NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Tokoh yang Terlupakan

"Rania kamu kenapa kemarin tidak masuk kuliah?"

Dewi langsung menyambutnya dengan pertanyaan karena Rania kemarin absen tanpa keterangan. Keduanya duduk secara bersamaan di kursi paling depan. Kursi favorit Dewi karena bisa memperhatikan kelas dengan lebih fokus.

"tidak apa-apa," jawabnya dengan singkat.

"bagaimana pesta ulang tahunmu kemarin?" tanya Dewi.

Rania sedikit terkejut lalu menoleh ke arah Dewi.

"kamu tau kemarin aku ada pesta?" tanyanya karena ia kira hanya Arya dan circle Dona saja yang tau tentang pesta kemarin.

"semua orang di kampus tau kalau kemarin Arya membuat kejutan ulang tahun untukmu."

"apa saja yang mereka katakan?"

"tidak banyak, hanya bilang ada pesta kejutan di vila puncak milik Arya. Terus yang diundang juga hanya kerabat saja."

Rania terdiam lalu berfikir kalau mungkin ini adalah pengaturan dari Arya agar kejadian malam itu tidak bocor ke publik. Tapi kemudian ia memeluk sang sahabat. Hatinya merasa tidak nyaman karena Dewi harus mendengar dari orang lain tentang pestanya. Meskipun ada kecelakaan waktu itu, tapi seharusnya ia tidak melupakan sang sahabat.

"maaf ya, padahal aku sudah menyebutmu sahabat tapi malah tidak diundang sama sekali."

Dewi menggelengkan kepalanya dengan kuat lalu menepuk bahu Rania cukup keras, "tidak, jangan minta maaf. Aku dengar itu sebuah kejutan, jadi tamu undangan bukan kamu yang mengatur tapi yang membuat pesta yang mengaturnya. iya kan?"

"i-iya sih, aahh tapi tetap saja," ditengah rasa tidak enak terhadap Dewi, tapi Rania merasa semakin menyukainya karena sifatnya yang begitu pengertian. Untung saja kesempatan kali ini ia berinisiatif menjadikannya sebagai sahabat.

"sudah sudah, kasian itu Dewi mukanya udah nggak enak banget," ucap Salsa yang baru saja masuk dan sudah disuguhi drama pagi hari.

Salsa menggelengkan kepalanya saat melihat sikap manja Rania yang hanya bisa dilihat di hidup ini saja. Dulu Rania memang memiliki sikap manja tapi hanya kepada Arya. Tapi sekarang dia menjadi orang yang lebih sederhana dari sebelumnya. Sikapnya lebih terlihat bisa diajak berteman daripada dulu yang memanjang tampang sok galak dan dingin.

"Salsa ngapain kamu di sini?" tanya Rania.

"oh ini, tadi ada yang menitipkan bingkisan untukmu."

"apa isinya?"

"tidak tau, buka sendiri saja."

Salsa menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Rania. Mereka mengelilingi meja karena penasaran dengan isi kotak tersebut. Rania membukanya dengan perlahan, lalu terlihat sebuah jam tangan lucu berwarna merah muda.

"jam tangan? apa tidak ada surat di dalamnya?" tanya Salsa yang semakin penasaran.

"tidak ada, kira-kira ini dari siapa ya?" gumam Rania sambil melihat jam tangan tersebut.

Dewi melihat sesuatu di balik tumpukan potongan kertas di dalam kotak lalu mengambilnya.

"ini ada kartu ucapannya," ucapnya sambil mengambil sepucuk kertas tersebut.

Rania mengambilnya sambil menatap Dewi lalu menatap Salsa. Saat ia membaca tulisan di dalam kertas itu dahinya berkerut lalu nama di bawah kertas terasa tidak asing untuknya.

"Bagas? siapa Bagas?" tanya Rania kepada Salsa.

"penggemarmu mungkin?"

Akhirnya ia memilih memasukkan kembali jam tangan tersebut ke dalam kotak lalu menutupnya rapat. Peraturan pertama dalam hidup adalah, jangan menerima apapun dari orang yang tidak dikenal. Rania menerapkan hal itu, apalagi berdasarkan pengalamannya, pasti ada sesuatu di balik barang gratis ini.

"tidak mau dicoba dulu?" tanya Dewi dengan polosnya.

Rania menatap Dewi lalu menepuk bahunya pelan, "nanti kalau di jalan dikasih permen sama orang, jangan mau ya," ucap Salsa yang diangguki oleh Rania.

"ya enggak lah, aku kan bukan anak kecil lagi."

Rania dan Salsa saling berpandangan lalu dengan kompak melihat ke arah Dewi sambil mengangguk.

Setelah kelas selesai, Rania dan Dewi keluar bersamaan. Saat melewati pintu kelas, Rania dan Dewi melihat sosok pemuda tinggi kekar berdiri di depan pintu. Keduanya sempat kontak mata dengannya, namun karena merasa tidak saling kenal mereka lewat begitu saja. Namun ternyata pria itu langsung mengejar Rania dan Dewi lalu menghadang jalan mereka.

"siapa ya?" tanya Rania.

"kamu sudah menerima kado dariku?"

"kado?" Rania membuka tasnya lalu mengeluarkan kotak hitam yang tadi ia terima, "maksudmu ini?" tanyanya sambil menunjukkan kotak tersebut. Wajah pemuda di depannya terlihat begitu sumringah saat melihat kadonya sudah dipegang oleh Rania.

"iya, apa kamu suka?"

Rania sedikit tersenyum lalu menyodorkan kotak itu kembali kepada pemiliknya. Akhirnya tanpa perlu bersusah payah, pemiliknya datang dengan sendirinya. Dia tidak perlu lagi harus mencari ke setiap sudut kampus hanya untuk mencarinya.

"maaf aku tidak bisa menerimanya."

"kenapa? apa karena isinya barang murahan? tapi aku membelinya dengan menghabiskan semua tabunganku."

Drama memelas orang miskin akhirnya ia melihatnya sendiri secara langsung selain dari drama. Memanfaatkan kondisinya untuk mendapatkan simpati dari orang lain.

"pertama, aku tidak mengenalmu dan aku tidak pernah menerima barang dari orang asing. Kedua, kamu menghabiskan tabunganmu untuk orang yang tidak kamu kenal? menurutmu bagaimana aku harus bereaksi?"

"kamu mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu."

Rania memutar bola matanya setelah mendengar ucapan dari pemuda itu.

"kamu mengenalku atau tidak, aku tetap tidak mengenalmu. Jadi kamu tetaplah orang asing di hidupku. Sebaiknya jual lagi saja dan masukkan kembali ke tabunganmu."

Setelah mengatakan itu, Rania meraih tangan pemuda itu dan memaksanya menerima kembali kotak hitam tersebut. Kemudian ia dan Dewi pergi meninggalkannya.

Setelah selesai semua kegiatan mereka di kampus, mereka bertiga nongkrong di sebuah kafe. Kafe baru yang jaraknya cukup jauh dari kampus. Dewi terlihat sibuk dengan laptopnya sejak awal mereka duduk di sana. Jadi hanya Rania dan Salsa saja yang sibuk mengobrol.

"kamu ingat Bagas?" tanya Rania ke Salsa dengan penuh penasaran.

"ingat, dia orang yang berusaha mendekati Arya terus."

"HAAA!" Rania terkejut lalu berkata tanpa mengeluarkan suaranya, "suka laki-laki?"

"bukan ih! dia deketin Arya karena Arya kaya. Masa kamu lupa sama dia sih?"

Rania berusaha mengingat lagi semua tentang nama Bagas dan semua tentang wajah yang baru saja ditemuinya itu. Tapi nihil, ia tidak dapat mengingat apapun tentangnya.

Ia menggeleng ke arah Salsa dan membuatnya mau tidak mau harus menceritakan semuanya. Sebelum menceritakannya lebih lanjut, Salsa melirik ke arah Dewi lalu diikuti oleh Salsa. Rania mengangguk mengatakan tidak apa-apa kepada Salsa.

"kamu ingat acara kumpul bersama satu angkatan bulan lalu?"

"ya aku ingat, semua tagihan dibayar oleh Arya meskipun awalnya hanya bercanda tapi dia benar-benar serius membayarnya sendiri."

"nah itu dia poinnya!" ucap Salsa dengan cukup bersemangat.

Satu bulan yang lalu, ada acara kumpul bersama satu angkatan di sebuah restoran. Suasana begitu ramai dipenuhi dengan canda tawa khas anak muda.

"Arya, kamu kan kaya nih. Bisa lah traktir kita semua," canda seseorang yang diketahui merupakan teman kelas Arya.

Arya malam itu tidak merespon apa pun ucapan temannya. Tapi ketika salah seorang pergi ke kasir untuk membayar, semua tagihan sudah dilunasi oleh Arya. Semua orang langsung bersorak untuk Arya, uang yang sudah terkumpul pun dibagikan kembali. Di sana tanpa mereka sadari ada satu mahasiswa yang duduk di sudut melihat ke arah Arya tanpa berkedip. Ia menilai setiap orang yang mengelilingi Arya dan dapat dipastikan mereka semua adalah orang kelas atas.

Waktu itu Rania masih bucin terhadapnya, jadi ia mengetahui kejadian itu dengan jelas karena saat itu dirinya selalu menempel dengan Arya.

"aku akan menjadi temannya," ucap Bagas lirih lalu tersenyum dan kembali berbaur dengan gerombolannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!