Hati Kanaya hancur saat mengetahui bahwa suaminya berselingkuh bahkan sudah menikah siri selama lima tahun dan lebih menyakitkan lagi keluarga suaminya mengetahui dan mendukung pernihakan Riko dan Sinta. Selama ini Kanaya selalu bertahan dan menerima semua perlakuan keluarga suaminya itu. keluarga Riko tidak pernah mengaggap Kanaya sebagai bagian dari keluarga mereka hanya menganggap Kanaya sebagai pembantu di rumah itu.
Kanaya lebih sakit hati lagi pada saat mendengar pengakuan anaknya bahwa keluarga suaminya itu menyakiti anaknya bahkan Riko sendiri tidak perduli sama sekali terhadap anaknya.
Apakah Kanaya akan tetap mempertahankan pernikahannya atau memilih berpisah setelah mengetahui pengkhianatan suaminya itu serta perlakuan keluarganya terhadap putrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
“Anak papa sudah siap rupanya” ucap Riko kepada putranya itu.
“Satu langkah lagi aku akan membuat kamu menceritakan Kanaya, aku sudah tidak mau lagi menjadi istri kedua terus” ucap Sinta dalam hati melihat suaminya mengendong putra mereka.
“Kamu sudah siap sayang?” tanya Riko kepada istrinya.
“Sudah mas, ayo kita pergi sekarang” ajak Sinta kepada suaminya itu.
Sinta tau pasti akan terjadi keributan antara suaminya dengan Kanaya dan saat itu terjadi Sinta akan mengompori Riko sampai akhirnya Riko menceritakan Kanaya.
Sedangkan Riko penuh harap agar Kanaya beserta putrinya itu tidak cepat pulang sehingga Kanaya tidak mengetahui bahwa dia membawa Sinta ke rumah.
Kalau sampai itu terjadi bisa-bisa dia tidak jadi mendapatkan uang warisan milik istrinya itu. Riko sudah memikirkan uang warisan itu akan dia gunakan untuk kebutuhan dan mengajak istri keduanya itu liburan ke luar kota, Riko juga berencana akan membangun bisnis karena dia sudah bosan menjadi bawahan.
Meskipun jabatan Riko itu tinggi namun Riko ingin menjadi bos bukan bawahan.
“Mas mikirin apa sih?” tanya Sinta yang melihat suaminya itu belum juga masuk mobil.
“Tidak ada, ayo kita pergi sekarang” ucap Riko tersadar dari lamunannya.
. . .
“Bos, Riko mengajak istri keduanya ke rumah mamanya, sedangkan Kanaya saat sedang belanja bersama Ana di mall” lapor anak buahnya.
“Buat kendala Riko agar dia tidak mudah sampai ke rumahnya” ucap bosnya itu.
Anak buahnya langsung melakukan tugas yang diberikan oleh bosnya itu.
“Dasar licik, nikmati permainanku” ucap orang itu tersenyum licik.
“Aku tidak akan membiarkan lo bahagia diatas penderitaan keluarga ku” ucap orang itu menaruh rasa benci yang mendalam kepada Riko.
“Aku harus mengirim vidio kelakuan keluarga Riko terhadap Ana kepada Kanaya. Sedikit demi sedikit aku akan mengirimkan bukti kejahatan Riko kepada Kanaya” ucap orang itu dan mengirimkan video Dimana di video itu menunjukkan saat Jihan memarahi Ana dan melarang Ana memakan makanan yang ada di atas meja.
. . .
“Pasti sekarang mas Riko sedang bersama Sinta” ucap Kanaya.
Kanaya dan Ana ada di sebuah cafe, setelah mereka belanja mereka memutuskan untuk mencari makan dulu sebelum pulang.
“Semoga rencana kan Anisa berjalan dengan lancar dan malam ini aku dan Ana akan pergi dari rumah itu” ucap Kanaya dalam hati.
“Ya Allah sebenarnya aku tidak mau mama dan papa berpisah tapi aku juga tidak sanggup lagi bertahan dan tidak sanggup lagi melihat papa yang selalu sayang dengan Sisi sementara aku tidak di acuhkan sama sekali” ucap Ana dalam hati sedih.
Sebenarnya Ana sangat sedih pada saat mendengar keputusan mamanya yang ingin berpisah itu namu Ana tidak mencegah itu karena Ana tau pasti mamanya sudah berjuang mati-matian untuk bertahan namun keadaan tidak mendukung untuk papa dan mamanya untuk bersama.
Sikap papanya dan Keluarga kepada dirinya dan mamanya yang membuat Ana tidak menghalangi keputusan mamanya itu.
Walau sebenarnya Ana masih sangat berharap mama dan papanya itu tidak berpisah. Sekarang Ana hanya pasrah menerima semua yang akan terjadi.
Ana sebenarnya juga mengetahui bahwa papanya itu membawa sinta ke rumah, Ana tidak sengaja mendengar omanya bicara tadi pada saat setelah memesan makanan.
Ana mendengar bahwa omanya itu memesan makanan untuk cucu laki-laki Dito dan sinta menantunya. Ana yang mendengar itu sedih dan kecewa dengan papa dan keluarga papanya dengan teganya mereka menyakiti mamanya.
Ana tidak jadi masuk ke rumah, Ana memilih pergi dari rumah omanya dan pergi ke taman. Sepanjang perjalanan Ana menangis.
Siapapun yang berada di posisi Ana pasti sangat terpukul sedih kecewa karena hal itu pasti sangat berat untuk Ana hadapi. Orang tua yang sebentar lagi berpisah di tambah lagi papanya yang tidak menginginkan dia dan keluarganya papanya yang tidak pernah suka padanya pasti itu sangat berat Ana hadapi.
Banyak air mata yang mengalir karena ke egoisan keluarga papanya itu terkadang Ana merasa di anak tirikan oleh papanya. Terkadang Ana merasa iri dengan Sisi yang selalu di sayang oleh papanya.
“Ana kamu kenapa nak?” tanya Kanaya kepada anaknya itu.
Kanaya melihat sedari tadi Ana hanya diam melamun.
“Aku baik-baik saja ma” ucap Ana berusaha tersenyum di hadapan mamanya itu.
Kanaya tau pasti kenapa anaknya seperti itu.
“Maafin mama ya sayang” ucap Kanaya sendu.
Sebenarnya Kanaya tidak mau melakukan ini tapi Kanaya juga sudah tidak sanggup lagi bertahan dengan Riko dan juga sikap keluarga Riko kepadanya.
Kanaya sangat merasa bersalah dengan hal ini. Kanaya tau pasti apa yang di rasakan oleh anaknya.
“Ma tidak salah apapun. Ini sudah menjadi takdir buat kita ma” ucap Ana bijak.
Walaupun begitu Ana menyimpan kesedihan yang mendalam. Di depan mamanya Ana terlihat tegar dan menerima keputusan mamanya namun di lubuk hatinya yang dalam Ana sangat rapuh.
Tidak jauh beda dengan ana kanaya pun seperti itu. Ana dan ibu berusaha menunjukkan di depan orang bahwa mereka baik-baik saja namun di balik itu meraka menyimpan sedih yang mendalam.
. . .
“Mas siapa mereka kenapa menghalangi jalan kita?” tanya Sinta yang melihat ada empat orang laki-laki yang menghalangi jalan mereka.
Ke empat preman itu mengetuk kaca mobil menyuruh Riko keluar dari mobil namu Sinta melarang Riko keluar.
“Mas gimana ini mas, aku takut mas” ucap Sinta takut dan panik bukan main.
“Sepertinya mas harus keluar” ucap Riko yang melihat tidak ada celah untuk dia pergi dari sana.
Riko juga tidak mungkin berdiam diri di dalam mobil. Riko takut kaca mobil pecah Karana sedari tadi mereka memukul kaca mobil dengan kencang.
“Mas mereka bawa baru mas” ucap Sinta yang semakin panik.
Riko yakin baru itu akan mereka gunakan untuk memecahkan kaca mobil.
Mau tidak mau Riko harus turun dari mobil. Sinta tidak dapat lagi mencegah suaminya itu Sinta penuh harap agar merek baik-baik saja.
Di dalam mobil Sinta memeluk anaknya erat sementara di luar Riko sedang menghadapi ke empat preman itu.
Tidak membutuhkan waktu lama ke empat preman itu berhasil mengalahkan Riko. Riko sekarang tidak sadarkan diri.
Preman itu menghampiri mobil Riko dan meminta istri Riko menyerahkan semua barang mereka dan menyuruh Sinta dan anaknya turun dari mobil.
Mau tidak mau Sinta menurut dia takut preman itu menyakiti dirinya dan juga anaknya itu.
Preman itu pergi dari sana membawa mobil Riko. Sinta menghampiri Riko dan berusaha membangunkan Riko namun sayang Riko tidak juga sadar.
Sinta teriak meminta pertolongan dan untungnya ada yang mendengar teriakannya dan membantu Sinta membawa suaminya itu ke rumah sakit.