Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Jepit Rambut Mawar, Rencana kevin, Dan Jejak Penghianatan Masa Lalu
Sekitar pukul sepuluh malam, mobil mewah Adrian berhenti tepat di depan lobi gedung apartemen tempat Nala tinggal.
Adrian turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil bagi Nala, lalu mengantarkannya berjalan hingga sampai ke depan pintu unit apartemen Nala di lantai 12.
Nala berbalik menghadap Adrian setelah membuka kunci pintu.
"Terima kasih untuk makan malam romantisnya hari ini, sayang. aku sangat bahagia." ucap Nala lembut, menggunakan panggilan sayang yang selalu berhasil menjinakkan sipat keras Adrian.
Adrian tersenyum tipis, melangkah satu kali lebih dekat hingga tubuhnya mengikis jarak dengan Nala.
Ia mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Nala yang menghalangi wajah cantiknya dengan gerakan yang teramat lembut.
"Masuklah dan langsung istirahat. jangan begadang untuk memikirkan urusan bunga lagi, mengerti?" bisik Adrian penuh perhatian.
Sebelum akhirnya mengecup kening Nala dengan durasi yang cukup lama dan penuh perasaan mendalam.
Nala memejamkan matanya, menikmati kehangatan bibir Adrian di keningnya.
Setelah Adrian menjauhkan wajahnya sambil tersenyum hangat, Nala mengangguk pelan.
"Iya, sayang juga langsung pulang dan hati-hati di jalan ya."
Adrian menunggu sampai Nala masuk ke dalam apartemen dan menutup pintunya dengan aman. sebelum akhirnya ia berbalik untuk pulang dengan senyum puas terukir di wajah tampannya.
Di di dalam kamar, Nala menyandarkan punggungnya dibalik pintu yang tertutup.
'Jantungnya masih berdegup kencang perlakuan manis Adrian malam ini.' sambil menatap cincin pertunangan di jari manisnya, Nala mulai berpikir dan menyadari betapa beruntungnya ia memiliki Adrian.
Pria itu mungkin arogan dan posesif di depan orang lain. namun di hadapannya, Adrian adalah sosok pelindung terbaik yang dikirimkan tuhan setelah kecelakaan tragis yang merenggut kedua orang tuanya dulu.
Nala berjanji dalam hati akan memberikan perhatian terbaiknya bagi Adrian mulai besok.
Pagi hari di dalam mobil sedan mewah milik asisten Han. pria kaku itu baru saja memarkirkan kendaraannya di basement kantor Pt Dirgantara megah utama.
Saat ia hendak mematikan mesin mobil, dan merapikan jasnya, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda kecil berwarna merah menyala yang tergeletak di sela-sela kursi penumpang sebelah kiri.
Han mengulurkan tangan kekarnya, mengambil benda tersebut. ternyata, itu adalah sebuah jepit rambut plastik berbentuk bunga mawar kecil yang sedikit lecet.
Seketika itu juga, ingatan Han langsung melayang pada kejadian di pasar bunga rawa belong kemarin siang.
'Kejadian di mana tubuh Barbar sisil tergelincir, dan ia harus menangkap pinggang ramping gadis itu dengan erat'. Han ingat betul bagaimana aroma segar bunga mawar bercampur minyak wangi murah khas sisil menyeruak ke Indra penciumannya, dan bagaimana mata bulat gadis itu menatapnya tanpa sandiwara.
Deg..Deg..
Han memegangi dadanya. Jantungnya mendadak berdebar kencang, persis seperti detik-detik menegangkan di pasar siang itu.
Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis- senyuman yang sangat langka dan belum pernah dilihat oleh siapapun di kantor ini!.
Terukir di wajah kaku asisten Han. Pria yang biasanya sedatar tripleks itu kini senyum- senyum sendiri di dalam mobil sambil menimang sebuah jepit rambut murah.
"Mengapa aku jadi memikirkan gadis barbar itu?" guman Han pada dirinya sendiri.
Buru-buru memasukkan jepit rambut itu ke dalam saku jasnya sebelum kewarasannya hilang sepenuhnya. namun ia tahu, setiap kali ia akan bertemu Sisil setelah ini, jantungnya tidak akan pernah bisa tenang lagi.
Di lantai dasar, Kevin dan Angel baru saja menyelesaikan sarapan pagi bersama Angel bersiap kembali ke hotelnya untuk mengemas barang.
Hubungan mereka sudah sangat akrab, dan sipat humoris Kevin setelah sepenuhnya meluluhkan hati sang model internasional.
Namun, pagi ini raut wajah Kevin tampak sedikit berbeda. ia menatap Angel dengan pandangan yang sangat serius, menyingkirkan sejenak sifat jenakanya.
"Ngel," Panggil Kevin lembut, menggenggam tangan Angel di atas meja kafe.
"Satu bulan lagi Adrian dan Nala akan resmi menikah. setelah semua prosesi pernikahan mereka selesai...apakah kamu bersedia memberikan aku tanggal resmi untuk acara pertunangan kita?"
Angel sempat tertegun, matanya membelalak kecil mendengar keseriusan pria di hadapannya.
Kevin yang biasanya suka bercanda, kini menatapnya dengan binar penuh komitmen untuk melamarnya.
"Aku serius, Angel. aku tidak mau kehilangan spek malaikat New York ini!..." Aku ingin melamarmu secara resmi di depan orang tuamu begitu tugas kita mengantarkan Nala ke pelaminan selesai." lanjut Kevin mantap.
Angel tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. wajah cantiknya merona merah. ia menggangguk pelan sambil membalas genggaman erat Kevin. "Baiklah" cowok humoris.
Antarkan dulu sahabat kita ke pelaminan, setelah itu aku akan memberikan tanggal pertunangan kita.
"Kevin langsung tersenyum lebar, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia".
Sementara itu, di lantai paling atas, Nala sedang merapikan beberapa berkas selama di ruang arsip pribadi Adrian.
Sebagai calon istri mengingat ia akan menjadi bagian dari keluarga besar Dirgantara setelah menikah. Nala merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memahami sejarah perusahaan.
Saat sedang memindahkan beberapa kotak dokumen lama dari masa kejayaan mendiang Ayah Adrian dulu. 'jemari Nala tidak sengaja menyentuh sebuah map tebal berwarna merah yang terkunci di laci paling bawah.' berbekal kunci duplikat yang pernah diberikan Adrian, Nala membukanya.
Mata Nala menyipit tajam saat membaca laporan keuangan internal belasan tahun lalu.
Di sana tertulis bahwa sebelum perusahaan bangkrut dan mendiang Ayah Adrian jatuh sakit hingga meninggal.
Ada aliran dana raksasa- hampir 70 persen aset perusahaan -yang dialihkan secara ilegal ke sebuah rekening asing di Eropa dan Turki.
'Dan yang membuat jantung Nala mencuat adalah nama penanggung jawab transfer tersebut : heryanto.' Orang kepercayaan mendiang ayah Adrian yang memegang kekuasaan penuh atas nama finansial keluarga, namun setelah kejadian itu ia dikabarkan kabur keluar negeri.
Nala membekap mulutnya!.
"Jadi....perusahaan Papa Adrian bangkrut bukan salah urus, tapi karena dirampok oleh orang kepercayaannya sendiri?" bisik Nala dengan tubuh gemetar.
Insting sekretarisnya yang cerdas langsung bekerja ia menyadari ada kejanggalan besar.
Mengapa kasus ini tenggelam begitu saja?..."
Mengapa tidak ada pelacakan lebih lanjut?..."
Nala langsung mengambil ponselnya, menyadari bahwa ia tidak bisa menyelesaikan misteri ini sendirian tanpa memicu kemarahan Adrian yang masih trauma akan masa lalu tersebut.
Nala segera bergerak cepat. ia tidak langsung memberitahu Adrian karena takut calon suaminya itu akan bertindak gegabah atau emosional menjelang hari pernikahan mereka yang tinggal satu bulan lagi.
Nala memilih mengumpulkan lingkaran terdekatnya. Melalui sebuah panggilan konferensi (Conference cal) rahasia yang terenkripsi, Nala menghubungkan ponselnya dengan asisten Han, Kevin, dan Angel yang saat itu sedang bersama Kevin.
"kak Han, ka kev, Angel...Tolong dengarkan aku baik-baik!...aku sedang memegang berkas korupsi mendiang Papa Adrian. "ucap Nala dengan nada suara yang berbisik namun penuh penekanan.
Di seberang telepon, asisten Han yang sedang berada di ruangannya langsung menegakkan tubuh.
"Ibu Nala?. ..berkas apa yang anda maksud?... tuan Adrian selalu menutup rapat kasus itu."
"Nama orang kepercayaannya adalah Heryanto. dia mengalihkan seluruh dana dan aset berharga dengan memalsukan tanda tangan Papa Adrian saat beliau sedang sakit-sakitan. di berkas ini tertulis, jejak terakhirnya pelariannya adalah ke Turki, lalu berpindah ke negara Eropa." jelas Nala panjang lebar.
"Heryanto?" kevin menyela ditelepon, suaranya terdengar sangat serius, "gue ingat nama itu! dialah penyebab utama tuan Adrian harus merintis semuanya dari nol setelah lulus dari Harvard.
Tapi sialnya, jaringan orang itu sangat kuat di luar negeri, makanya kepolisian kita dulu kesulitan melacaknya!.
Angel yang mendengar di samping kevin tiba-tiba bersuara.
"Tunggu dulu! Nala...kalau pelariannya ke Turki dan Eropa, aku mungkin bisa membantu."
"Maksudmu Bagaimana, Ngel?" tanya Nala penuh harap.
"Kalian lupa ya? orang tuaku kan tinggal di Amerika dan memiliki jaringan bisnis properti serta ekspor- impor yang sangat luas di seluruh Eropa dan timur tengah, termasuk Turki."
Jelas Angel dengan nada tegas seorang wanita cerdas. "saat perusahaan Dirgantara utama bangkrut dulu, si penghianat Haryanto itu mengalihkan dananya dengan Mendirikan perusahaan cangkang di sana".
Aku akan menelepon papaku di "New York malam ini juga untuk meminta bantuan, tim audit mereka melacak nama Heryanto atau perusahaan barunya di turki!"
"Terima kasih banyak, Angel!" ucap Nala lega.
"Saya juga akan bergerak secara diam-diam dari dalam sistem kantor, ibu Nala. "timpal asisten Han dengan sigap. "kita harus mengumpulkan bukti yang konkret sebelum hari pernikahan tiba.
Agar setelah tuan Adrian resmi menikah dengan anda, "kita bisa memberikan hadiah berupa penangkapan penghianat itu sebagai pembalasan dendam mendiang ayahnya."
Nala mengangguk mantap, meskipun mereka tidak berada di ruang yang sama. "setuju! jaga rahasia ini dari Adrian sampai buktinya lengkap. kita selidiki ini bersama."
Panggilan telepon ditutup. di ruang arsip, Nala menarik napas dalam-dalam, mengunci kembali map merah tersebut. konflik masa lalu yang terkubur dalam-dalam kini perlahan mulai naik ke permukaan.
Dengan bantuan ikatan persahabatan mereka dan jaringan internasional keluarga Angel, perburuan terhadap penghianat besar keluarga Dirgantara resmi dimulai secara rahasia.
"Terima kasih sudah membaca bab 22 ini sampai selesai! Bagaimana menurut kalian rencana kevin kali ini? Biar aku makin semangat mengetik bab selanjutnya, yuk Klik tombol like dan berikan komentar terbaik kalian di bawah ya ! Dukungan kalian sangat berharga untuk kelulusan kontrak novel ini. Love you all!"