Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 (18+)
Kembali ke markas Montonegro
Suasana di dalam ruang rapat markas Rafael Montenegro begitu tegang. Sebuah meja panjang terbuat dari kayu mahoni menjadi saksi bisu pembicaraan malam itu. Di tengah ruangan, layar monitor besar menampilkan denah markas musuh—pabrik tua di perbatasan kota yang selama ini menjadi sarang Emerick dan anak buahnya.
Rafael duduk di kursinya, mengenakan jas hitam, tangan kanan memegang cerutu yang menyala. Tatapan matanya tajam, penuh kebencian.
Di sekelilingnya berdiri beberapa orang kepercayaannya, termasuk Franco, tangan kanan yang selalu siap menjalankan perintahnya tanpa ragu.
"Malam ini, kita habisi mereka." Suara Rafael begitu dingin, menggelegar di ruangan yang sunyi.
"Apakah kita benar-benar akan menghabisi semuanya?" tanya Mikhail, salah satu pria bersenjata yang berdiri di ujung ruangan.
Rafael mengembuskan asap cerutunya dengan lambat, lalu menatap mereka satu per satu.
"Aku ingin tempat itu hancur. Aku ingin semua yang ada di sana musnah." Ia meletakkan cerutunya, lalu meremasnya hingga padam. "Dan aku ingin kepala Emerick."
"Jika dia mencoba kabur?" tanya Franco.
"Jangan biarkan. Tapi kalau dia berhasil lolos... kita buat dia menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini."
Mereka saling berpandangan. Tidak ada satu pun yang berani membantah.
"Siapkan senjata terbaik kita. Pastikan tidak ada yang keluar dari sana dalam keadaan hidup."
Lima SUV hitam tanpa plat nomor meluncur dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang sepi. Di dalam mobil, para anak buah Rafael mengenakan perlengkapan tempur lengkap: rompi anti-peluru, helm taktis, dan berbagai senjata berbahaya.
Mereka membawa senapan serbu kelas militer, shotgun otomatis, granat asap, dan beberapa bahkan membawa pisau gergaji untuk eksekusi jarak dekat.
Di dalam mobil utama, Rafael duduk dengan santai di samping Franco.
"Begitu kita masuk, jangan beri mereka waktu untuk berpikir," Rafael berkata tanpa emosi. "Tembak dulu, baru bicara."
Franco menyeringai. "Dengan senang hati, Bos."
Setelah perjalanan lima belas menit, mereka tiba di depan markas musuh—sebuah pabrik tua yang luas, dengan beberapa menara pengawas dan gudang besar di dalamnya.
Para penjaga di menara tampak berjaga, tidak menyadari bahwa kematian sedang mengintai mereka.
Dari kejauhan, dua orang penjaga berjaga di menara pengawas, tidak menyadari bahwa malam ini akan menjadi malam terakhir mereka hidup.
Di dalam SUV utama, Rafael Montenegro duduk dengan ekspresi dingin. Di sampingnya, Franco, tangan kanannya, meraih radio komunikasi.
"Sniper, eliminasi target."
Dari kejauhan, dua tembakan berperedam terdengar. Dua penjaga di menara roboh dengan lubang di kepala mereka, darah mengalir membasahi lantai kayu.
Tubuh mereka jatuh dari ketinggian dengan suara berdebum keras.
"Lanjutkan." Perintah Rafael terdengar tenang, tetapi penuh ancaman.
Di detik berikutnya, tiga granat asap dilempar ke dalam area pabrik. Begitu kabut putih menyelimuti markas, pasukan Rafael mulai bergerak cepat, menerobos masuk dengan senjata terangkat, siap menumpahkan darah.
Begitu pasukan Rafael menyusup ke dalam, ledakan pertama mengguncang markas. Sebuah granat yang dilemparkan ke salah satu gudang membuat beberapa anak buah Emerick terpental ke udara, tubuh mereka hancur berlumuran darah.
"Mereka menyerang! Mereka menyerang!" Salah satu anak buah Emerick berteriak panik, mencoba meraih senjatanya.
Terlambat. Peluru dari senapan otomatis Mikhail menembus dadanya, membuatnya tersungkur ke lantai, darah menggenang di sekelilingnya.
Di sisi lain ruangan, beberapa pria mencoba bersembunyi di balik meja, tetapi seorang pria bertopeng hitam dari pasukan Rafael mengayunkan shotgun-nya, melepaskan tembakan brutal yang langsung mencabik tubuh mereka.
"BOOM! BOOM!"
Darah dan serpihan daging menempel di dinding, aroma mesiu bercampur dengan bau daging terbakar mengisi udara.
"Bunuh mereka semua! Jangan biarkan ada yang keluar dari sini hidup-hidup!" Rafael berteriak dengan suara menggelegar.
Di tengah kekacauan, Franco bergerak seperti bayangan. Ia menarik pisau gergaji, menyalakannya, dan dalam satu tebasan cepat, membelah tubuh seorang pria dari bahu hingga perutnya.
"GRAAAK!"
Jeritan pria itu terdengar mengerikan sebelum akhirnya terdiam, tubuhnya jatuh ke lantai dengan organ dalam berhamburan.
Di sudut ruangan lain, salah satu anak buah Emerick yang masih hidup mencoba meraih pistolnya, tetapi sebelum ia sempat menarik pelatuk, Mikhail menghantamkan gagang senapannya ke wajah pria itu, menghancurkan tulangnya.
"CRACK!"
Hidungnya hancur, giginya berhamburan ke lantai. Pria itu mengerang kesakitan, tetapi Mikhail tidak memberinya kesempatan untuk pulih. Dengan ekspresi dingin, ia menarik pisau dari sarungnya dan menusukkannya ke leher pria itu hingga menembus ke sisi lainnya.
Darah menyembur deras, membasahi bajunya sebelum akhirnya ia tumbang.
Sementara itu, Rafael bergerak di barisan depan, berhadapan langsung dengan para penjaga terlatih Emerick.
Salah satu pria berotot besar menyerangnya dengan pisau. Rafael dengan cepat menghindar, lalu menyergapnya dengan cekatan, menekan senapan ke dagu pria itu dan menarik pelatuknya.
"DOR!"
Otak pria itu berhamburan ke langit-langit, tubuhnya jatuh dengan suara berdebum keras.
Tidak puas sampai di situ, Rafael meraih granat yang tersampir di rompinya, mencabut pinnya, dan melemparkannya ke ruangan di mana beberapa musuh mencoba berlindung.
"BOOOOM!"
Suara ledakan mengguncang seluruh bangunan. Potongan tubuh beterbangan, dinding yang tadinya kokoh kini dipenuhi lubang dan darah.
Di luar, beberapa pria Rafael menyiram bensin ke setiap sudut ruangan.
"Bakar tempat ini." Rafael memberi perintah tegas.
Franco menyeringai, menyalakan pemantik api, lalu melemparkannya ke lantai yang sudah dibasahi bensin.
"WOOSH!"
Kobaran api mulai menjalar, membakar meja, kursi, bahkan tubuh-tubuh yang masih berlumuran darah.
Salah satu anak buah Emerick yang sekarat berusaha merangkak keluar dari ruangan yang terbakar, tetapi Franco menginjak punggungnya, menekan wajahnya ke lantai yang terbakar, membuatnya menjerit kesakitan sebelum akhirnya tubuhnya tak lagi bergerak.
Di dalam gedung yang semakin memanas, Rafael menatap lorong utama yang seharusnya menjadi tempat Emerick berada.
Dengan cepat, ia menendang pintu dan masuk ke dalam—tetapi ruangan itu kosong.
"Sialan."
Kemarahan Rafael meledak. Dengan emosi, ia menghantam meja hingga pecah berkeping-keping.
"Dia melarikan diri!"
Naparnya memburu. Matanya penuh dengan kebencian dan dendam.
"Franco, tangkap dua dari mereka yang masih bernapas!"
Tanpa membantah, Franco dan beberapa anak buahnya menyeret dua orang anak buah Emerick yang masih hidup, wajah mereka penuh luka dan darah.
"Bawa mereka ke tempat kita." Rafael berkata dengan suara rendah, tetapi berisi ancaman mematikan. "Kita lihat berapa lama mereka bisa bertahan sebelum bicara."
Sementara mereka berjalan keluar, di belakang mereka, markas Emerick telah berubah menjadi neraka yang membara, api menghabisi setiap sudutnya.
Malam itu, Rafael Montenegro telah mengirim pesan yang jelas—tidak ada tempat aman bagi mereka yang mengkhianatinya.
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏