NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

***

Langkah kaki Gus Zayyan tidak lagi menepati ritme tenangnya yang biasa. Dengan napas yang memburu dan rahang mengeras, ia menggendong tubuh lunglai Nayanika membelah halaman, mengabaikan tatapan syok, pekikan tertahan, dan bisik-bisik darurat para pengurus yang menyaksikan pemandangan tak lazim itu. Zayyan mengambil jalur pintas, langsung menerobos gerbang kayu ukir menuju rumah ndalem—kediaman utama keluarga pengasuh pesantren yang steril dari jangkauan santri umum.

Ia tidak membawa Naya ke Poskestren biasa. Zayyan melangkah cepat menuju salah satu kamar perawatan khusus berfasilitas lengkap di sayap kanan ndalem. Kamar itu sunyi, beraroma kayu jati tua dan minyak gaharu.

"Dokter Anwar! Tolong, ke kamar dalam sekarang!" seru Zayyan dengan nada bariton yang bergetar. Suara yang biasanya tidak pernah meninggi itu kini dipenuhi ketakutan yang nyata.

Seorang pria paruh baya berkacamata, dokter senior yang mendiami paviliun kesehatan pondok, bergegas berlari membawa tas medisnya. Tubuh lemas Naya dibaringkan perlahan di atas ranjang. Dokter Anwar dengan cekatan memeriksa denyut nadi, menyenter pupil mata Naya, dan menempelkan stetoskop ke dadanya sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan raut wajah masygul.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Zayyan cepat. Tangannya mengepal di sisi tubuh, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Naya yang sekuning kapur.

"Dehidrasi akut dan malnutrisi berat, Gus," jawab Dokter Anwar sembari menyiapkan tiang dan kantung cairan elektrolit. "Lambungnya benar-benar kosong kering, sepertinya tidak memasukkan makanan sama sekali sejak kemarin siang. Ditambah lagi kelelahan fisik yang ekstrem di bawah terik matahari. Ini sangat berbahaya untuk anak kota yang belum terbiasa dengan ritme kerja kasar. Saya harus memasang infus sekarang untuk mengganti cairan tubuhnya yang hilang."

Jleb.

Jarum infus menusuk kulit punggung tangan Naya yang memerah dan lecet-lecet. Gadis itu hanya memberikan lenguhan tipis tanpa membuka mata, seolah-olah seluruh energinya telah habis terkuras tanpa sisa. Kesadarannya masih amblas sepenuhnya.

Tepat saat selang infus mulai mengalirkan cairan, pintu kamar perawatan terbuka kasar. Bu Nyai Halimah melangkah masuk dengan napas memburu. Beliau baru saja turun dari mobil setelah mengisi majelis taklim akbar di desa seberang, dan kabar pingsannya Naya langsung merontokkan ketenangannya.

"Astagfirullah hal adzim... Naya!" Bu Nyai Halimah langsung luruh di tepi ranjang, menggenggam tangan Naya yang bebas dari infus. Air mata wanita sepuh itu langsung merebak. "Zayyan! Kenapa anak ini bisa sampai seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi di pondok saat Ummi tidak ada?!"

Zayyan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya. "Ini ulah Ustadzah Maryam, Ummi. Dia menggunakan wewenang kepengurusan untuk menghukum Naya secara semena-mena. Semalam Naya dipaksa membersihkan seluruh dapur umum sendirian sampai tengah malam, subuh tadi menjemur seluruh karpet masjid, dan siang ini Maryam menjemurnya lagi untuk menyapu halaman utama tanpa izin makan dan minum."

"Apa?!" Bu Nyai Halimah berdiri dengan wajah tegang, dadanya naik turun menahan amarah. "Maryam melakukan itu? Atas dasar apa?!"

"Dendam pribadi, Ummi. Kemarin siang di kantin, Fida memfitnah Naya, dan Maryam membelanya tanpa mau mendengar saksi lain. Subuh tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan rahasia mereka yang bangga karena berhasil membuat Naya menangis kelaparan di dapur." Zayyan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya sudah memperingatkan Maryam setelah rapat pengajar pagi tadi. Tapi rupanya, peringatan saya justru membuatnya kalap dan melampiaskannya lagi pada Naya."

Bu Nyai Halimah menggeleng-gelengkan kepala, air matanya menetes menahan rasa bersalah yang mendalam. "Ya Allah... kita kecolongan, Zayyan. Bagaimana kalau papanya di Jakarta tahu? Bagaimana kalau Naya benar-benar menyerah dengan tempat ini?!"

"Dia tidak akan menyerah, Ummi. Dia terlalu keras kepala," sahut Zayyan, suaranya melembut saat menatap wajah Naya yang masih tak bergerak. "Tapi Maryam dan Fida harus menerima konsekuensinya. Saya sendiri yang akan mengurus surat pemecatan Maryam sebagai pengajar."

"Jangan gegabah, Zayyan!" potong Bu Nyai Halimah dengan suara bergetar, memicu perdebatan emosional di antara ibu dan anak tersebut. "Kamu tahu sendiri Maryam itu keponakan dari ustadz senior yang mendirikan kurikulum madrasah kita. Kita harus bicara dengan Abahmu dulu. Jika kita langsung memecatnya tanpa sidang resmi, bisa terjadi gesekan di kalangan pengurus lama!"

"Lalu kita harus membiarkan kezaliman ini menimpa Naya hanya demi menjaga perasaan pengurus lama, Ummi?!" cecar Zayyan, suaranya meninggi satu oktav. "Naya itu—"

"Ada apa dengan istri dan menantumu, Zayyan? Halimah?"

Sebuah suara berat, berwibawa, dan sarat akan karisma spiritual seketika memotong perdebatan panas di dalam kamar tersebut.

Dari balik pintu, sosok pria sepuh agung bergamis putih bersih dengan sorban hijau yang melingkari pundaknya melangkah masuk. Beliau adalah Mbah Yai Usman, Kiai Besar pengasuh tertinggi Pondok Pesantren Al-Falah, sekaligus suami dari Bu Nyai Halimah dan abi dari Gus Zayyan. Beliau baru saja menginjakkan kakinya di halaman ndalem setelah menempuh perjalanan panjang dari luar negeri untuk menghadiri konferensi ulama internasional. Di belakangnya, beberapa santri abdi dalem yang membawakan koper bahkan masih termangu di selasar.

"Abah..." Bu Nyai Halimah tersentak, langsung mundur dan mencium tangan suaminya dengan takzim, diikuti oleh Gus Zayyan.

Mbah Yai Usman tidak langsung menjawab salam istrinya. Pandangan mata beliau yang tajam namun teduh langsung tertuju pada sosok gadis yang terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus yang mengalir. Langkah kaki Mbah Yai Usman mendadak terasa berat. Beliau berjalan mendekati ranjang, menatap wajah pucat Naya yang sedang pingsan.

Mata beliau berkaca-kaca, dipenuhi oleh keterkejutan dan rasa sedih yang mendalam. "Astagfirullah hal adzim, Zayyan? Dia sampai sekritis ini di bawah pengawasan kalian?"

Zayyan tertunduk dalam. "Nggih, Abah. Zayyan meminta maaf karena kecolongan menjaga Naya hari ini."

Mbah Yai Usman menghela napas berat, jemari sepuhnya mengusap kening Naya yang panas dengan penuh kelembutan seorang kakek dan mertua. "Belasan tahun lalu, saat Naya masih kecil, ayah Naya—seorang pengusaha kaya yang memegang semua berkas legalitas dan sangat berjasa pada pondok kita—dan Abah telah mengikat janji khitbah gantung. Perjodohan antara Nayanika dan kamu, Zayyan. Meskipun perbedaan umur kalian terpaut sepuluh tahun, di mana kamu sekarang dua puluh sembilan tahun dan Naya baru sembilan belas tahun, janji itu tidak pernah berubah."

Mbah Yai Usman menoleh ke arah Bu Nyai Halimah yang masih menyeka air matanya. "Kedua orang tuanya yang masih hidup menitipkan Naya ke sini karena mereka tahu, hanya di sinilah tempat terbaik untuk menjaganya. Identitas asli Naya sengaja disembunyikan dari lingkungan pesantren sejak kecil oleh ibunya, Ning Jihan, di Jakarta agar anak ini terhindar dari kehidupan pesantren."

Zayyan mendengarkan penuturan Abahnya dalam diam. Rahangnya mengetat. Fakta bahwa mereka semua tahu tentang rahasia ini—termasuk dirinya—membuat rasa bersalah di dadanya kian menumpuk. Hanya Naya... hanya gadis malang yang sedang pingsan di ranjang ini yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

"Dan kamu, Zayyan... kamu sudah menunaikan kewajibanmu, bukan?" tanya Mbah Yai Usman memastikan.

"Sampun, Abah," jawab Zayyan tegas, suaranya rendah namun sarat akan bobot tanggung jawab yang masif. "Tepat sehari setelah Naya datang ke pondok ini, papanya menemui saya dan Abah secara rahasia di ruang dalam. Di depan Papah Naya, saya sudah mengucapkan ijab kabul yang sah secara siri, dengan Abah sebagai saksinya. Saya menerima perjodohan dan pernikahan ini karena saya tahu ini adalah amanah besar untuk melindungi hak Naya. Tetapi, sesuai permintaan Papahnya, Naya belum tahu apa-apa tentang pernikahan ini. Kami sepakat merahasiakannya sampai mental Naya benar-benar siap dan matang di sini, agar dia tidak merasa dipaksa."

Bu Nyai Halimah menatap putranya dengan pandangan campur aduk. "Tapi sekarang istrimu sendiri pingsan kelaparan karena ditindas oleh pengajarnya sendiri, Zayyan! Bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkannya di depan papanya yang memimpin Pangestu Grup itu?"

Mbah Yai Usman berjalan mendekati meja kerja di dalam kamar, menepuk sebuah dokumen legal yang diletakkan di sana. Wajah sepuhnya mengeras. "Bukan hanya soal statusnya sebagai istri dan menantumu, Halimah, Zayyan. Ada rahasia yang lebih besar dari sekadar perjodohan lama ini."

Zayyan dan Bu Nyai Halimah menoleh, menanti kalimat berikutnya dari Mbah Yai Usman.

"Ternyata, tanah tempat Pondok Pesantren Al-Falah berdiri kokoh selama puluhan tahun ini, secara hukum perdata dan negara, adalah milik mutlak atas nama Nayanika!" ucap Mbah Yai Usman, membongkar sebuah plot twist hukum yang selama ini terkunci rapat. "Tanah ini adalah warisan turun-temurun dari kakek buyut Naya dari jalur ibunya—seorang tuan tanah zaman dulu yang menyerahkan hak kelola pada pondok kita. Secara hukum yang sah, jika Nayanika memutuskan pergi karena tidak betah, atau jika dia terluka dan menuntut haknya di pondok ini, seluruh aset Pondok Pesantren Al-Falah bisa ditutup, disita, atau dipindahtangankan dalam sekejap mata! Naya adalah pemilik sah dari seluruh tanah tempat para santri bersujud di sini!"

Bu Nyai Halimah memekik pelan, menutup mulutnya dengan kedua tangan, nyaris tidak percaya dengan bom waktu yang selama ini tersimpan di bawah tanah pondok mereka sendiri.

" Zayyan! Nayanika... dia bukan sekadar anak dari teman pengusaha kota kita!"

"Maksud Abah apa?" Zayyan mengernyitkan dahi, ikut menatap tanda lahir yang ditunjuk Abahnya.

"Ning Jihan... ibunya Naya... dia adalah anak perempuan dari Kiai Ahmad, pengasuh Pesantren Seberang yang belasan tahun lalu kabur ke Jakarta karena menolak dijodohkan! Dan Kiai Ahmad... adalah saudara kandung dari ibuku!" suara Mbah Yai Usman tercekat di tenggorokan, air mata mengalir deras membasahi jenggot putih beliau. "Ya Allah... Nayanika ini... dia adalah cucu kandung dari jalur sepupu dekatku sendiri! Dia adalah bagian murni dari darah daging ndalem kita yang hilang!"

DEG!

Ruangan itu mendadak senyap seketika. Kenyataan baru itu menghantam kesadaran Zayyan bagai petir di siang bolong. Nayanika—gadis kota yang sinis, yang selalu ia cap sebagai anak manja yang bar-bar—ternyata tidak hanya berstatus sebagai istrinya yang sah dan pemilik tanah pesantren ini, melainkan cucu kandung yang memiliki pertalian darah murni dengan garis keturunan kiai besar di negeri ini.

"Istrimu... cucuku... pemilik pondok ini..." desis Mbah Yai Usman, kemarahannya kini berada di puncak tertinggi. "Pingsan kelaparan karena ditindas oleh pengajar yang merasa memiliki kuasa di sini!"

Naya masih terpejam dalam ketidaksadarannya, sama sekali tidak mendengar badai rahasia yang baru saja pecah di atas kepalanya. Ia tidak tahu bahwa ketika ia membuka mata nanti, sebuah kenyataan mencengangkan tentang statusnya sebagai seorang istri, pemilik tanah, dan cucu kiai besar telah menantinya.

Di luar jendela ndalem, langit siang yang semula terik mendadak tertutup oleh awan hitam yang tebal, membawa firasat bahwa rahasia yang baru saja terbuka ini akan menuntut pembalasan yang sangat mahal.

BERSAMBUNG

huhuhuhu, sebuah plot twist ya man tekan hehehehe....

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!