Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Misi Manipulasi
Panel hologram meledak di hadapan Arjuna tanpa suara.
[Misi Baru: Yakinkan Jendral Harjasa]
[Deskripsi: Gunakan kalkulasi dan manipulasi untuk meyakinkan Harjasa bahwa pembunuhan klan Wyvern menguntungkan klan Hydra]
[Batas Waktu: Satu jam]
[Hadiah: Artefak Kuda Sembrani]
[Hukuman: Inang dibunuh oleh Jendral Harjasa]
Arjuna menutup panel itu dalam sepersekian detik. Matanya kembali ke Harjasa dengan aura Void Anchoring Realm: Morning Star miliknya masih menekan seluruh ruangan seperti batu raksasa yang menghimpit dari segala arah.
Dyah Ayu berlutut di samping Arjuna, dan nafasnya masih terputus-putus menahan tekanan yang jauh melampaui kemampuan tubuh manusia biasa untuk ditanggung.
Arjuna tidak berlutut.
Dia berdiri tegak, Spirit Awakening Realm: Silver Star miliknya memancar tipis menahan tekanan itu dengan energi yang jauh lebih kecil dari lawannya.
"Jendral …," ucap Arjuna, suaranya tenang seperti tidak ada tekanan apapun yang menekan tubuhnya. "Sebelum Jendral mengambil keputusan yang akan Jendral sesali, izinkan aku berbicara."
"Kau tidak punya hak berbicara," geram Harjasa, aura Void Anchoring Realm miliknya semakin menguat. "Kau sudah membawa masalah besar ke depan pintu klan Hydra."
"Bukan masalah," balas Arjuna, satu langkah maju yang tidak meminta izin. "Akan tetapi kesempatan."
Harjasa menghentikan penguatan aura yang dibalut niat membunuh yang sangat maksimal. Matanya emas murni menyipit dengan ketidakpercayaan yang nyata.
"Bicara!” perintahnya singkat.
Arjuna mengangguk satu kali, dan kalkulasinya sudah selesai jauh sebelum dia melangkah masuk ke ruangan ini.
"Klan Hydra saat ini berada di posisi ketujuh dalam hierarki tiga belas klan di hadapan Kaisar Draconis," ucap Arjuna, suaranya presisi seperti bilah pedang yang baru diasah. "Tiga klan di atas kalian, Wyrm, Behemoth, dan Nagaraja. Semuanya memiliki jumlah ksatria dua kali lipat lebih banyak, dan ranahnya lebih tinggi dari klan Hydra. Klan Wyvern sendiri berada di posisi keempat."
Harjasa tidak menjawab, tapi rahangnya bergerak sedikit.
"Gencatan senjata antara klan Hydra dan klan Wyvern sudah berlangsung selama dua belas tahun," lanjut Arjuna, matanya tidak berkedip menatap Harjasa. "Tapi gencatan senjata itu bukan karena kedua klan saling menghormati.”
“Itu karena klan Wyvern menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan klan Hydra tanpa menanggung konsekuensi di hadapan Kaisar."
"Kau tahu dari mana?" bentak Harjasa, suaranya meninggi untuk pertama kalinya.
"Dari tiga mayat yang tergeletak di lantai ruangan ini," jawab Arjuna, matanya sekilas ke arah tiga Dragonoid Wyvern yang sudah tidak bernyawa. "Mereka menyerang manusia yang membawa lencana klan Hydra di dalam wilayah Prefektur Draconis.”
“Itu bukan tindakan spontan. Itu provokasi terencana untuk memancing klan Hydra agar bergerak duluan, dan menanggung kesalahan di hadapan Kaisar."
Keheningan jatuh di ruangan itu sangat lama.
Harjasa berdiri dengan tubuh yang tidak bergerak, tapi matanya bergerak cepat memproses setiap kata yang baru saja Arjuna ucapkan.
Pintu ruangan utama terbuka.
Tiga sosok Dragonoid tua dengan sisik hijau gelap yang lebih pucat dari Harjasa melangkah masuk, dan jubah panjang dengan ornamen klan Hydra melapisi tubuh mereka.
Tetua klan.
"Kami mendengar semuanya," ucap Tetua pertama, suaranya kering seperti kayu yang sudah lama tidak terkena hujan. "Jendral Harjasa, apa arti semua ini? Mengapa ada manusia di dalam kediaman klan?"
"Mengapa juga ada mayat klan Wyvern di lantai ruang utama kita?" timpal Tetua kedua, matanya memindai seluruh ruangan dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dari kemarahan biasa.
"Ini adalah bencana!” desah Tetua ketiga, tubuhnya yang bungkuk bergetar. "Jika klan Wyvern mengetahui ini, gencatan senjata akan hancur. Kita tidak dalam posisi untuk berperang sekarang."
Harjasa berbalik ke arah para tetua. Wajahnya campuran antara kemarahan, dan tekanan yang semakin besar.
"Aku sedang menanganinya," ucap Harjasa, suaranya menahan sesuatu yang lebih kompleks dari amarah biasa.
"Dengan membiarkan manusia ini berbicara?" bentak Tetua pertama, matanya menatap Arjuna dengan penghinaan yang tidak disembunyikan. "Usir dia sekarang, Jendral! Serahkan dia ke klan Wyvern sebagai tanda perdamaian sebelum situasi ini memburuk!”
Arjuna tidak bergerak, tidak mengubah ekspresi, dan tidak memperlihatkan satupun tanda kekhawatiran.
Matanya merah membara menatap para tetua satu per satu dengan kalkulasi yang sudah selesai bahkan sebelum mereka membuka mulut.
"Tetua yang terhormat …," ucap Arjuna, suaranya memotong keheningan dengan presisi yang tidak meminta izin. "Menyerahkan aku ke klan Wyvern bukan tanda perdamaian."
Tetua pertama menoleh, lalu matanya menyipit tajam.
"Itu tanda kelemahan," lanjut Arjuna, satu langkah maju yang membuat seluruh ruangan terasa lebih kecil. "Klan juga yang memperlihatkan kelemahan di hadapan musuhnya. Maka dari itu mereka juga tidak akan berhenti menyerang hanya karena sudah menyerahkan satu orang."
"Kau berani berbicara kepada tetua klan?" geram Tetua kedua, aura ranah Celestial Synchronization Realm miliknya memancar dengan ancaman yang nyata.
"Aku berbicara kepada orang-orang yang ingin klannya bertahan," jawab Arjuna, suaranya tidak naik tidak turun. "Jika Tetua tidak termasuk dalam kategori itu, aku mohon maaf atas gangguan ini."
Tetua ketiga yang paling tua berhenti bergetar, karena amarah. Matanya memandang Arjuna dengan ekspresi yang berubah sangat pelan dari penghinaan menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
"Bicara!" seru Tetua ketiga itu akhirnya, suaranya pelan tapi mengandung bobot yang membuat dua tetua lainnya berhenti berbicara seketika. "Aku ingin mendengar apa yang manusia ini kalkulasikan."
Harjasa menatap Arjuna. Matanya emas murni mengandung satu pertanyaan yang tidak diucapkan.
Arjuna memandang seluruh ruangan, Harjasa, tiga tetua, dan Dyah Ayu yang masih berlutut di sampingnya dengan nafas yang mulai membaik.
Satu jam.
Kalkulasi dimulai.
Arjuna melangkah satu langkah maju, matanya memindai seluruh ruangan dengan tenang.
"Tiga mayat klan Wyvern ini bukan masalah," ucap Arjuna, suaranya presisi seperti bilah pedang. "Ini adalah bukti."
Tetua pertama mengerutkan dahi. "Bukti apa?"
"Bukti bahwa klan Wyvern sudah melanggar aturan perlindungan antar klan yang diakui Kaisar Draconis," jawab Arjuna, matanya tidak berkedip. "Mereka menyerang manusia yang berada di bawah perlindungan resmi klan Hydra. Bukan di zona abu-abu. Bukan di wilayah netral. Di dalam Prefektur Draconis sendiri."
Tetua ketiga mengangguk pelan, dan matanya berkilau dengan pemahaman yang mulai terbentuk.
"Klan Hydra tidak perlu melakukan apapun secara langsung," lanjut Arjuna, suaranya semakin rendah tapi semakin berat. "Laporkan pelanggaran ini ke Kaisar sebelum klan Wyvern sempat membangun narasinya sendiri. Siapa yang melapor duluan, dialah yang memegang kendali cerita."
Harjasa menatap Arjuna dengan mata yang tidak lagi menyipit karena kemarahan, melainkan karena kalkulasi yang mulai bergerak ke arah yang sama.
"Dan aku?" tanya Harjasa, suaranya rendah.
"Jendral yang berhasil mengungkap provokasi klan Wyvern sekaligus membawa bukti pembunuhan buruan internasional Alliance, yakni organisasi Phantom kepada Kaisar," jawab Arjuna, senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Dua medali pencapaian dalam satu malam."
Keheningan jatuh di ruangan itu.
Harjasa menatap Arjuna dalam keheningan yang panjang.
Para tetua tidak berbicara lagi. Ekspresi mereka berubah dari penolakan menjadi pertimbangan yang dalam setelah mendengar seluruh kalkulasi yang Arjuna bentangkan di hadapan mereka.
Tetua ketiga yang paling tua mengangguk pelan. Matanya menatap Harjasa dengan bobot yang tidak perlu diucapkan.
Harjasa menghela nafas panjang, aura Void Anchoring Realm: Morning Star miliknya mereda perlahan seperti badai yang memutuskan untuk tidak jadi melanda.
"Kau manusia yang sangat menjengkelkan," ucap Harjasa, suaranya berat tapi mengandung sesuatu yang berbeda dari kemarahan, lebih tepatnya pengakuan, "Tapi kalkulasimu tidak salah."
Arjuna tidak tersenyum, dan tidak menunjukkan ekspresi kemenangan apapun.
"Maka kita punya kesepakatan?" tanya Arjuna singkat.
Harjasa menatapnya satu kali lagi dari atas ke bawah, lalu mengangguk dengan gerakan yang terlihat seperti pengorbanan yang menyakitkan.
"Kita punya kesepakatan," jawab Harjasa.
Panel hologram meledak di hadapan Arjuna.
[Misi: Yakinkan Jendral Harjasa — Berhasil]
[Hadiah: Artefak Kuda Sembrani]
[Artefak telah ditransfer ke inventaris sistem]
Arjuna menutup panel itu sebelum ada yang melihatnya.
Dyah Ayu berdiri di samping Arjuna. Nafasnya sudah kembali normal. Matanya memandang Arjuna dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya.
Di kejauhan luar wilayah perbatasan, portal energi berwarna biru menyala membuka dengan ukuran yang cukup untuk dilewati pasukan penuh. Lalu tiga sosok melangkah keluar satu per satu.
Wiryo di depan dengan aura Spirit Awakening Realm: Celestial Star memancar brutal dari seluruh tubuhnya.
Abhinata di sisi kiri dengan satu pasang sayap Chaerubim mengembang penuh dengan cahaya yang membakar udara di sekitarnya.
Suryadewa di sisi kanan dengan aura keemasan memancar dengan intensitas yang membuat tanah di sekitar mereka retak perlahan.
Wajah ketiganya merah padam.
"Manusia sampah itu ada di sini!" geram Wiryo, aura Spirit Awakening Realm: Celestial Star memancar tak terkendali hingga tanah di sekitar kakinya retak. "Aku bisa merasakannya. Dia pikir Prefektur Draconis bisa melindunginya dari kita?"
"Anjing manusia itu sudah membunuh terlalu banyak orang milik kita," timpal Suryadewa, mata emas murninya membara dengan kebencian yang tidak disembunyikan. "Malam ini aku akan mencabut nyawanya dengan tanganku sendiri."
"Biarkan dia menikmati malamnya," balas Abhinata, satu pasang sayap Chaerubim mengembang sedikit dengan cahaya yang membakar udara di sekitarnya, suaranya paling dingin di antara ketiganya, tapi justru paling mengerikan. "Karena besok tidak akan ada lagi manusia bernama Arjuna Sasrabahu di Benua Sangakama ini."