Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Armada Udara untuk Jojo dan Ambisi Hijau sang Pahlawan Terluka
Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah, seolah-olah semesta pun setuju bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk menghamburkan uang dalam jumlah yang tidak masuk akal. Di depan dealer pesawat jet pribadi paling eksklusif di ibu kota, iring-iringan sepuluh mobil SUV hitam yang mengawal sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti dengan presisi militer.
Rizky Adhitya melangkah keluar dengan setelan linen santai berwarna krem yang harganya setara dengan satu unit rumah mewah di pinggiran kota. Kacamata hitamnya bertengger angkuh di hidung, dan senyum periang tidak pernah lepas dari wajah tampannya. Di belakangnya, Rafa Ariyanto berjalan dengan bahu yang tampak semakin merosot. Rafa memegang tabletnya seperti memegang sebuah bom waktu yang siap meledak setiap kali bosnya menunjuk sesuatu,.
"Tuan Muda, saya mohon... pikirkan kembali," rintih Rafa, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja berlari maraton sejauh 42 kilometer. "Kita sudah memiliki tiga jet pribadi atas nama Adhitya Group. Kenapa Anda harus membeli yang baru hari ini? Dan kenapa lokasinya harus di dealer kargo militer?".
Rizky tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Rafa hingga asistennya itu terbatuk kecil. "Rafa, Rafa! Jet yang kita punya itu terlalu membosankan. Isinya hanya kursi kulit yang kaku dan pramugari yang terlalu sopan. Lagipula, apakah kamu lupa? Jojo, asisten keduaku yang berleher panjang, butuh liburan!",.
"Tuan Muda... Jojo adalah seekor jerapah," Rafa mencoba mengingatkan dengan nada putus asa yang mendalam.
"Persis! Dan jerapah butuh ruang vertikal, bukan? Aku baru saja membaca sebuah artikel—atau mungkin aku pernah menulis adegan serupa dalam salah satu draf novel gagal yang kubuat dulu—bahwa hewan yang hanya melihat tanah akan merasa depresi. Jojo ingin melihat awan, Rafa! Dia ingin tahu seperti apa rasanya menjadi makhluk tertinggi di langit, bukan hanya di kebun binatang!",.
Pemilik dealer, seorang pria paruh baya bernama Pak Darmawan, mendekat dengan senyum yang dipaksakan. Ia sudah mendengar berita tentang "Sultan Ganjal Pintu" dan tahu bahwa pria di depannya ini adalah orang paling berbahaya bagi kesehatan jantung bagian keuangan mana pun.
"Selamat pagi, Tuan Muda Rizky. Suatu kehormatan besar. Kami sudah menyiapkan jet bisnis terbaru dengan interior emas—"
"Tidak, tidak!" potong Rizky sambil melambaikan tangan dengan santai. "Aku tidak butuh jet bisnis. Aku ingin pesawat kargo itu, yang di sana. Airbus A330-200F. Tapi, aku ingin kalian memodifikasinya.".
Pak Darmawan terbelalak. "Pesawat kargo? Tuan Muda, itu pesawat untuk mengangkut kontainer...".
"Aku tahu. Aku ingin bagian tengahnya dikosongkan. Ganti lantainya dengan rumput sintetis kelas satu yang lembut. Pasang sistem pemanas lantai, dan yang paling penting," Rizky menunjuk ke bagian atas pesawat. "Buatlah bagian langit-langitnya setinggi enam meter di area khusus, dan pasang jendela kaca antipeluru yang sangat besar di sana. Aku ingin jerapahku bisa berdiri tegak sambil melihat pemandangan awan saat terbang ke Bali besok.",.
Hening seketika. Rafa menjatuhkan tabletnya ke atas aspal, sementara Pak Darmawan lupa cara bernapas.
"Modifikasi itu... akan memakan biaya hampir dua kali lipat harga pesawatnya, Tuan Muda," bisik Pak Darmawan gemetar. "Totalnya bisa mencapai delapan ratus miliar rupiah...".
"Hanya delapan ratus miliar?" Rizky mengeluarkan Kartu Hitam Tanpa Batas-nya dan melemparkannya ke arah Pak Darmawan seolah itu adalah kartu nama murah. "Gesek sekarang. Aku ingin pesawat itu siap dalam waktu dua puluh empat jam. Kalau kurang, tambahkan sepuluh miliar untuk lembur para teknisimu. Jangan buat aku kecewa, atau aku akan membeli seluruh dealer ini dan menjadikannya kandang ayam!",.
[Ding! Transaksi Gila Terdeteksi!] [Inang telah menghamburkan 810 Miliar Rupiah untuk 'Kesenangan Udara' seekor Jerapah!] [Tingkat Kepuasan System: Maksimal!] [Hadiah: Poin Hedon +30.000 dan Skill Pasif 'Visi Takdir' (Anda dapat merasakan pergerakan plot penting dalam radius 10 km).]
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menggelitik tengkuk Rizky. Skill 'Visi Takdir' yang baru saja ia dapatkan memberikan sinyal peringatan. Di sebuah gedung perkantoran tidak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah titik energi plot yang sangat dikenal Rizky sedang membara.
"Rama Wijaya," gumam Rizky, senyumnya kini berubah menjadi seringai licik namun tetap periang.
Sebagai mantan penulis novel gagal, Rizky tahu betul struktur alur cerita ini. Rama Wijaya, sang hero yang munafik, saat ini seharusnya sedang berada di titik terendahnya setelah dipermalukan dalam pelelangan medali. Namun, dalam skrip asli, ini adalah momen di mana Rama akan bertemu dengan seorang investor idealis dan meluncurkan proyek "Eco-Tech" yang akan mengubah citranya menjadi penyelamat lingkungan.
"Rafa! Berhenti memunguti tabletmu!" seru Rizky. "Siapkan tim media. Aku baru saja mendapat insting bahwa pahlawan kita sedang mencoba 'bangkit dari abu'.".
"Tuan Muda, saya baru saja mencatat pengeluaran delapan ratus miliar... bisakah kita tenang sejenak?" keluh Rafa sambil menangis tanpa air mata.
"Tidak ada waktu untuk tenang, Rafa! Hidup ini adalah sebuah panggung, dan aku tidak ingin Rama mendapatkan lampu sorot secara gratis!",.
Di sisi lain kota, di sebuah aula konferensi yang disewa dengan dana pinjaman terakhir, Rama Wijaya berdiri di depan sekelompok kecil wartawan dan calon investor. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, matanya mencerminkan rasa lelah, namun ia tetap berusaha menampilkan aura "pahlawan yang terzalimi namun tetap tegar".
"Terima kasih sudah datang," ujar Rama dengan nada suara yang dalam dan penuh karisma palsu. "Beberapa waktu lalu, kita melihat bagaimana uang bisa digunakan untuk menghina sejarah. Namun, saya di sini hari ini bukan untuk membalas dendam. Saya di sini untuk membawa solusi. Saya mengumumkan berdirinya 'Wijaya Eco-Tech', sebuah startup yang akan membangun teknologi energi hijau untuk rakyat kecil. Kita tidak butuh medali emas atau pesawat mewah, kita butuh bumi yang sehat.".
Para wartawan mulai mencatat dengan antusias. Ini adalah narasi yang sempurna: Si Pahlawan Miskin melawan Si Sultan Jahat. Rama merasa keberuntungannya mulai kembali. Ia sudah merancang konferensi pers ini agar terlihat sangat "merakyat" dan jujur.
Namun, di tengah-tengah pidato inspiratif Rama, suara gemuruh mesin mobil mewah terdengar dari luar gedung. Pintu aula terbuka lebar, dan Rizky Adhitya melangkah masuk dengan gaya yang sangat santai, diikuti oleh Rafa yang membawa sebuah kotak pendingin besar.
"Wah, wah! Pidato yang sangat menyentuh hati, Rama!" teriak Rizky sambil bertepuk tangan sendirian. "Energi hijau? Luar biasa! Aku sangat setuju. Itulah kenapa aku datang ke sini untuk memberikan dukungan!",.
Rama membeku. Tangannya gemetar di atas podium. "Rizky... apa lagi yang kamu lakukan di sini? Ini adalah acara bisnis serius, bukan tempat untuk pamer harta!".
"Oh, aku sangat serius, Rama!" Rizky mendekat ke podium dan berdiri tepat di sampingnya, membuat Rama tampak seperti asisten magang. "Aku sangat peduli pada lingkungan. Itulah sebabnya, aku baru saja memutuskan untuk membangun 'Adhitya Techno-Nature Park' tepat di sebelah gedung kantormu ini. Aku sudah membeli seluruh lahan di blok ini pagi tadi.",.
Wartawan langsung mengerumuni Rizky. "Tuan Muda, apa tujuan taman tersebut?".
"Tujuannya sederhana," Rizky menatap Rama dengan binar mata periang. "Aku akan membangun laboratorium energi hijau yang seratus kali lebih besar dari startup Rama, dan aku akan memberikan semua patennya secara gratis kepada dunia. Selain itu, taman itu akan menjadi rumah musim panas bagi jerapahku, Jojo. Jadi, sembari para ilmuwan bekerja, orang-orang bisa melihat jerapah terbang dengan jet kargo pribadinya dari balkon taman.",.
Rama hampir terjatuh dari podiumnya. "Kamu... kamu sengaja ingin menghancurkan bisnisku sebelum dimulai!".
"Menghancurkan? Tidak, Rama. Aku hanya ingin memberikan 'opsi yang lebih baik' bagi rakyat kecil," Rizky menepuk bahu Rama dengan sangat ramah, namun tekanan tangannya terasa sangat kuat. "Bukankah kamu bilang bumi yang sehat lebih penting daripada uang? Nah, aku menggunakan uangku untuk menyembuhkan bumi secara instan. Kamu harusnya berterima kasih padaku, kawan!",.
Di sudut aula, Aprillia Rahma yang hadir secara diam-diam hanya bisa memijat keningnya. Ia melihat bagaimana Rama yang dulu ia anggap hebat kini tampak sangat kecil dan tak berdaya di hadapan kegilaan Rizky. Namun, ada satu hal yang ia sadari: meskipun Rizky bertingkah konyol dengan jet jerapah dan taman absurd-nya, langkah bisnisnya sebenarnya sangat jenius. Dengan memberikan paten secara gratis, Rizky baru saja mematikan seluruh model bisnis Rama secara total.
"Dia bukan sekadar menghamburkan uang," bisik April dengan perasaan yang semakin bingung dan bimbang. "Dia sedang menulis ulang dunia ini agar Rama tidak memiliki tempat untuk berdiri. Dan dia melakukannya sambil tertawa...".
April menatap Rizky yang kini sibuk membagikan es krim berlapis emas dari kotak pendingin yang dibawa Rafa kepada para wartawan. Rizky tampak begitu bahagia, begitu bebas, seolah-olah seluruh dunia ini hanyalah sebuah taman bermain besar baginya.
[Ding! Misi Sabotase Startup Berhasil Tahap Pertama!] [Rama Wijaya kehilangan 80% calon investornya dalam sepuluh menit!] [Hadiah: Poin Hedon +20.000 dan Item Khusus: 'Pena Takdir' (Dapat mengubah satu kalimat dalam skrip novel asli)!]
Rizky menyeringai saat melihat notifikasi hadiahnya. Sebuah pena bulu berwarna emas muncul secara gaib di saku jasnya. Sebagai mantan penulis gagal, ini adalah senjata yang paling ia inginkan.
"Rafa!" panggil Rizky riang.
"Iya, Tuan Muda? Apakah kita akan membeli pabrik es krim sekarang?" tanya Rafa dengan nada pasrah yang sudah mencapai level dewa.
"Hampir benar! Tapi sebelum itu, ayo kita temui Ayah," Rizky berjalan keluar aula dengan langkah gagah. "Aku dengar dia ingin bicara soal medali giok di pintu kantormu. Mari kita bawakan dia pesawat jet sebagai permintaan maaf agar dia tidak terlalu sering marah. Marah itu tidak baik untuk kesehatan, bukan?".
Rizky Adhitya melangkah menuju mobilnya, meninggalkan Rama Wijaya yang kini berdiri sendirian di panggung yang sepi, menyadari bahwa di hadapan "Antagonis Sultan" yang periang ini, aura kepahlawanannya hanyalah sebuah lelucon yang mahal,.