NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 22

Langkah kaki Amerta terasa goyah saat ia menuruni tangga angkutan umum dan berjalan menuju gang flatnya. Kejadian di kampus tadi siang benar-benar menguras seluruh energinya. Genggaman tangan Mahesa yang posesif dan bisikan dinginnya tentang menu makan malam Amerta terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa aman yang ia bangun selama dua minggu ini menguap tanpa sisa, berganti dengan paranoia yang mencekam.

Bagaimana bisa dia tahu? Apakah ada kamera tersembunyi di dalam kamar? Atau ada orang yang menguntitku? Pikiran-pikiran itu membuat dada Amerta sesak luar biasa.

Begitu sampai di depan gedung flat berlantai tiga itu, Amerta mendapati suasana lorong lantai dua tempat kamarnya berada tampak sedikit sibuk. Beberapa kardus besar tergeletak di depan pintu kamar nomor 204—kamar yang tepat berada di sebelah kanan kamarnya. Di sana, seorang bapak paruh baya yang merupakan tetangga lamanya, Pak Joko, tampak sedang mengikat

barang-barang terakhirnya ke atas sebuah troli.

Amerta mengerutkan kening, mencoba melupakan sejenak ketakutannya sendiri. "Pak Joko? Mau pindah ya?" tanya Amerta, berusaha menyapa dengan sopan meski suaranya terdengar agak serak.

Pak Joko menoleh, lalu tersenyum ramah. "Eh, Neng Amerta. Iya nih, Neng. Mendadak banget. Anak bapak yang di Surabaya minta bapak tinggal di sana saja. Kebetulan kemarin sore ada agen properti yang datang dan berani bayar ganti rugi sisa sewa flat ini dengan harga tinggi sekali, tiga kali lipat dari harga aslinya! Ya sudah, bapak langsung kemas barang."

Mendengar kata 'agen properti' dan 'harga tinggi', firasat buruk mendadak menyengat benak Amerta. "Agen properti? Siapa yang beli kamar ini, Pak?"

"Waduh, bapak kurang tahu namanya, Neng. Katanya sih buat mes karyawan atau semacamnya. Orang kantor begitu, penampilannya rapi, pakai setelan jas hitam," jawab Pak Joko santai sembari mendorong trolinya menjauh. "Bapak pamit dulu ya, Neng. Jaga diri baik-baik di sini."

Amerta terpaku di tempatnya. Setelan jas hitam. Visual itu langsung mengingatkannya pada para pengawal yang mengawal Mahesa di kampus tadi siang. Rasa panik kembali merayap di tengkuknya. Dengan tergesa-gesa, Amerta meraba tasnya, mengeluarkan kunci kamar nomor 203 miliknya, lalu masuk dan mengunci pintu dari dalam hingga terdengar bunyi klik dua kali.

Amerta menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup, napasnya memburu. Ia segera memeriksa setiap jengkal kamarnya yang mungil. Ia memeriksa lubang stopkontak, sela-sela bingkai jendela, bagian bawah meja belajar, hingga ke dalam kamar mandi untuk mencari keberadaan kamera tersembunyi (spy cam). Hasilnya nihil. Tidak ada benda mencurigakan apa pun. Namun, perasaan diawasi itu tetap tidak mau hilang dari dadanya.

Malam harinya, sekitar pukul 21.00 WIB, suasana di luar flat diguyur hujan deras. Suara rintik air yang menghantam genteng besi setidaknya bisa sedikit meredam gemuruh di kepala Amerta. Ia duduk di atas kasur dengan selimut yang membungkus tubuhnya, mencoba fokus membaca diktat kuliah untuk meredakan kecemasannya.

Tiba-tiba, dari balik dinding sebelah kanan—dinding pembatas tipis yang memisahkan kamarnya dengan kamar nomor 204—terdengar suara dentuman pelan. Rupanya tetangga barunya sudah mulai menempati kamar tersebut malam ini.

Amerta menoleh tajam ke arah dinding tersebut, memasang telinganya erat-erat. Kamar kos ini merupakan bangunan lama yang sekat antar kamarnya hanya terbuat dari tembok bata tipis, sehingga suara-suara yang agak keras dari kamar sebelah sering kali bisa terdengar lamat-lamat.

Dari balik dinding itu, terdengar langkah kaki yang berat dan teratur. Langkah kaki yang tegap, mantap, dan menyebarkan getaran dominasi yang aneh melalui lantai semen. Amerta menahan napasnya. Ritme langkah kaki itu terasa begitu akrab di indra traumatisnya, hampir mirip dengan...

Tidak, tidak mungkin, Amerta menggelengkan kepalanya keras-keras, mengusir pikiran gila itu. Kak Esa tidak mungkin tinggal di kos-kosan murah seperti ini. Dia CEO Dirgantara Group. Dia terbiasa tidur di kasur sutra di penthouse mewah atau rumah utama kami yang megah. Ini pasti cuma stafnya, atau orang kirimannya yang ditugaskan untuk memata-mataiku.

Amerta mencoba menenangkan hatinya dengan pemikiran tersebut. Selama sosok di sebelah itu bukan Mahesa sendiri, ia masih merasa sanggup bertahan. Ia tidak tahu bahwa tebakannya salah besar.

Di balik dinding tipis kamar nomor 204, ruangan itu tampak sangat kontras dengan flat Amerta yang berantakan oleh buku kuliah. Kamar itu kosong, tidak ada barang mewah atau koper pakaian. Hanya ada sebuah kursi kerja kulit hitam yang sengaja dibawa dari kantor, diletakkan tepat menghadap ke dinding pembatas kamar Amerta.

Di atas kursi itu, Mahesa Dirgantara sedang duduk dengan santai. Jas abu-abunya sudah dilepas, menyisakan kemeja putihnya yang beberapa kancing teratasnya sengaja dibuka, memperlihatkan gurat lehernya yang kokoh. Di tangannya terdapat sepasang headphone nirkabel mahal yang terhubung langsung dengan alat penyadap suara berfrekuensi tinggi yang menempel di balik lemari dindingnya.

Mahesa memejamkan mata birunya, mendengarkan dengan saksama setiap helaan napas, gemerisik lembaran kertas buku yang dibalik, hingga suara detak jantung Amerta yang lamat-lamat terekam oleh alat sensitif tersebut. Sebuah senyuman miring yang dingin dan dipenuhi kegilaan posesif terukir di wajah tampannya dalam kegelapan malam.

Mahesa memang membiarkan Amerta memegang surat izin mandiri dari orang tua mereka. Ia sengaja membiarkan Amerta berpikir bahwa gadis itu telah menang dan berhasil mengecohnya dengan kepatuhan palsu. Baginya, melihat burung kecilnya terbang bebas dalam ilusi kebebasan selama beberapa minggu ini adalah hiburan yang menarik sebelum ia kembali menarik talinya.

Ia tidak membutuhkan kamera tersembunyi yang bisa membuat Amerta curiga dan pindah tempat lagi. Baginya, berada di balik dinding ini, mendengarkan setiap detail aktivitas Amerta secara langsung tanpa disadari oleh gadis itu, memberikan kepuasan yang jauh lebih pekat bagi rasa kepemilikannya yang egois.

Amerta yang berada di kamar sebelah kembali membetulkan posisi tidurnya, membuat suara ranjangnya berdecit kecil. Mendengar suara itu dari headphone-nya, Mahesa perlahan membuka matanya. Ia berdiri, melangkah mendekati dinding bata yang memisahkan mereka, lalu menempelkan telapak tangannya yang besar dan hangat pada permukaan tembok yang dingin tersebut—tepat di posisi di mana Amerta sedang bersandar di balik sisi satunya.

"Tidurlah yang nyenyak, Amerta," bisik Mahesa dengan suara baritonnya yang sangat rendah ke arah dinding hitam, senyumannya semakin pekat. "Kamu boleh merasa semangat dengan kehidupan barumu di luar sana... tapi ingat, dinding ini pun tahu setiap detik helaan napasmu. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar pergi dariku."

Di balik dinding yang sama, Amerta mendadak merinding hebat tanpa alasan yang jelas. Ia menarik selimutnya semakin tinggi, mencoba memejamkan mata di bawah bayang-bayang ketakutan yang tak terlihat, sama sekali tidak menyadari bahwa monster yang paling ia hindari justru sedang berdiri hanya berjarak beberapa sentimeter darinya, terpisahkan oleh sekat tembok tipis yang berbisik.

Bantu likee yaa teman teman 🫶🏻🫶🏻

kasih satu kata untuk aku semangat update

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!