NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Teriakan keras itu langsung membuat Azalea tersentak bangun dari tidurnya, matanya terbelalak bingung. Ia mengusap wajah pelan sambil menatap Aldric yang masih berdiri kaku, wajahnya pucat pasi karena kaget.

"Ada apa... kenapa berteriak?" tanya Azalea dengan suara serak khas orang baru bangun.

Daxon segera menghampiri, menutup sedikit layar televisi itu sambil menahan senyum melihat tingkah sahabatnya yang belum pulih rasa takutnya.

"Tidak ada apa‑apa, hanya Aldric yang kaget melihat adegan film," jawab Daxon lembut sambil duduk di samping Azalea, lalu menyodorkan bungkusan sate yang masih beraroma sedap.

Azalea menatap bungkusan itu, matanya langsung berbinar cerah. Ia segera membukanya, aroma bumbu kacang dan daging panggang yang gurih langsung memenuhi udara. Kali ini sama sekali tidak ada rasa mual, sebaliknya seleranya terbuka sepenuhnya.

Tanpa menunggu lama, ia mulai menyantapnya dengan lahap, seolah belum makan berhari‑hari. Wajahnya yang tadi tampak lemas kini perlahan terlihat lebih segar dan gembira.

Daxon duduk di sebelahnya, menatap puas sambil sesekali mengusap pelan punggung tangan atau rambutnya. Sementara Aldric berdiri agak jauh, napasnya baru mulai tenang kembali, sesekali melirik curiga ke arah layar televisi yang sudah dimatikan.

Bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Cukup untuk hari ini... cukup penampakan sebanyak ini..."

Azalea mengunyah nikmat, lalu mengambil sepotong sate, menatap lembut ke arah Daxon. Ia teringat Daxon tadi sama sekali belum menyentuh makanan apa pun, hanya mengurus keperluannya saja.

"Kau juga belum makan, kan?" tanyanya pelan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat suapan itu mendekat ke bibir Daxon. "Ayo, buka mulutmu... ini sebagai tanda terima kasih."

Daxon tertegun sejenak, matanya melembut sekali. Ia pun menurut, membiarkan Azalea menyuapinya perlahan, rasanya terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah mana pun.

Di sudut ruangan, Aldric yang melihat itu hanya menggeleng‑gelengkan kepala sambil tersenyum sendiri, lalu perlahan berjalan menuju ke kamarnya—berniat membiarkan mereka berdua menikmati momen tenang itu.

Daxon mengunyah perlahan, matanya tak lepas menatap wajah Azalea yang tampak gembira. Rasa sate itu biasa saja, tapi terasa paling nikmat karena berasal dari tangan gadis itu.

Azalea kembali menyiapkan suapan berikutnya, lalu tersenyum kecil. "Enak kan? Tadi kau susah payah pergi jauh demi ini," ucapnya lembut.

"Iya... jauh lebih enak dari apa pun yang pernah kurasakan," jawab Daxon pelan, suaranya penuh perasaan. Ia pun membalas kebaikan itu, mengusap sudut bibir Azalea yang sedikit terkena bumbu dengan jemarinya sendiri.

Suasana menjadi tenang, hangat, dan damai—jauh berbeda dari perjalanan seram dan menegangkan melewati pemakam yang sangat gelap.

...****************...

Keesokan paginya, tepat pukul lima, Aldric terbangun karena haus. Ia berjalan mengantuk menuju dapur dengan langkah berat, lampu di sana masih agak remang.

Saat ia melangkah masuk, tiba‑tiba ia melihat sosok berwajah putih pucat berdiri diam di dekat meja.

"AAAKKKHHHH!!" teriak Aldric sekuat tenaga, langsung melompat mundur—ingatannya masih penuh ketakutan semalam.

Ternyata itu Lisa yang sedang memakai masker wajah berwarna putih. Kaget sekali mendengar teriakan itu, Lisa pun ikut menjerit nyaring, "AAAKKHHH!!" sambil hampir menjatuhkan baskom di tangannya.

Suara teriakan mereka saling bersahutan di dapur yang sunyi, membuat suasana pagi itu langsung berisik dan kacau. Teriakan itu bergema sampai ke seisi rumah, membuat Daxon dan Azalea yang masih terlelap tersentak bangun.

Daxon segera menutupi tubuh Azalea dengan selimut, lalu bergegas keluar kamar dengan wajah mengantuk namun langsung berubah tegas. Sesampainya di dapur, ia melihat Aldric masih bersandar di dinding dengan wajah pucat, sementara Lisa berdiri di situ sambil mengelus dada, masker putihnya sedikit berantakan.

Aldric mundur sampai menabrak lemari, jantungnya berdegup kencang sekali. Lisa yang masih memakai masker putih itu sama kagetnya, sampai‑sampai ia tak berani bergerak, mulutnya masih terbuka lebar karena teriakannya sendiri.

"K‑Kau siapa?!" seru Aldric dengan suara serak, matanya terbelalak lebar.

Lisa menggeleng cepat sambil mengangkat kedua tangan tanda tidak berbahaya. "Saya… saya Lisa, Tuan! Cuma sedang pakai masker wajah pagi ini!" jawabnya bergetar, lalu buru‑buru menyeka sedikit masker di dekat mata agar dikenali.

Aldric menghela napas panjang sekali sampai dadanya terasa lega, lalu bersandar lemah di dinding. "Ya Tuhan… belum hilang rasa takut semalam, pagi‑pagi sudah ada yang berwajah putih lagi…" gerutunya pelan sambil mengusap dada.

Mereka berdua saling pandang, lalu perlahan tertawa malu karena sama‑sama kaget setengah mati. Akhirnya Lisa mengambilkan air minum yang dicari Aldric tadi, sambil berjanji dalam hati lain kali akan menyalakan lampu lebih dulu

"Ada apa lagi pagi‑pagi begini?" tanya Daxon sambil menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang seolah belum pulih dari ketakutan semalam.

"Saya... saya cuma ambil air minum, tapi malah ada Lisa yang memakai masker berwarna putih," jawab Aldric dengan suara masih serak, membuat Lisa dan Daxon tak kuasa menahan tawa.

Lisa tersenyum kecil sambil menggeleng pelan, lalu berbicara dengan nada lembut namun terdengar menggoda.

"Lucu sekali... tangan kanan seorang pemimpin mafia sekaligus asisten CEO tuan yang berani berhadapan dengan bahaya nyata, tapi justru gemetar ketakutan hanya karena hal yang tak nyata," ucapnya pelan, lalu berjalan pergi meninggalkan dapur begitu saja untuk membersihkan diri.

Daxon tersenyum geli, lalu menjangkau tangan sahabatnya dan membantunya berdiri tegak kembali.

"Sudah, ayo berdiri. Jangan sampai kau membuat legenda baru di mansion ini, tangan kanan mafia yang takut pada bayangan dan masker wajah," ucap Daxon sambil menepuk bahu Aldric yang masih tampak sedikit malu.

Aldric hanya mendengus pelan sambil mengusap wajahnya, berusaha melupakan rasa malunya.

...****************...

Pukul tujuh pagi, setelah menunggu Daxon selesai bersarapan, Azalea berjalan keluar bersamanya menuju sebidang tanah kosong yang nantinya akan ditanami sayuran.

Sesampainya di sana, wajah Azalea berseri‑seri gembira saat menatap tumpukan bibit sayuran di depannya. Saat para pelayan mulai bekerja menanam, ia menoleh ke arah Daxon dengan pandangan memohon.

Daxon langsung mengerti. "Katakan saja apa yang kau inginkan," ucapnya.

"Aku ingin ikut menanam bibit sayuran," jawab Azalea.

"Tida—" Kata‑katanya terhenti saat melihat manik mata Azalea yang mulai berkaca‑kaca seakan siap menangis.

Daxon menghela napas panjang. "Baiklah, lakukanlah apa yang kau mau. Aku akan duduk di sana menunggu kedatangan Aldirc," ucapnya sambil menunjuk kursi santai di pinggir halaman rumah besar itu.

Azalea tersenyum lebar dan mengangguk. Segera ia mengambil bibit dan mulai menanamnya dengan tekun. Daxon hanya duduk diam mengamati, melihat kebahagiaan polos gadis itu, tanpa sadar seulas senyum terukir di wajahnya.

Para penjaga yang bertugas di sekitar tempat itu saling pandang dan merinding melihat pemandangan langka tersebut. Mereka pun berbisik pelan satu sama lain.

"Tuan kenapa tersenyum begitu? Apa ada yang salah?"

"Sepertinya Tuan sedang demam tinggi..."

Mereka terus bergumam heran, karena baru kali ini selama bertahun‑tahun mereka melihat senyum terbit di wajah tuannya yang biasanya sedingin es.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!