BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juna Patah Hati
Pak Mirwan sudah diizini dokter pulang hari ini. Setelah Bu Sofie menyelesaikan biaya administrasi, ia langsung membawa Pak Mirwan ke luar dari rumah sakit menggunakan kursi roda. Bu Sofie dibantu oleh satu orang asisten rumah tangga, dan sopir pribadinya.
"Tunggu dulu sebentar di sini Bu, biar saya ambil mobil di parkiran," kata Pak Bobi, yang merupakan supir keluarga mereka, dia mengatakan itu setelah mereka tiba di depan pintu ke luar rumah sakit.
"Iya, Pak," jawab Bu Sofie kepada Pak Bobi yang memang lebih tua darinya. Lantas pak Bobi berlari kecil menuju di mana mobil terparkir.
Handphone Bu Sofie berdering. Ia mengambil handphone dari tasnya. Ada nama dan foto Lian di layar hpnya. Bu Sofie menerima panggilan itu.
"Haloo.." jawab Bu Sofie lembut.
"Hallo, Ma. Gimana Papa?" tanya Lian dari seberang.
"Papa baik baik saja kok, ni kita lagi mau jalan pulang," jawab Bu Sofie.
"Maaf ya Ma, aku gak bisa jemput Papa di rumah sakit, aku harus buru buru pagi ini ke kantor, ada file yang harus aku selesaikan."
"Oh, ga pa'pa kok! Mama juga kan enggak sendiri, ada Pak Bobi dan Bi Mirnah di sini yang bantuin, kamu santai aja, kerjakan saja tugasmu dengan fokus!" papar Bu Sofie memaklumi anaknya yang saat ini sedang sibuk.
"Baiklah kalau begitu, Ma. Aku tutup dulu telponnya, sampaikan salam sayangku pada Papa, ya," ucap Lian lega.
"Lho, kok Papa aja sih? Untuk Mama enggak nih??"
Bu Sofie tersenyum misterius kepada suaminya yang juga sedang senyum senyum mendengar percakapan ibu dan anak itu.
"Heehee.. untuk Mamaku juga dong..!! Sun sayang dari anak semata wayangmu ini, ummmmmaaahhhh..."
Bu Sofie tertawa geli mendengar ucapan anaknya itu.
"Haahaa, udah dulu ya, Nak. Pak Bobi udah di depan nih!"
"Oke, Ma. Hati hati ya," pesan Lian, kemudian menutup panggilanya.
Sementara itu, Pak Mirwan dibantu Pak Bobi dan istrinya masuk ke dalam mobil. Bi Mirnah tampak sibuk memasukkan barang barang yg dibawa dari rumah selama Pak Mirwan di rumah sakit.
***
"Yumna, kamu gak kuliah hari ini, Nak?? tanya Bu Afni saat melihat Yumna turun dari kamarnya yang hanya menggunakan dress berwarna putih.
"Enggak, Bu. Kebetulan pengen libur, ujian juga sudah selesai, Yumna pengen istirahat," jawab Yumna yang sudah berdiri sejajar dengan ibunya.
"Oh, ya udah, Ibu hanya sekedar bertanya. Apa kamu mau main ke rumah Juna hari ini??" tanya Bu Afni sambil membelai rambut anaknya yang diikat separuh.
"Iya, Bu. Yumna udah lama gak main ke rumahnya, mungkin itu yang bikin dia jengkel tadi malam," balas Yumna sedikit menyesal.
"Oh, ya sudah, pergilah. Tadi ibu lihat dia ada di pondok depan rumahnya. Dia sedang sendiri di sana," ujar Bu Afni sambil beranjak menuju dapurnya.
"Baik, Bu!" ucap Yumna, kemudian dia pergi menemui Juna di sebuah pondok kecil tempat di mana mereka sering bertemu.
***
Disiang yang cerah ini, Juna duduk santai di pondok sambil memandangi deburan ombak laut dan menikmati buaian angin pantai. Wajahnya terlihat tenang, ia memicingkan matanya karena silau terkena pantulan sinar matahari. Lamunannya buyar ketika melihat Yumna sudah duduk di sampingnya dan tersenyum manis.
"Yumna?" tegur Juna yang merasa sedikit kaget.
"Hem," sahut Yumna.
"Bikin kaget aja!"
"Kok kaget? Emang kamu lagi ngelamun ya? Lagi mikirin apa sih?" tanya Yumna memulai percakapan.
"Enggak kok! Aku hanya lagi menikmati angin pantai. Kamu gak kemana mana hari ini?" tanya Juna balik.
Yumna menggeleng.
"Emang mau kemana, biasanya juga di rumah kalau lagi gak kuliah. Paling keluar kalau diajak Raras dan yang lainnya," jawab Yumna.
Juna hanya tersenyum getir mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yumna.
"Apa kamu gak diajak Lian ke luar hari ini? Apa dia gak tau kalau hari ini kamu libur??" Juna bertanya dengan hati hati.
"Enggak! Dia enggak tau kalau aku libur kuliah hari ini. Lagian aku gak ingin kemana mana sekarang. Aku sudah lama gak duduk santai seperti ini. Menikmati semilir angin pantai dan merasakan deburan ombak laut," ucap Yumna sambil memejamkan matanya dan menghirup dalam dalam angin pantai yang menyapa wajahnya.
Juna tersenyum manis, tangannya bergerak ke atas kepala Yumna. Dia membelai rambut wanita itu.
"Kamu manis banget deh hari ini!"
"Ahh, masa sih? Kamu bisa aja kalau muji!"
"Heehee,, aku memang dah lama gak muji kamu kan?" goda Juna.
"Aku juga gak haus akan pujian kok, Juna," balas Yumna lagi.
Mereka pun tertawa.
"Yumna, apakah orang yang pernah kamu ceritakan kepadaku dulu, dia adalah Lian??" tanya Juna serius. Dia menatap penuh wajah Yumna.
Yumna diam sebentar. Lalu dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Iya!" Yumna mengangguk. "Dia orangnya!! Dia orang yang selama ini aku rindukan!!" Yumna menjawab dengan lepas.
Juna menunduk pasrah. Ada perasaan cemburu yang menghantam hatinya. Namun sebisa mungkin dia tutupi agar Yumna tidak menyadari perasaannya.
"Selama lima tahun kami bermain bersama, suka ataupun duka kami jalani. Walau kami hanyalah seorang anak kecil, tapi kami tetap saling menghargai. Kami tau perasaan kami saat itu. Meskipun usia kami masih kanak kanak, tapi ntah kenapa kami merasakan adanya kecocokan. Aku juga gak ngerti kenapa perasaan itu hadir, tapi yang jelas aku dan Lian sangat dekat waktu itu. Hingga perpisahan itu terjadi, itulah saat dimana aku merasakan kehilangan seorang teman yang sudah benar benar menyatu dalam diriku. Sesaat sebelum kami berpisah, Lian sempat berkata bahwa aku harus menunggunya hingga dia kembali. Dan disaat itulah aku merasakan bahwa dia benar benar menyayangiku. Entah itu sebagai seorang adik atau kakak, ataupun saling menyayangi karena cinta!! Yang jelas aku merasakan kerinduan yang teramat dalam saat kami berpisah selama lima belas tahun," ucap Yumna mengenang pengalaman terpahitnya.
Juna mencoba tegar. Dia berusaha kuat dengan perasaannya.
"Hemm, Yumna! Apakah kalian sudah resmi berpacaran?" tanya Juna hati hati. Ada perasaan takut di hatinya ketika Yumna berkata iya. Jika itu terjadi, maka hancurlah hatinya.
Yumna tersenyum kecil. Untuk beberapa saat dia diam bergeming. Kemudian, dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan yang sebenarnya kepada Juna.
"Mungkin sudah!! kareena kemarin dia berterus terang kepadaku tentang perasaannya," jawab Yumna.
"Maksudnya? Kalian sudah?"
"Iya!!" Yumna memotong perkataan Juna. "Dia nembak aku, dan aku menerimanya!! Kami sudah jadian sekarang."
Yumna berkata yang sesungguhnya.
Juna mencoba menahan dadanya yang terasa seperti terhimpit. Dia sungguh merasakan patah hati saat ini. Perasaan yang memang sudah lama tidak ia rasakan. Terakhir kali dia merasakan patah hati saat dia menjalani cinta monyet dengan teman sebayanya, saat usia anak anak. Dan kini ia harus merasakannya kembali.
"Oh, iya. Aku lupa, aku harus bantu Ibu sekarang. Maaf ya Juna, aku gak bisa lama lama di sini bareng kamu!!" ucap Yumna sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Oke," jawab Juna dengan senyum getirnya.
"Dah," pamit Yumna sambil melambaikan tangannya.
"Dah.." Juna membalas lambaian tangan Yumna.
Yumna melangkah pergi dari sisi Juna. Juna terus menilik Yumna yang sedang berjalan menuju rumahnya dengan mata berkaca kaca. Dia kemudian bangkit dan memandang lurus ke depan. Dia mengambil ranting kayu yang ada di dekatnya, kemudian melemparnya ke laut yang sedang bergulung ria.
"Akkkkkkhhhhhhhhhhh.......!!! " teriaknya kesal.
Juna terduduk di pasir dan sepertinya dia menangis.
****
( Bersambung...😊😊 )
Jangan lupa like + vote + follow and comment ya man teman😚
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa