Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Aku tidak menyangka kalau Kak Andi benar-benar mengusir Chika. Tapi... Jika dia diusir bagaimana kita akan tahu siapa musuh Keluarga Anggara yang sesungguhnya? Baik Bagas maupun Chika, dua-duanya hanya pion. Jika Chika pergi tidak akan ada lagi yang bisa memberi petunjuk. Apalagi, Bagas sudah dipecat dari perusahaan dan dia sudah melarikan diri ke luar negeri."
Aluna membatin.
Mendengar suara hati Aluna itu membuat Andi langsung menghenti Chika.
"Tunggu!"
Cegah Andi.
Chika menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Chika dengan suara lemah. Tak lupa ekspresi sedih ia sertakan.
Chika harus terlihat sedih karena akan diusir. Setidaknya di hadapan Andi ia harus terlihat terluka.
Andi melirik adik bungsunya. Disana Aluna tampak sedang memperhatikannya dengan serius.
"Bagaimana kalau Luna salah paham dan mengira aku memaafkan Chika dengan mudah ya? Tapi, kalau aku membiarkannya pergi, aku tidak akan tahu tokoh utama yang ingin menghancurkan Keluarga Anggara?"
Andi dilema.
"Kak Andi, ada apa?" tanya Chika sekali lagi. Ia menatap kakak pertamanya dengan tatapan bingung.
Andi kini beralih menatap Armand dan ibunya untuk meminta pendapat. Sayangnya keduanya memilih mengalihkan pandangan seakan melimpahkan semua keputusan pada Andi.
"Sialan, Armand dan Mama. Mereka pasti tidak mau Aluna salah paham." Andi bergumam kesal.
"Kak," panggil Chika lagi.
Dia kembali menatap Sang Kakak.
Andi berdehem.
"Karena ini kesalahan berat pertama kamu, Kakak putuskan untuk memberimu kesempatan. Kakak harap, kamu bisa berubah lebih baik ke depannya," jawab Andi.
Chika tersenyum puas. Dia kemudian memeluk Andi dan menatap Aluna seolah berkata, 'lihat! Meski aku melakukan kesalahan besar, Kakak tetap memaafkanku karena baginya akulah satu-satunya adik perempuan yang paling dicintai.'
Aluna memutar bola matanya sambil berdecak.
"Ck. Dasar labil!"
Aluna menggerutu. Ia tidak tahu maksud Andi apa sampai memaafkan kesalahan Chika. Tapi di sisi lain, Aluna tahu itu keputusan yang paling tepat saat ini untuk mengetahui siapa dalang yang sebenarnya. Namun, tetap saja hatinya merasa kesal.
Aluna menatap kesal Andi kemudian naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
"Luna mau kema–"
Andi tidak melanjutkan perkataannya. Ia menghela napas panjang.
"Aku susul Luna dulu," pamit Armand pada Kakak pertamanya.
Kakak ke dua Aluna itu langsung berlari naik ke lantai dua.
"Mama juga mau nyusul Aluna karena ada yang ingin mama bicarakan dengannya."
Aruan ikut menyusul Aluna.
"Kak, apa sekarang Mama dan Kak Armand tidak sayang padaku lagi?" tanya Chika. "Pasti, Kak Luna mengatakan hal buruk tentangku yang membuat mama dan Kak Armand jadi membenciku," tambahnya.
Chika kembali memasang wajah menyedihkan.
Andi sebenarnya kesal mendengar perkataan Chika tersebut. Dia baru sadar kalau selama ini, Chika pandai mengolah kata dan membuat orang jadi mengasihaninya. Dia juga pandai memanipulasi orang untuk ikut membenci orang yang ia tidak suka atau dianggap sebagai pesaingnya.
"Luna bukan orang seperti itu. Lagian kalau mama dan Armand sayang padanya itu wajar. Dia adik dan anak perempuan satu-satunya di keluarga ini," jawab Andi.
"Tapi, aku juga anak perempuan keluarga ini kan Kak," protes Chika.
"Maksudku anak kandung bukan adopsi," ralat Andi.
Chika cemberut. Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya tak terima.
"Sudah sana pergi ke kamarmu, kamu pasti ngantuk!" suruh Andi.
Dia sudah ingin menyusul mama dan adik ke duanya ke kamar Aluna untuk menjelaskan Andi tentu tidak mau adik bungsunya salah paham terhadapnya.
Chika tersenyum senang. Ia mengira Andi masih sangat perhatian padanya.
"Baiklah, Kak aku ke kamar sekarang. Selamat malam, Kak."
Setelah mengatakan itu Chika langsung pergi ke kamarnya. Dia tentu ingin segera tidur sambil memeluk tas impiannya.
Andi mengukir senyum di wajahnya. Namun, perlahan senyum itu menghilang begitu Chika tak lagi terlihat. Buru-buru Andi menyusul adik keduanya dan sang mama ke kamar Aluna untuk menjelaskan.
Tanpa Andi tahu, Chika kembali keluar dari kamarnya. Ia melihat Andi yang sedang berjalan menuju ke kamar Aluna.
"Ternyata Kak Andi sedang berpura-pura baik di hadapanku. Baiklah kalau ini yang kalian mau. Sepertinya aku harus meminta orang itu segera mengambil alih Perusahaan milik Keluarga Anggara."
Chika tersenyum licik. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celana dan menghubungi seseorang.
"Kapan kamu akan mengambil alih Perusahaan milik Keluarga Anggara? Aku sudah tidak sabar ingin melihat Keluarga ini hancur?"
"Segera, Chika. Kita memang gagal mendapatkan tender tersebut, tapi, aku masih memiliki cara lain untuk menghancurkan keluarga itu." jawab seseorang dari ujung sana.
Chika menutup panggilannya. Dia cukup puas mendengar jawaban tersebut.
***
"Kenapa Mama dan Kak Armand mengikutiku?" tanya Aluna ketika melihat Kakak ke dua dan ibunya sudah berada di dalam kamarnya.
Aluna menatap dua orang.yang berdiri di hadapannya dengan tatapan heran.
"Kami cuma mau bilang, kalau apa pun yang terjadi kami selalu di pihakmu," jawab Aruan sambil mengukir senyum di bibirnya.
"Iya, Luna. Kami tidak akan tertipu lagi oleh Chika."
Armand ikut menimpali.
Aluna kembali menatap dua orang di hadapannya lebih dalam.
"Kenapa dengan mereka berdua? Aneh."
Suara hati Aluna kembali.terdengar oleh Armand dan Aruan.
"Ma, apa sikap kita terlihat berlebihan ya?" tanya Armand setengah berbisik.
"Sepertinya begitu. Mama jadi bingung harus bagaimana sekarang," jawab Aruan yang juga dengan suara lirih.
Tiba-tiba Andi muncul dari arah pintu. Dia melangkah dengan cepat mendekati Aluna. Ia meraih tangan adik kandungnya itu dan berkata, "Adik, percayalah aku sudah tidak percaya lagi dengan Chika. Aku pura-pura memaafkannya karena ingin tahu dalang di balik semua ini."
Armand dan Aruan menepuk kening mereka sendiri melihat tingkah Andi. Bukan apa-apa, karena melihat tingkah mereka berdua saja, Aluna sudah terlihat heran dan sekarang Andi malah mengatakan hal yang mungkin menurut Aluna terdengar melantur.
"Sikap Kak Andi juga aneh."
Aluna menatap ketiganya bergantian.
"Tunggu! Apa jangan-jangan mereka–"