Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucas Perhatian?
Alexa awalnya menduga bahwa setelah mengantarnya pulang dari rumah sakit, Lucas akan langsung pergi menuju kediaman pribadinya yang lain. Namun, perkiraannya meleset total. Hingga waktu makan malam tiba, pria itu nyatanya masih berada di rumah ini, duduk kaku di ujung meja makan yang panjang.
Situasi ini terasa sangat ganjil bagi Alexa. Di kehidupan atau masa-masa sebelumnya, Lucas sangat anti berdekatan dengannya. Pria itu biasanya hanya datang sesekali, itu pun sekadar untuk memastikan apakah Alexa masih bernapas, atau karena mendapat laporan dari para pelayan bahwa Alexa mengamuk dan bertindak semena-mena.
Alexa menatap piringnya tanpa selera. Lagipula, perutnya masih terasa cukup kenyang setelah menghabiskan kue manis yang dibelinya di toko sore tadi. Perlahan, Alexa mendorong mundur kursinya dan bersiap untuk beranjak.
Namun, gerakan kecil itu dihentikan oleh suara berat yang mengudara.
"Mau ke mana?" tanya Lucas datar tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
Alexa menoleh pelan. "Aku tidak lapar, Lucas. Aku mau ke kamar untuk istirahat."
Mendengar jawaban singkat itu, mata abu-abu Lucas bergulir menatap piring di hadapan Alexa yang masih utuh. Makanan di atas piring itu sama sekali tidak tersentuh.
"Apakah makanannya kurang enak?" batin Lucas bertanya-tanya.
Ia melirik hidangan yang tersaji di atas meja makan malam ini. Menunya memang tidak terlalu bervariasi hanya ada salad segar, buah-buahan, potongan steak berkualitas tinggi, dan kentang goreng. Untuk ukuran makan malam biasa, hidangan ini sudah lebih dari cukup. Atau... apakah Alexa sedang menginginkan makanan lain?.
Lucas tidak menjawab ucapan Alexa. Ia hanya diam memperhatikan punggung istrinya yang melangkah menjauhi meja makan menuju tangga lantai dua.
Pergerakan Alexa terlihat lambat dan berat. Tepat di anak tangga keempat, langkah Alexa terhenti sejenak. Wanita itu menyangga bagian belakang pinggangnya dengan sebelah tangan dan menepuk-nepuk nya pelan, menunjukkan betapa tubuhnya kelelahan hanya untuk menaiki beberapa anak tangga.
Melihat pemandangan itu, selera makan Lucas mendadak hilang sepenuhnya. Pria itu meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring hingga menimbulkan denting halus, lalu beranjak berdiri.
Lucas berjalan menuju kamarnya sendiri yang terletak di lantai satu. Mereka memang tidak pernah tidur sekamar, tentu saja atas perintah tegas dari Lucas sendiri di awal pernikahan mereka, karena pria itu tidak sudi berbagi ruangan dengan Alexa.
Setibanya di dalam kamar, Lucas meraih ponselnya dari dalam saku jas dan mendial nomor asisten pribadinya.
Hanya butuh dua kali deringan hingga sambungan terhubung.
"Ya, Tuan Lucas?" sahut suara Ben di seberang telepon.
"Bawakan makanan yang biasa dikonsumsi ibu hamil ke rumah sekarang," perintah Lucas cepat tanpa basa-basi.
"Mau semahal apa pun harganya, yang penting kamu membawanya malam ini juga."
"Tuan, maksud Anda—"
Tut... tut... tut...
Panggilan langsung dimatikan secara sepihak oleh Lucas sebelum Ben sempat menyelesaikan pertanyaannya.
Di kediamannya sendiri, Ben berdiri mematung memandangi layar ponselnya yang mendadak gelap. Pria itu menghela napas kaku. Tuannya bahkan belum sempat mendengarnya bersuara.
"Makanan yang biasa dikonsumsi ibu hamil?" gumam Ben bingung pada dirinya sendiri.
Lagipula, makanan seperti apa yang dimaksud? Bukankah ibu hamil boleh mengonsumsi jenis makanan apa saja selama masih dalam batas wajar dan sehat? Dan yang paling membingungkan... sejak kapan tuannya yang dingin itu mulai memikirkan dan memperhatikan asupan makanan Alexa?.
Ben menggelengkan kepalanya pelan. Ia terkadang benar-benar tidak mengerti jalan pikiran tuannya.
Padahal jelas-jelas beberapa hari yang lalu, Lucas masih bersikeras dan menegaskan bahwa ia tidak sudi berdekatan dengan Alexa. Pria itu bahkan pernah mengabaikan panggilan telepon dari Alexa saat wanita itu mengeluh pusing. Saat itu, Lucas mengira Alexa hanya sedang bersandiwara kekanak-kanakan demi mendapatkan perhatiannya. Hingga akhirnya, Alexa benar-benar pingsan di kamar dan harus dilarikan ke rumah sakit secara darurat.
Namun, sejak keluar dari rumah sakit hari itu, sikap Alexa mendadak berubah drastis. Wanita yang dulunya pemarah, egois, dan kekanak-kanakan itu berubah menjadi sosok yang sangat hangat, dewasa, tidak banyak bicara, dan begitu sopan kepada siapa saja.
Awalnya, Ben mengira perubahan Alexa hanyalah sandiwara baru untuk meluluhkan hati tuannya. Namun setelah mengamati selama beberapa hari terakhir, Ben menyadari bahwa perubahan itu nyata. Alexa benar-benar menjadi sosok yang jauh lebih tenang, anggun, dan murah senyum.
Tak ingin membuat tuannya marah karena terlambat, Ben buru-buru membuka aplikasi peramban di ponselnya. Ia mengetik kata kunci tentang makanan bernutrisi yang paling sering disukai dan aman untuk ibu hamil trimester akhir. Setelah menemukan beberapa menu gourmet sehat dari restoran bintang lima, Ben segera memesannya dan meminta mereka mengantarkannya dengan cepat agar bisa ia bawakan ke rumah Alexa.
Sementara itu, di lantai dua, Alexa sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur cukup terbuka namun longgar longgar berbahan katun yang lembut. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk, menghela napas lega saat rasa pegal di punggungnya perlahan menghilang.
Tangannya kembali mengusap perutnya yang membuncit.
"Malam ini tenang sekali ya, Sayang..." bisik Alexa lembut pada bayinya.
"Papa ada di bawah, tapi kita tidak usah mengganggunya. Biarkan dia istirahat."
Alexa memejamkan matanya, menikmati ketenangan malam kota London. Di dalam hatinya, ia sudah bertekad untuk tidak lagi berharap pada kasih sayang atau perhatian dari Lucas. baginya, kesehatan dan keselamatan bayi laki-laki di dalam kandungannya adalah satu-satunya hal yang paling utama saat ini.
Di lantai bawah, ketukan pintu terdengar. Ben datang membawa beberapa kantong makanan hangat bernutrisi tinggi yang terbungkus rapi.
Lucas menerima kantong-kantong tersebut dari tangan Ben. Matanya melirik singkat pada menu-menu yang disiapkan, sup kaldu tulang sumsum yang kaya kalsium, tim ikan salmon segar dengan sayuran organik, serta bubur gandum madu yang lembut.
"Kerja bagus, Ben," gumam Lucas kaku.
"Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Ben sopan.
"Tidak ada. Kamu boleh pulang."
"Baik, Tuan. Selamat malam."
Setelah Ben berlalu, Lucas berdiri diam di remang koridor lantai satu, menatap kantong makanan hangat di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tangga menuju kamar Alexa. Ada keraguan yang menguasai dadanya, namun rasa tidak tenang akan perut kosong istrinya mendesak pria itu untuk melangkah naik.
Bersambung...
Itulah yaahhh... Saat seseorang sudah mulai acuh barulah merasa kehilangan, ada-ada saja Lucas.😒
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor