NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Korve Pertama, Mode Bertahan Hidup

"Kamu merasa nggak, waktu kita makan tadi ada beberapa orang yang ngelihatin kita terus bisik-bisik?" tanya Aira saat ia memasang sabuk pengamannya.

Baskara mulai menjalankan mobilnya perlahan membelah malam yang masih terlihat ramai.

"Aku mencoba nggak menggubris itu."

Aira menatap Baskara yang kini lebih fokus mengendarai mobilnya.

"Jangan dilihatin terus nanti jatuh cinta."

Aira mendengus, lalu tertawa.

"Cih! Siapa yang jatuh cinta."

Baskara terdiam sejenak. Sebelum sesekali mencuri pandang ke arah Aira.

"Makasih ya, Ai. Aku jadi nggak merasa sendirian."

Aira menoleh. Ia menatap iba, tapi ia berusaha tersenyum.

"Aku nggak nyangka kamu mau ambil resiko ini."

"Masalah ini bukan cuma masalahmu, Bas, tapi bisa bergulir jadi masalahku, ayahmu, dan keluarga lainnya."

Baskara diam.

"Soalnya aku tadi sempat lihat berita terakhir di media sosial. Mereka udah mulai menemukan fakta kalau kamu adalah anak KSAD."

Baskara memejamkan mata sejenak. Napasnya terdengar berat.

"Sejak awal, aku tahu semua akan mengarah ke ayah. Sayangnya, aku masih belum berhasil menemukan orang yang merekam dan mengunggah vidio itu untuk yang pertama kali."

Aira mengembuskan napas kasar. "Aku juga belum berhasil membuat Jelita buka suara."

Baskara mengerutkan dahi. "Kau menemui anak itu?"

Aira mengangguk.

"Awalnya aku pikir akan mendapat kejelasan dari Kolonel Haryo, makanya aku menemui komandan, tapi ternyata, komandan juga belum menemukan kebenaran Jelita hamil atau tidak."

"Lalu, apa dia bicara sesuatu saat kalian bertemu?"

Aira mengembuskan napas panjang, lalu menggeleng.

"Aku nggak mau cepat-cepat mengambil kesimpulan karena aku takut kesimpulan yang aku dapat hanyalah harapanku semata, bukan fakta sebenarnya."

Baskara memarkirkan mobilnya di bawah carport sebelum ia turun dan cepat-cepat membukakan pintu untuk Aira. Mereka masuk ke dalam rumah. Mulai dengan urusan masing-masing sebelum akhirnya kembali bertemu di ruang keluarga usai Aira selesai mandi.

"Besok ternyata ada korve."

Baskara mengangguk. "Aku sampai lupa bilang kalau akhir minggu ini ada kunjungan KSAD sekaligus pembinaan prajurit. Maaf. Harusnya aku bilang sebelumnya. Biasanya sebelum kunjungan akan diadakan korve. Maaf, ya, Ai. Kelewat."

Aira mengangguk paham. Ia melemparkan tubuhnya ke sofabed tepat di samping Baskara yang sedang menonton siaran televisi.

"Aman, Bas. Aku bisa tukar jaga sama yang lain."

"Besok jadi korve pertamamu. Pertama kali kamu ikut kegiatan sebagai istri prajurit, tapi maaf kalau suasananya tidak seperti yang kamu harapkan. Korve pertama di tengah masalah yang sedang bergulir itu agak mirip seperti bertahan hidup.

"Akan banyak pasang mata yang memperhatikanmu. Ada yang mulai mencibir, mungkin kejadian seperti di tempat makan tadi juga akan terjadi sini. Kamu harus kuat ya?

Aira menegakkan tubuhnya, lalu memberi hormat pada Baskara seraya berujar siap.

Baskara tersenyum melihat tingkah Aira sebelum kembali fokus pada berita di televisi.

"Kamu lihat apa? Serius banget?"

"Berita."

"Iya. Soal apa?"

"Ada gerakan separatis bersenjata di Maros. Sebelumnya sempat dipukul mundur. Bahkan beberapa dari pentolan mereka sudah ditangkap dan ada yang ditembak ditempat, tapi masih saja ...."

Aira ikut memperhatikan siaran berita televisi itu. Ia mengerutkan dahi saat mendengar beberapa nama dari prajurit itu gugur di Pegunungan Maros. Aira terdiam. Ia membeku ditempat. Sesaat kemudian, napasnya tercekat.

"Mereka tugas disana?"

"Hmm...."

"Kamu nggak bakalan dikirim ke sana, kan?"

Baskara mengangguk. "Bisa iya, bisa enggak. Kalau diminta bertugas ke sana, kami juga harus siap."

Aira diam.

Ia menunduk seraya mempermainkan jari jemarinya. Berita tadi cukup membuat jantung Aira berdesir terutama melihat beberapa dari keluarga prajurit yang gugur. Melihat istri dan anak mereka yang menangis memeluk peti kayu sederhana dengan bendera menutupi bagian atas peti. Lama ditinggal tugas, saat pergi untuk selamanya bahkan tidak diperbolehkan melihat jasad suaminya untuk terakhir kali. Hal itu membuat Aira berkaca-kaca. Ia mulai membayangkan yang tidak-tidak.

"Ada apa, Ai?"

Aira mengambil napas berat. Ia tampak mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja di pipinya.

Baskara menatap istrinya dengan saksama. Ia juga bingung kenapa tiba-tiba Aira menangis.

"Tadi aku dapat pasien ibu hamil. Dia pendarahan, harus opname, dia keberatan karena masih ada dua orang anak yang ia tinggal dirumah, dia bilang dia istri tentara. Suaminya sedang tugas di perbatasan. Dia sendiri berjuang menjaga dua anak yang masih kecil dan satu anak yang masih dalam kandungan.

"Sekarang lihat istri dan anak-anak prajurit yang suami dan ayahnya gugur di medan tugas. Aku pikir, jadi istri tentara nggak akan seberat itu, tapi kenyataannya ...."

Baskara tersenyum. Ia mengusap lembut puncak kepala Aira seraya berkata, "Doakan saja. Semoga semua tugas yang nantinya datang buatku, bisa aku selesaikan dengan baik dan aku bisa pulang lagi dengan selamat. Ketemu kamu."

"Janji?"

"Apa?"

"Kamu akan selalu pulang ke rumah."

Baskara mengangguk lembut. Ia kembali memberanikan diri mengecup kening Aira sekali lagi. Kali ini jauh lebih lembut. Hangat. Dan sedikit lebih lama.

Aira memejamkan mata. Merasakan kembali kecupan hangat di keningnya. Kecupan yang membuat jantungnya kembali tidak normal. Bohong jika Aira tidak gugup. Dia sangat gugup! Perutnya saja sampai mulas seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.

"Marah nggak? Aku masih aman atau kena tampar sekarang?"

***

Sore hari tiba, Aira sudah mengenakan Pakaian Seragam Olahraga sesuai dengan arahan ibu ketua yang disampaikan dalam grup chat. Sementara itu, Baskara juga mengenakan kaos warna hijau army dan bercelana loreng. Mereka pun bersama-sama menuju ruang pertemuan Gedung Cakra.

Baskara memarkirkan sepeda motornya. Ia berpisah dengan Aira. Baskara bergabung dengan para prajurit yang membersihkan bagian luar gedung, sementara itu Aira bergabung dengan ibu-ibu lainnya mempersiapkan Gedung Cakra.

Aira berjalan pelan, ruangan yang semula riuh terdengar suara ibu-ibu sedang asyik bercengkrama dan bercerita. Namun, saat Aira menginjakkan kaki di ambang pintu gedung pertemuan itu, suara mendadak hilang. Hening.

Puluhan pasang mata mendongak menatap Aira, tapi tidak ada satupun yang menyapanya.

Benar kata Baskara, orang-orang akan memperhatikan dan mulai bergunjing. Persis sama seperti yang Aira hadapi saat ini.

Aira mendekati ibu-ibu yang sedang mencuci gelas. Aira pun ikut mengambil lap dan membersihkan gelas-gelas yang baru saja dicuci.

"Aduh, Bu, biar kami yang kerjakan," ucap ibu-ibu lainnya yang sedikit canggung saat melihat Aira sudah mengeringkan gelas dengan lap yang ia bawa.

"Nggak apa-apa, Bu. Saya, kan, juga ikut korve di sini, Bu," ucap Aira.

"Ya, tapi, kan, ibu menantu KSAD."

Aira tersenyum. "Yang KSAD, kan, mertua saya. Kalau suami saya masih letnan, Bu."

Aira mencoba berbaur dengan istri-istri prajurit yang lain meskipun tetap merasa canggung dan aneh. Pandangan tidak sedap dan bisik-bisik masih terus terjadi sepanjang korve itu.

"Istri Letnan Baskara cantik. Kasihan diselingkuhi."

"Iya benar. Kurang apa sebenarnya istri Letnan Baskara itu. Sudah cantik, nggak neko-neko, pekerjaannya kurang mapan apa lagi, pinter wong sudah jelas kalau dokter eh kok apes diselingkuhi."

"Kok masih mau ya sama Letnan Baskara, padahal terang-terangan sudah sampai seviral itu."

"Dengar-dengar, mereka menikah dulu itu banyak tahap yang dipangkas biar cepat. Dulu saya pikir calonnya Letnan Baskara sudah hamil duluan, eh, kok ternyata gosipnya dijodohkan."

"Oh, iya? Wah, makin kasihan sama istrinya, Bu. Sudah nikahnya dipaksa, eh setelah nikah suaminya selingkuh sama mantan sampai hamil. Kalau saya, sih, sudah saya ceraikan."

"Saya nggak menduga kalau kelakuan anak KSAD seperti itu. Padahal tampilannya seperti lelaki baik-baik ... tidak tahunya."

Aira diam.

Telinganya mendengarkan. Hatinya panas. Ingin rasanya membela Baskara detik itu juga. Ingin rasanya dia berteriak bahwa faktanya saja bahkan belum terungkap. Aira sudah mati-matian menahan tangis karena emosi yang sudah membuncah sampai ubun-ubun. Berulangkali ia menetralkan emosi dengan membuang napas kasar, tapi tetap saja gejolak di dalam hatinya tidak bisa hilang.

Tahan, Ra ... tahan, batin Aira.

Hari sudah gelap. Tanpa terasa waktu sudah berganti menjadi malam. Persiapan kunjungan KSAD pun sudah selesai. Tata letak kursi bersama meja telah diatur dengan rapi. Dekorasi panggung dan banner yang berisi ucapan selamat datang berikut foto KSAD dengan ibu sudah rapi terpasang.

"Terima kasih ibu-ibu sekalian, akhirnya pekerjaan kita selesai juga. Terima kasih karena sudah menyempatkan hadir dan meluangkan waktunya untuk korve hari ini," ucap Wina selaku ketua persit Batalyon XXX.

Ibu-ibu mulai berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing, termasuk Aira. Mereka berjalan keluar gedung pertemuan menghampiri suami masing-masing. Aira mulai celingak celinguk mencari keberadaan Baskara di sana, tapi sepertinya Baskara tidak terlihat. Aira memicingkan mata, ia menatap seseorang di dekat gapura tak jauh dari gedung pertemuan itu.

Baskara? batinnya saat melihat Baskara sedang berbincang serius dengan seseorang.

Baskara bersalaman dan berjalan mendekati sepeda motornya. Ia terkejut saat melihat Aira sudah berdiri di dekat sepeda motor itu.

"Udah selesai, Ai? Gimana korve pertama? Capek ya?"

Aira mengangguk.

"Kamu ngobrol sama siapa, Bas?"

"Oh, itu tadi temen. Kamu mau pulang atau cari makan dulu, Ai?"

Aira membonceng sepeda motor itu seraya mengembuskan napas kasar. "Pulang aja. Aku capek banget,"jawabnya singkat.

Baskara mengendarai sepeda motornya menuju rumah dinasnya. Ia melihat Aira tidak terlalu bersemangat usai korve. Hal itu menjadi perhatian Baskara, tapi ia tidak berani bertanya.

Aira segera mengambil pakaian dan mandi. Sementara itu, Baskara duduk di kursi makan seraya menatap layar ponselnya. Ingin memesan makanan untuk makan malam mereka. Aira membuka pintu kamar mandi. Rambutnya ditutup handuk agar dasternya tidak basah. Namun, satu yang jadi perhatian Baskara. Mata Aira tampak bengkak dan wajahnya sembab.

"Kamu ... nangis, Ai?"

Aira mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. Ia menghindari menatap wajah Baskara karena tangisnya belum sepenuhnya reda.

"Ai? Kamu nggak apa-apa?"

Aira diam ditempat. Seolah pertahannya luruh. Aira menunduk dan bahunya bergetar hebat. Baskara tahu, Aira tengah menangis. Baskara lekas berdiri dari tempatnya dan mendekati Aira.

"Ada apa, Ai?" Tanya Baskara lembut.

Aira menatap langit-langit rumah mereka berharap air matanya berhenti, tapi nyatanya tidak. Aira menatap Baskara.

"Maafin aku."

"Kenapa harus minta maaf, kamu nggak salah, Ai."

"Aku capek. Aku kebawa emosi waktu mereka ngomongin tentang kamu. Aku nggak bisa bayangin gimana kamu ngadepin mereka setiap hari dan bisa setenang ini."

Baskara mengajak Aira untuk duduk di meja makan. Ia kembali mengambil air mineral dan ia berikan pada Aira. Saat Aira meraih minuman itu, Baskara justru menggenggam kedua tangan Aira seraya menatap Aira lekat-lekat.

"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Karena masalah ini, kamu jadi ikut susah. Apapun yang kamu dengar dan kamu hadapi saat korve tadi, bagaimanapun juga karena kesalahanku. Terima kasih karena kamu sudah bertahan dan mau berdiri di sampingku."

Aira mengusap air matanya. "Maaf, aku terlalu emosi. Aku benar-benar nggak tahan dengar mereka jelek-jelekin kamu, Bas. Rasanya pengen bantah, marah, teriak, sama mereka yang sok ngerti masalah ini padahal enggak! Tapi, nanti kalau aku begitu, kamu lagi yang kena. Makanya aku diam, tapi aku nggak kuat...."

"Kenapa kalau nggak kuat kamu nggak lari ke aku aja? Kita bisa pulang duluan."

Aira menggeleng. "Aku mau coba kuat, tapi ternyata pura-pura kuat itu ... melelahkan," ucap Aira seraya menatap Baskara.

Sementara itu, Baskara menatap istrinya lekat-lekat. Ia tersenyum seraya mengusap lembut air mata Aira dengan ibu jarinya.

"Kalau butuh sandaran...." Baskara menghentikan ucapannya sejenak seraya menepuk bahunya. "Nih ... siap buat jadi tempatnya," ucap Baskara.

Aira tersenyum, lalu mencubit kecil perut rata Baskara.

"Ih, apaan, sih...."

"Eh, sakit, Ai! Aww ...."

Tak berselang lama, pintu rumah Baskara diketuk. Kemesraan singkat itu pun terhenti. Aira menatap jam dinding di hadapannya. Hari sudah malam dan sekarang hampir pukul sembilan malam. Jarang sekali ada tamu yang berkunjung malam-malam seperti ini.

"Ada tamu, Bas?"

"Iya."

"Malam-malam begini?"

Baskara mengangguk. Ia beranjak dan berjalan cepat menuju pintu. Aira mengerutkan dahi manakala Baskara menutup kembali pintu rumah dan tidak mempersilakan tamunya masuk ke rumah. Aira penasaran. Ia pun beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju ke kamarnya dan sedikit mendekat di jendela depan berusaha mencuri dengar.

"Jadi, gimana, Bro?" tanya Baskara.

"Ada informasi penting bahwa awalnya vidio itu beredar di grup mahasiswa kampus Pattimura. Kami sempat memeriksa cctv cafe, ada beberapa mahasiswa Universitas Pattimura yang ada di lokasi saat kejadian dan terkonfirmasi ikut merekam."

"Dia pengunggah pertama?"

"Benar, tapi hanya sebatas di lingkungan kampus awalnya."

Baskara diam. Ia mengerutkan dahinya. "Bagaimana akhirnya bisa viral?"

"Entah apa yang memicu, vidio yang akhirnya viral diunggah oleh second account yang bersangkutan. Emailnya terhubung dengan seseorang yang terkonfirmasi adalah teman anak Danyon."

Mata Baskara membulat. "Jadi, maksudmu vidio itu jadi viral karena teman Jelita yang tiba-tiba mengunggahnya keluar?"

Informan itu mengangguk tegas.

Dia sengaja menyebarkan atau apa? Batin Baskara.

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!