjangnya yang sudah melewati 24 jam masa kritis hal ini ditentukan oleh dokter yang menanganinya.
Adam menjaga sahabat kecilnya ini bergantian dengan Edward, ia saat ini bertugas duduk di sofa yang berada di sana dan seperti yang dilakukan kakaknya ia melanjutkan memantau dokumen-dokumen yang dikirim oleh bawahannya dengan tablet yang di bawa.
{Kak, aku udah di rumah sakit kakak tak perlu khawatir aku akan menjaga Luna disini. Suaminya sudah pergi sedari tadi.}pesan Adam.
Ting..
Bunyi pesan baru di ponsel Edward.
{Oke, jaga Luna dengan baik kakak sudah mengirim beberapa pengawal untuk menjaga kalian di sana.}balas Edward.
Edward tersenyum tipis mendapatkan pesan dari Adam, ia sedikit lega ada orang terdekat menjaga Luna selagi ia tak ada disisinya.
"Bangunlah Lun, sampai kapan kamu akan tidur terus."kata Adam melihat ke arah Luna.
Setelah ia mengirim pesan ke kakaknya, Adam menengok ke depan melihat putri cantik yang masih betah tidur di atas ranjang pasien.
Semakin sore penjagaan di sekitar ruangan Luna semakin ketat tak ada seorang pun di ijinkan masuk selain suster dan dokter yang di pilih oleh Edward masuk ke dalam ruang VIP tersebut.
"Ijinkan aku masuk!"teriak Akbar, sembari terus mendorong para penjaga.
Namun kekuatan Akbar tak mampu melawan tubuh gempal para penjaga, mereka sudah terlatih dalam segala kondisi. Takkan mudah menembus benteng pertahanan mereka, sekuat tenaga Akbar menerobos semakin kuat mereka menghalanginya. Nampak jelas pergulatan yang sangat hebat di antara Akbar dan para penjaga.
"Tuan Akbar, anda tidak bisa masuk ke dalam. Tuan Edward melarang anda masuk, selain dokter dan suster yang di pilih tak ada seorangpun di ijinkan masuk ke dalam!"ujar kepala penjaga, Akbar mundur beberapa langkah. Nampak wajah lesu Akbar dengan perlahan Akbar menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan yang ia lihat.
"Kenapa aku tak boleh masuk ke dalam?"kata Akbar.
"Nona Luna sedang istirahat di dalam, sesuai perintah tuan Edward tidak ada yang boleh masuk selain dokter dan suster tanpa ijin tuan Edward."ucap kepala penjaga.
"Sekali lagi saya minta maaf!"ujar kepala penjaga, seraya menunduk meminta maaf pada Akbar.
Akkbar berjalan mundur menjauh dari pintu. Tubuhnya bersandar di dinding, lemah dan tak berdaya. Gelisah memikirkan kondisi istrinya, tadi pagi ia masih bisa masuk ke dalam melihat Luna tapi sore hari ia terhempas tak di ijinkan masuk. Saat mereka dekat, masih ada yang memisahkan mereka. Tubuh mereka hanya beberapa meter, tapi sangat jauh seakan terpisah oleh ribuan kilometer.
"Apa jalanku meminta maaf akan semakin sulit ya tuhan.."ujar Akbar lirih dan hancur.
Buugh..buugh..
"Edward melarangmu masuk ke dalam, ada alasan tentunya. Ia tak ingin adik kecilnya akan terguncang saat siuman melihatmu ada di hadapannya dan ia menjaga sangat ketat dari musuh-musuhnya yang berada di sini."ujar Adam sesaat setelah memukul pundak Akbar pelan.
"Adam!"
"Tidak perlu heran, aku tau bagaimana kakakku itu menjaga Luna."ucap Adam
"Kenapa aku tak di ijinkan masuk ke dalam, aku suaminya aku juga berhak tau kondisi istriku."ucap Akbar lirih.
"Apa kamu pantas di sebut suami, kamu bisa berkaca sendiri bagaimana selama ini."ujar santai Adam.
Tak ada harapan ia bisa melihat Luna, semua orang di sini melarangnya masuk ke dalam.
"Tidak perlu kecewa sebentar lagi Edward datang, minta padanya untuk membawamu masuk percuma kamu melawan para penjaga itu. Mereka penjaga terlatih dan terbaik yang di miliki keluarga Abraham!"kata Adam.
"Kenapa harus menunggu orang itu?"tanya Akbar.
"Sebab Edward satu-satunya orang yang dekat dengan Luna, jadi ia akan berupaya bagaimana cara menjaga adiknya dari orang-orang yang berniat jahat pada Luna."ujar Adam.
"Maaf..maafkan aku. Semua ini karena diriku ia menjadi seperti ini."kata Akbar lirih menunduk.
"Kakak!"kata Adam.
"Apa Luna belum sadar?"tanya Edward yang sudah tiba.
"Belum kak, masih tetap sama tak ada hal baru dari kondisi terakhirnya."ucap Adam menggelengkan kepalanya.
"Hapus air matamu itu, tak ada air mata untuk adik kecilku di dalam. Namun satu hal yang harus kamu ingat bagaimana kondisi Luna? jangan menangis tahan kesedihanmu adikku tak butuh air mata sekarang!"tegas Edward melihat Akbar.
Kreeek..
"Tuan Edward sudah datang?'sahut dokter paruh baya.
"Aku baru saja tiba, bagaimana kondisi Luna?'tanya Edward balik.
"Luna sudah melewati masa kritisnya, hanya saja ia masih betah dengan tidur panjangnya dengan kata lain Luna masuk kondisi koma kita tak tahu kapan pasien akan siuman. Mohon beri dukungan pada pasien dengan mengajaknya berbicara, meskipun ia tidur tapi alam bawah sadarnya ia mendengar apa yang kita bicarakan."ujar dokter itu.
"Terima kasih!"kata Edward.
"Sudah tugasku apalagi ini menyangkut nona Luna. Kapanpun saya di butuhkan? saya akan langsung datang!"sahut dokter.
"Aku hargai itu!"ujar Edward ramah, lalu menoleh ke arah Akbar.
"Dokter. dia Akbar suami Luna. Aku yakin dokter sudah mengenalnya."ujar Edward memperkenalkan Akbar pada dokter.
Akbar mengulurkan tangan yang segera di sambut oleh dokter paruhbaya itu.
"Saya sudah mengenalnya tadi, beliau sempat datang menemui saya untuk menanyakan perihal kondisi istrinya."ujar dokter.
"Senang bertemu dengan dokter kembali, terimakasih sudah menangani istriku selama di rumah sakit ini."ucap Akbar ramah, dokter itu pun hanya mengangguk.