NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Tugas pagi hari

Ana tak bisa menolak ketika Hugo berlari menghampirinya dan memaksa untuk mengantarnya pulang. Banyak pasang mata yang sedang mengawasi mereka, Ana harus bisa menahan diri kalau tidak ingin jadi pusat perhatian. Ia menurut saat Hugo membukakan pintu untuknya dan bergegas masuk ke dalam mobil.

Sepanjang jalan Ana diam, lewat ekor matanya ia tahu Hugo berulang kali mencuri pandang ke arahnya. Padahal jalanan di depan mereka sedang ramai kendaraan, Ana takut kalau fokus Hugo terbagi hingga berakibat fatal untuk mereka.

“Aargh!” Ana menjerit kaget, apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi. Seorang pengendara motor melintas dan memotong jalan di depan mereka.

Cekiit! Hugo refleks menginjak pedal rem. Tubuh Ana terdorong ke depan dengan begitu cepat.

“Kamu gapapa?” tanya Hugo cemas, ia segera menepikan mobilnya. Wajah Ana tampak pucat dan keningnya terlihat kemerahan seperti ada bekas jejak jemari tangan seseorang menempel di sana.

"Aku kaget!" Ana menggeleng dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan, ia masih terlalu kaget dengan kejadian barusan. Beruntung tak terjadi kecelakaan, dan pengendara motor itu sudah tak terlihat lagi di sana. Hingga beberapa menit kemudian Ana mulai tampak tenang.

“Aow!” erang Hugo pelan namun terdengar jelas di telinga Ana. Lelaki itu mengibaskan sebelah tangannya yang terasa berdenyut karena berusaha melindungi wajah Ana yang tadi hampir membentur dasbor mobilnya.

Ana menoleh cepat, dan tanpa sadar memegang keningnya. “Maaf,” ucapnya kemudian. Sekarang, ganti Ana yang cemas melihat Hugo meng erang kesakitan. “Tangan Tuan, gapapa?”

“Gak, gapapa. Nyeri dikit doang,” sahut Hugo sambil membuka tutup telapak tangannya di depan Ana, dalam hati senang karena wanita itu masih mengkhawatirkan dirinya.

“Ya, sudah kalau gapapa.” Ana kembali ke posisinya semula, menatap lurus jalan raya di depannya. Hugo menaikkan satu alisnya, tapi Ana masih anteng dengan posisi duduknya.

Hari menjelang sore dan perjalanan kembali berlanjut. Kali ini Ana tak mau Hugo lengah lagi karena terus mencuri pandang ke arahnya seperti tadi. “Fokus, Tuan!” tegurnya dengan lirikan tajam.

Hugo menanggapinya dengan senyum, “Aku gak fokus karena Kamu terus saja diam dari tadi.”

Ana memutar bola matanya dan bicara setengah bergumam, “Mending diam, toh kita sudah bicara banyak tadi.”

Hugo meringis, seraya menatap lampu yang sudah berganti warna merah. Ia bergerak mendekat dan berbisik di telinga Ana. “Pembicaraan kita belum selesai Ana, masih banyak hal yang perlu kita urus. Kau harus secepatnya mengurus surat pindah lagi, mengisi berkas pendaftaran pernikahan dan banyak hal lainnya lagi.”

Ana mengerutkan bahunya, bergerak menjauh dan mendelik tak suka. Ia sudah memutuskan tapi Hugo bicara seolah Ana telah berubah pikiran dan setuju untuk menikah lagi dengannya. “Sudah kubilang, Aku tidak akan menikah dengan Tuan!” Tegasnya lagi.

“Aku yakin Kau tak akan membiarkan kesempatan untuk mendapatkan dana perwalian dari papa hilang begitu saja.” Hugo sengaja mendekatkan tubuhnya lagi, ia tahu Ana gugup dan sangat terpengaruh dengan kedekatan mereka saat ini. Tentu saja hal itu membuat Ana kesal setengah mati. “Banyak yang bisa Kau lakukan dengan uang itu, Kau bisa membantu orang lain dan membangun kafe impianmu sendiri.”

“Aku bisa mewujudkan impianku kelak tanpa harus menikah lagi dengan Tuan!” tukas Ana dengan bibir mencebik.

Hugo tertawa. “Baiklah, kita tunggu saja dalam waktu seminggu ini. Aku yakin sekali Kau akan berubah pikiran dan menikah denganku, Ana.”

Ana hendak membuka suara membantah ucapannya, tapi bik Ani yang berjalan tergesa ke arah mereka menyadarkan Ana kalau mereka kini sudah sampai di depan teras rumah. Dilihatnya bik Ani menyerahkan berkas di tangannya pada Hugo yang membuka kaca mobilnya.

“Terima kasih, Bik.” Kata Hugo, ia memutar tubuh dan meraih tas kerjanya yang berada di jok belakang lalu menyimpan berkasnya di sana. “Apa Kau tidak ingin turun karena masih betah bersamaku?” Goda Hugo yang melihat Ana masih duduk diam di kursinya dan sukses membuat wajah wanita itu memanas.

Tanpa banyak bicara lagi Ana turun dan bergegas menyusul bik Ani yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu. Ana berlari sambil menutup telinganya, masih sempat terdengar olehnya suara tawa renyah Hugo yang menggoda.

☆ ▪︎ ☆ ▪︎ ☆

Keesokan harinya, Ana bangun pagi-pagi sekali. Ia sudah rapi dengan seragam kerjanya dan kembali menjalankan tugasnya lagi sebagai asisten Hugo. Seperti biasa, ia mengecek ke dalam ruang kerja Hugo terlebih dahulu sebelum menuju kamar laki-laki itu di lantai atas karena mengira laki-laki itu tidur di sana lagi seperti beberapa malam sebelumnya.

Ana mengetuk pintu pelan, tak ada jawaban. Ana lalu membuka pintu dan tersenyum masam. Benar saja dugaannya. Hugo tertidur pulas di sofa besar dan belum berganti pakaian, masih mengenakan baju yang dipakainya kemarin. Hugo bahkan masih belum melepas kaos kakinya.

“Bos jorok!” gerutu Ana, lalu berjalan mendekat. Setengah berjongkok, ia gerakkan tangannya di atas wajah Hugo. Tapi laki-laki itu terlalu lelap dan tak terusik dengan kehadiran Ana di dekatnya. Hugo kelihatan lelah, rambut ikal gelombangnya tampak menjuntai di dahinya. Cambang halus mulai tampak menebal di seputar dagunya. Ana menebak, Hugo belum bercukur sejak kemarin.

“Astaga!” Ana meringis seraya menepuk keningnya, sadar kalau tengah memperhatikan wajah tampan yang masih lelap di dekatnya.

Ana mulai merapikan meja kerja Hugo tanpa mengubah tatanannya, ia tahu lelaki itu akan marah bila mengetahui ada yang coba-coba mengubahnya. Ana lalu membangunkan Hugo, karena hari sudah menjelang jam setengah enam pagi.

“Ayo bangun, Tuan. Sudah siang!” Ana menepuk lengan dan kaki Hugo, tapi tak berhasil membuatnya bangun dan membuka mata. “Ayo, Tuan. Bangun!” kali ini Ana merendahkan tubuhnya dan bicara sedikit lebih keras di dekat telinga Hugo.

Mata itu mengerjap kuat dan membuka cepat, kedua alisnya bertaut. Lengan yang memeluk da danya itu terurai dan terentang ke atas.

“Hei!” Ana tak sempat menghindar saat lengan kuat Hugo tiba-tiba saja terulur ke arahnya dan merengkuh pinggangnya.

“Jam berapa sekarang?” gumam Hugo dengan suara serak, menarik Ana agar mendekat ke arahnya hingga tubuh wanita itu terjatuh menimpanya. “Aku masih mengantuk,” imbuhnya lagi dan kembali memejamkan mata dengan tangan memeluk erat tubuh Ana.

“Tuan Hugo! Lepaskan!” Ana meronta berusaha melepaskan diri, tapi lengan Hugo semakin kuat membelit pinggangnya hingga Ana merasa kesulitan untuk bernapas.

“Tidur saja, dan jangan banyak bergerak.” Gumam Hugo lagi dengan mata terpejam rapat.

“Tuaann!"

Ana menahan napas dan merasakan bulu kuduknya merinding saat embusan napas Hugo yang hangat menerpa kulit wajahnya. Ana tak bisa bergerak dan benar-benar menurut diam seperti yang diucapkan Hugo barusan dengan detak jantung bergerak tak keruan. Apalagi seperti sekarang, berbaring dalam dekapan lengannya yang kuat dan sebelah kaki laki-laki itu bergerak naik dan mengunci bagian kakinya.

“Tuan Hugo, sadarlah. Tuan tidak sedang mabuk kan? Jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi,” suara serak Ana mengingatkan.

“Aku tidak sedang mabuk. Aku sangat sadar kali ini,” sahut Hugo seraya membuka matanya dan menatap lekat mata Ana yang berbaring dalam pelukannya.

Mereka saling tatap, perlahan Hugo menurunkan wajahnya. Ana menunggu dengan jantung berdebar, wajah itu makin dekat. Ana menghitung dalam hati, satu, dua, tiga ...

“Anaa!” teriak Hugo kencang sambil memegang keningnya.

Ana berhasil melepaskan diri dan melompat turun dari sofa setelah menyundul kening Hugo. Tidak terlalu kuat namun cukup membuat kepala Hugo pening sesaat.

“Tuan harus segera bangun. Aku akan siapkan pakaian Tuan sekarang!” Ana berbalik dan berlari keluar ruangan menuju anak tangga ke lantai 2. Tak peduli dengan sumpah serapah Hugo di belakangnya, ia bergegas menyiapkan pakaian Hugo dan segera turun sebelum laki-laki itu mencegatnya dan membalas perbuatannya.

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!