NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Rumah yang Selalu Menunggumu

Malam di Akademi Aetherion terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Para professor berusaha menenangkan keadaan, semua orang tahu bahwa ada sesuatu yang besar baru saja terjadi—Meteor Astralis.

Fenomena yang membelah langit dan menerangi seluruh akademi, bahkan membuat para professor senior terlihat tampak gelisah. Namun bagi Aurelia hal yang paling membekas bukanlah cahaya di langit, melainkan kata-kata yang disampaikan oleh Orion.

“Apapun yang terjadi nanti jangan pergi sendirian.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, seolah menjadi sebuah peringatan untuknya atau mungkin juga sebuah janji.

Aurelia melangkah menuju asrama perempuan, koridor akademi yang biasanya ramai kini hampir kosong. Beberapa murid masih terlihat berbisik-bisik membahas fenomena tadi, namun ia terlalu lelah untuk memperhatikan, karena pikirannya dipenuhi terlalu banyak hal.

Pikirannya saat ini tengah dipenuhi perihal tentang Astralis, para penjaga bintang, wanita bermata emas, Caelum hingga tentang dirinya sendiri. Saat ia berbelok menuju taman kecil di depan asrama, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Dihadapannya ada tiga sosok laki-laki yang tengah berdiri dibawah cahaya lampu kristal, yang satu tinggi dan tegap, satu berambut perak yang sedang membaca buku dan yang satu lagi duduk santai dibangku taman seraya memainkan bunga kecil dengan sihir angin.

“Kak Kael?” Pria tinggi itu langsung menoleh kala namanya disebut. Tatapan tajam yang biasanya membuat murid lain ketakutan kini justru terlihat penuh kekhawatiran.

“Relia.” Hanya satu kata, namun cukup membuat dada Aurelia menghangat.

“Kak Lucien, kak Rowan.” Dua kakaknya yang lain pun ikut berdiri, dan Rowan langsung tersenyum lebar.

“Syukurlah.” Ucap Lucien yang merasa lega karena melihat bahwa Aurelia baik-baik saja.

“Apa kau tahu? Kami hampir menculik professor jaga karena dia tidak tahu kau dimana.” Celetuk Rowan yang langsung membuat Aurelia tertawa kecil, dan setelah sekian lama, mungkin baru itulah dia merasakan benar-benar tertawa lagi.

Kaki Kael melangkah mendekat ke arah Aurelia, lalu tanpa mengatakan apapun, ia langsung mengusap pelan kepala Aurelia. Gerakan yang sama seperti saat mereka masih kecil dan selalu Kael lakukan setiap kali melihat Aurelia menangis atau ketakutan.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya yang langsung membuat Aurelia mengangguk cepat, namun Kael langsung menyipitkan kedua matanya dan dipenuhi dengan selidik. “Kau berbohong.” Ucapnya lagi.

“Kak Kael.” Aurelia tampak protes.

“Aku mengenalmu sejak kau bahkan belum bisa mengeja namamu sendiri.” Aurelia langsung menyerah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Kael dan hal itu membuat Lucien menghela napasnya.

“Sejujurnya, seluruh akademi sedang membicarakanmu.

“Itu tidak membantu sama sekali, Lucien.” Kata Rowan.

“Aku hanya mengatakan fakta.” Kata Lucien lagi yang membuat Aurelia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Arrgghh rasanya aku ingin menghilang.” Aurelia mengerang frustasi dihadapan ketiga kakaknya dan setiap ada mereka, Aurelia merasa bahwa dirinya bisa benar-benar mengeluarkan apapun yang tengah dirasakan olehnya.

“Terlambat. Sekarang kau sudah terkenal.” Ucap Rowan yang kini juga mengusap puncak kepala Aurelia.

Mereka akhirnya duduk bersama di taman, sesaat suasana terasa seperti dulu, sama seperti saat mereka masih tinggal dirumah keluarga Arvendis dimana sebelum Aurelia masuk ke akademi dan sebelum semua misteri yang dirasakannya muncul.

“Kau belum makan malam, kan?” Rowan menyerahkan secangkir cokelat hangat, dan Aurelia menerima cangkir tersebut.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena kau selalu lupa makan saat sedang stress.” Jawab Rowan santai yang membuat Lucien mengangguk.

“Dan kau selalu menggigit bagian dalam pipimu saat sedang banyak berpikir.” Lucien ikut buka suara dan secara spontan, Aurelia langsung berhenti menggigit bagian dalam pipinya, hingga hal itu membuat Kael mendengus.

“Lalu, kau mengira kami tidak akan sadar ada yang salah?” Kael tak mau kalah. Aurelia memandangi mereka satu per satu. Tiba-tiba air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, karena sudah beberapa minggu ia berada di akademi, baru malam itu ia benar-benar menyadari betapa ia merindukan ketiga kakaknya itu.

Aurelia langsung mengusap air matanya yang bahkan belum jatuh membasahi pipinya, melihat Aurelia menangis tentu saja membuat ketiga kakaknya khawatir, namun ia juga mengatakan bahwa dia hanya terharu sekaligus merindukan mereka, jadi air mata itu bukanlah karena dia merasa sedih atau sakit.

“Jadi?” Lucien pun masih menunggu penjelasan saudarinya itu. “Apa kau ingin menjelaskan kenapa langit hampir pecah malam ini?” Sambung Lucien yang membuat Aurelia hampir tersedak coklat hangat yang tengah ia minum.

“Lucien.” Kael sedikit memelototinya.

“Apa? Kenapa? Bukankah itu pertanyaan yang valid?” Lucien membela dirinya sendiri dan Rowan pun ikut menganggukkan kepalanya dan membuat Kael menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.

“Kami tidak butuh semua detailnya, tapi kami tahu bahwa fenomena tadi berhubungan denganmu.” Terang Rowan dan membuat Aurelia terdiam, karena mereka benar, setidaknya ia harus memberitahu mereka apa yang telah terjadi atau pun yang tengah di rasakan olehnya, meski tidak semua, setidaknya sebagian.

Aurelia mulai menceritakan apa yang terjadi, mungkin lebih tepatnya apa yang ia lakukan sebelum terjadinya fenomena tadi. Mulai dari terbukanya Gedung Astralis saat ia tiba disana, lalu tongkat sihir yang telah memilihnya ketika ia keluar dari gedung tersebut.

Tidak hanya itu, Aurelia juga memberitahu mereka bahwa dirinya masuk ke dalam Menara Tua yang telah dirumorkan berhantu hingga para Penjaga Bintang, akhirnya Aurelia menceritakan semuanya pada ketiga kakaknya, meski tidak detail, namun ia menceritakan sebanyak yang ia bisa.

Semakin lama Aurelia menceritakan apa yang ia lakukan, ekspresi ketiga kakaknya pun semakin serius, terutama Lucien. Pria itu bahkan sudah mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menuliskan sesuatu disana, hingga Aurelia menyipitkan kedua matanya.

“Kau sedang mencatat?” Tanya Aurelia dengan rasa yang penuh penasaran, dan Lucien langsung mengangguk cepat. “Kenapa?” Aurelia kembali bertanya alasannya mencatat ceritanya.

“Karena ini menarik.” Jawab Lucien santai dengan menaruh ujung pena di dagunya.

“Kak Lucien.”

Ketika cerita telah usai, keheningan mulai menyelimuti mereka. Aurelia menunduk seraya memutar jemarinya di bibir cangkir yang berisikan coklat yang diberikan oleh Rowan sebelumnya. Sedangkan Kael menatap saudarinya itu dengan begitu dalam.

“Apa kau merasa takut?” Pertanyaan sederhana Kael membuat Aurelia terdiam untuk sejenak. Namun ia pun lekas menganggukkan kepalanya perlahan.

“Tapi, sebenarnya aku sangat takut.” Terangnya akhirnya. “Karena aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dan tidak ada yang mau menjelaskan. Aku sendiri bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya.” Ucapnya lagi.

Mendengar kalimat itu membuat ketiga kakaknya merasa sedih. Mereka mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkan olehnya, namun mereka tahu jika gadis itu pasti tengah merasa bingung dengan semuanya.

“Kadang aku merasa…” Aurelia menundukkan kepalanya. “… aku seperti orang asing dalam hidupku sendiri.” Sambungnya yang membuat suasana kembali hening.

“Kalau begitu dengarkan aku.” Suara Kael membuat Aurelia menoleh, tatapan yang diberikan oleh kakak tertuanya itu sangat tenang. “Sampai kau menemukan jawaban itu, kau tetaplah Aurelia, dengan atau tanpa Astralis maupun kekuatan lainnya, kau tetaplah adik kami.” Pungkas Kael yang seketika membuat kedua mata Aurelia memanas.

“Aku setuju.” Rowan langsung menambahkan dengan senyum lebarnya.

“Aku juga sangat setuju. Meski kau kadang menyebalkan.” Sahut Lucien seraya meledeknya agar suasana bisa sedikit mencair, walau kalimatnya itu membuat ia di pelototi oleh Aurelia. “Oh satu lagi, dan suka keras kepala.” Tuturnya lagi.

“Kak Lucien.” Protesnya.

“Tapi kau tetap keluarga kami, Aurelia.” Lanjutnya yang membuat Aurelia tertawa kecil seraya menyeka cairan bening yang berada di sudut matanya.

Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari balkon lantai paling atas asrama laki-laki—Orion. Ia berdiri dalam bayangan seraya memandangi Aurelia yang tengah tertawa bersama ketiga kakaknya.

Untuk pertama kalinya, Orion melihat wajah gadis itu terlihat benar-benar ringan, tidak terbebani sesuatu maupun tidak merasa ketakutan, dia benar-benar menjadi dirinya sendiri saat bersama ketiga kakaknya. Orion tersenyum kecil dan merasa lega, hingga akhirnya ia berbalik untuk pergi.

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kastel hitam yang tersembunyi, suasana jauh berbeda dari Akademi Aetherion. Pria tua berjubah hitam berdiri di depan peta sihir raksasa dan disampingnya berdiri seorang pria muda dengan mata merahnya yang memantulkan cahaya lilin—Caelum.

“Jadi? Kau sudah melihatnya?” Caelum mengangguk cepat saat pria tua itu bertanya. “Dan?” Senyum tipis pun muncul di bibir Caelum.

“Dia lebih menarik dari pada yang kuduga.” Sahut Caelum yang membuat pria tua itu tertawa kecil.

“Kau tertarik padanya?”

“Mungkin.” Jawaban itu justru membuat beberapa bawahannya terlihat gugup, karena mereka tahu jika Caelum mengatakan seseorang menarik, hal itu sudah dipastikan bahwa biasanya tidak akan berakhir dengan baik.

Keesokan paginya Aurelia terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih baik. Percakapan dengan ketiga kakaknya semalam membuat beban di dadanya berkurang. Setidaknya kini ia tahu satu hal, apa pun yang terjadi, ia tidak akan sendirian.

Sayangnya, ketenangan yang dirasakan oleh Aurelia pagi itu tidak berlangsung lama, karena saat ia memasuki aula utama akademi, ia langsung melihat kerumunan murid, semua orang berkumpul di depan papan pengumuman.

“Buka jalan.” Teriak Rowan dan membuat mereka berhasil mendekat. Begitu melihat isi pengumuman, Aurelia langsung membeku disana.

-PENGUMUMAN RESMI AKADEMI AETHERION-

Mulai hari ini akan diadakan Ujian Seleksi Tim Elit Akademi dan peserta yang terpilih akan mewakili Aetherion dalam Festival Agung Sihir antar Akademi.

Seluruh murid bersorak riuh usai membaca pengumuman yang tertempel disana. Festival Agung Sihir merupakan kompetisi terbesar di dunia sihir yang hanya di adakan setiap lima tahun sekali.

“Aku lupa soal festival itu.” Gumam Rowan dan membuat Lucien langsung mengernyit.

“Ini terlalu cepat.” Lucien juga memberi komentar. Sedangkan Kael tidak mengatakan apapun, namun tatapannya sudah tertuju pada satu nama yang tertulis dibawah pengumuman.

Di bawah pengumuman itu tertulis seluruh nama peserta yang diwajibkan mengikuti seleksi dan disana tertulis nama saudarinya—Aurelia Evandria. Jantung Aurelia berdetak cepat tak karuan ketika menyadari namanya tertera dalam papan pengumuman tersebut.

Bukan hanya itu, ia bahkan mencoba untuk membaca ulang dan membacanya lagi, namun tulisan itu benar adanya, namanya memang ada disana, padahal ia tidak pernah mendaftar sama sekali, bahkan tahu soal festival itu akan di adakan saja ia belum mengetahuinya.

Selain namanya, tepat dibawah namanya terdapat satu nama lain. Nama yang membuat suasana mendadak menjadi dingin—Caelum Velrath. Aurelia merasakan firasat buruk yang luar biasa, dan entah kenapa, ia merasa festival itu bukan sekedar kompetisi biasa, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!