NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Aliansi Gelap

Apartemen Kevin Tanuwijaya berada di lantai tinggi sebuah menara privat di Kuningan. Lift hanya bisa naik dengan kartu akses, koridornya sunyi, dan pintunya tebal seperti sengaja dirancang agar percakapan buruk terdengar mahal.

Lim Wei Chen datang tanpa sopir resmi Lintang. Ia memakai sedan gelap biasa, turun di basement dua, lalu naik dari lift servis. Gerakannya rapi. Namun, Kevin tetap melihat kegugupan kecil di ujung jarinya ketika ia melepas jam tangan dan duduk di ruang tamu.

Kevin menuangkan wiski ke dua gelas kristal.

"Saya tidak menyangka Ko Chen akan menelepon saya duluan," kata Kevin.

Weichen tidak mengambil gelas itu. "Saya juga tidak menyangka Surya Prasetyo bisa membuat adik saya melawan keluarga."

Kevin tertawa kecil. "Surya punya bakat itu. Membuat perempuan pintar merasa sedang menyelamatkan orang baik."

"Saya tidak datang untuk gosip."

"Tentu." Kevin mendorong satu gelas ke depan Weichen. "Kita langsung saja. Anda ingin dia menjauh dari Meilu. Saya ingin dia berhenti mengganggu urusan keluarga saya."

Weichen menatap cairan kuning di gelas. "Apa yang Anda minta?"

"Akses."

"Ke apa?"

"Lintang Pictures." Kevin duduk santai. Namun, matanya tidak santai. "Investasi konten, co-production, akses ke jaringan sponsor, dan ruang masuk untuk Perkasa International. Tidak harus besar di awal. Cukup satu proyek yang membuat nama kami berada di meja yang sama."

Weichen tersenyum dingin. "Anda ingin memakai adik saya sebagai jalan masuk."

"Bukan adik Anda. Musuh Anda."

Ruang itu diam beberapa detik.

Kevin mengangkat gelasnya.

"Kita punya musuh yang sama, Ko Chen. Mari kita bekerja sama."

Akhirnya Weichen mengambil gelas itu. Namun, tidak langsung minum. "Kalau Anda menyentuh Meilu secara langsung, saya akan menghancurkan Anda lebih dulu daripada Surya."

"Saya tidak perlu menyentuhnya." Kevin tersenyum. "Saya hanya perlu membuat Surya terlihat tidak layak di mata keluarga Anda."

"Dia memang belum layak."

"Bagus. Berarti kita sepakat pada kesimpulan, tinggal memilih metode."

Di seberang jalan, dari mobil parkir yang kacanya dipasang film cukup gelap, Lili menurunkan kamera kecil dari matanya. Ia tidak memotret lewat jendela apartemen. Itu terlalu jauh dan terlalu berisiko. Ia hanya memotret lobi, lift privat, mobil, jam masuk, jam keluar, dan wajah Weichen saat ia berjalan bersama staf gedung menuju area tamu Kevin.

Wulan selalu mengulang satu aturan kepada timnya. Foto bagus bukan foto paling dekat. Foto bagus adalah foto yang masih bisa dipakai ketika pengacara musuh bertanya bagaimana foto itu diperoleh.

Pukul sembilan lewat empat belas menit malam, laporan masuk ke ponsel Surya.

Surya sedang di ruang kerja apartemen Tebet, membaca draf restrukturisasi klien Sentana. Ia membuka pesan dari Wulan, melihat tiga foto pertama, lalu tubuhnya berhenti seperti mesin yang tiba-tiba menemukan suara asing.

Foto pertama, Weichen turun dari sedan gelap di basement menara Kevin.

Foto kedua, Kevin menjemputnya di area akses penghuni.

Foto ketiga, dua pria itu berdiri berdampingan di depan lift privat, tanpa staf lain, tanpa acara resmi, tanpa alasan bisnis yang wajar.

Wulan menambahkan catatan singkat.

Pertemuan tidak terjadwal. Tidak ada agenda publik. Estimasi durasi tujuh puluh dua menit. Lili masih memantau dari area legal.

Surya meletakkan ponsel di meja.

Dadanya panas. Bukan karena Weichen tidak menyukainya. Itu sudah jelas sejak makan malam keluarga Lim. Yang membuatnya dingin adalah pilihan Weichen untuk memanggil Kevin, laki-laki yang selama ini berdiri di belakang kehancuran Nadia, Mega Awan, dan begitu banyak luka yang hampir membunuh hidup Surya.

Surya menutup mata sejenak.

Marah boleh datang duluan. Tetapi keputusan tidak boleh lahir dari marah.

Ia mengambil ponselnya lagi dan menelepon Irene.

"Saya butuh bertemu," katanya begitu panggilan tersambung.

"Sekarang?" suara Irene tenang.

"Sekarang."

"Klub pribadi saya. Dua puluh menit."

Klub pribadi Irene berada di bangunan kolonial tua yang sudah diubah menjadi ruang pertemuan anggota. Tidak ada papan nama besar. Hanya pintu kayu, lampu kuning, dan petugas yang tahu siapa yang boleh masuk tanpa bertanya.

Surya tiba dengan wajah yang sudah kembali terkendali. Irene duduk di ruang kecil menghadap taman dalam, memakai blazer putih tulang, meja di depannya hanya berisi teh hangat dan satu tablet.

"Kalau kamu datang dengan wajah seperti itu," kata Irene, "berarti Kevin melakukan sesuatu yang cukup bodoh atau cukup berbahaya."

Surya mengirim foto-foto Wulan ke tablet Irene.

Irene melihatnya satu per satu. Tidak ada perubahan besar di wajahnya, hanya alis yang naik sangat tipis ketika foto Kevin dan Weichen muncul bersamaan.

"Kevin dan Weichen?" Irene meletakkan tablet. "Aliansi yang rapuh. Biar aku yang urus."

"Saya tidak ingin Meilu terseret."

"Justru karena itu, jangan kamu yang bergerak." Irene menyandarkan tubuh. "Kalau kamu menyerang Weichen, keluarga Lim akan melihatnya sebagai pria luar yang melawan kakak perempuan yang kamu cintai. Kalau kamu menyerang Kevin, Budiman akan memakai posisi ayah untuk menutup pintu. Kita pecahkan dari dalam dua rumah itu."

Surya menatapnya. "Bagaimana?"

"Kevin takut pada Budiman. Weichen masih tunduk pada ibunya. Dua pria yang kelihatan merdeka. Namun, masih punya tombol keluarga."

Irene mengambil ponsel lain dari tas kecilnya. Ponsel itu polos, tanpa casing mahal. Ia mengetik pesan pendek.

"Yuni Hastuti," kata Irene tanpa menunggu Surya bertanya. "Istri muda Budiman. Ia sering mendengar kalimat Budiman sebelum kalimat itu menjadi keputusan."

"Anda percaya dia?"

"Saya percaya kepentingannya. Itu lebih stabil daripada kasih sayang."

Pesan pertama terkirim.

Malam itu, Yuni menerima informasi yang tidak terlihat seperti perintah. Hanya tangkapan foto, catatan jam, dan kalimat halus bahwa Kevin sedang bertemu orang luar dari Lintang untuk membuka akses investasi tanpa sepengetahuan Budiman. Tidak ada tuduhan. Tidak ada permintaan. Hanya umpan yang diletakkan di meja perempuan yang tahu kapan harus menyalakan amarah suaminya.

Empat puluh menit kemudian, di rumah utama Tanuwijaya, suara Budiman pecah.

"Panggil Kevin pulang."

Kevin masih berada di apartemennya ketika telepon dari sekretaris ayahnya masuk. Nada panggilan itu berbeda. Bukan permintaan hadir rapat. Perintah pulang.

Ia mengumpat pelan.

Di sisi lain kota, Irene mengirim pesan kedua melalui jalur yang berbeda. Kali ini sasarannya orang yang dekat dengan kegiatan sosial Nyonya Lim. Informasinya dibuat seolah bocor dari obrolan meja donor, bukan laporan investigasi.

Seorang putra Lim terlihat menemui Kevin Tanuwijaya secara tertutup. Ada pembicaraan investasi. Ada nama Lintang. Ada risiko Meilu terseret dalam konflik yang bukan miliknya.

Huang Siu Lan tidak perlu bukti setebal berkas pengadilan untuk memahami bahaya reputasi keluarga. Ia menelepon Weichen sebelum mobil Weichen keluar dari kawasan Kuningan.

"Wei Chen," suaranya lembut. Namun, justru itu yang membuat Weichen menegang, "kamu bertemu Kevin Tanuwijaya malam ini?"

Weichen diam setengah detik terlalu lama.

"Hanya bicara bisnis, Ma."

"Bisnis apa yang harus disembunyikan dari ayahmu, dari Meilu, dan dari keluarga?"

"Saya ingin memastikan Meilu tidak salah memilih."

"Dengan meminta bantuan laki-laki yang membuat nama Tanuwijaya berbau skandal?"

Weichen menggenggam setir. "Ma tidak mengerti."

"Ibu mengerti cukup banyak. Kamu boleh tidak suka Surya. Kamu boleh menilai dia belum pantas. Tetapi kalau kamu bersekutu dengan orang kotor untuk memisahkan adikmu dari pilihannya, kamu bukan sedang melindungi Meilu. Kamu sedang merendahkan keluarga sendiri."

Kalimat itu menampar lebih keras daripada teriakan.

"Mulai besok," lanjut Huang Siu Lan, "tidak ada kontak pribadi dengan Kevin. Kalau ada urusan bisnis Lintang dengan Perkasa, bawa ke meja resmi, dengan notulen dan ayahmu tahu. Jangan membuat ibumu mendengar namamu dari mulut orang luar lagi."

Panggilan terputus.

Weichen duduk kaku di mobil. Di layar ponsel, pesan dari Kevin baru masuk.

Kita tunda dulu. Orang tua saya mulai mencium sesuatu.

Weichen mengetik balasan.

Sama. Jangan hubungi saya sementara.

Di klub pribadi Irene, Surya membaca pesan dari Wulan bahwa Kevin telah dipanggil ke rumah Budiman dan Weichen meninggalkan Kuningan lebih cepat dari perkiraan. Laporan lanjutan menyusul. Namun, arah besarnya jelas.

Aliansi itu patah sebelum sempat tumbuh gigi.

Surya menatap Irene. "Anda bahkan tidak perlu bertemu mereka."

"Mereka berdua anak dari rumah besar," jawab Irene. "Kadang pintu paling kuat bukan pintu depan. Tapi pintu kamar makan."

"Saya berutang satu lagi kepada Anda."

Irene menatap teh yang mulai dingin. "Tidak. Kamu membayar utangmu enam tahun lalu di Danau Biru. Sisanya hanya cara saya memastikan orang yang pernah menyelamatkan hidup saya tidak dihancurkan oleh pria-pria manja yang salah memilih musuh."

Surya tidak menjawab. Untuk pertama kalinya malam itu, amarah di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang.

Di mobilnya, Weichen tidak pulang. Ia berhenti di tepi jalan, membuka ulang memori pertemuan dengan Surya, kontrak yang robek, dan wajah Irene di beberapa acara amal yang pernah ia lihat dari jauh.

Nama yang disebut Ratna di dokumen Kevin tiba-tiba kembali terngiang.

PT Runda Perkasa.

Weichen membuka mesin pencari di ponselnya.

Kali ini, ia tidak mencari Surya.

Ia mencari siapa sebenarnya yang berdiri di belakang Runda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!