NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

“Seseorang yang kebetulan lewat,” jawab Lin Chen — atau lebih tepatnya, suara yang keluar dari balik siluet kelabu yang mewakili dirinya di tempat itu. Suaranya tak memiliki nada maupun tekstur yang bisa dikenali, seolah datang dari segala arah sekaligus, melayang tanpa wujud.

Su Qingxue berbalik.

Ia menatap sosok samar di hadapannya dengan tatapan yang sama sekali tak bergejolak — tak ada rasa takut, hanya kewaspadaan yang terkendali rapat, serta pertanyaan yang belum sempat terucap.

“Ini mimpiku,” ucapnya pelan.

“Memang benar.”

“Lalu kau masuk tanpa izin.”

“Benar juga,” sahut Lin Chen dengan nada biasa saja. “Tapi aku takkan berlama-lama.”

Su Qingxue mengamatinya dalam diam selama beberapa detik, berusaha menemukan makna atau ciri apa pun dari sosok yang sama sekali tak memberikan petunjuk. Perlahan, tangannya yang tadi bergerak ke arah gagang pedang yang tak tampak itu kembali terkulai di sisi tubuh.

Bukan karena ia sepenuhnya percaya.

Namun nalurinya di alam mimpi ini berkata lain, berbeda dengan rasa waspada yang menyelimuti hatinya — bahwa bahaya tidak datang dari siluet kelabu yang berdiri di hadapannya itu.

“Apa maksud kedatanganmu?” tanyanya.

“Membantumu,” jawab suara itu. “Kau telah membuktikan dirimu mampu membangkitkan Niat Pedang Taixuan Sejati — sesuatu yang tak sembarang orang bisa lakukan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Namun malam ini ada sesuatu yang menyusup ke dalam meridianmu. Besok, jika dibiarkan, kau takkan sanggup menggunakannya lagi.”

Sedikit saja perubahan tampak di raut wajah Su Qingxue — sangat samar, sekilas, namun cukup terlihat.

Ia sudah tahu.

Tentu saja ia tahu. Su Qingxue bukan orang yang tak memahami kondisi tubuhnya sendiri. Rasa tidak nyaman itu sudah terasa sejak pertandingan usai. Hanya saja, ia belum seberapa parah dampaknya dan bagaimana cara mengatasinya.

“Kau bisa menolongnya?” nada bicaranya bukan permohonan, melainkan pertanyaan lugas dari seseorang yang tak punya waktu untuk berbasa-basi.

“Saat kau terbangun nanti,” jawab siluet itu, “akan ada sebiji pil tergeletak di sisimu. Minumlah sebelum fajar tiba. Dan jangan tanya dari mana asalnya.”

Su Qingxue menatapnya dalam waktu lama.

“Kenapa kau melakukannya?”

Suara itu tak langsung menjawab.

Di tengah pemandangan kelabu mimpi itu, angin berhembus perlahan, menggugurkan sejumlah daun merah dari pohon tua yang menjulang. Daun-daun itu melayang turun membentuk putaran ke kiri — pola yang terasa sangat akrab, persis seperti yang pernah ia lihat di halaman nyata Paviliun Kitab Suci, pada suatu pagi saat seseorang berbisik tentang arah angin dan goresan samar di dinding batu.

Saat matanya menangkap pemandangan itu, sesuatu berubah dalam benaknya — sangat halus namun terasa dalam, seolah ia baru saja melihat sesuatu yang selama ini ada di sudut pandangannya, namun baru sekarang terlihat jelas.

Lin Chen memperhatikan perubahan itu dalam hati. Jangan sampai ia menyadari siapa diriku, pikirnya.

“Kenapa?” ulangnya seolah menjawab pertanyaan sendiri, sebelum Su Qingxue sempat menyambung pikirannya. “Karena aliran Taixuan tak boleh kalah dalam turnamen ini. Dan kaulah satu-satunya yang mampu menjamin hal itu.”

Sebuah jawaban yang sederhana, tanpa misteri, dan sama sekali tak terasa muluk-muluk.

Namun justru karena itulah — Su Qingxue pun mempercayainya.

Ia mengangguk pelan.

“Baiklah.”

Lin Chen kemudian menarik kesadarannya keluar dari alam mimpi itu dengan sangat hati-hati, perlahan-lahan, tanpa meninggalkan jejak apa pun — seolah mencabut seutas benang dari sehelai kain tanpa merusak anyamannya.

Sekejap kemudian, ia kembali sadar di dalam tubuhnya sendiri, di kamar lantai bawah.

Matanya terbuka.

Penginapan itu masih hening. Menurut perhitungannya, masih ada sekitar empat jam sebelum fajar menyingsing.

Lin Chen bangkit, menggenggam sebiji pil berwarna kelabu keemasan di telapak tangannya, lalu melangkah naik ke lantai atas tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Tiba di depan pintu kamar Su Qingxue, ia berjongkok dan mendorong pil itu masuk lewat celah bawah pintu — cukup jauh hingga tergelincir masuk ke dalam ruangan, namun cukup dekat dengan sisi tempat tidur agar mudah ditemukan saat pemiliknya terjaga.

Setelah itu, ia kembali turun, masuk ke kamarnya sendiri, dan mencabut lapisan penghalang energi yang dipasangnya. Ia pun berbaring kembali di atas kasur.

Besok Su Qingxue akan melangkah ke arena dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada yang diduga siapa pun, pikirnya sambil memejamkan mata. Dan tak ada satu orang pun yang akan tahu alasannya.

Termasuk dirinya sendiri — meski pemandangan daun merah yang berputar tadi mungkin akan membuatnya bertanya-tanya lebih lama dari yang ia sadari.

Napasnya perlahan menjadi tenang dan teratur.

Bukan masalah besar.

Mimpi hanyalah mimpi.

Sementara itu, di kamar lantai atas, Su Qingxue terbangun tepat saat fajar mulai menyapa langit.

Matanya terbuka menatap langit-langit yang masih redup. Napasnya kini terasa lebih ringan dan teratur dibandingkan saat ia terlelap.

Sebelum ia sempat melihat sekeliling, ia sudah merasakan kehangatan samar di sisi tempat tidurnya — lembut dan menenangkan, seperti batu yang telah menyerap panas matahari sepanjang hari.

Tangannya bergerak menyentuh benda itu.

Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang bulat, kecil, dan hangat tergeletak di lantai, tak jauh dari kasurnya.

Su Qingxue duduk bersandar.

Ia mengangkat benda itu ke depan matanya. Di bawah cahaya samar yang merembes lewat celah jendela, terlihatlah warnanya yang kelabu keemasan, disertai aroma halus yang tercium samar.

Ia menatapnya lama dalam diam.

Sisa-sisa mimpi yang terasa begitu nyata tadi masih membayangi benaknya — siluet kelabu, halaman Paviliun Kitab Suci, serta daun-daun merah yang melayang berputar ke kiri.

Karena aliran Taixuan tak boleh kalah dalam turnamen ini.

Su Qingxue menggenggam pil itu erat di telapak tangannya, lalu menelannya perlahan.

Tak ada perubahan yang mencolok — tak ada kilatan cahaya yang menyilaukan, tak ada ledakan energi yang menggelegar. Hanya kehangatan yang tenang yang menyebar perlahan dari tenggorokan ke dada, hingga merembes ke seluruh aliran meridiannya, bagaikan matahari yang perlahan terbit dari dalam tubuhnya sendiri. Rasa tidak nyaman yang melilit di meridian lengan kirinya — yang sejak kemarin ia rasakan namun tak tahu cara mengatasinya — mulai terurai perlahan, bersih dan tanpa bekas.

Sepuluh menit kemudian, kondisinya tak hanya pulih seperti sebelum pertandingan kemarin.

Ia justru terasa lebih baik dari sebelumnya.

Su Qingxue tetap duduk dalam kegelapan, merasakan aliran energinya yang kini bergerak lebih lancar dan stabil dibandingkan beberapa bulan terakhir.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap telapak tangannya yang kini kosong. Pil itu sudah habis bekerja di dalam tubuhnya.

“Daun yang jatuh berputar ke kiri,” gumamnya sangat pelan, hanya terdengar di dalam ruangan kosong itu.

Tak ada jawaban yang menyahut.

Tentu saja takkan ada.

Sementara itu, di kamar paling bawah, di sudut paling belakang yang berdekatan dengan dapur, Lin Chen sudah terlelap pulas sejak dua jam yang lalu.

 

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!