Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Papan Meja dan Malam yang Kelam
Selama berminggu‑minggu, Axel bekerja bagai orang yang tak kenal lelah. Pagi‑siang‑malam ia habiskan di kantor, berhadapan dengan berkas‑berkas tebal, rapat mendesak, dan serangan demi serangan yang makin gencar dari pihak lawan. Di bawah tekanan keras ayahnya, rasa bersalah yang menumpuk, serta kekhawatiran tak berkesudahan atas nasib istri dan anak‑anak adiknya, ia bergerak dalam keadaan setengah mati‑matian.
Masalah di perusahaan ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal. Tuduhan penyelewengan dana, isu ketidakstabilan kepemimpinan, dan rekayasa kontrak palsu saling bertaut rapi seolah disiapkan khusus untuk menjatuhkan keluarga Alexander sampai tak sanggup bangkit lagi. Axel dibantu Leonardo dan tim penasihat hukum terpilih bekerja membongkar jejak demi jejak, memeriksa transaksi sampai ke rincian paling kecil, menghubungi saksi‑saksi yang semula tak berani bicara, hingga akhirnya benang kusut itu perlahan mulai terurai jelas.
Suatu sore di ruang kerja besar yang biasanya sunyi itu, Axel menutup berkas terakhir dengan napas panjang yang terasa lega sekaligus lelah luar biasa. Di atas meja terbentang bukti lengkap: nama‑nama pelaku, cara kerja, hingga perintah tertulis dari sisa anak buah Fabrizio yang bersembunyi di balik nama perusahaan samaran. Semua tuduhan terhadapnya terbukti fitnah belaka, seluruh kerugian yang direncanakan pun bisa dihindari dan diklaim balik secara hukum.
“Sudah selesai,” ucapnya pelan pada Leonardo yang berdiri di sudut ruangan, sama lelahnya namun matanya berbinar lega. “Besok pagi kita kumpulkan semua bukti di depan dewan direksi dan mitra utama. Semua fitnah akan runtuh seketika.”
Leonardo mengangguk mantap. “Siap, Tuan. Perusahaan aman kembali. Tapi…” Ia berhenti sejenak, ragu melanjutkan.
Axel tahu persis apa yang ingin dikatakan asistennya. Meski badai bisnis berlalu, kekosongan dan kepedihan di hatinya tak sedikit pun berkurang. Justru saat satu masalah selesai, yang satu lagi terasa makin berat menindih dadanya. Ayranza belum ditemukan, tak ada kabar sedikit pun, seolah bumi menelan mereka bertiga utuh.
Malam itu, setelah urusan beres sepenuhnya dan ia mendapat ucapan pengakuan sekaligus permintaan maaf halus dari Daddy Xavier, Axel pulang ke kediaman tanpa membawa rasa bahagia sedikit pun. Rumah besar itu makin terasa sunyi dan dingin. Tak ada suara tawa, tak ada sapaan hangat, tak ada wajah Ayranza yang dulu selalu menanti di beranda atau di balik pintu kamar. Sepanjang lorong, bayang‑bayang masa lalu berkelebat: kenangan manis saat awal pernikahan, obrolan panjang sampai larut malam, momen bahagia saat tahu ia mengandung, hingga detik‑detik pahit saat kebenaran terbongkar dan kepergiannya yang mendadak.
Semakin Axel merenung, semakin rasa frustrasi itu tumbuh menjadi keputusasaan. Ia sudah berjuang mati‑matian demi perusahaan, sudah menahan amarah ayahnya, sudah mencoba segala cara mencari jejak ke mana pun arah angin membawa kabar, tetapi semuanya berakhir hampa. Pikiran‑pikiran gelap mulai menyelinap. Apakah dia takkan pernah mau kembali? Apakah aku benar‑benar kehilangan segalanya? Apakah cinta dan penyesalanku tak ada artinya sama sekali?
Hari‑hari berikutnya berlalu dalam kabut kelam. Axel yang biasanya teguh dan berwibawa mulai tampak berubah. Ia jarang lagi duduk lama menunggu kabar di ruang kerja, sering menghilang tanpa memberi tahu ke mana arahnya. Leonardo dan Mommy Xena makin gelisah melihat perubahan itu, namun tak satu pun yang mampu mengubah suasana hatinya yang sedang jatuh ke titik terendah.
Sampai suatu malam yang pekat dan berangin dingin, Axel berpakaian rapi namun wajahnya kosong tanpa semangat. Diam‑diam ia melangkah keluar gerbang kediaman, tak membawa pengawal, tak memberi pesan sedikit pun. Ia menyetir sendiri menuju pusat kota yang mulai hidup dengan cahaya‑cahaya lampu terang, suara musik keras, dan keramaian yang bising. Sesuatu yang biasanya ia hindari sama sekali.
Ia berhenti di depan sebuah klub malam terkenal yang sering menjadi pusat pertemuan kalangan atas kota namun berkilauan dengan kegelapan tersembunyi di baliknya. Suara dentuman musik berat langsung terdengar sampai ke luar, bercampur gelak tawa, suara kaca beradu, dan aroma wangi bercampur asap rokok. Tanpa ragu Axel turun dari mobil dan berjalan masuk.
Di dalam, suasana penuh sesak dan pengap. Lampu‑lampu berwarna‑warni berkedip cepat, membuat pandangan makin kabur. Ia mencari sudut paling sepi, duduk di sana dan memesan minuman keras tanpa bicara banyak. Gelas demi gelas habis ditenggalkannya, berharap rasa panas dan pusing itu mampu menghapus sejenak rasa sakit di dada yang tak kunjung hilang. Pikiran yang semula berputar kacau perlahan mulai tumpul, kepedihan yang tajam berubah menjadi rasa berat dan dingin yang menyelimuti sekujur tubuh.
Di sudut gelap tempat ia duduk, tak ada yang mengenalnya, tak ada yang menegurnya. Ia hanya satu di antara sekian banyak orang yang datang melarikan diri dari dunia nyata lewat kesenangan sesaat. Namun di balik wajahnya yang tampak acuh tak acuh, hatinya masih berteriak hebat memanggil nama Ayranza berulang kali dalam hati. Ia sadar ini bukan jalan keluar, sadar ia hanya lari dari kenyataan, tapi malam itu rasa frustasinya terlalu besar untuk ditanggung sendirian dengan cara wajar.
Sementara itu, Leonardo yang akhirnya menyadari kepergian tuannya dan mengetahui ke mana arahnya, berdiri diam di ujung lorong klub yang remang itu. Ia tak berani langsung mendekat, mengerti betapa dalamnya luka yang dirasakan Axel. Namun di matanya yang setia itu, terselip kekhawatiran besar: kalau dibiarkan larut terlalu jauh dalam kegelapan malam seperti ini, Axel bisa tergelincir ke jalan yang makin sulit kembali, terutama saat Ayranza mungkin tak lama lagi akan ditemukan, saat penjelasan dan kesempatan kedua masih ada peluang datang.
Di kejauhan, di desa sunyi yang berjarak ratusan kilometer, Ayranza tiba‑tiba terbangun dari tidur nyenyak dengan dada terasa sesak dan dingin yang tak jelas asalnya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menatap jendela kayu yang tertiup angin malam, tanpa tahu bahwa orang yang dicintainya sedang berada di titik paling kelam hidupnya, mencari pelarian di tempat yang paling tak seharusnya ia datangi.