Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Adinata merasa sakit
Adinata merasa pandangannya berkunang-kunang. Beberapa kali, Adinata merasa mual walaupun tidak keluar apapun dari bibirnya. Dan yang dapat Adinata lakukan saat ini adalah bolak-balik ke wastafel untuk menuntaskan rasa mual yang sangat menyiksa dirinya.
“Tuan, Dokter Januar sudah datang,” ucap Gerry menghampiri sang tuan ke toilet.
Adinata menganggukkan kepalanya. “Suruh dia masuk ke dalam kamar, Ger.”
Gerry menganggukkan kepalanya dan ia meninggalkan Adinata masih merasa mual di depan kaca besar yang menampilkan wajahnya.
“Suhu di tubuhku tidak panas. Aku rasa aku tidak demam. Penyakit apa yang ada di tubuhku? Aku harap aku tidak mati tanpa Nadine.” Adinata menggelengkan kepalanya. Ia membasuh bibir dan wajahnya sebelum melangkah keluar dari kamar mandi untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Selamat pagi, Tuan Adinata. Ada keluhan yang sedang Anda rasakan?”
Dokter Arjuna berdiri dari duduknya untuk menyambut Adinata yang masuk ke dalam kamar. Dokter Arjuna adalah dokter pribadi Adinata dan Nadine. Dokter Arjuna memiliki selisih usia dengan Adinta sekitar 8 tahun. Saat ini Dokter Arjuna sudah berusia 36 tahun, sedangkan Adinata berusia 28 tahun.
Adinata menganggukkan kepalanya dan ia mendudukan dirinya di tempat tidur miliknya dengan perasaan tidak nyaman. “Aku tidak merasa salah makan sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Setelah aku bangun tidur pagi ini aku merasa ingin memuntahkan sesuatu dari mulutku. Ketika aku memuntahkannya, tidak ada muntahan yang keluar selain cairan bening saja. Menurutmu aku sakit apa?”
“Biar saya periksa.” Dokter Arjuna memakai stetoskop untuk memeriksa detak jantung Adinata.
Adinata diam dan membiarkan Dokter Arjuna memeriksa dirinya.
Dokter Arjuna menjauhkan dirinya. “Detak jantung Anda terdengar normal, Tuan. Mungkin saja Anda salah makan sebelumnya tanpa Anda sadari.”
Adinata menghela napasnya. Ia tidak bertanya lebih. “Berikan aku resep untuk mengusir rasa muntah dan juga rasa pusing.”
“Saya akan menuliskan resep obat untuk menetralkan rasa muntah dan pusing, Tuan.”
Adinata menganggukkan kepalanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. “Berikan resep obatnya ke Gerry dan tolong panggilkan Gerry untuk datang kesini.”
Dokter Arjuna menganggukkan kepalanya sambil membereskan alat yang ia gunakan untuk memeriksa Adinata ke dalam tas hitam yang ia bawa. “Saya permisi, Tuan. Jaga kualitas istirahat Anda dan jangan lupakan untuk meminum air putih.”
Adinata hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Ia memainkan ponsel miliknya untuk mengalihkan pikirannya dari rasa ingin muntah. Tangannya bergerak mencari kontak Nadine. Ia mengetik pesan di atas layar ponsel miliknya.
“Aku merasa tidak pantas mengirim pesan ke Nadine. Aku tidak ingin mengganggu rasa bahagianya. Setidaknya dia bahagia ketika tinggal bersama dengan Tante Almi. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hari-harinya.” Adinata menghapus pesan yang sudah sempat ia ketika di kontak Nadine. Hanya tinggal ‘klik’ dan pesan Adinata akan terkirim. Tapi Adinata tidak ingin melakukannya. “Kehidupannya pasti bahagia. Dia tidak akan merasa kesepian. Dan biarkan dia lupa dengan urusan perceraian. Karena aku hanya tidak ingin Nadine curiga tentang sidang yang tidak segera mendapatkan panggilan.”
Adinata tidak mendaftarkan perceraian dirinya dan Nadine ke pengadilan negeri. Lagipula untuk apa ia mendaftar jika surat perceraiannya dengan Nadine hanyalah surat palsu yang ia buat hukumnya dengan asal.
“Permisi, Tuan.” Gerry masuk ke dalam kamar Adinata dengan membawa selembar kertas berisikan resep obat untuk Adinata dari Dokter Arjuna.
Adinata mematikan ponsel miliknya. “Dapatkan resep obat tersebut dan bawa kesini. Aku tidak akan pergi ke perusahaan hari ini. Kamu bisa mewakili diriku untuk rapat hari ini dan pertemuan dengan papaku di waktu istirahat siang nanti.”
“Baik, Tuan. Kalau Tuan Hanung bertanya tentang Anda, saya menjawab apa, Tuan?”
“Bilang saja kalau aku sedang malas datang ke perusahaan karena ada papa. Jangan kamu buka suara tentang kondisiku hari ini. Cukup kamu dan Dokter Arjuna yang mengetahui kondisiku.”
Gerry menganggukkan kepalanya dengan patuh. “Saya akan diam, Tuan.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Carilah obat tersebut, Ger. Aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang aneh ini.”
Gerry menatap Adinata. “Dokter Arjuna tidak menjelaskan penyebab rasa sakit Anda, Tuan?”
“Dia hanya bilang kalau aku mungkin saja salah makan sesuatu, tapi aku tidak merasa salah makan, Ger. Kamu mengetahuinya ‘kan? Kita kemarin makan di tempat yang sama. Menunya pun sama. Kalau aku keracunan, kamu juga akan sakit sepertiku. Tapi ‘kan tidak, Ger.” Adinata ingin marah, tapi ketika ia marah, perutnya akan semakin ingin memuntahkan sesuatu. Ia hanya bisa menahan rasa marahnya dengan menutup mata sambil menyandarkan punggungnya ke header.
“Anda tidak salah makan, Tuan. Atau Dokter Arjuna salah memberi diagnosis tentang rasa sakit Anda. Perlu saya bawa dokter lainnya, Tuan?”
Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak usah. Walau aku merasa tidak percaya dengan diagnosis yang Dokter Arjuna sampaikan, tapi aku lebih tidak percaya dengan dokter baru.”
Gerry menganggukkan kepalanya. “Saya akan keluar untuk membeli obat ini di Apotik, Tuan. Saya akan kembali secepatnya.” Gerry membalikkan tubuhnya.
“Ger,” panggil Adinata.
Gerry kembali menghadap Adinata. “Iya, Tuan. Anda ingin sesuatu?”
“Bagaimana kabar Nadine?”
Gerry tertegun. “Nyonya Nadine baik-baik saja, Tuan. Nyonya Nadine membantu Tuan Divaz di toko roti milik mereka. Nona Andin juga pulang untuk menemani Nyonya Nadine.”