NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PIALA DAN JANJI YANG DITAGIH

Sore harinya, hujan deras mengguyur kompleks SMA Garuda. Lapangan basket outdoor yang biasanya riuh kini tergenang air dan sepi.

Raina berdiri di bawah atap tribun, memeluk koran bekas dan buku catatannya. Ia tahu persis ke mana Devan pergi kalau sedang kalut. Di sudut tribun yang agak terlindung dari cipratan air hujan, Devan duduk sendirian sambil memeluk kedua lututnya, menatap lapangan yang basah kuyup.

Raina berjalan pelan mendekat, lalu duduk di samping Devan tanpa bersuara. Ia meletakkan sebotol minuman cokelat hangat yang masih beruap di antara mereka.

Devan melirik botol itu, lalu mendesah pelan. "Ngapain ke sini, Na? Nanti kamu sakit kena angin malam."

"Aku gak bakal tenang sebelum masalah kita selesai," jawab Raina lembut. Ia melepas kacamatanya sejenak, mengusap embun tipis di kacanya dengan ujung rok seragam, lalu memakainya kembali. "Maaf ya... soal yang tadi siang."

Devan tertegun, lalu menengok menatap Raina dengan raut merasa bersalah yang amat dalam. "Harusnya gua yang minta maaf, Raina. Gua yang kelewatan. Gua cuma... takut."

"Takut apa?"

"Takut gak lulus," bisik Devan jujur, suaranya bergetar tipis mengalahkan suara hujan. "Gua takut gak bisa masuk universitas di Bandung bareng kamu. Gua takut cuma jadi penghambat impian kamu, sementara kamu makin jauh terbang ke depan."

Raina menatap mata Devan yang dipenuhi kecemasan murni. Ia menyadari satu hal: Devan tidak malas, melainkan menanggung beban ekspektasi yang begitu besar pada dirinya sendiri demi tidak kehilangan posisi di samping Raina.

Perlahan, Raina meraih tangan kiri Devan yang dingin akibat angin malam, menggenggamnya erat dengan kedua telapak tangannya.

"Devan, dengar aku," ujar Raina mantap, menatap lurus ke dalam mata Devan. "Aku gak pernah minta kamu jadi jenius yang harus selalu sempurna. Aku suka Devan yang mau berjuang, Devan yang gak gampang menyerah, bukan Devan yang memaksakan diri sampai menyiksa dirinya sendiri."

Raina tersenyum hangat, mengusap jemari Devan dengan lembut. "Kalau kamu capek, pelan-pelan aja. Kita masih punya waktu. Mulai besok, metode belajarnya kita ubah. Kita gak akan belajar sampai jam dua pagi lagi. Kita bagi porsi latihan belajar dan istirahatnya dengan seimbang. Deal?"

Devan menatap wajah Raina lekat-lekat. Seluruh ketegangan dan rasa takut di dadanya seketika meleleh mendengar ucapan tulus gadis di depannya.

"Deal," jawab Devan pelan, menyunggingkan senyum tipisnya yang amat hangat. Ia membalas genggaman tangan Raina rapat-rapat. "Makasih ya, Bu Wakil. Makasih karena selalu jadi tempat gua pulang tiap kali gua bingung."

Di tengah gemericik air hujan yang membasahi bumi, pertengkaran kecil itu justru merekatkan kembali dua hati yang sedang belajar untuk saling memahami dalam babak kedewasaan yang sesungguhnya.

BAB 33: BADAI DI UJUNG AMBANG

Lampu perpustakaan Kota Semarang yang temaram memancarkan pendar kuning hangat, memantul di atas meja kayu panjang yang penuh dengan tumpukan buku latihan soal UTBK, lembar kisi-kisi Try Out, serta tiga buah stabilo warna-warni yang tutupnya sudah terbuka. Jam dinding tua di sudut ruangan menunjukkan pukul delapan malam lewat lima belas menit. Suasana di dalam perpustakaan sangat hening, hanya diselingi oleh gesekan kertas, ketukan pelan ujung pulpen, dan embusan angin malam yang menyusup dari sela-sela jendela lantai dua.

Raina duduk tegak dengan pandangan fokus. Matanya yang jernih di balik kacamata berbingkai tipis pemberian Devan bergerak lincah meneliti setiap angka dan rumus di lembar kerja Devan. Di sebelahnya, Devan duduk membungkuk. Wajah cowok itu tampak tirus dan lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Kendati demikian, tidak ada lagi raut putus asa seperti beberapa minggu lalu saat TO Perdana.

"Gimana, Bu Wakil?" tanya Devan pelan, menahan napas sambil memperhatikan jari Raina yang berhenti di nomor 28. "Nomor itu gua kerjain pakai metode substitusi cepat yang kamu ajarin kemarin. Betul gak?"

Raina menghentikan pulpen merahnya. Ia menatap lembar jawaban Devan, lalu perlahan menyunggingkan senyum hangat yang langsung membuat ketegangan di wajah Devan luluh.

"Seratus persen betul," jawab Raina bangga, memberikan tanda centang besar di kertas tersebut. "Perhitungannya rapi, logika jalurnya pas, dan kamu gak terjebak sama opsi pengecoh di pilihan C. Perkembangan kamu dalam tiga minggu terakhir ini luar biasa, Devan."

Devan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menghembuskan napas lega yang panjang seolah baru saja melepaskan beban sepuluh kilogram dari dadanya. Ia menyisir rambut depannya ke belakang dengan jemari tangannya.

"Alhamdulillah... rasanya kayak mau copot jantung gua tiap kali kamu periksa lembar jawaban itu," kekeh Devan pelan, matanya berbinar menatap Raina. "Gua bener-bener gak nyangka, rumus Penalaran Matematika yang tadinya kelihatan kayak bahasa planet, sekarang mulai masuk akal di kepala gua."

"Itu karena kamu mau berubah dan konsisten, Devan," balas Raina lembut, merapikan tumpukan kertas latihan yang sudah selesai diperiksa. "Kamu gak cuma mengandalkan hafalan, tapi kamu bener-bener paham konsep dasarnya. Kalau pola belajarmu dipertahankan sampai hari H nanti, target skor 700+ di UTBK bukan cuma mimpi lagi."

Devan menatap wajah Raina lekat-lekat. Sinar lampu baca memantul manis di pipi gadis itu. Di mata Devan, Raina bukan lagi sekadar gadis galak berpenampilan kaku yang dulu pernah melemparkan omelan tajam saat kacamata tebalnya patah terkena bola basket. Raina adalah jangkar hidupnya—sosok yang menariknya keluar dari kegelapan dan membantunya menemukan potensi terbaik di dalam dirinya.

"Raina," panggil Devan dengan nada suara yang mendadak berubah dalam dan tulus.

Raina mendongak dari tumpukan bukunya. "Ya?"

"Makasih ya," bisik Devan. "Kalau bukan karena kamu yang sabar ngajarin gua dari nol, gua mungkin masih jadi Devan yang cuma tahu cara lempar bola ke ring tanpa tahu arah masa depan gua mau ke mana. Kamu yang bikin gua percaya kalau gua bernilai."

Pipi Raina bersemu merah tipis tersiram hangatnya ucapan Devan. Ia merapikan gagang kacamatanya, menyembunyikan rasa canggung sekaligus haru yang membuncah di dadanya. "Aku cuma bantu mengarahkan, Devan. Yang berjuang dan mandi keringat tiap malam itu kamu sendiri. Aku bangga banget sama kamu."

Devan tersenyum manis, mengulurkan tangannya di atas meja untuk menggenggam jemari Raina yang hangat. Namun, sebelum momen tenang itu berlanjut lebih jauh, ponsel Devan yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan masuk: Mama.

Devan mengernyit heran. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Ibunya jarang sekali menelepon saat ia sedang belajar di perpustakaan, kecuali ada hal yang sangat mendesak.

"Sebentar ya, Na," pamit Devan seraya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Ma? Devan masih di perpus sama Raina—"

Kalimat Devan terhenti seketika.

Raina yang sedang merapikan stabilo mendadak menghentikan gerakannya saat melihat perubahan drastis pada raut wajah Devan. Warna kulit Devan yang tadinya segar mendadak pucat pasi. Matanya membulat lebar, dan genggaman tangannya pada ponsel mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

"M-maksud Mama apa...?" suara Devan tercekat, bergetar hebat. "Nenek... Nenek kenapa, Ma?"

Hening sejenak. Hanya suara isakan tangis histeris sang ibu yang terdengar samar dari seberang telepon.

"Devan... Nenek jatuh di kamar mandi rumah Solo. Sekarang kritis di ICU Rumah Sakit Dr. Oen... Dokter bilang kondisinya terus menurun..." suara ibunya terputus-putus oleh tangisan. "Kamu bisa pulang sekarang, Nak? Mama takut... Mama takut Nenek gak bertahan..."

Ponsel di tangan Devan hampir saja merosot jatuh jika tidak segera ditahan oleh kedua tangan Raina yang sigap berdiri dari kursinya. Devan membeku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah tumpukan buku di meja. Nenek adalah sosok yang merawat Devan sejak kecil ketika almarhum ayahnya meninggal dunia—sosok pengganti ibu kedua yang selalu mendukung impian basketnya saat semua orang memandangnya sebelah mata.

"Devan! Devan, lihat aku!" seru Raina panik, memegang kedua pipi Devan agar cowok itu berfokus padanya.

Devan menatap Raina dengan mata yang mulai digenangi air mata. "Na... Nenek, Na... Nenek di ICU..."

Kita ke Solo sekarang," tegas Raina tanpa ragu sedikit pun. Ia langsung memasukkan semua buku dan alat tulis Devan ke dalam ransel dengan gerakan sangat cepat, tidak peduli rapi atau tidak. "Ayo, Devan! Kita ke stasiun sekarang!"

Malam itu terasa seperti mimpi buruk yang berjalan serba cepat. Raina memandu Devan yang linglung menembus rintik hujan Kota Semarang menuju Stasiun Poncol. Raina membeli dua tiket kereta terakhir menuju Solo, menggenggam erat tangan Devan selama perjalanan di dalam gerbong kereta malam yang remang-remang.

Di sepanjang perjalanan dua jam itu, Devan hanya terdiam menatap luar jendela yang gelap gulita. Jarinya terus meremas gantungan kunci kayu berbentuk bola basket dan kacamata yang ada di tasnya. Raina tidak banyak bicara; ia tahu kata-kata penenang tidak akan cukup. Ia hanya terus menggenggam tangan Devan, mengusap punggung tangannya, dan membiarkan Devan bersandar di bahunya ketika tangis tanpa suara cowok itu akhirnya pecah di kegelapan gerbong.

Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit, mereka tiba di lorong ICU Rumah Sakit Dr. Oen Solo. Bau antiseptik yang menyengat dan derit mesin pendeteksi detak jantung memenuhi udara yang dingin. Ibu Devan terduduk lemas di bangku panjang lorong, disambut oleh Devan yang langsung berlutut dan memeluk ibunya erat-erat.

Dokter keluar dari ruang ICU setengah jam kemudian dengan raut wajah duka yang amat berat.

Kabar duka itu menghantam keluarga Devan tepat di tengah malam. Sang Nenek menghembuskan napas terakhirnya tanpa sempat siuman kembali.

Dunia Devan runtuh seketika. Suara jeritan dan tangis pecah di lorong rumah sakit. Devan terduduk kaku di lantai dingin, menatap pintu ICU yang terbuka dengan pandangan hampa. Semua impian, target ujian, dan rencana masa depan yang tadi sore mereka diskusikan di perpustakaan mendadak menguap, tergantikan oleh rasa kehilangan yang teramat dalam dan menghancurkan.

Raina berlutut di samping Devan yang tergugu, memeluk bahu cowok itu dari samping sembari membiarkan air matanya sendiri menetes pelan. Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, Raina tahu bahwa ujian terberat Devan bukanlah soal matematika atau seleksi masuk perguruan tinggi, melainkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah badai kehilangan yang menghancurkan hatinya.

Proses pemakaman berlangsung khidmat di Solo pada sore hari berikutnya. Selama dua hari berturut-turut, Devan berada dalam kondisi diam yang mengkhawatirkan. Ia mengikuti seluruh prosesi pemakaman dan pengajian dengan patuh, namun matanya kehilangan binar kehidupannya. Ia hampir tidak menyentuh makanannya dan tidak mengucapkan satu patah kata pun.

Ketika Raina harus kembali ke Semarang karena pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah yang tidak bisa ditunda, Devan masih bertahan di Solo untuk mendampingi ibunya merapikan barang-barang peninggalan almarhumah Nenek.

Seminggu berlalu sejak peristiwa kelam itu. Di SMA Garuda, suasana kelas 12 IPA 1 terasa hampa tanpa kehadiran Devan. Bangku di sudut kanan belakang itu kosong. Guru-guru mulai mempertanyakan keberadaan Devan karena H-30 menuju pendaftaran UTBK dan seleksi pendaftaran jalur prestasi universitas sudah makin dekat.

Raina duduk di bangkunya, menatap ponselnya dengan cemas. Selama seminggu ini, pesan-pesan singkat yang dikirimkannya hanya dibaca singkat oleh Devan atau bahkan tidak dibalas sama sekali. Devan menarik diri dari dunia luar.

Sore harinya, usai bel sekolah berbunyi, Raina tidak langsung pulang ke rumah. Ia naik bus antarkota menuju Solo seorang diri, bertekad untuk menyusul Devan dan tidak membiarkan cowok itu tenggelam lebih dalam di kubangan duka.

Raina tiba di rumah peninggalan Nenek Devan di daerah Laweyan, Solo, saat matahari mulai tenggelam di balik ufuk barat. Rumah limasan kayu tua itu tampak sepi dan temaram. Ibu Devan menyambut Raina di pintu depan dengan senyum lelah namun penuh rasa terima kasih.

"Devan ada di kamar belakang, Raina," bisik Ibu Devan pelan. "Sejak pulang dari pemakaman, dia cuma duduk diam di sana. Dia bahkan gak mau menyentuh bola basketnya lagi. Tante bingung harus gimana..."

Raina mengangguk paham. "Boleh Raina masuk, Tante?"

"Masuklah, Nak. Cuma kamu yang mungkin bisa ajak dia bicara."

Raina melangkah pelan menyusuri koridor kayu rumah tua itu menuju kamar di sudut belakang. Ia mengetuk pintu kayu dua kali, lalu perlahan mendorongnya terbuka.

Kamar itu remang-remang. Devan duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah lemari kayu tua yang pintunya terbuka. Di dalam lemari itu, terpajang jersi basket pertama Devan saat SMP, beberapa piala kecil, dan sebuah foto lama berbingkai kayu yang memperlihatkan Devan kecil sedang tertawa lebar dipeluk oleh almarhumah Neneknya.

"Devan..." panggil Raina lembut, menghentikan langkahnya beberapa pijakan dari tempat tidur.

Devan tidak mendongak, namun bahunya bergerak pelan. "Ngapain kamu ke sini, Na? Kamu harusnya belajar buat persiapan ujian minggu depan di Semarang."

Suara Devan terdengar sangat serak, dingin, dan tanpa energi.

Raina berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Devan—persis seperti yang dilakukannya saat Devan cedera di lapangan basket dulu. Ia menatap wajah Devan yang tampak pucat dan kusam.

"Aku ke sini buat nemuin kamu," jawab Raina tulus. "Aku khawatir sama kamu, Devan."

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!