Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 22
Lady tersenyum songong saat melewati kerumunan para murid-murid cowok yang sedang berkumpul di koridor sekolah.
Lady mengibaskan rambut panjangnya kesana kemari ketika melihat para cowok-cowok itu sedang menatapnya dengan kagum.
Kalau kata Lady tuh gini 'yah mau gimana lagi? resiko jadi cewek cantik, hot, pintar, lucu, sama gemesin tuh emang kayak gini.'
"Lo kelihatan jadi cewek gatal kalau kayak gitu," ucap Zena yang berjalan di samping Lady.
Lady berdecak sebal. Ditatapnya Zena di sampingnya yang ternyata sedang memasang ekspresi sinis dan datar kepada para cowok-cowok itu. Tatapan Zena seolah mengisyaratkan kalau senggol dikit bacok.
"Anggun dikit, dong, Zen. Jangan datar-datar gitu mukanya," ujar Lady sembari menyenggol lengan Zena.
Zena mengangkat acuh bahunya. "Nggak, ah. Najis banget kalau gue ikutan slay kayak lo."
Lady tertawa geli mendengar ucapan sahabat tomboynya itu.
Pagi ini, mood Lady secerah isi dompetnya, tapi tak menjelang lama mood nya itu kembali buruk.
"Tapi, nggak masalah kali kalau lo ikutan slay kayak gu-"
BUGH!
Seketika Lady terdiam kaget saat sebuah minuman dingin membasahi seragamnya.
"Upss, sorry. Sengaja, lain kali gue ulangin." Rebecca Zaveria. Gadis cantik berbandana merah tersebut rupanya menjadi pelaku utama yang baru saja menabrak Lady dan menyiramnya dengan minuman dingin.
Masih ingat Rebecca, kan? Rebecca pacar dari Rexan. Si gadis cantik yang sangat suka mengganggu para murid-murid lain bersama dengan pacarnya.
"Oh my god! Kalau jalan itu pakai mata!" bentak Lady dengan emosi.
"Bego. Jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata," balas Becca, membuat Lady semakin gemas mau mengirimnya ke pangkuan tuhan.
Lady mendengus. "Sekarang seragam gue jadi basah karena minuman sialan lo itu. Lo punya duit nggak buat ganti rugi seragam gue?"
Rebecca berdecih. "Berapa, sih, harga seragam kusut lo itu?"
"Berapa, sih? Cewek dekil, lusuh, sama bego kayak lo ini emang bisa ganti rugi?" Lady menatap Rebecca dengan remeh yang langsung membuat gadis itu menjambak kuat rambutnya.
Lady melotot kaget. "Oh my god, don't touch me with you dirty hands, bitch!"
Lady menghempas kuat tangan Rebecca sampai gadis itu hampir terjungkal ke belakang. Dia tidak tau saja berapa uang yang harus Lady habiskan untuk biaya perawatan rambutnya yang cetar badai itu.
"Mantap, Dy. Nggak usah selesaikan secara damai, karena gue lebih suka keributan!" Sorak Zena memanas-manasi.
"Dy, mending pergi aja, yuk? Nggak baik tau debat kayak gini, bisa memecah bela umat manusia," Ujar beberapa murid di sana seraya mencoba menarik tangan Lady.
Lady berdecak sebal. "Entar dulu. Nih anak dugong perlu dikasih pelajaran gara-gara udah ngebuat rambut gue jadi kusut," Ucapnya membara, membuat Rebecca mendengus malas.
"Halah, lebay amat lo. Rambut doang."
"Oh my god, seriously? ini harga perawatannya mahal banget tau nggak?"
"Dih. Berapaan, sih, emang? Paling juga harganya yang paling murah di salon."
"Iya, sih, emang murah banget. Tapi, nggak semurah harga diri lo. Upsss."
PLAK!
Rebecca tersenyum puas setelah memberikan satu tamparan yang sangat keras di pipi Lady.
PLAK!
Lady mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kebas setelah menampar balik pipi Rebecca.
Tak lama kemudian, keduanya sudah terlihat saling menjambak satu sama lain tanpa menghiraukan para guru-guru dan anak OSIS yang sudah mengelilingi mereka untuk dipisahkan.
"Dasar lo bitch!" Sahut Becca.
"Banyak bacot lo perek!" Balas Lady.
"Heh, astagfirullah. Mulut kalian ini berdosa banget tau nggak?!" tegur Bu Pratiwi yang baru datang ke sana dengan membawa rotan di tangannya.
"AYO, DY! SEMANGAT! RETAKKAN GINJALNYA!" Bukannya membantu memisahkan, Zena justru yang paling semangat bersorak heboh.
"DASAR SIALAN LO!" teriak Lady yang menendang perut Rebecca.
BUGH!
BUGH!
Rebecca yang tak mau kalah lantas menonjok wajah cantik Lady dan dibalas dengan tonjokan keras juga oleh Lady.
"UDAH, CUKUP! Para anak-anak osis, tolong pisahin mereka berdua dan bawa ke ruang BK," Suruh Bu Pratiwi yang menengahi.
Mendengar perintah Bu Pratiwi, anak-anak OSIS yang lain pun langsung menenteng seragam kedua gadis cantik itu dan menyeretnya menuju ke ruang BK.
"HEH, SINI LO ANJING!" teriak Rebecca meronta-ronta.
"LO YANG ANJING! DASAR CEWEK JAHANAM!"
*
"Yang ini juga," Ucap Atan sambil membocorkan ban motor anak-anak Leiden yang terparkir di belakang sekolah.
Ace dan Leon terlihat sedang merokok di pojokan sambil sesekali memperhatikan Kellan yang sedang belajar di samping mereka.
Biarkan saja urusan membocorkan ban itu menjadi urusan Atan, Gaidan, dan para anggotanya yang lain.
"Lo ikutan bolos, tapi malah tetap belajar," Gumam Leon seraya menggelengkan kepalanya.
Kellan menghela nafasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku yang sedang ia pelajari. "Bosan di kelas mulu."
Leon menyodorkan sebungkus rokok kepada Ace ketika melirik rokok adik iparnya itu yang sudah hampir habis.
"Thanks," Balas Ace mengambil rokok tersebut.
"Tinta pulpen gue macet," ucap Kellan. Diperiksanya saku celananya yang ternyata tidak terdapat pulpen cadangan.
"Kenapa lo?" tanya Ace yang memperhatikan kegelisahan Kellan.
"Pulpen," jawab Kellan sambil melempar pulpen macetnya ke tempat sampah.
"Ada yang bawa pulpen?" tanya Ace sembari menatap para teman-temannya yang sedang tertawa.
Para anak-anak Thunder tersebut lantas menggelengkan kepalanya. Masa iya mereka bolos, tapi tetap membawa pulpen. Kalau kayak gitu mah ngelawan hukum perbolosan.
"Nggak ada yang bawa," ujar Leon memberitahu. Cowok itu lantas berdiri dari duduknya dan mengeluarkan selembar uang Lima puluh ribu dari dompetnya.
"Gue minta tolong buat beli pulpen. Kembaliannya ambil aja," ucap Leon menatap para anggotanya yang langsung tampak bersemangat.
"Gue aja, Yon. Gue aja," sahut Atan menerobos kerumunan. 45 ribu tidak boleh disia-siakan.
Leon menyerahkan uangnya kepada Atan dan kemudian duduk kembali di tempatnya semula. "Tunggu bentar. Atan udah jalan buat beli pulpen," ujarnya diangguki oleh Kellan.
"Ace, motornya Rexan nih!" sahut Gaidan yang membuat Ace berbalik kepadanya.
Ace beranjak menghampiri teman-temannya itu yang sedang memperhatikan sebuah motor sport berwarna hijau dengan stiker elang di body motornya. Benar, motor Rexan.
"Mau lo apain tuh?" tanya Gaidan dibalas senyuman miring oleh Ace.
"Ada yang bawa pilox nggak?" tanya Ace. Kali ini salah satu anggotanya mengangguk dan menyodorkan sebuah pilox berwarna hitam kepadanya.
Seketika seluruh anak-anak Thunder tertawa puas saat melihat Ace yang menggambar di body motor Rexan
Stiker yang seharusnya bergambar elang, kini malah tertutup dengan gambar monyet milik Ace.
"Bos, bos! Gawat!" teriak salah satu anggota Thunder dengan panik.
Leon menghembuskan asap rokoknya dengan santai sambil memperhatikan wajah anggotanya itu yang tampak panik. "Kenapa lo?"
"Si ketos sialan itu lagi jalan ke sini!"