NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 Lebih Terbuka

Alfian ternyata harus berhenti makan dan memperhatikan bagaimana Celia yang semangat tadi berbicara tentang kehidupan dan impian yang begitu banyak.

"Woy malah bengong, masuk lalat makanan," tegur Celia membuat Alfian sadar dari lamunannya dan kemudian menikmati makanan itu.

"Hmmmm, oh iya Alfian ngomong-ngomong ujian bulanan, lo kok bisa peringkat pertama dan gue denger anak-anak mengatakan lo tetap juaranya dan tidak pernah berubah? memang lo juara di kelas?" tanya Celia pada akhirnya penasaran membuat Alfian menatapnya serius dengan satu alisnya terangkat.

"Katanya tidak tertarik ingin mengetahui tentang gue, ujung-ujungnya nanya juga," sahut Alfian.

Celia menaikkan ujung bibirnya tampak begitu kesal melihat senyum di wajah Alfian.

"Nggak usah kepedean, gue cuma nanya aja dan bukan berarti gue pengen tahu," sahut Celia.

"Ohhhh," Alfian dengan santai menjawab dan melanjutkan makannya.

"Lalu kenapa tidak menjawab pertanyaan gue?" tanya Celia dengan mengerutkan dahi

"Tapi katanya cuma tanya aja, ya sudah nggak mau jawab," sahut Alfian.

"Isss, lo benar-benar nyebelin banget ya," Celia bener-bener begitu kamu dan rasanya ingin menerkam Alfian.

"Jadi sekarang benar-benar ingin tahu apa tidak?" tanya Alfian tampak mempermainkan Celia.

"Jawab aja, lo juara di kelas atau tidak?" tanya Celia memastikan.

"Ya, memang gue juaranya, kenapa nggak yakin? dan kaget?" tanya Alfian.

Celia tidak menjawab dan secara tidak langsung bahwa saingannya sebenarnya adalah Alfian.

"Makanya Celia jangan menilai seseorang dari luarnya saja, gue yakin di mata lo, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan lo, mungkin berpikir bahwa gue tidak bisa berprestasi di sekolah," sahut Alfian.

"Jadi anak-anak SMA Bintang itu berprestasi semua?" tanya Celia.

"Gue kira lo orang yang update dan ternyata gaptek juga,"sahabat Alfian membuat Celia kebingungan.

"Maksudnya?" tanya Celia.

"Celia, kalau lo memang sering ikut olimpiade sebagai perwakilan sekolah dan otomatis lo sering melihat bahwa anak-anak SMA Bintang tidak pernah absen untuk mengikuti semua kegiatan di luar sekolah, tingkat kabupaten provinsi dan bahkan tingkat luar negeri, dan seharusnya lo update dan menyadari bahwa murid-murid dari SMA bintang selalu mengharumkan negara dengan murid-murid yang berprestasi," jelas Alfian.

Celia terdiam, pada akhirnya dia menyadari bahwa sekolahnya menumbuhkan anak sekolah anak orang kaya yang mengandalkan duit orang tuanya, tetapi mereka yang bersekolah juga sadar diri dan menggunakan uang orang tua mereka dengan sebaik-baik dan memanfaatkan fasilitas dengan pendidikan yang saling bersaing satu sama lain.

"Kenapa? sekarang menyesal pindah ke SMA Bintang?" tanya Alfian memastikan.

"Tidak! kenapa juga harus menyesal. Gue itu murid baru dan bahkan belum mengikuti secara sempurna pelajaran yang ternyata berbeda dengan SMA sebelumnya, belum bisa mengondisikan apa-apa bukankah wajar jika masih harus tertinggal, tetapi bukan berarti gue nggak bisa menjadi nomor satu dan bahkan lo bahkan kalah," sahut Celia dengan percaya diri.

"Ya kita lihat saja," sahut Alfian dengan mengangguk-anggukkan kepala.

"Habis juga satenya," Alfian tidak menyadari bahwa sate yang sejak tadi masuk ke dalam mulutnya sudah habis dari piringnya dan begitu juga dengan Celia.

"Benar bukan apa yang gue bilang, satenya enak," ucap Celia menyombongkan diri membuat Alfian mengangguk-anggukan kepala.

"Mang berapa?" tanya Celia pada penjual sate tersebut yang membuat penjual itu langsung menghampiri mereka.

"20.000 Neng," jawabnya.

Saat Celia ingin merogoh tasnya, Alfian ternyata sudah mengeluarkan uang Rp50.000-an dan memberikan kepada penjual tersebut.

"Ambil aja kembaliannya," ucap Alfian sembari berdiri dari tempat duduknya.

"Makasih," sahut penjual tersebut yang kemudian meninggalkan mereka berdua.

"Kok lo yang bayar sih," sahut Celia terlalu lama mencari uang sampai tidak sempat membayar.

"Gue cowok, harga diri cowok hilang jika cewek yang harus bayarin makan," jawab Alfian tampak santai.

"Awas aja, nanti ujung-ujungnya lo bakalan ngungkit," sahut Celia.

"Bisa tidak Celia jangan pernah menilai seseorang itu dengan sesuka hati," sahut Alfian geleng-geleng kepala.

****

Alfian dan Celia akhirnya pulang ke rumah dengan motor itu yang berhenti di depan Celia dan bertepatan dengan Ratih keluar dari rumah melihat bagaimana dua remaja itu tampak turun dari motor.

"Waduh -waduh, kalian kok bisa pulang bersama?" tanya Ratih.

"Asalamualaikum Bunda!" Alfian tampak sopan dengan mencium punggung tangan Ratih.

"Walaikum salam," sahut Ratih.

"Alfian kamu kok bisa pulang bersama Celia?" tanya Ratih.

"Tadi Celia hampir saja menabrak saya, kemudian meminta saya untuk membawa motornya," jawab Alfian begitu sampai.

"Sembarangan," sahut Celia

"Yang adanya, elu yang tiba-tiba nongol di tengah jalan, enak aja jangan nyalahin," Celia tidak terima mendapat tuduhan.

"Sudah-sudah, apapun itu Bunda berterima kasih sama kamu, ini sudah malam, Celia kadang-kadang tidak mengingat waktu dan tidak takut di jalanan, Bunda saja sejak tadi khawatir, tetapi untung aja ada kamu yang nganter Celia pulang," ucap Ratih justru merasa bersyukur yang membuat Celia semakin kesal.

"Bunda tidak perlu mengucapkan terima kasih," sahut Alfian benar-benar manis berbicara membuat Celia rasanya ingin muntah.

"Lalu kamu pulangnya bagaimana?" tanya Ratih .

"Santai aja Bunda. Nanti saya akan telepon sopir untuk menjemput," jawab Alfian.

"Begitu, iya sudah sekarang hidupnya kita masuk saja selagi menunggu supir kamu, Celia kamu juga buruan mandi," ucap Ratih

"Iya Bunda," jawab Celia.

"Kalian berdua sudah makan belum?" tanya Ratih sembari mereka bertiga berjalan memasuki rumah.

"Sudah, tadi makan sate," jawab Celia.

"Kamu ini kebiasaan selalu tidak makan nasi dan selalu makan jajanan," Ratih mengoceh kepada putrinya dan justru membuat Alfian tersenyum melihat bagaimana Celia yang dimarahi oleh Ratih yang mungkin memang memiliki kebiasaan makan sembarangan.

****

Plakkkk

Wajah cantik Valery miring ke samping dengan tertutup rambutnya saat mendapat tamparan seorang wanita sekitar berusia 40 tahunan tampak tegas dengan wajah memerah dan terlihat kemerahan yang begitu besar.

"Jadi bahkan untuk juara umum saja kamu turun peringkat menjadi 4?" wanita itu tampak dipenuhi dengan amarah.

Valery berusaha untuk tenang dengan mengendalikan diri dan wajahnya kembali lurus menatap wanita yang saat ini benar-benar marah padanya.

"Valery sudah berusaha. Ma, sekolah setiap 2 bulan sekali selalu mengadakan ulangan, Valery sudah tetap mempertahankan peringkat menjadi peringkat 2, tetapi Valery mungkin sedikit mengalami kesalahan sehingga turun peringkat empat pada juara umum," ucap Valery berusaha untuk membela diri.

"Kamu bilang mungkin melakukan kesalahan? Valery Mama sudah bisa menerima kamu selama sekolah di SMA Bintang dengan prestasi kamu yang tetap nomor 2, karena mungkin Bagastama tidak bisa didahului, tetapi seharusnya kamu tetap mempertahankan peringkat itu baik peringkat di kelas dan maupun peringkat umum, bukan menurun seperti ini dan sangat memalukan!" tegas Juli.

Sekeras apapun Valery untuk membela dirinya agar ibunya mengerti dan tetap saja dialah yang disalahkan.

"Mama tidak mau tahu, ulangan berikutnya kamu harus bisa menjadi peringkat yang lebih tinggi lagi, dan jika perlu kamu harus mendahului Bagastama, sekarang kamu masuk ke kamar dan belajar sampai besok pagi. Untuk seminggu ke depan kamu tidak boleh main ketika pulang sekolah, setelah selesai les dan langsung pulang ke rumah!" tegas Juli dengan penuh penekanan yang membuat Valery tidak mampu untuk protes.

Bersambung......

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!