Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Misteri
Malam itu, setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri di kosnya, Adnan berangkat menuju Hotel Gardena sesuai alamat yang diberikan oleh klien misteriusnya. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan sudah jauh lebih lengang dibanding siang tadi. Meski tubuhnya masih terasa lelah akibat berbagai kejadian yang menimpanya sepanjang hari, rasa penasaran membuatnya tetap bersemangat.
Sesampainya di hotel, Adnan langsung menuju meja resepsionis untuk memastikan lokasi kamar yang dimaksud. Setelah mendapatkan petunjuk arah, ia menaiki lift menuju lantai VIP. Koridor hotel tampak sepi dan mewah. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat, sementara karpet tebal meredam suara langkah kakinya.
Ketika sampai di depan kamar nomor sepuluh, Adnan menarik napas dalam-dalam lalu mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang wanita muda berdiri di hadapannya. Adnan sempat terdiam beberapa detik.
Wanita itu berusia sekitar dua puluh tahunan dengan penampilan rapi dan elegan. Rambut hitamnya tergerai hingga bahu, sementara tatapannya terlihat tenang namun sulit ditebak. "Kamu yang jasa fotografer itu?" tanyanya.
"Iya, Mbak. Saya Adnan."
Wanita itu mengangguk. "Aku Gladys. Masuklah!"
Adnan mengikuti Gladys masuk ke dalam kamar VIP yang ukurannya jauh lebih besar dibanding kamar hotel biasa. Di dalam terdapat ruang tamu kecil dengan sofa panjang, meja kaca, serta beberapa dekorasi mewah yang membuat ruangan itu tampak mahal.
Gladys mempersilahkannya duduk. Adnan pun duduk di salah satu sofa sambil meletakkan tas kameranya di samping.
Beberapa detik suasana menjadi hening. Sebagai seseorang yang bekerja melayani klien. Adnan akhirnya membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Jadi... Mbak Gladys mau mengambil foto apa?"
Gladys menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Nanti malam ada acara kecil di sini."
"Acara kecil?"
"Ya."
"Acara seperti ulang tahun atau pertemuan bisnis?"
Gladys tersenyum tipis. "Mungkin..."
Jawaban itu justru membuat Adnan semakin bingung. "Terus tugas saya apa?"
"Aku ingin kamu mengambil foto dan video sebanyak mungkin selama acara berlangsung."
"Semuanya?"
"Iya. Sebanyak mungkin."
Adnan mengangguk pelan.
Permintaan itu sebenarnya tidak terlalu aneh. Namun ada sesuatu dari sikap Gladys yang membuatnya merasa janggal.
"Kapan acaranya dimulai?" tanya Adnan.
"Jam sebelas malam," jawab Gladys.
Adnan melihat jam tangannya. Masih ada lebih dari satu jam lagi. "Mbak, kalau boleh tahu sebenarnya acara apa yang akan berlangsung?"
Pertanyaan itu membuat Gladys terdiam. Tatapannya yang semula santai berubah lebih tajam. Ia menatap Adnan beberapa saat tanpa menjawab. Suasana mendadak terasa sedikit tidak nyaman.
Adnan sampai menggaruk tengkuknya sendiri. "Saya cuma ingin tahu supaya bisa menyesuaikan cara pengambilan gambar."
Gladys tetap diam beberapa detik lagi sebelum akhirnya berkata pelan.
"Nanti kamu akan tahu."
"Hah?"
"Aku akan menjelaskan semuanya pada waktu yang tepat."
Jawaban itu membuat dahi Adnan berkerut.
"Tapi—"
"Kamu fotografer profesional, kan?"
Pertanyaan itu memotong kalimat Adnan. "Iya."
"Kalau begitu lakukan pekerjaanmu secara profesional."
Adnan terdiam.
Gladys melanjutkan, "Aku sangat membutuhkan jasamu malam ini. Jadi aku harap kamu bisa fokus pada pekerjaanmu dan tidak terlalu banyak bertanya."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi cukup tegas.
Adnan bisa merasakan bahwa wanita itu tidak suka diinterogasi. "Oke, Mbak."
"Bagus!" Gladys kembali bersandar.
Ketegangan di antara mereka sedikit mereda. Namun rasa penasaran Adnan justru semakin besar.
Untuk mengisi waktu, Gladys menawarkan minuman ringan dan beberapa camilan yang tersedia di kamar. Mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal umum.
Meski begitu, Gladys hampir tidak pernah membicarakan dirinya sendiri. Setiap kali Adnan mencoba menggali informasi lebih jauh, wanita itu selalu mengalihkan topik pembicaraan.
Hal itu membuat Adnan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Waktu terus berjalan. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas malam. Suasana hotel juga berubah semakin tenang.
Dari jendela besar kamar VIP, lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip di kejauhan. Adnan mulai mempersiapkan peralatannya. Ia memeriksa baterai kamera. Memastikan kartu memori masih kosong. Mengatur pencahayaan dan beberapa pengaturan lainnya.
Sebagai fotografer, Adnan tidak ingin mengecewakan klien meskipun situasinya terasa aneh.
Sementara itu Gladys tampak mondar-mandir sesekali sambil melihat jam. Beberapa kali ia memeriksa ponselnya. Seolah sedang menunggu sesuatu atau seseorang.
Adnan memperhatikan perubahan itu. Namun kali ini ia memilih diam. Ucapan Gladys sebelumnya masih terngiang di telinganya.
Pukul 22.55. Gladys berdiri dari sofa.
"Waktunya hampir tiba."
Adnan ikut berdiri. "Tamu-tamunya sebentar lagi datang?"
Gladys mengangguk. "Ya."
"Berapa orang?"
"Cukup banyak."
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, wanita tersebut menatap Adnan dengan ekspresi serius.
"Dengarkan baik-baik."
Adnan langsung fokus. "Nanti apa pun yang terjadi, tetap ambil foto dan video sesuai tugasmu."
"I-iya..."
"Tetap tenang ya?"
"Maksudnya?"
Gladys menghela napas.
"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak panik."
Kalimat itu justru membuat Adnan semakin bingung. "Panik karena apa?"
Namun Gladys tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah pintu kamar. Tepat pada saat itu terdengar suara lift berhenti di ujung koridor. Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar mendekat.
Adnan dan Gladys sama-sama menoleh ke arah pintu. Suasana mendadak berubah tegang.
Ponsel Gladys bergetar. Ia membaca pesan yang masuk lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Mereka sudah datang!"
Jantung Adnan berdegup sedikit lebih cepat. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa pekerjaan malam ini tidak akan sesederhana yang dia bayangkan saat menerima telepon beberapa jam lalu.