Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uchi dan Rasa Lapar
Di dalam rumah milik keluarga Yoto, atmosfer ketidakpastian masih terasa pekat. Di dekat lincak, Cate dan Chtholly terpaku dalam diam.
Otak mereka seolah buntu, tak kunjung menemukan cara untuk menyadarkan Takahiro.
Puk!
Suara tepukan dua telapak tangan terdengar nyaring dari sudut lincak. Uchi merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sembari memejamkan mata sejenak.
"Gochisōsama deshita!" gumam Uchi.
Gumaman spontan itu langsung memaku perhatian Cate dan Chtholly.
Cate menatap gadis mungil itu dengan alis bertaut, sementara Chtholly menghela napas panjang sembari memijit pangkal hidungnya.
"Uchi, kenapa kamu bisa sesantai ini di saat keadaan tidak sedang membaik?" tanya Cate.
Uchi tak langsung menjawab. Ia menyeka sisa ubi ungu yang menempel di sudut bibirnya menggunakan punggung lengan baju.
Sepasang mata Cate melirik ke arah meja di hadapan gadis mungil itu. Bersih. Seluruh persediaan ubi ungu yang tadi disuguhkan oleh Clyrie telah amblas, menyisakan tumpukan kulit yang berserakan di atas piring tanah liat.
"Kau habiskan semuanya?" tanya Cate, nadanya naik satu oktaf.
Manik mata Uchi justru bergerak liar, menyapu ke segala penjuru ruangan.
"Aku masih lapar!"
"Dasar rakus! Tubuh mungil tapi nafsu makan tinggi," cetus Cate.
"Berisik! Aku sudah dua hari belum makan. Jadi wajar kalau nafsu makanku tinggi."
"Hah!?" teriak Cate.
Ia langsung menyentak bangun dari duduknya, lalu mengacungkan telunjuknya tajam-tajam ke arah Uchi yang kini malah asyik mengupil.
"Kemarin malam kau yang habiskan sisa makanan di rumahku, dan sekarang kau bilang belum makan dua hari?"
Uchi menarik jarinya dari hidung dan membuang muka ke arah lain. Ia bersiul-siul kecil santai di atas lincak.
"Kurang ajar!!" gerutu Cate, suaranya tertahan di tenggorokan.
Dengan langkah berat yang menghentak lantai tanah, ia menyeberangi lincak. Namun, gerakannya langsung tertahan di tengah jalan. Chtholly secepat kilat menyergap tubuh Cate dari belakang, mendekapnya erat-erat.
"Uchi-san, kamu ini apa-apaan, sih?" tanya Chtholly, suaranya berat. "Kenapa kamu lakukan ini?"
"Aku tidak melakukan apa-apa!" tegas Uchi. "Aku begini karena perutku masih lapar."
"Ya tapi jangan kayak gini juga, dong!" sambung Chtholly, napasnya terengah-engah.
Uchi turun dari lincak, melangkah menuju area dapur.
"Cate, sadarlah. Kendalikan emosimu!" seru Chtholly.
"Chtholly-neesan," panggil manja Uchi dari arah dapur. Jemari mungilnya menunjuk ke arah sebuah rak kayu tinggi yang terbuka. "Tolong ambilkan itu."
'Jika aku melepaskan Cate sekarang, anak ini pasti akan langsung menerkam Uchi. Tapi, kalau aku membiarkan Uchi-sama kelaparan menanti di sana... posisiku sebagai pengasuh pribadinya sejak lama bisa terancam.'
Lagipula, sejak menginjakkan kaki di Desa Veria, perut Chtholly sendiri belum kemasukan sesuap makanan pun.
Lamat-lamat suara langkah kaki dan obrolan terdengar dari arah halaman luar.
"Vyora? Ibu?" gumamnya lirih.
Sedetik kemudian sepasang kaki melangkah masuk melewati ambang pintu, menampilkan Vyora dan Clyrie di sana.
"Vyora! Bibi! Tolong bantu aku!"
Clyrie menghentikan langkah.
"Apa yang terjadi?"
"Kalau aku ceritakan sekarang akan panjang," jawab Chtholly cepat. "Lebih baik Bibi cepat bantu aku, aku sudah tidak tahan lagi."
Vyora segera berlari maju, ikut menempelkan badannya untuk menahan tubuh Cate.
Sementara itu, Clyrie berdiri tenang, mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Hal pertama yang tertangkap matanya adalah meja tengah. Suguhan ubi ungu kini telah berganti menjadi gundukan kulit yang acak-acakan. Pandangannya kemudian bergeser ke arah dapur.
Di sana, si gadis mungil masih setia menunjuk ke atas rak.
Clyrie berjalan mendekati gadis mungil itu. Sesampainya di dapur, ia mengabaikan rak tinggi dan justru meraih tiga buah jagung utuh yang belum sempat ia masak dari wadah di bawah, lalu menyerahkan semuanya ke tangan Uchi.
Uchi menyambar ketiga jagung mentah tersebut, lalu langsung melahapnya cepat-cepat. Wanita paruh baya itu justru terkekeh geli melihat kelakuan tamunya hari ini.