Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Obsesi
Waktu bergulir cepat menelan masa lalu
Tapi tidak dengan cintaku
Tak peduli seberapa cepat waktu berputar
Tak peduli sejauh apa waktu tertinggal
Karna cintaku tak lekang oleh waktu
Setahun sudah sejak meninggalnya Caca, Alex kembali menjadi sosok yang dingin. Meskipun tak searogan dulu tapi kini Alex jarang tersenyum. Dia menjadi lebih pendiam.
Hatinya masih tertutup untuk wanita lain. Sudah banyak yang coba mendekatinya tapi mereka menyerah bahkan sebelum mengungkap perasaan mereka.
Bukan tidak mungkin Alex membuka kembali pintu hatinya, tapi memang belum ada yang mampu menggerakkan pintu hatinya.
Dian merupakan kandidat yang mampu bertahan hingga sekarang.
Dia sudah tertarik pada Alex sejak dulu, bahkan sebelum Caca hadir di kehidupan Alex. Tapi entah kenapa Dian tak mampu menggerakkan hati Alex. Mungkin itu bukan cinta tapi hanya sebuah obsesi seorang Dian. Ya obsesinya yang besar akan membuatnya merasa senang dan menang jika berhasil mendapatkan Alex.
Tak ayal Alex tak meliriknya sedikitpun bahkan dia seperti berusaha untuk menjauh dan tak ingin berurusan dengan wanita itu.
Karena Venus belum mendapatkan pengganti Caca sebagai vokalis, maka sementara waktu mereka hanya menerima job kolaborasi bersama Mars. Itupun hanya dengan satu vokalis saja.
Mereka sudah merencanakan untuk masuk dapur rekaman bersama, tapi setelah Venus menemukan vokalis yang baru. Sambil menanti hari itu tiba, mereka menciptakan beberapa lagu baru.
Hari itu Mars dan Venus berkumpul di warung Mak Inem. Dian yang melihat keberadaan Alex disana segera menghampirinya. Dengan gayanya yang centil dan pakaian yang kurang bahan, dia berjalan melenggak-lenggok menuju warung itu.
Didepan warung, tepatnya dibawah pohon waru, ada segerombol pemuda yang nongkrong disana. Mata mereka tertuju pada gadis seksi yang sedang berjalan layaknya model. Mereka bersiul-siul dan menggoda Dian dengan kata-kata manisnya.
Dian menoleh ke arah segerombol pemuda gatel itu dan tersenyum centil. Mereka bersorak heboh melihat senyum centil Dian. Heboh sekali, seperti sorakan suporter lomba panjat pinang.
Chika menatap Yogi dan mengangkat satu sisi alisnya lalu melirik ke arah Dian. Yogi menoleh ke arah Dian lalu menyikut Mhocan yang ada disebelahnya. Mhocan yang sedang menyeruput es kopinya tersedak karna sikutan Yogi yang cukup keras. Lalu Mhocan menoleh ke arah Dian dengan menahan tawanya. Sementara itu Alex masih sibuk dengan ponselnya.
“Hai Lex...” sapanya nyaring.
Tak ada jawaban apapun dari Alex, dia hanya menoleh sejenak lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Mars dan Venus berusaha keras menahan nafsunya untuk tertawa. Dian mengerucutkan bibirnya dan membuang nafas dengan kesal.
“Ihhh... kok diem sih Lex, kita nonton yuk!" ajak Dian menggelendoti lengan Alex.
“Lepasin nggak, bikin risih aja!” geram Alex sambil mengibaskan lengannya.
Alex beranjak dari duduknya dan pamit pada teman-temannya tanpa mempedulikan Dian. Dia berjalan menuju motornya dan segera melajukannya dengan cepat. Dian mengomel kesal diacuhkan untuk kesekian kalinya.
“Dasar batu es!” gerutunya kesal sambil beranjak dari duduknya.
“Eh cantik... pake jaket sono. Tuh bekas kerokan di pundak keliatan.” Seloroh Dicky tertawa keras.
“Ah sial! Kenapa bisa sampe lupa kalau kemarin habis kerokan,” umpat Dian sambil berlari keluar menahan malu.
Mars dan Venus tak henti-hentinya tertawa melihat ekspresi Dian. Dengan cepat Dian mengambil jaket yang tergeletak diatas kepala motor maticnya dan segera memakainya sebelum segerombol pemuda dibawah pohon itu menyadari bekas kerokannya.
“Kamu itu berdosa banget Dicky...” celoteh Pia menahan tawa.
“Eitss malah baik banget lho Dicky, coba kalo dia nggak kasih tau sekarang, entar Dian malah tambah malu kalo ketahuan cowok-cowok gatel didepan sana.” Chika menimpali dengan senyum yang tertahan disudut bibirnya.
Hahahahahaha
Mereka tertawa sambil memegangi perut mereka.
Setelah beberapa hari, Mars dan Venus berkumpul dirumah Alex. Mhocan ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya. Dia, Venus dan mamah Alex membuat banyak makanan. Sementara itu Alex, Dicky dan Viko menghias ruang tv dengan beberapa balon dan hiasan lainnya.
Hari ini ulang tahun Yogi, mereka pura-pura tak menghiraukan hal itu meskipun Yogi sudah mengundang mereka untuk pestanya nanti malam. Yogi merasa sedikit kecewa dengan sikap teman-temannya.
Setelah semua sudah siap, Alex menelfon Yogi untuk segera ke rumahnya karna ada sesuatu yang penting untuk di bahas. Yogi mengiyakan dengan malas karna dia masih kesal dengan teman-temannya.
Sesampainya dirumah Alex, Yogi terkejut karna ternyata ada kejutan untuknya. Dia terharu karena ternyata tak ada satupun dari mereka yang melupakan ulang tahunnya. Mhocan memeluk dan mencium kekasihnya dengan bahagia. Lalu mereka semua bergantian memberi selamat untuk Yogi.
Mamah Alex memeluk dan mendoakan kebaikan untuk Yogi. Walaupun hanya kejutan sederhana tapi ada ketulusan dan kasih sayang di dalamnya. Yogi sangat senang dan terharu dengan kejutan itu.
Malam harinya Yogi berdandan rapi dengan jas dan rambutnya yang tersisir rapi. Di sisinya terlihat Mhocan mengenakakan gaun cantik berwarna senada dengan jas Yogi. Begitu juga dengan Mars dan Venus yang terlihat menawan dengan pakain pestanya.
Yogi mengundang teman-teman sekantor, termasuk Dian. Gadis itu mengenakan gaun terbuka yang memancing mata genit pria memandang lekuk tubuh dan kulit mulusnya. Tapi kali ini tidak ada bekas kerokan lagi di pundaknya.
Dalam kesempatan itu, Yogi secara mengejutkan berlutut dihadapan Mhocan dengan sepasang cincin yang bersinar indah di dalam kotak. Mhocan tak bisa berkata-kata, dia terkejut, bahagia dan terharu.
“Sayang maukah kau mengikat cinta kita dalam sebuah pertunangan?” ucap Yogi tersenyum penuh harap.
“Ya, aku mau bertunangan denganmu.” Jawab Mhocan tersenyum haru.
Lalu keduanya saling memakaikan cincin kemudian berpelukan. Dan semua yang ada disana bersorak bahagia. Setelah itu semua tamu undangan bebas untuk makan, minum dan berjoged bersama.
Dian mendekati Alex yang sedang berbincang dengan seseorang. Wanita itu merencanakan sesuatu untuk mendapatkan Alex. Dia sengaja menyiapkan minuman dengan kadar alkohol tinggi untuk membuatnya mabuk.
Dian menyapa Alex dengan senyum manisnya. Kali ini Alex berusaha tersenyum agar tidak terjadi keributan di pesta sahabatnya. Dian sangat senang dengan respon Alex. Dia berpikir Alex sudah takluk karena penampilannya malam itu.
Saat akan memberikan minuman itu pada Alex tiba-tiba Viko datang dan mengambil minuman itu. Tanpa basa-basi Viko menenggak setengah gelas dari minuman itu. Dian sangat kesal karena rencana yang nyaris berhasil itu harus gagal begitu saja karna Viko.
Tak butuh waktu lama, minuman itu membuat Viko mabuk meskipun dia hanya menenggaknya sedikit. Alex memapah sahabatnya yang mulai mabuk itu lalu mencium minuman pemberian dari Dian. Aroma alkoholnya sangat kuat, Alex melirik tajam ke arah Dian karna menyadari rencana Dian sebenarnya.
Dian terpaku dan salah tingkah melihat lirikan Alex yang mematikan itu. Perlahan gadis itu melangkah mundur lalu dengan cepat dia berbalik dan berlari meninggalkan pesta.
Alex membawa Viko ke ruang ganti agar tidak mengganggu pesta Yogi. Sampai acara selesai pun Viko masih mabuk dan tertidur. Alex menceritakan kronologisnya pada Mars dan Venus.
“Sumpah, parah banget tu cewek!” Seloroh Yogi.
“Bener tu, gede banget obsesinya buat dapetin Alex,” imbuh Pia.
“Kekonyolan Viko kali ini nyelametin kamu Lex, kalau nggak ada Viko mungkin kamu udah di apa-apain sama ratu obsesi itu,” ucap Dicky menimpali.
“Bener-bener sakit tuh cewek!” umpat Alex kesal.
Mereka membawa Viko kerumah Yogi. Malam itu Mars bermalam disana. Sepanjang malam mereka membicarakan ratu obsesi. Mereka tak menyangka Dian berani berbuat sejauh itu hanya untuk mendapatkan Alex.
Yogi meminta Alex lebih waspada lagi, karna Dian pasti bisa berbuat lebih nekat lagi. Dicky usul agar Alex tidak terlalu cuex ke ratu obsesi. Alex akan mengusahakan hal itu karna dia nggak mau Dian melakukan hal yang lebih nekat.
Hari berikutnya seperti biasa Mars nongkrong di warung Mak Inem. Dengan ragu-ragu Dian menghampiri mereka.
‘’Lex, sorry soal semalem,” ucapnya lirih.
“Ucapkan maafmu untuk Viko, bukan untukku!” jawab Alex sengit.
“Viko sorry ya,” ucap dian lirih.
“Oke, tapi nggak seharusnya kamu kaya gitu Yan, kejar cintamu bukan obsesimu!” Viko berlagak tegas.
“Yaudah kali ini kita maafin,” jawab Alex santai.
Dian girang melihat reaksi Alex yang tak seketus biasanya. Dia mulai terus bicara meskipun Alex hanya sesekali menanggapi. Tapi begitu saja sudah cukup mengobarkan semangat obsesinya. Itu adalah hal yang langka bagi Dian. Dia menganggap ini sebagai kemajuan besar dalam usahanya mendapatkan Alex.
Sejak hari itu Dian sering nimbrung saat Mars dan Venus berkumpul. Sebenarnya Mars dan Venus merasa risih dengan sikap Dian yang sok kenal sok dekat itu. Apalagi Alex, dia sangat muak dengan ocehan ratu obsesi yang selalu mengikutinya.
Sore harinya Alex mengunjungi makam Caca. Dia menaburkan bunga dan mengirimkan doa. Lalu Alex mengadu kesal menceritakan ratu obsesi yang membuatnya muak. Dia mengadu seperti anak kecil yang mengadukan kenakalan temannya kepada ibunya. Bedanya kini dia mengadu kepada batu nisan mendiang kekasihnya. Mungkin di surga Caca tertawa mendengar aduan kekasihnya yang merengek seperti bocah.
“Sayang... maaf ya bukannya aku nggak mau nurutin keinginanmu. Bukannya aku nggak mau buka pintu hatiku untuk cinta yang lain. Tapi emang belum ada yang bisa gerakin hatiku. Aku janji deh, kalau udah ada nanti aku ajak kesini. Biar kamu tenang disana, biar kamu puas. Oh ya dapet salam rindu dari mamah, ibu dan adik-adik panti. Tentunya salam rindu juga dariku penggemar beratmu hehehe. Yaudah kamu baik-baik ya disana, aku pulang dulu.” Pungkas Alex.
Seiring berjalannya waktu Alex mulai terbiasa tanp Caca disisinya. Dua minggu sekali dia mengunjungi makam Caca untuk mengirim doa dan sekadar bercerita seperti yang dia lakukan tadi. Itu cukup mengobati rindunya dan melapangkan hatinya.
Setitik rindu menyesakkan hatiku.
Perih, sedih dan ingin bertemu.
Tapi apa dayaku...
Bahkan bintangpun menertawakanku.
Sinar rembulan mencoba merayuku.
Membujukku tuk melepas rinduku.
Bukankah kau mencintainya.
Bukankah kau mengharapnya bahagia.
Bukankah bahagiamu adalah bahagianya.
Lalu kenapa masih berdiam saja.
Langit malam membisikkannya.
Temukan cintamu yang baru.
Kembangkan senyum dibibirmu.
Bahagiakan dia bersamamu.
Maka cinta sejatimu kan tersenyum padamu.
Kini angin malampun menghardikku.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget