NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Jangan Bicara Dengannya

Sudah tiga hari berturut-turut Bastian pulang sebelum pukul delapan malam. Hal yang bahkan membuat sekretaris pribadi pria itu beberapa kali memeriksa ulang jadwal. Karena selama bertahun-tahun, Bastian Rothmere selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.

"Kalau begitu kita sepakati revisi anggaran tahap kedua."

Suara Bastian terdengar tegas di ruang rapat utama Rothmere Group. Puluhan orang mengangguk. Layar presentasi menampilkan berbagai data pembangunan megaproyek revitalisasi Terminal Lebak Bulus. Salah seorang direktur memberanikan diri mengangkat tangan.

"Ada satu hal lagi, Pak Bastian."

Bastian menoleh. "Silakan."

Direktur itu berdeham pelan. "Beberapa investor mengeluhkan jadwal pertemuan malam yang semakin sulit disesuaikan dengan jadwal Bapak."

Ruangan mendadak sedikit hening. Beberapa orang saling melirik. Karena mereka semua menyadari hal yang sama. Akhir-akhir ini Bastian memang lebih cepat meninggalkan kantor. Padahal biasanya justru sebaliknya.

"Akan saya sesuaikan," jawab Bastian singkat.

Sama sekali tak ada penjelasan lain dan tak ada pembelaan apapun. Namun bagi orang-orang yang mengenal Bastian, jawaban itu sudah cukup mengejutkan.

Rapat akhirnya ditutup. Satu per satu peserta mulai meninggalkan ruangan. Ketika Bastian berjalan keluar bersama sekretarisnya, Alya. Wanita itu membuka tablet kerja.

"Tuan, makan malam bisnis dengan investor dari Singapura malam ini masih bisa dikejar jika berangkat sekarang."

Biasanya Bastian akan langsung mengiyakan. Namun kali ini berbeda. 

"Pindahkan ke besok."

Langkah sekretaris itu sempat terhenti. "Besok, Tuan?"

"Iya."

"Baik." Wanita itu segera mencatat. Meski dalam hati Alya tak bisa menyembunyikan rasa herannya.

Beberapa menit kemudian. Mobil hitam panjang milik Bastian melaju meninggalkan kawasan bisnis Jakarta. Lampu-lampu gedung mulai menyala. Kemacetan sore perlahan memenuhi jalan. Bastian menyandarkan tubuhnya ke kursi belakang. Tanpa sadar tangan pria dengan setelan jas lengkap itu mengambil tablet.

Layar CCTV ruang Nathan langsung muncul. Di layar terlihat Nathan sedang berbaring di karpet bermain. Wajah mungil itu tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa minggu lalu. Di depan Nathan, Kemala duduk bersila sambil membacakan buku cerita anak.

Suara wanita desa itu tak terdengar dari CCTV. Hanya gambar, tetapi gerakan bibir Kemala terlihat begitu sabar dan tenang. Sesekali Nathan mengoceh dengan bahasa bayinya sendiri. Kemala menanggapinya dengan serius seolah mereka sedang melakukan percakapan penting.

Nathan terlihat tertawa dan Kemala ikut tertawa. Sudut bibir Bastian tanpa sadar terangkat tipis. Namun cukup membuat sopir yang melihat dari kaca tengah hampir mengira dirinya salah lihat. Selama bertahun-tahun bekerja, jarang sekali sopir melihat ekspresi seperti itu di wajah atasannya.

Ketika mobil memasuki gerbang Kediaman Rothmere, beberapa pelayan yang berjaga langsung membungkuk hormat.

"Selamat sore, Tuan."

Bastian mengangguk singkat. Namun alih-alih menuju ruang kerja atau kamarnya sendiri seperti biasa, langkah pria itu justru berbelok menuju ruangan Nathan. Dua pelayan yang melihat itu saling bertukar pandang. Karena akhir-akhir ini hal tersebut semakin sering terjadi.

Bastian berhenti di depan pintu sejenak, kemudian masuk. Nathan sedang terjaga. Beberapa mainan berserakan di karpet. Kemala terlihat sedang merapikannya satu per satu.

Begitu melihat Bastian. Nathan langsung mengeluarkan suara riang.

"Aaaa!"

Kemala menoleh. Wajahnya tampak sedikit terkejut.

"Pak Bastian sudah pulang?"

Bastian mengangguk. Nathan menggerakkan kedua tangannya ke udara. Tubuh mungil bayi itu tampak bersemangat. 

Kemala tersenyum. "Sepertinya Nathan mulai mengenali Bapak."

Bastian menatap putranya beberapa saat. Lalu perlahan mengangkat Nathan dari karpet. Gerakan pria yang serius itu masih sangat kaku. Terlihat sangat canggung. Bastian memang belum benar-benar terbiasa menjadi seorang ayah.

Nathan justru tampak senang. Tangan kecilnya bergerak cepat.

Clek.

Dasi Bastian tertarik kuat. Bastian langsung mengernyit. Kemala spontan tertawa. Tawa kecil yang terdengar begitu alami.

"Nathan … ini Papa."

Nathan malah semakin semangat menarik dasi itu. Kemala refleks maju, mengikis jarak dengan tubuh tegap Bastian yang beraroma maskulin. Jari lentik wanita itu membetulkan posisi dasi Bastian yang mulai berantakan. Baru setelah beberapa detik kemudian, wanita ayu itu menyadari apa yang sedang dilakukannya. Tubuh Kemala langsung membeku dan tangannya segera ditarik kembali.

Namun saat menarik tangannya, Kemala justru tidak sengaja bersentuhan tangan dengan Bastian yang hendak membenarkan sendiri dasinya. Jantung Kemala spontan berdetak lebih cepat.

"Maaf, Pak."

Wajah Kemala sedikit memerah. Bastian juga terdiam. Suasana mendadak terasa aneh. Beberapa detik terlalu panjang berlalu, sampai akhirnya Nathan kembali mengoceh dan memecahkan kecanggungan itu.

“Tidak apa-apa.” Bastian menggeleng. "Kenapa belum tidur?"

“Ah, sebentar lagi mungkin Nathan akan tertidur, Pak,” jawab Kemala sambil melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.

“Kalau kamu?” Bastian mengangkat kedua alisnya sekilas.

“Apa?” Kemala takut salah dengar.

“Kalau kamu kenapa belum tidur?” tanya Bastian dengan wajah datar.

“Saya?” Kemala seperti tidak percaya dengan pertanyaan Bastian. “Saya tidak biasa tidur cepat. Akhir-akhir ini, saya bahkan sulit tidur.”

Bastian mengernyitkan dahi, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.

“Lagipula Nathan belum tidur. Saya tidak mungkin tidur sebelum Nathan,” lanjut Kemala.

Bastian mengangguk.

“Kemarin apa yang kamu bicarakan dengan Reynard?” tanya Bastian, kembali membuka obrolan.

“Hanya hal-hal biasa. Ada apa, Pak?”

“Jangan terlalu sering bicara dengannya,” jawab Bastian tegas.

Kemala terdiam sambil mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mencerna ucapan Bastian.

“Maaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Mengobrol dengan orang lain akan mengalihkan perhatian saya dari Nathan. Maaf.”

Kemala menunduk singkat.

Sebenarnya, bukan itu maksud Bastian. Pria itu tidak sedang menyalahkan Kemala. Namun Bastian juga tidak ingin repot-repot membenarkan persepsi Kemala. Karena yang penting baginya, Kemala berhenti bicara dengan Reynard.

***

Di bagian lain kediaman. Mira kembali memasuki kamar Raline.

"Nyonya, saya sudah memastikan semuanya."

Raline menerima berkas baru. Mata wanita yang biasanya tak suka dengan dokumen itu membaca cepat. Lalu semakin lambat dan semakin lama. Senyum wanita perlahan muncul.

"Jadi … wanita desa itu ternyata hampir menjadi menantu Keluarga Adiprana?"

"Ya, Nyonya."

Wanita desa itu memiliki masa lalu. Dan setiap masa lalu selalu menyimpan kelemahan. Raline mengambil ponselnya. Menuliskan pesan singkat kepada seseorang. 

“Wah!” Raline tertawa penuh kemenangan. “Sial, ternyata si gembel itu bukan wanita baik-baik!”

Raline menyalin nomor Reza dari data yang didapatkan oleh Mira. Tanpa berpikir dua kali, Raline menekan tombol panggilan dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo? Benar ini nomor Reza Adiprana?” sapa Raline sambil melihat nail art yang baru dia buat kemarin.

“Ya, benar. Ini siapa?” balas Reza di ujung telepon. “Kalau cuma mau mau mengaku sebagai teman lama dan meminjam uang, akan saya matikan.”

“Sialan!” Raline spontan memaki. “Baru ASN sudah seangkuh ini. Hei, brengsek! Aku memegang rahasia yang mungkin tidak diketahui oleh calon istrimu. Anak haram itu, kamu ayahnya, kan?”

“Siapa kamu? Apa maumu?” tanya Reza terdengar panik.

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!