NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Panggung Hukuman

Arjuna Pratama berdiri, merapikan ujung kemejanya yang sedikit kusut, lalu memberi isyarat singkat kepada Shafira Maharani. Keduanya keluar dari ruang tamu, satu demi satu.

Di luar, di bawah kanopi pelindung matahari, pengambilan gambar sedang berlangsung. Adegan hari ini adalah monolog Shafira Maharani di halaman istana.

kostum berat, riasan tebal, di bawah langit musim panas yang tidak menunjukkan belas kasihan.

Arjuna berjalan lurus menuju monitor sutradara, menarik kursi, dan duduk dengan santai seolah tempat itu memang miliknya.

Sutradara dan produser refleks berdiri untuk menyambut, tapi satu lambaian tangan datar dari Arjuna langsung menghentikan mereka.

"CEO Arjuna, apakah ada yang......."

"Kalian semua kerja saja. Aku hanya menonton." Nada Arjuna datar, pandangannya sudah bergeser ke arah Shafira yang berdiri di tengah halaman, terpapar penuh terik matahari.

Shafira menangkap itu. Gelombang kegembiraan menyapu dadanya.....dia menonton,tapi langsung disusul tekanan saraf yang membuatnya menegakkan punggung. *Harus tampil sempurna. Harus.*

Dia menarik napas panjang, masuk ke dalam karakter.

Adegan monolog selesai.

Sutradara belum sempat membuka mulut.

"Emosi saja tidak cukup." Suara berat Arjuna terdengar tepat di sisi telinga sang sutradara,tanpa intonasi, tapi mengandung sesuatu yang tidak bisa dibantah. "Lakukan lagi."

Sutradara itu terpaku. Dia melirik monitor, melirik profil Arjuna yang tanpa ekspresi, lalu menelan ludah. "Baik! Nona Shafira, kita ulangi! Lebih banyak emosi—perhatikan detail di mata!"

Maka dimulailah.

"Potong! Posisi kamu salah. Ulangi!"

"Potong! Ritme dialog mu tidak tepat. Ulangi!"

"Hentikan! Ekspresimu terlalu tegang, tidak alami. Dari awal lagi!"

Satu take. Dua take. Tiga. Puluhan.

Matahari musim panas tidak kenal ampun. Kostum zaman dahulu yang Shafira kenakan terasa seperti menggendong batu bata berat, panas, mencekik. Riasannya mulai luntur, keringat mengalir di sisi lehernya, dan rambut yang ditata rapi menempel basah di dahinya.

Kulitnya terasa terbakar. Tenggorokannya kering seperti pasir. Setiap "potong" dari sutradara mengiris sarafnya sedikit demi sedikit.

Dia melirik Arjuna di dekat monitor.

Kaki panjang disilangkan. Ujung jari sesekali mengetuk ringan sandaran kursi. Matanya menatap layar—tanpa ekspresi, tanpa reaksi, seolah semua ini biasa saja.

Justru kenetralan itulah yang paling menyiksanya.

*Dia melihatku gagal. Berulang kali. Di depannya.*

Shafira memaksakan diri. Menahan panas, menahan lelah, menahan amarah yang semakin susah dibendung. Dia tidak berani mengamuk atau mengeluh,bukan di depan Arjuna.

Sementara itu, dahi sang sutradara juga sudah basah.

Kehadiran pria itu menciptakan tekanan yang tidak kasat mata tapi terasa menindih. Ada beberapa take yang sutradara rasa sudah cukup layak bahkan bagus...tapi setiap kali Arjuna bergerak sedikit, atau jari-jarinya mengetuk sekali, ada sesuatu yang membuat sang sutradara urung menyetujui. Entah kenapa, di hari ini, standarnya seolah tidak pernah cukup tinggi.

Waktu terus berjalan.

Hampir pukul enam sore. Matahari mulai condong ke barat, bayangan memanjang, tapi panas hari itu belum juga reda.

Shafira Maharani merasa pandangannya mulai berputar.

"Potong."

Setelah kata itu keluar, sutradara hampir tidak berani menatap Arjuna. Tapi kali ini, Arjuna berdiri.

Sosoknya yang tinggi melemparkan bayangan panjang di atas tanah yang masih panas. Dia berjalan pelan ke arah sutradara, lalu menepuk bahunya dengan ringan—gerakan yang tampak santai, tapi entah kenapa membuat bahu sang sutradara terasa lemas seketika.

"Sutradara Firman." Suaranya rendah, mengandung sesuatu yang terasa seperti nasihat tapi berbunyi seperti perintah. "Akting pemeran utama adalah inti dari drama ini."

Dia berhenti sejenak, pandangannya menyapu ke arah Shafira yang sedang dibantu asistennya—riasan berantakan, tubuh tampak terkuras—lalu kembali ke sutradara. "Saya rasa Nona Shafira masih punya potensi. Dia hanya perlu... *diasah* dengan benar."

Penekanan tipis pada kata terakhir itu tidak luput dari telinga siapapun yang berdiri cukup dekat.

"Sebagai sutradara, tanggung jawab Anda berat. Kalau perlu tegas, ya tegas. Jangan khawatirkan wajah siapapun." Satu sudut mulutnya bergerak, samar. "Kalau perlu dipotong, potong. Kalau perlu diulang, ulang. Seperti siang ini—itu sudah bagus. Mengejar kesempurnaan adalah satu-satunya cara bertanggung jawab atas pekerjaan."

Sutradara merasakan merinding menjalar di punggungnya.

*Tokoh penting ini sama sekali tidak datang untuk menonton.*

Dia menyeka keringat di dahi dengan cepat dan mengangguk berulang kali. "Betul, betul, CEO Arjuna benar sekali! Kami pasti bersikap tegas, tidak akan pilih kasih!"

Arjuna merespons dengan "Hmm" yang pendek dan puas. Pandangannya menyapu Shafira untuk terakhir kalinya—ada lengkungan kecil di sudut mulutnya, tipis dan mengejek.

"Kondisi hari ini kurang mendukung, pengambilan gambar tidak bisa maksimal." Nada Arjuna kembali santai, seolah menyampaikan informasi cuaca. "Akhiri saja lebih awal. Biarkan semua orang istirahat, sesuaikan kondisi. Besok, saya harap hasilnya lebih baik."

Selesai bicara, dia tidak melirik siapapun lagi. Langkah panjangnya membawa tubuh tingginya menjauh dari lokasi syuting dengan tenang—tanpa tergesa, tanpa menoleh.

Shafira menatap punggungnya hingga menghilang.

Lelah, panas, teraniaya,tapi lebih dari semua itu, ada rasa jengkel yang merayapi dadanya seperti bara. Dia benar-benar mengira aktingnya yang buruk itulah penyebab semua ini. Bahwa dia telah mempermalukan dirinya sendiri berkali-kali, tepat di depan pria yang paling tidak ingin dia kecewakan.

Di sisi monitor, sang sutradara memutar ulang beberapa take terakhir Shafira. Penampilannya jelas menurun.

tubuhnya kelelahan, emosinya sudah terkuras. Lalu kata-kata tadi bergaung di kepalanya: *"diasah dengan benar"* dan *"seperti siang ini."*

Keringat dingin kembali mengucur di punggungnya.

Bukankah ada bisik-bisik bahwa bintang besar ini adalah kekasih Tuan Muda Arjuna? Lalu apa yang sebenarnya baru saja terjadi di sini?

Dia mengangkat walkie-talkie. Suaranya terdengar berat dan lelah. "Selesaikan semuanya. Kita berhenti lebih awal hari ini."

Lokasi syuting langsung meledak dalam desahan lega yang kompak,seperti seluruh kru baru saja mendapat pengampunan massal.

disusul suara ramai orang berkemas, menggulung kabel, dan melipat kursi.

Hari yang panjang itu akhirnya berakhir.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!