Keyla merasa lelah dirinya selalu di hianati oleh suaminya. Hingga akhirnya dia menjadi wanita yang kuat dan cerdik untuk bisa memberikan pelajaran pada suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vania Putri Syadinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam kenikmatan di Villa
Suasana malam di puncak membawa kebahagiaan untuk mereka yang berada di sana. Mereka duduk berpasangan ala romantic dinner.
Ciko mendorong kursinya keluar untuk mempersilahkan calon istrinya duduk. Makanan sudah terhidang di meja masing - masing.
"Emira.. Terima kasih. Terima kasih kamu sudah hadir di hidup saya yang membuat saya menjadikan sebuah kekuatan. Mungkin saya tidak bisa merangkai kata - kata manis untukmu. Tapi percayalah selamanya saya hanya untuk mencintai kamu dan tak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut yang memisahkan". Ucap Ciko dengan memegang kedua tangannya.
"Ciko, apa yang membuat kamu mencintai saya?". Ucapnya hanya ingin keyakinan.
"Dari pertemuan kita pertama kali entah kenapa saya merasa tertarik. Disitu saya mulai mencari tahu banyak hal tentang kamu. Dan mendengar penilaian kamu adalah sosok yang baik membuat saya yakin untuk menjatuhkan hati ini untuk kamu. Dan itu benar ternyata kamu memang wanita cantik luar dalam". Ucap Ciko membuat Emira terpana hingga hampir menjatuhkan bulir - bulir air matanya.
.
Acara telah selesai. Mereka kembali ke kamar yang sudah di sediakan. Waktu sudah semakin larut hingga menembus dinginnya malam dengan tiupan angin hingga dedaunan yang saling berjatuhan.
"Kamu sedang apa disini ? bermain ponsel kan bisa di dalam". Ucap Bima yang melihat Wina sedang asik bermain ponselnya di halaman Villa nya.
"Eh ini, saya sedang menulis novel di platform digital". Ucapnya.
"Untuk apa ?". Tanyanya.
"Ya untuk hobi saya yang suka membuat karangan cerita, terutama penghasilannya juga menjanjikan bisa untuk tambahan biaya kuliah saya". Ucap Wina dengan mata yang tetap fokus menatap layar ponsel.
Degh !!
Seketika hati Bima terasa tersentuh. Wanita yang ada di hadapannya ternyata tak seberuntung dirinya yang terlahir dari keluarga orang berada. Bahkan dia hanya tinggal mewariskan semua bisnis yang sudah di kelola orang tuanya.
"Nih untuk kamu". Ucap Bima dengan menyodorkan segelas susu hangat untuknya.
"Buat saya? Tumben banget". Ucapnya.
"Tenang tidak saya beri racun kok. Paling cuma obat tidur". Jawab Bima dengan meledek hingga membuat Wina tersedak karena kaget.
"Eh maaf saya hanya bercanda kok". Sambung Bima yang khawatir dirinya tersedak.
"Kamu ini sangat menyebalkan!!". Ucap Wina dengan mencubit tangannya.
Mereka berdua pun saling melempar candaan dan tanpa di sadari ternyata ada yang sedang memperhatikan mereka dari belakang jendela. Maya dan Fadli pasangan suami istri itu pun tersenyum melihat keakbraban putra pertamanya dengan seorang wanita. Karena tidak biasanya Bima dekat dengan wanita. Terbilang sulit, Bima yang hanya menampilkan ekspresi datar dan cuek membuat wanita manapun yang ingin menggodanya langsung mundur karena tidak ada yang mau dengan dirinya yang cuek dan dingin seperti kulkas 20 pintu.
"Pah, mamah merasa sepertinya melihat mereka cocok ya ". Ucap Maya pada suaminya.
"Ya mah, papah juga merasa seperti itu. Biarkan saja mereka saling kenal dulu. Jika jodoh juga tidak akan pergi". Ucap Fadli.
"Ya sudah yuk pah". Ajaknya dengan mengedipkan mata menggoda menandakan menginginkan malam kenikmatan.
Fadli pun yang ikut tergoda dengan kedipan Maya, dia langsung menggendongnya tanpa menghiraukan suasana di sekelilingnya.
Dengan menutup pintu kamar dan menguncinya, kemudian di baringkan tubuh istrinya hingga terlentang. Di bukanya pakaian hingga tak tersisa satu benangpun.
Maya hanya memejamkan mata menikmati permainan suaminya dengan ******* bibir penuh naf*u. Setelah puas dengan persatuan bibirnya, Fadli langsung memainkan kedua gunung kembar milik istrinya itu dengan lidah dan jemarinya. Maya hanya bisa mendesah penuh kenikmatan. Tak cukup hanya disitu Fadli turun menciumi perut hingga turun di bagian sensitifnya yang sudah basah. Dia pandai memainkan perannya di area sensitif istrinya.
"Ahh pah, enaakk ahh ahh". Desahnya
"Sedikit lagi pah, mamah mau keluar... Ahhhhh".
Erangan demi erangan membuat Fadli semakin liar dan akhirnya Maya mencapai puncaknya.
Mereka pun bergantian, sekarang Maya yang membuat suaminya terlentang dan dia sedikit menunduk untuk ******* si joni kecil itu. Permainannya pun tak kalah hebat dengan suaminya. Fadli di buatnya mendesah kenikmatan dan ciumnya bagian tubuh - tubuh tertentu yang membuatnya semakin terangsa*ng.
Malam kenikmatan pun mereka jalani hingga berkali - kali mencapai puncaknya. Hingga mereka tertidur nyenyak.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Mereka yang berada di villa sudah selesai sarapan bersama. Lalu mereka bergegas untuk kembali ke rumah masing - masing.
Vano dan Niken mengendarai mobil yang telah di beri oleh Keyla. Awalnya mereka menolak, tapi ini bukan atas dasar Keyla menyimpan perasaan pada mantan suaminya. Hanya saja bentuk kekeluargaan dari Emira putrinya. Keyla sudah memaafkan semua yang ada di masa lalunya. Dia hanya tidak ingin menyimpan kebencian karena itu akan menghambat jalan kehidupan baginya.
Bukan hanya mobil yang Keyla beri. Tapi Keyla juga membelikan rumah sebagai hadiah pernikahan mereka.
Keyla dan Gerry pulang dengan mobil sendiri. Maya dan Fadli juga mengendarai mobilnya sendiri.
Tersisa Ciko dan Emira yang duduk di bagian depan. Sedangkan Bima dan Wina duduk di kursi belakang.
"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin segera halalin kamu". Ucap Ciko meledek mereka yang duduk di belakang.
"Garing banget". Gumam Wina memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu nanti mau anak berapa sayang ?". Tanya Ciko meledeknya lagi.
"Huueekk.. Ini orang mau depo dulu apa, belum juga ijab qobul sudah membahas anak". Sambung Wina membuat mereka terkekeh. Bima hanya melirik Wina dengan senyum datarnya.
Di setiap perjalanan mereka saling adu komentar hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah Ciko. Bima langsung mengambil mobilnya yang berada di garasi mobil dan mengantar Wina pulang. Sedangkan Ciko mengantar calon istrinya ke apartement.
"Huh.. Melelahkan". Lirih Bima dengan menjatuhkan tubuhnya di ranjang kamarnya.
Seketika Bima teringat saat dia bercanda dengan Wina malam itu. Membuat Bima tersenyum memikirkannya.
"Hisss.. Apaan sih.. Tidak tidak tidak". Dia mencoba menghilangkan ingatannya dari bayangan wanita mandiri itu dengan memukul kepalanya.
"Tapi masa saya kepikiran dia. Baru juga mengantarnya pulang, saya sudah merasa kesepian". Batinnya.
"Bima !! Bima !! kamu kenapa sih, konslet ini otak". Teriak Bima lalu menutup kepalanya dengan bantal.
Disisi lain Wina yang sedang duduk di atas kasurnya dengan laptop di depannya untuk melanjutkan kesehariannya menulis novel dan tak di sangka dia terbayang Bima hingga membuatnya tidak fokus menulis.
"Masa iya saya jatuh cinta sama dia".
"Ah tidak!! tidak mungkin. Sadar kamu Win, Bima itu anak konglomerat. Beda sama saya, saya itu hanya anak dari orang biasa". Gumamnya membuat dia sadar diri akan hal yang mustahil.
.
.
.
si Keyla bukannya bljar dri msallu e mlhan tambah bodoh thor pda hal si Keyla jnda