"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Foto Dari Nomor Tak Dikenal
Selesai mandi Adrian bersiap dan melajukan mobilnya ke arah kos Aurel. Entah kenapa saat ini dia malah merindukan wanita galak itu setelah insiden tabrakan dengan teman lamanya pagi tadi.
Adrian memang terkejut karena pertemuan itu, tapi itu tidak mengubah apapun. Kartika hanya seseorang yang kebetulan pernah ada di masa lalunya. Hanya itu, titik.
Sebelum pergi dia melepas perban elastis yang membalut tangannya. Terpaksa ia lakukan karena merasa tak leluasa bergerak. Adrian berpikir mungkin jika sering digerakkan maka tangannya akan lebih cepat sembuh.
Beberapa saat setelah sampai, dia memarkir BMW warna hitamnya tepat di rumah kos wanita pujaannya. Ada beberapa gadis penghuni kos yang menyapanya, tapi hanya ditanggapi dengan anggukan kepala. Tanpa senyum sedikitpun.
Sampai akhirnya yang ia tunggu keluar, Aurel tampil cantik dengan setelan hitam putih. Rambut panjangnya di kuncir kuda hingga mengekspose leher jenjangnya. Hal sederhana itu mampu membuatnya berkali kali menelan saliva, sesuatu bergejolak tanpa ijinnya.
Melihat BMW Adrian di halaman depan kos, langkah Aurel terhenti, antara kaget dan tak habis pikir.
"Adrian?" lirihnya melangkah mendekat. Reflek ia melihat tangan Adrian yang tak lagi di gantung di bahu, perbannya sudah dibuka.
Begitupun Adrian yang melangkah mendekatinya.
"Pagi," katanya. "Tak usah pasang wajah tegang begitu. Aku datang bukan buat culik kamu. Hanya menjemput untuk sarapan."
Aurel buru-buru merapikan rambutnya, berpura-pura santai. Padahal pipinya terasa panas. Senang? Tentu saja. Tetapi gengsinya menahan dirinya untuk membalas senyuman itu.
"Eeemmhh... makasih Pak. Tangannya menang udah sembuh? Kalau nggak salah kemarin Om Rendy bilang minimal dipakai seminggu" jawab Aurel Suaranya dibuat setenang mungkin.
"Kok Pak?"
"Karena dalam tiga bulan ke depan kamu masih jadi klien aku. Lain kali jangan repot repot gini, nggak enak."
Adrian membukakan pintu penumpang. "Apapun tak akan repot jika itu buat kamu. O iya tanganku memang masih sedikit nyeri, tapi udah nggak apa apa," sahut Adrian mengedipkan satu matanya. Senang karena Aurel begitu perhatian padanya.
Aurel menggigit bibir bawahnya, menahan senyumnya. "Gombal," gumamnya pelan sambil masuk ke mobil. Namun begitu pintu ditutup, senyumnya langsung mengembang.
Di perjalanan Aurel masih berusaha menjaga jarak. Duduk tegak, menatap lurus ke depan dan menjawab seperlunya.
Sampai Adrian membuka suara.
"Kamu tahu apa bedanya kamu sama WiFi?" katanya tiba-tiba, matanya tetap fokus ke depan karena jalanan sudah mulai ramai.
Aurel menoleh, alisnya terangkat. "Hah? Bedanya apa?"
"Kalau WiFi sinyalnya lemah, kalau kamu...kamu yang buat sinyal jantung aku lemah," Adrian mengucapkannya datar, seakan sedang membaca laporan keuangan.
Aurel langsung terbatuk. "Apaan sih! Garing!" Namun satu ujung bibirnya tertarik naik. Sebisa mungkin ia menahan tawanya tetapi gagal. Aurel tertawa tanpa suara.
"Garing tetapi kamu tertawa," Adrian tersenyum kecil.
Aurel menyandarkan kepala ke kaca jendela, "lsshhh siapa yang ketawa?" Kali ini senyumnya lepas.
Suasana yang tadinya kaku menjadi sedikit cair. Di mobil itu mereka masih menjadi "tim". Aurel bercerita tentang revisi data sambil tertawa kecil. Adrian pun sesekali melempar candaan receh yang membuat Aurel tak bisa menyembunyikan tawanya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di kafe yang ada di lantai dasar gedung perkantoran Kata Raya. Sengaja Adrian memilih tempat itu untuk sarapan agar nantinya mereka tidak terburu buru ke tempat meeting.
Mereka duduk di meja pojok. Croissant dihidangkan. Susu almond dan kopi hitam less sugar sudah datang sesuai pesanan.
Aurel baru akan menyentuh croissantnya, tiba tiba ponselnya bergetar di atas meja.
Dari nomor privat. Satu jam lalu. Terkirim dua foto. Walau ragu tapi Aurel tetap membukanya.
Foto pertama: Adrian duduk di rumput taman. Di depannya seorang gadis cantik, lutut berdarah. Tangan Adrian setengah terulur mungkin ingin menolong. Ekspresinya panik. Ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan kepada Aurel.
Foto kedua: Gadis cantik Jersey putih itu menatap Adrian. Senyumnya manis dan tatapan matanya lembut.
Keduanya sama sama mengenakan baju olah raga.
Ujung sendok di tangan Aurel terhenti, diapun urung menggigit Croissant yang sudah ada ditangannya.
Udara di meja itu berubah sepuluh derajat lebih dingin.
"Pak Adrian," panggilnya. Suaranya masih datar, tetapi rahangnya mengeras.
Adrian menoleh dari laptopnya. "Hmm? Susu almondnya kurang manis? Liat aku kalau gitu."
Aurel meletakkan ponselnya. Suasana hatinya tiba tiba menjadi buruk.
"Enak ya," katanya pelan. "Lari pagi terus ketemu teman lama. Seru?"
Adrian mengerutkan dahi. Bingung. "Ehhh...gimana?Tadi pagi aku memang lari sama temen. Dion namanya. Memang kenapa?"
"Tidak ada," Aurel memotong. Ia mengambil sendok, mengaduk susu almond di depannya sampai terdengar berisik. "Lanjutkan sarapan. Nanti terlambat meeting."
Adrian terdiam. Ia menatap Aurel yang mengunyah croissant dengan tenaga ekstra, seakan croissant itu adalah musuh pribadinya.
Lima menit lalu di mobil Aurel masih bercerita sambil tertawa. Sekarang? Aura senggol b*cok nya sangat kuat.
Adrian hendak bertanya, tetapi Aurel sudah fokus kepada ponselnya lagi. Wajahnya datar. Namun aura "jangan mendekat" nya terasa tebal.
selesai sarapan mereka segera ke atas, ke aula tempat meeting kali ini.
Kedatangan mereka yang bersamaan membuat semua yang ada diruang meeting saling melemparkan pandangan.
Aurel melangkah masuk dengan blazer hitam dan rok selutut. Heelsnya berdetak mantap di lantai marmer. Tangannya membawa map presentasi proyek. Tak sedikitpun ia menoleh ke arah Adrian yang duduk tepat disampingnya.
Di ujung meja terlihat Adrian sudah duduk, sudut matanya melirik wanita yang tiba tiba bersikap dingin padanya sejak di kafe tadi. Di depannya disajikan dua kopi less sugar. Satu cangkir kopi dia dorong pelan ke kursi di sebelahnya.
Kursi Aurel.
Semua melihatnya, perhatian sang CEO dingin yang merupakan hal luar biasa untuk mereka. Tapi semua pura pura tak melihat, berpura-pura sibuk membuka laptop.
Aurel hanya mengangguk, tanpa mengucapkan terima kasih untuk kopi itu. Ia langsung membuka laptop.
"Meeting dimulai," kata Adrian. Suaranya datar dan penuh wibawa "Agenda hari ini, revisi planning B untuk menaikkan angka saham."
Presentasi berjalan 40 menit. Aurel menjawab semua pertanyaan tim dengan tajam, logis dan tanpa cela. Tidak ada nada ketus ataupun emosi. Profesionalitasnya sempurna.
Adrian mengamati tapi semakin lama ia malah semakin bingung. Perempuan ini bisa marah-marah saat sarapan. Tetapi begitu masuk ruang kerja, Aurel mampu memimpin meeting dengan sempurna. Tidak mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan.
Meeting selesai sekitar pukul sembilan pagi, hanya berlangsung satu jam. Semua karyawan sudah keluar ruangan kecuali Adrian, Dimas, dan Aurel.
Tak lama Aurel merapikan berkas dan batang barangnya, kemudian lewat di depan Adrian tanpa menoleh. "Saya ke lantai 12 dulu Pak. Ada revisi internal dengan staff Kata Raya."
Dia melangkah keluar tanpa menunggu tanggapan Adrian.
Pintu tertutup.
Adrian mengusap pelipisnya. Padahal niatnya ingin berbicara lebih lanjut, dia hanya ingin bertanya kenapa wanita itu marah. Apa mungkin karena Aurel tidak ingin ia berolah raga saat kondisinya masih belum fit seperti ini.
"Dim..."
"Siap Pak," Dimas langsung siaga.
"Kenapa perempuan bisa berubah 180 derajat hanya dalam waktu tiga puluh menit?" Adrian bertanya dengan wajah polos. "Tadi pagi di mobil dia masih normal. Sekarang ketus. Aku salah apa?"
Dimas menahan senyum. Bosnya sultan tajir melintir, IQ 180 untuk bisnis, tetapi minus kalau soal perempuan.
"Pak... kalau perempuan marah tanpa sebab," Dimas berdehem pelan, "itu artinya mereka sudah memiliki rasa."
Adrian terdiam. Otaknya memproses kata kata yang ia dengar dari Dimas.
"Rasa?" ulangnya pelan.
"Ya, Pak. Rasa cemburu, rasa khawatir, rasa... sayang. Hanya saja mereka belum memiliki status untuk menunjukkannya terang terangan. Jadi luapannya ya lewat marah marah," jelas Dimas diplomatis. Sok tau.
Tiga detik hening.
Lalu sudut bibir Adrian naik. Melebar. Senyum yang jarang sekali muncul di ruang kerja.
"Jadi... dia cemburu?" Adrian bertanya lagi, memastikan.
"Sepertinya begitu Pak," Dimas mengangguk.
Adrian bersandar ke kursi. Menatap pintu yang tadi dilewati Aurel. Senyumnya lepas karena ternyata perjuangannya dua minggu ini tidak sia-sia.
Aurel marah. Berarti Aurel ada rasa.
"Bonusmu bulan ini aku naikkan dua kali lipat."
Dimas langsung bersorak senang dan mengucapkan terima kasih. Senyumnya tak kalah lebar dari atasannya.
Dan untuk Adrian, kemarahan Aurel sudah menjadi kemenangan besarnya untuk hari ini.