NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 25

Matahari pagi baru saja merangkak naik di atas langit Depok, menyinari deretan pohon mahoni yang berbaris rapi di sepanjang jalan menuju Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Namun, keindahan pagi itu sama sekali tidak berbanding lurus dengan isi kepala Amerta. Gadis itu berjalan menyusuri koridor gedung dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin, meskipun di dalam ranselnya terdapat sebuah kotak bekal yang beratnya terasa seperti membawa bom waktu.

Hari ini adalah jadwal bimbingan tugas pengganti yang diberikan oleh Mahesa—si monster berkedok dosen praktisi yang juga menjabat sebagai CEO Dirgantara Group. Setelah dihukum meringkas tiga jurnal internasional tentang manajemen konflik, Amerta tidak sudi kalah lagi. Otak kreatifnya—atau lebih tepatnya, otak usilnya yang sudah mencapai batas frustrasi—telah merancang sebuah skenario balas dendam baru yang ia yakini jauh lebih rapi daripada insiden permen karet stroberi minggu lalu.

Amerta berhenti di depan pintu ruang dosen tamu. Ia menarik napas dalam-dalam, mematut diri di pantulan kaca jendela. Ia memaksakan sebuah senyuman manis—jenis senyuman palsu yang biasa digunakan oleh para staf layanan pelanggan untuk menyembunyikan keinginan mereka mencakar orang. Setelah memastikan ekspresinya tampak cukup "patuh dan menggemaskan", ia mengetuk pintu kayu jati itu dengan ritme yang sopan.

"Masuk," sebuah suara bariton yang berat dan familier terdengar dari dalam.

Amerta memutar kenop pintu. Bau ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya: kombinasi antara aroma kopi arabika yang pekat, tumpukan kertas baru, dan parfum wood and amber milik Mahesa yang selalu mengintimidasi. Pria itu duduk di balik meja kerja besar, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan genius sekaligus angkuh.

"Selamat pagi, Pak Mahesa," sapa Amerta dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut sutra. Ia melangkah mendekat dengan langkah anggun yang dipaksakan.

Mahesa menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Amerta dari atas lensa dengan pandangan menyelidik. "Selamat pagi. Sungguh sebuah kejutan. Kamu datang tepat waktu, bahkan lima menit lebih awal. Apakah matahari terbit dari barat hari ini?"

Amerta mengepalkan tangannya di balik punggung, menahan diri agar tidak melempar sepatu flatnya ke wajah tampan itu. "Tentu saja tidak, Pak. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya adalah mahasiswi yang berkomitmen dan menghargai waktu Anda yang sangat berharga."

"Bagus kalau begitu. Mana tugas ringkasan jurnalmu?" tagih Mahesa sambil mengulurkan tangan.

Amerta segera mengeluarkan map berisi tumpukan kertas ringkasan yang sudah ia kerjakan sambil begadang selama tiga malam berturut-turut. Namun, sebelum Mahesa sempat memeriksa lembaran itu, Amerta dengan gerakan cepat mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna pastel dari tasnya dan meletakkannya tepat di samping laptop Mahesa.

"Dan... ini apa?" Mahesa menaikkan sebelah alisnya, menatap kotak bekal itu seolah-olah benda itu adalah sebuah paket mencurigakan.

Amerta memasang senyuman paling manis yang pernah ia miliki dalam hidupnya. Matanya berkedip-kedip polos. "Ini sebagai bentuk permohonan maaf saya atas insiden di aula minggu lalu, Pak. Saya tahu saya salah. Jadi, tadi subuh saya sengaja membuatkan sarapan khusus untuk Bapak. Anggap saja ini tanda perdamaian dari mahasiswi bimbingan Anda yang paling tidak tahu diri ini."

Di dalam kotak bekal itu terdapat sepiring nasi goreng dengan tampilan yang sangat menggugah selera. Di atasnya diberi taburan bawang goreng, potongan sosis berbentuk bunga, dan telur mata sapi yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna. Secara visual, makanan itu layak masuk ke dalam katalog majalah kuliner.

Namun, di balik keindahan visual itu, terdapat sebuah konspirasi tingkat tinggi yang diracik oleh jemari Amerta. Tadi subuh di dapur flatnya, Amerta telah memasukkan tiga sendok makan garam bumbu instan murni (bumbu asin), dua sendok makan gula pasir, dan setengah gelas susu kental manis ke dalam campuran nasi tersebut. Hasil akhirnya adalah sebuah mahakarya kuliner dengan rasa yang sangat kacau: terlalu asin di satu sisi, kemanisan yang pekat di sisi lain, dan sensasi gurih yang bertubrukan secara ekstrem di dalam mulut. Amerta yakin, satu suapan saja akan membuat sang CEO perfeksionis itu langsung memuntahkannya dan kehilangan harga diri di depannya.

Mahesa menatap nasi goreng itu, lalu beralih menatap wajah Amerta yang tampak begitu antusias menantikan reaksinya. "Kamu memasaknya sendiri?"

"Tentu saja, Pak! Dengan penuh cinta dan rasa hormat," bohong Amerta tanpa berkedip. Rasakan itu, dasar monster! Cepat makan dan muntahkan! teriak Amerta dalam hati dengan tawa jahat yang menggema di kepalanya.

Mahesa melepaskan kacamatanya, meletakkannya di atas meja. Ia membuka tutup kotak bekal tersebut. Aroma nasi goreng itu menguar, dan entah bagaimana, bumbu-bumbu aneh di dalamnya tersamarkan oleh wangi bawang putih yang kuat. Pria itu mengambil sendok stainless steel yang sudah disediakan Amerta.

Jantung Amerta berdegup kencang karena adrenalin yang melonjak. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya melebar, bersiap mengabadikan momen kehancuran Mahesa dengan ingatannya.

Mahesa mengambil satu sendok penuh nasi goreng beserta potongan sosis, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Amerta menahan napas. Satu... dua... tiga... ayo muntahkan!

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat seluruh sel otak Amerta mendadak membeku. Ekspresi Mahesa tidak berubah sama sekali. Rahangnya bergerak mengunyah dengan santai, ritmenya teratur, seolah-olah makanan yang masuk ke dalam mulutnya hanyalah makanan biasa dari restoran bintang lima. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada mata yang membelalak, dan tidak ada tanda-tanda tersedak.

Pria itu menelan kunyahannya dengan tenang, lalu mengambil sendok kedua. Dan sendok ketiga. Ia memakan nasi goreng eksperimen kimia itu dengan wajah yang sangat datar, ekspresi dinginnya yang biasa tetap terjaga dengan sempurna.

Amerta melongo. Rahangnya benar-benar hampir jatuh ke lantai ruangan tersebut. Bagaimana bisa?! Apakah lidah pria ini terbuat dari besi? Atau dia tidak punya saraf perasa lagi setelah terlalu lama menjadi bos yang kejam?!

Setelah suapan kelima, Mahesa menghentikan gerakannya. Ia mengambil tisu di atas meja, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan yang sangat elegan, lalu menatap Amerta yang berdiri mematung seperti patung lilin dengan wajah pucat karena terkejut.

"Rasa yang... menarik," komentar Mahesa datar, suaranya tetap tenang tanpa riak sedikit pun. "Kombinasi antara asin yang pekat dan manis dari susu. Sebuah inovasi manajemen konflik dalam bentuk makanan, saya rasa. Tapi secara keseluruhan, ini bisa dimakan. Terima kasih atas sarapannya, Amerta."

Amerta mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. Rasa frustrasi dan syok bercampur menjadi satu, menyumbat tenggorokannya hingga ia tidak bisa berkata-kata. Rencana jeniusnya gagal total lagi. Pria ini bukan manusia; dia benar-benar iblis mutlak yang kebal terhadap segala jenis racun dan jebakan murahan.

"Sa... sama-sama, Pak," jawab Amerta akhirnya, suaranya bergetar menahan malu dan kekesalan yang luar biasa. "Kalau begitu, saya... saya permisi dulu untuk kelas selanjutnya."

"Silakan. Dan jangan lupa, revisi jurnalmu saya tunggu lusa," ucap Mahesa sambil kembali memakai kacamatanya dan memeriksa berkas, mengabaikan Amerta yang langsung berbalik dan menghentakkan kakinya keluar dari ruangan dengan kekalahan telak yang mencoreng harga dirinya untuk kesekian kali.

Keesokan paginya, suasana di gedung FISIP UI terasa sedikit lebih mendung. Hujan rintik-rintik sisa semalam menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Amerta berjalan menuju ruang kelas besar untuk mata kuliah Manajemen Strategis yang diajar oleh Mahesa. Meskipun hatinya masih dongkol akibat kegagalan kemarin, ia tetap datang awal karena tidak ingin dihukum berdiri lagi selama dua jam.

Satu per satu mahasiswa mulai memenuhi ruangan. Riuh rendah obrolan tentang tugas dan ujian terdengar di mana-mana. Amerta duduk di barisan tengah, bersendekap, matanya menatap tajam ke arah pintu kelas, menunggu kedatangan si "Monster" dengan perasaan campur aduk. Ia sudah bertekad untuk tidak memperhatikan pria itu hari ini.

Tepat pada pukul sembilan pagi, pintu kelas terbuka. Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata seluruh mahasiswa membuat ruangan yang tadinya bising mendadak senyap.

Mahesa melangkah masuk, namun langkah tegap dan karisma mutlak yang biasa ia pancarkan seolah menguap entah ke mana. Wajah pria itu tampak sangat pucat, hampir menyerupai warna kertas putih. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya yang biasanya tajam berbinar, kini tampak sayu dan meredup. Alih-alih mengenakan setelan jas atau kemeja rapi yang pas di tubuh, ia mengenakan kemeja hitam yang tampak sedikit longgar, dan postur tubuhnya agak membungkuk, seolah-olah ia sedang menahan beban yang sangat berat di area perutnya.

Pria itu meletakkan tas laptopnya di atas meja dengan bunyi dentuman yang agak lemah, tidak sesantai biasanya. Ia memegang pinggiran meja dengan kedua tangannya yang tampak gemetar samar, mencoba menopang berat tubuhnya sendiri.

"Selamat pagi semuanya," sapa Mahesa. Suara baritonnya yang biasa menggema di seluruh sudut ruangan kini terdengar serak, parau, dan sangat pelan. Ia bahkan harus berhenti sejenak untuk menarik napas panjang yang tampak menyakitkan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Hari ini... kita akan membahas bab selanjutnya mengenai analisis SWOT. Silakan buka halaman seratus dua puluh..."

Di barisan tengah, Amerta terpaku. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, bukan karena takut, melainkan karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam dadanya seperti godam besar. Ia menatap wajah Mahesa yang pucat pasi dan melihat bagaimana pria itu sesekali memejamkan matanya rapat-rapat sambil menekan telapak tangan kirinya ke arah ulu hati di balik kemeja hitamnya.

Apakah... apakah itu karena nasi goreng kemarin? bisikan itu muncul di kepala Amerta, membuat seluruh tubuhnya mendadak dingin.

Amerta tahu betul bahwa Mahesa adalah seorang gila kerja yang sering melewatkan waktu makan demi rapat-rapat penting Dirgantara Group. Ditambah lagi, bumbu asin murni yang dicampur dengan gula dan susu kental manis dalam jumlah ekstrem yang dimakan Mahesa kemarin dalam keadaan perut kosong pastilah menjadi kombinasi mematikan bagi lambung seseorang. Pria itu sengaja menghabiskan makanan itu kemarin hanya untuk menjaga harga dirinya di depan Amerta, berpura-pura kuat, padahal organ dalamnya sedang menjerit kesakitan.

Rasa bersalah yang mengendap di hati Amerta mulai merayap naik, mengaburkan seluruh rasa dendam dan kesal yang ia agungkan sejak kemarin. Amerta memandang pria di depan kelas itu dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh kecemasan. Sepanjang dua jam perkuliahan, Mahesa hampir tidak pernah melepaskan tangan kirinya dari perutnya. Keringat dingin tampak menetes di pelipisnya yang pucat, dan ia beberapa kali harus duduk di kursi dosen—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya karena ia selalu memilih berdiri dengan tegap saat mengajar.

Meskipun Mahesa berusaha keras mempertahankan profesionalismenya dan menjelaskan materi dengan runtut, semua orang di kelas bisa melihat bahwa sang praktisi ahli sedang tidak baik-baik saja.

Begitu bel tanda berakhirnya jam kuliah berbunyi, Mahesa langsung menutup laptopnya tanpa banyak bicara. "Kelas hari ini selesai. Tugas dikumpulkan minggu depan melalui komting. Selamat siang."

Suara itu terdengar sangat lemas. Mahesa bahkan tidak menatap para mahasiswa saat mereka mulai meninggalkan ruangan. Ia duduk bersandar di kursinya dengan mata terpejam, wajahnya semakin memutih menahan nyeri yang tampaknya sudah mencapai puncaknya.

Amerta tidak langsung bergerak. Ia berpura-pura membereskan bukunya dengan sangat lambat, menunggu hingga seluruh teman sekelasnya keluar menyusuri koridor. Ketika ruangan itu akhirnya kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Amerta berdiri dari kursinya. Ia menatap Mahesa dari kejauhan, ingin rasanya ia melangkah mendekat dan meminta maaf secara langsung, namun harga diri dan rasa gengsi yang tinggi menahan kakinya di tempat. Lagipula, ia terlalu takut melihat kemarahan Mahesa jika pria itu tahu bahwa tebakannya benar.

Dengan perasaan campur aduk yang berkecamuk, Amerta menyampirkan ranselnya dan berjalan keluar dari ruang kelas dengan langkah cepat. Namun, ia tidak pergi menuju kantin atau flatnya. Kakinya justru membawanya melangkah lebar keluar dari lingkungan FISIP, membelah rintik hujan menuju area klinik kampus dan deretan ruko di luar gerbang utama Universitas Indonesia.

Di bawah guyuran gerimis, Amerta berlari kecil menuju sebuah apotek. Dengan napas yang memburu, ia membeli satu strip obat sakit lambung berdosis tinggi, obat pereda nyeri esofagus, dan beberapa saset cairan pelapis dinding lambung yang biasa digunakan untuk penderita maag akut. Setelah itu, ia bergegas menuju sebuah warung makan rumahan yang bersih di dekat area stasiun, memesan satu porsi bubur ayam hangat tanpa merica, tanpa kecap, dan tanpa sambal—benar-benar bubur polos yang lembut dan aman untuk perut yang sedang terluka.

Setengah jam kemudian, Amerta sudah kembali ke dalam gedung fakultas. Napasnya tersengal-sengal, ujung rambut dan jaket kuningnya sedikit basah terkena air hujan. Ia membawa sebuah kantong plastik berlogo apotek dan satu wadah sterofoam berisi bubur hangat.

Ia berjalan menuju ruang dosen tamu tempat Mahesa biasa beristirahat setelah mengajar. Jantungnya berdegup kencang karena panik dan rasa bersalah yang kian menyiksa. Namun, saat tangannya sudah berada di depan kenop pintu kayu itu, Amerta mendadak membeku.

Kalau aku masuk dan memberikan ini secara langsung, dia pasti tahu kalau aku yang meracuninya kemarin. Dia pasti akan mengejekku, atau yang lebih parah, dia akan memandangku dengan tatapan kasihan. Aku tidak bisa melakukan itu, batin Amerta bergolak. Gengsinya yang setinggi langit menolak untuk runtuh di depan pria itu.

Amerta menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor lantai dua itu tampak sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang berada di kantin atau ruang kelas lain. Setelah memastikan situasi aman, Amerta menarik napas dalam-dalam. Ia berjalan mendekati meja resepsionis administrasi jurusan yang terletak tidak jauh dari ruangan tersebut. Di sana, duduk seorang staf sekretariat fakultas, seorang wanita paruh baya bernama Bu Endang yang terkenal ramah.

Amerta memasang wajah selemas mungkin, berpura-pura menjadi mahasiswi yang hanya menjalankan tugas. "Permisi, Bu Endang," sapa Amerta dengan suara pelan.

"Eh, Amerta. Ada apa, Nduk?" tanya Bu Endang sambil mendongak dari balik layar komputernya.

Amerta meletakkan kantong plastik berisi obat-obatan dan wadah bubur hangat itu di atas meja resepsionis. "Anu, Bu... Ini tadi ada titipan paket dari... dari perwakilan mahasiswa bimbingan untuk Pak Mahesa. Katanya untuk makan siang beliau karena hari ini Pak Mahesa kelihatan kurang sehat di kelas."

Bu Endang melihat kantong tersebut, lalu tersenyum maklum. "Oh, iya ya. Tadi Ibu juga lihat Pak Mahesa pas lewat koridor wajahnya pucat sekali, jalan sambil megangin perut terus. Kasihan ya, pasti maag-nya kambuh karena kecapekan kerja di kantornya juga. Kenapa tidak kamu antarkan langsung saja ke ruangannya, Amerta? Kan kamu mahasiswi bimbingannya."

Wajah Amerta memerah sesaat, ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, tidak usah, Bu! Saya... saya masih ada kelas praktikum yang harus segera dimulai di gedung sebelah. Takut terlambat. Jadi, saya mohon bantuan Bu Endang untuk mengantarkannya ke meja beliau, ya? Tolong jangan bilang kalau saya yang bawa, Bu. Bilang saja dari 'mahasiswa FISIP' gitu."

Bu Endang terkekeh pelan melihat tingkah Amerta yang tampak gugup. "Yat sudah, iya. Nanti Ibu antarkan ke dalam ruangannya setelah Ibu menyelesaikan input data ini. Terima kasih ya, Amerta, sudah peduli sama dosennya."

"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu," ucap Amerta buru-buru.

Setelah berbalik, Amerta melangkah pergi meninggalkan area meja administrasi. Namun, ia tidak benar-benar pergi jauh. Ia bersembunyi di balik pilar beton besar di sudut koridor yang terhalang oleh tanaman pot, mengintip dengan cemas.

Beberapa menit kemudian, ia melihat Bu Endang berdiri dari kursinya, mengambil kantong plastik obat dan wadah bubur hangat tersebut, lalu berjalan menuju pintu ruangan Mahesa. Bu Endang mengetuk pintu, masuk ke dalam, dan menutup pintu itu kembali.

Amerta menahan napasnya di balik pilar, menunggu dengan cemas yang luar biasa. Sekitar dua menit berlalu sebelum Bu Endang keluar dari ruangan dengan tangan kosong, kembali menuju mejanya dengan santai.

Amerta mengembuskan napas panjang yang selama ini ia tahan di dalam dada. Rasa sesak di hatinya sedikit berkurang mengetahui obat dan makanan lembut itu sudah berada di dalam ruangan Mahesa. Namun, rasa bersalah itu tidak serta merta hilang. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding pilar yang dingin, menatap langit-langit koridor dengan pandangan kosong.

"Dasar bodoh," umpat Amerta pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan yang tertelan oleh suara rintik hujan di luar. "Kenapa juga aku harus repot-repot membelikan semua itu? Biarkan saja si monster itu rasakan akibatnya sendiri."

Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Amerta tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa tenang jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mahesa akibat ulah konyolnya. Permainan petak umpet dan balas dendam di antara mereka seharusnya menjadi ajang pembuktian kecerdasan, bukan kompetisi yang membahayakan nyawa orang lain.

Amerta merapatkan jaket kuningnya, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan koridor gedung tua itu dengan perasaan yang masih menggantung, tidak sabar sekaligus cemas

1
Emily
korporat miskin...x ya. kenapa gak bawa ke dokter aneh
Emily
pokoknya tau diri ajalah kau merta
Emily
ya udah klo simahesa cuek kamu cuek juga Amerta gak usah sibuk mau tau urusan si Mahesa..di anggap numpang di rumahnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
up doubel thor setiap hari
bulane: bismilah ya sayang kuu
total 1 replies
Reni Anjarwani
bagus sayang upnya lama
Tunik nur Agustina: udah up lagi tuh kak
total 1 replies
bulane
seruuu
Reni Anjarwani
lanjut
bulane: terimakasih atas dukungan nya
total 1 replies
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!