NovelToon NovelToon
Kau Rebut Suamiku, Aku Rebut Putramu

Kau Rebut Suamiku, Aku Rebut Putramu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: swetti

Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"

Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEGUNDAHAN VELIN

Bram menjeda ucapannya, ia tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Velin satu tahun lalu.

Flashback on

Di sebuah taman kota, nampak Bram sedang duduk di bangku taman sambil merenungi nasibnya. Ia baru saja kehilangan segalanya. Sang ayah meninggal dengan meninggalkan banyak hutang, seluruh kemewahan yang ia miliki selama ini dan sekolah impiannya di luar negeri juga harus ia tinggalkan. Ia baru saja kembali ke negeri ini untuk mengadu nasib yang lebih baik dari sebelumnya dengan bantuan Zayn.

" Hiks... Hiks.. Kenapa papa tega melakukan semua ini pada kami? Selama ini papa terlihat baik pada kami. Tapi ternyata selain papa selingkuh, papa juga meninggalkan banyak hutang untuk kami. Hiks.. Sekarang kami tidak punya apa apa lagi. Bahkan untuk tinggal di sini, kami harus mengandalkan om Zayn. Rasanya aku tidak mau hidup lagi. Tuhan, ambillah nyawaku ini." Isak Bram.

Puk..

Tiba tiba seseorang menepuk bahu Bram. Ia menoleh ke belakang dan..

Deg..

Dari balik maskernya, Bram dapat melihat wajah cantik nan mungil sedang tersenyum manis padanya. Entah darimana bidadari itu datang. Yang jelas kehadirannya mampu membuat hati Bram bergetar.

" Jangan bersedih kak! Apapun masalahnya, yakin lah banyak orang yang jauh tidak beruntung dari kita." Ucap Velin duduk di samping Bram.

Bram masih terus menatapnya.

" Aku tahu kalau laki laki boleh menangis. Tapi daripada meratapi nasib di sini, lebih baik kamu pikirin apa yang mau kamu lakukan ke depannya."

" A.. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sudah kehilangan semuanya." Sahut Bram tanpa membuka maskernya.

" Selama seseorang masih bernafas, yang hilang bisa kembali kak. Atau kalau tidak bisa, maka kita bisa menciptakan yang baru." Ujar Velin. " Kehilangan seseorang yang kita sayangi, maupun kehilangan harta, itu bukan akhir segalanya. Lebih baik kita menata diri menyusun masa depan yang lebih baik dari sekarang." Imbuhnya.

" Apa aku bisa?" Tanya Bram menatap Velin, begitu pun sebaliknya.

" Kenapa tidak? Selama kamu mau berusaha untuk bangkit, Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya." Sahut Velin.

" Jika hidupku sudah tertata nanti, dan jika aku sudah menjadi orang sukses, mau kah kau menjadi temanku? Teman yang selalu ada di sampingku?" Tanya Bram dengan maksud tersembunyi.

" Em... " Velin nampak sedang berpikir. Tiba tiba ia beranjak, " Kita tunggu saja nanti, biarkan waktu yang menjawabnya." Sahut Velin. " Semangat kakak ganteng, kamu pasti bisa. Jika kita berjodoh, pasti kita bertemu lagi. Bye bye."

Setelah mengatakan itu, Velin pergi begitu saja.

" Eh siapa namamu?" Teriak Bram menatap Velin yang semakin menjauh.

" Velin kak." Sahut Velin sambil melambaikan tangannya.

Flashback off

Bram kembali menyunggingkan senyumannya. Ia merasa bahagia bisa berbagi cerita dengan sahabatnya.

" Aku tidak akan pernah lupa dengan wajah dan senyumannya. Karena dia, aku punya semangat untuk menjalani hidup. Sampai detik ini, aku hidup hanya demi dia." Ucap Bram.

" Oh rupanya dia wanita yang elo cari cari selama ini. Ini yang dinamakan jodoh." Ujar Tyo. " Tapi kenapa waktu itu elo nggak minta nomer HPnya? Dengan begitu elo bisa langsung menghubunginya dan pdkt gitu. Nggak perlu melakukan pencarian selama satu tahun." Ucap Tyo. Ya, enam bulan sejak pertemuannya dengan Velin, hidup Bram mulai berjalan normal. Ia mulai mencari cari keberadaan Velin, namun karena terbatasnya akses yang dia miliki, sampai sebelum pertemuannya dengan Velin di spa waktu itu, Bram tidak bisa menemukan Velin.

" Aku tidak punya keberanian Yo, saat itu aku tidak punya apa apa. Bahkan ponsel saja aku tidak ada, aku hanya seorang gelandangan yang di pungut oleh om Zayn. Dia telah banyak membantu kami selama ini. Bahkan biaya kuliahku sekarang ini, dia juga yang membayarnya." Sahut Bram. Itu sebabnya Bram mulai membuka usaha cafe dan berinvestasi dimana mana. Uang jajan yang Zayn dan Siska berikan tidak ia gunakan untuk jajan melainkan ia gunakan untuk usaha. Ia punya keinginan untuk melamar Velin nanti setelah semua usahanya berhasil.

" Ya udah tidak apa apa. Besok kalau elo sukses, gantian elo berbakti padanya. Dia mau jadi bokap elo kan, jadi udah sewajarnya seorang bokap membiayai calon anaknya." Ujar Tyo menepuk pundak Bram.

" Hmm." Sahut Bram menganggukkan kepala.

Rupanya cinta Bram lebih dulu tumbuh sebelum Velin tabur benih benih cinta itu. Namun Velin sama sekali tidak tahu kalau laki laki yang dulu ia temui ternyata Bram.

Tap tap tap...

Keduanya menoleh ke arah pintu, senyum Bram mengembang begitu melihat sosok pujaan hati.

" Kamu ke sini?" Tanya Bram menatap Velin.

Dengan memakai gaun selutut berwarna mocca, membuat Velin terlihat sangat anggun. Apalagi di padukan dengan high hells lima centi membuat Velin terlihat begitu cantik di mata Bram.

" Tadi siapa yang suruh aku ke sini? Katanya ada yang terluka." Sahut Velin.

Bram tersipu malu.

" Kalau udah beres aku pergi nih." ujar Velin membalikkan badan.

" Eh jangan, ini lukanya belum di obati kok." Ucap Bram. Ia menatap Tyo lalu meminta Tyo pergi menggunakan gerakan matanya.

" Ah kalau begitu saya permisi dulu bu. Saya masih ada kelas." Pamit Tyo.

" Silahkan kak, belajar yang rajin ya." Ucap Velin.

" Siap bu dokter cantik." Tyo segera meninggalkan ruangan itu.

Velin membawa kotak p3k mendekati Bram.

" Bagian mana yang terluka kak?" Tanya Velin menatap Bram.

" Ini." Bram memajukan kakinya. Nampak lutut kiri Bram terluka dan masih mengeluarkan darah. Bahkan lebih banyak dari kemarin karena sepertinya lututnya tertusuk batu runcing.

" Kemarin yang kanan, sekarang yang kiri. Terus besok mau luka bagian mana lagi?" Kekeh Velin.

" Bagian mana pun aku rela asalkan jangan bagian hati. Aku tidak bisa hidup lagi jika hati ini kau sakiti."

Deg...

Tiba tiba Velin merasa bersalah karena mau memanfaatkan Bram.

" Kenapa? Apa kau berencana mau menyakitiku?" Tanya Bram.

" Tentu saja." Tiba tiba Velin menekan kapas di tangannya ke lutut Bram yang terluka.

" Arghhhhhh!!!!!! Sakit!" Teriak Bram kesakitan.

" Gimana? Sakit kan? Makanya lain kali jangan terluka lagi." Ucap Velin.

" Kamu peduli padaku?" Tanya Bram menatap Velin dengan perasaan senang.

Velin menunduk menatap Bram.

Deg.. Deg.. Deg..

Jantung keduanya berdetak sangat kencang begitu manik mata mereka bertemu.

" Kamu tidak rela aku terluka hmm?" Goda Bram menaik turunkan alisnya.

" Paan sih." Desis Velin mengoles obat ke luka Bram.

" Emmm bilang aja kalau kamu peduli sama aku." Ujar Bram.

" Bukan begitu, kalau kamu terluka begini kan jadi aku yang repot. Padahal aku ada urusan yang sangat penting." Sahut Velin.

" Maaf sudah merepotkanmu." Raut wajah Bram mulai berubah.

Velin menatap Bram, " Dia jadi sedih? Apa perasaannya padaku benar benar nyata?" Tanya Velin dalam hati.

Tiba tiba Bram menggenggam tangan Velin, ia menatap Velin dengan penuh cinta.

" Tidak apa jika kamu melukaiku, tapi setidaknya tolong jangan tinggalkan aku!"

Deg...

" Ya Tuhan apa ini? Kenapa melihat Bram seperti itu hatiku rasanya sakit. Dia terlihat seperti pria polos yang tidak berdosa. Apa aku harus melanjutkan rencanaku dengan memanfaatkannya atau aku harus gunakan cara lainnya? Kenapa aku jadi tidak tegaan gini sih."

TBC...

1
Siti Khalimah
brarti zain suka velin sejak umur 13 thor?
VANESHA ANDRIANI: makasih dah mampir kakak
total 2 replies
Mba Yun
dobel update thor
VANESHA ANDRIANI: satu satu aja ya.. author lagi g fit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!