NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. DI BALIK PENGAKUAN CINTA ELGAR

Hidangan yang tersaji di atas meja masih tampak hangat, mengeluarkan aroma yang begitu menggugah selera. Namun sejak tadi, keduanya justru lebih banyak berbincang hingga makanan itu nyaris terlupakan.

Elgar tersenyum kecil sambil melirik meja. "Kayaknya makanan ini protes deh."

Rebeca ikut melihat ke arah meja. "Kenapa?"

"Karena dari tadi kita ngobrol terus, tapi belum ada yang dimakan."

Rebeca langsung terkekeh pelan. "Iya juga."

"Ayo, kita makan."

"Iya, Kak."

Mereka pun mulai menyantap hidangan yang telah tersedia. Suasana terasa jauh lebih santai dibandingkan sebelumnya. Sesekali mereka saling mencuri pandang, lalu tersenyum malu ketika mata mereka bertemu.

Beberapa suap kemudian, Elgar mengambil kentang goreng menggunakan garpunya. Ia menoleh ke arah Rebeca dengan senyum lembut. "Beca ..."

"Hm?"

"Coba ini."

Rebeca menatap garpu yang disodorkan ke arahnya. Pipi gadis itu langsung memerah. "Disuapin?"

Elgar mengangguk pelan. "Kan kita udah jadi sepasang kekasih. Masa aku nggak boleh menyuapi pacarku sendiri?"

Kalimat sederhana itu membuat jantung Rebeca kembali berdebar. Ia tersenyum malu, lalu membuka mulut perlahan.

Elgar menyuapkan kentang goreng itu dengan hati-hati. "Gimana?"

Rebeca mengunyah sejenak sebelum mengangguk. "Enak banget."

"Syukurlah."

Melihat perhatian Elgar, hati Rebeca terasa begitu hangat. Ia lalu mengambil sepotong chicken steak yang sudah dipotong kecil. "Kak."

"Iya?"

"Gantian."

Elgar tersenyum lebar. "Oh, aku juga dapat jatah disuapin?"

Rebeca mengangguk malu. "Iya dong, harus." Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, Rebeca menyuapkan potongan steak ayam itu ke mulut Elgar.

Elgar mengunyah perlahan, lalu mengangguk puas. "Jadi lebih enak."

"Lho? Padahal makanannya sama."

"Iya, tapi karena disuapin pacar."

Rebeca spontan tertawa kecil sambil menggeleng. "Kak Elgar ... gombalnya banyak banget."

Elgar ikut tertawa. "Maaf. Lagi bahagia soalnya."

Ucapan itu membuat pipi Rebeca kembali merona. Setelah itu, mereka melanjutkan makan sambil sesekali saling menyuapi. Tawa kecil dan obrolan ringan mengiringi setiap suapan, membuat suasana makan siang pertama mereka sebagai sepasang kekasih terasa begitu hangat dan penuh kebahagiaan.

Makan siang mereka hampir selesai. Piring-piring di atas meja mulai kosong, menyisakan beberapa potong buah dan dua gelas minuman yang masih setengah terisi.

Rebeca mengambil selembar tisu, lalu hendak mengusap bibirnya. Namun sebelum sempat melakukannya, Elgar tiba-tiba berkata pelan. "Beca ... bentar."

Rebeca menghentikan gerakannya. "Kenapa, Kak?"

Elgar tersenyum kecil sambil mengambil selembar tisu bersih. "Ada saus."

Rebeca refleks menyentuh sudut bibirnya. "Di sini?"

"Bukan. Sebelah sini." Melihat Rebeca masih kebingungan, Elgar mengangkat tangannya perlahan. "Boleh aku bersihkan?"

Rebeca kembali salah tingkah. Meski pipinya memerah, ia tetap menganggukkan kepala pelan. "Boleh, Kak."

Elgar lalu mengusap sangat pelan sudut bibir Rebeca menggunakan tisu. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut membuat gadis itu tidak nyaman. "Nah ... sudah."

Rebeca menunduk malu. "Makasih, Kak."

"Sama-sama." Elgar tertawa kecil.

"Sekarang gantian." Rebeca mengangkat wajahnya.

"Gantian?" Elgar mengangkat sebelah alisnya.

"Iya."

"Kakak juga kena saus."

"Hah? Masa?"  Elgar langsung meraba pipinya sendiri. "Sebelah mana?"

Rebeca menahan tawa melihat ekspresi panik lelaki itu. "Bukan di situ."

"Lalu?"

"Di dekat bibir."

"Oh ..." Elgar hendak mengambil tisu, tetapi Rebeca lebih dulu meraihnya.

"Kalau boleh ... biar aku saja."

Elgar menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Boleh."

Dengan jantung yang kembali berdegup kencang, Rebeca mengusap perlahan sudut bibir Elgar. Jemarinya nyaris menyentuh kulit lelaki itu, membuat napasnya sendiri terasa tidak beraturan. "Sudah," ucap Rebeca lirih sambil menarik kembali tangannya.

Elgar tersenyum hangat. "Terima kasih, cantik."

"Iya, sama-sama tampan."

Tatapan mereka kembali bertemu. Untuk beberapa saat, tak ada satu pun yang berbicara. Keduanya hanya saling tersenyum, menikmati momen sederhana yang terasa begitu berarti.

Tak lama kemudian, Elgar melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Wah ... nggak kerasa ya."

Rebeca ikut melihat jam di ponselnya. "Iya. Kita udah hampir dua jam di sini."

Elgar mengangguk pelan. "Aku sebenarnya masih pengen lama-lama sama kamu."

Rebeca tersenyum malu. "Aku juga."

"Tapi sore nanti aku harus kembali ke lokasi syuting."

Rebeca mengangguk mengerti. "Nggak apa-apa, Kak. Pekerjaan tetap nomor satu."

Elgar menggeleng pelan sambil tersenyum. "Nomor satu tetap Tuhan dan keluarga. Setelah itu baru pekerjaan."

"Lalu ... aku?"

Elgar menatap Rebeca dengan sorot mata lembut. "Kamu sekarang sudah jadi bagian dari orang yang ingin aku perjuangkan."

Kalimat itu membuat wajah Rebeca kembali memerah. Ia hanya bisa menunduk sambil tersenyum malu, sementara jantungnya kembali berdetak lebih cepat daripada biasanya.

Elgar mengembuskan napas pelan. "Beca ..."

"Iya, Kak?"

"Kamu pulang duluan ya."

Rebeca tampak bingung. "Kenapa?"

Elgar tersenyum tipis. "Aku nggak mau kebersamaan kita mengundang perhatian. Kalau kita keluar bareng, bisa-bisa ada yang memotret."

Rebeca langsung mengerti maksudnya. "Oh ... iya Kak, siap."

"Jadi nanti kamu keluar dulu sekitar sepuluh atau lima belas menit sebelum aku. Anggap saja kita memang datang sendiri-sendiri."

Rebeca mengangguk pelan. "Baik, Kak."

Elgar menggenggam tangan Rebeca sebentar. "Maaf ya. Bukan karena aku nggak bangga sama hubungan kita."

Rebeca membalas genggaman itu sambil tersenyum lembut. "Aku tahu kok. Kakak kan sudah jelasin tadi."

"Terima kasih sudah selalu mengerti."

Rebeca mengangguk kecil. "Justru aku senang karena Kakak memikirkan kenyamananku."

Senyum Elgar semakin hangat mendengar jawaban itu.

Beberapa saat kemudian, Rebeca berdiri dari kursinya. Ia merapikan tas selempangnya, lalu menatap Elgar dengan senyum yang sejak tadi tak pernah hilang dari wajahnya. "Kalau gitu ... aku pamit dulu. Makasih untuk hari ini."

Elgar ikut berdiri. "Iya, sama-sama."

Sesaat mereka hanya saling menatap. Rasanya sama-sama berat mengakhiri pertemuan pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Elgar kemudian membuka kedua tangannya. "Boleh peluk sebentar?"

Rebeca tersenyum malu lalu melangkah mendekat. "Boleh."

Dengan lembut, Elgar memeluk Rebeca. Pelukannya hangat dan menenangkan, seolah ingin menyampaikan semua rasa syukur dan kebahagiaan yang belum sempat terucap.

Rebeca pun membalas pelukan itu. Tanpa sadar, senyumnya semakin lebar. Ia merasa begitu nyaman berada dalam dekapan lelaki yang kini resmi menjadi kekasihnya.

Beberapa detik kemudian, Elgar perlahan mengusap rambut Rebeca. Ia menundukkan sedikit kepalanya, lalu mengecup lembut ubun-ubun gadis itu.

"Jaga diri baik-baik, ya," bisiknya pelan.

Rebeca memejamkan mata sesaat. Kecupan singkat itu membuat dadanya dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan. Pipinya memerah, sementara jantungnya berdetak begitu cepat. "Iya, Kak. Kakak juga," jawabnya lirih.

Elgar perlahan melepaskan pelukan mereka. Senyum keduanya sama-sama mengembang, meski terselip rasa enggan untuk berpisah. "Hati-hati di jalan."

"Kakak juga. Semangat syutingnya."

"Pasti."

Rebeca mengangguk pelan sebelum berbalik menuju pintu ruangan VIP. Langkahnya terasa ringan, tetapi di saat yang sama lututnya nyaris lemas karena masih terbawa kebahagiaan. Ia bahkan beberapa kali menyentuh gelang couple di pergelangan tangannya sambil tersenyum sendiri. "Oh God ..." batinnya. "Ini benar-benar bukan mimpi. Sekarang ... Kak Elgar benar-benar jadi pacarku." Senyum di wajahnya tak kunjung memudar.

Pintu ruang VIP menutup pelan setelah Rebeca keluar. Senyum hangat yang sejak tadi menghiasi wajah Elgar perlahan memudar. Tatapannya mengikuti langkah Rebeca hingga benar-benar menghilang dari balik pintu.

Beberapa detik kemudian, ia kembali duduk di kursinya. Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Elgar menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel. Jemarinya bergerak lincah membuka layar, kemudian membuka sebuah aplikasi.

Di bagian atas layar, sebuah indikator merah masih menyala. Perekaman suara sedang berlangsung. Tanpa ragu, Elgar menekan tombol berhenti.

Rekaman yang sejak awal pertemuannya dengan Rebeca berjalan diam-diam itu pun otomatis tersimpan.

Elgar menatap layar ponselnya beberapa saat. Lalu, ia membuka sebuah ruang percakapan grup yang diberi nama 'Golden Faces'.

Tanpa berpikir panjang, ia mengirimkan file rekaman tersebut.

Tak berhenti di situ, jemarinya kembali bergerak mengetik sebuah pesan singkat. "Siapin aja hadiahnya. Bentar lagi Rebeca Alexander bakal tidur di ranjang gue!"

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!