Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Pagi yang Menentukan
Malam berlalu dengan lambat, Arunika hampir tidak bisa memejamkan mata. Pesan misterius itu terus terbayang di benaknya.
"Besok pagi pukul delapan, polisi akan datang menangkapmu."
"Pergilah melalui pintu belakang penginapan pukul tujuh."
Ia tidak tahu apakah harus mempercayainya atau tidak, Jika pesan itu hanyalah jebakan, ia bisa saja menyerahkan dirinya ke tangan orang yang lebih berbahaya.
Namun jika mengabaikannya, mungkin polisi benar-benar akan datang menangkapnya atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan.
Saat azan Subuh berkumandang, Arunika memutuskan bangun, Ia berwudu dan menenangkan diri. Setelah berdoa, hatinya terasa sedikit lebih ringan.
"Aku tidak boleh panik," gumamnya.
"Apa pun yang terjadi, aku harus menghadapinya."
Seperti hari sebelumnya, ia membantu sang nenek menyiapkan sarapan untuk para tamu.
"Nek, biar saya yang mengantar teh ke setiap kamar."
Nenek tersenyum bangga.
"Kau cepat sekali belajar."
Arunika hanya membalas dengan senyum tipis, Di sela-sela pekerjaannya, ia beberapa kali melirik jam dinding. Pukul enam lewat tiga puluh.
Masih ada waktu, Di luar penginapan, suasana tampak biasa. Pedagang bubur mulai membuka lapak. Anak-anak sekolah berjalan sambil bercanda. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Namun di sebuah mobil yang terparkir sekitar seratus meter dari penginapan, sekretaris Adrian sedang memperhatikan keadaan.
"Tuan, belum ada pergerakan."
Adrian menatap layar tablet yang menampilkan rekaman kamera kecil dari sekitar penginapan.
"Terus awasi."
"Jangan bertindak sebelum benar-benar diperlukan."
"Baik, Tuan."
Di sisi lain jalan, sebuah mobil tua berwarna abu-abu juga terparkir. Pria berambut perak duduk di kursi belakang sambil menyeruput kopi.
"Target masih di dalam?"
"Masih, Tuan."
"Orang-orang Adrian?"
"Sudah datang sejak subuh."
Pria itu tersenyum tipis.
"Mereka benar-benar serius."
"Lanjutkan pengawasan."
"Jangan sampai terjadi bentrokan."
"Dimengerti."
Pukul tujuh kurang lima belas menit.
Arunika selesai mencuci piring terakhir.
Ia menarik napas panjang sebelum menghampiri sang nenek.
"Nek..."
"Ada apa, Nak?"
"Saya ingin membeli beberapa perlengkapan kebersihan. Boleh saya keluar sebentar?"
Nenek mengangguk tanpa curiga.
"Tentu saja."
"Jangan buru-buru. Jalanan masih agak ramai."
"Baik."
Arunika mengambil tas kecilnya.
Saat melangkah menuju pintu belakang, ia sempat menoleh ke arah penginapan itu.
Baru satu malam tinggal di sana, tempat sederhana itu sudah memberinya rasa aman yang lama hilang.
"Aku pasti kembali," bisiknya pelan.
Begitu keluar melalui pintu belakang, gang kecil di belakang penginapan tampak sepi.
Ia melihat ke kanan,cKe kiri, Tidak ada siapa pun.
"Katanya ada yang menunggu..."
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah motor berhenti beberapa meter di depannya.
Pengendaranya mengenakan helm hitam.
Pria itu tidak turun, Ia hanya menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Untuk Arunika."
"Siapa Anda?"
"Tidak penting."
"Pesan dari seseorang yang ingin kau tetap hidup."
Sebelum Arunika sempat bertanya lagi, motor itu langsung melaju pergi, Ia berdiri terpaku sambil memegang amplop tersebut. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sejumlah uang tunai, sebuah kartu identitas baru atas nama Rani Kusuma, dan secarik kertas.
Jangan gunakan dulu. Simpan sampai waktunya tiba. Jangan percaya siapa pun yang terlalu mudah menawarkan bantuan.
Arunika mengernyit.
Semakin banyak pertanyaan daripada jawaban, Pada saat yang hampir bersamaan...
Dua mobil polisi memasuki jalan depan penginapan.
Seorang penyidik turun sambil menunjukkan surat tugas.
"Kami ingin bertemu Arunika."
Nenek pemilik penginapan tampak terkejut.
"Arunika?"
"Iya."
"Ada urusan apa?"
"Kami hanya ingin meminta keterangannya."
Nenek itu memandang wajah para polisi beberapa saat.
"Dia baru saja keluar membeli keperluan."
"Baru keluar?"
"Ya."
Penyidik saling berpandangan.
"Tim dua, periksa sekitar sini."
"Baik."
Namun mereka tetap bersikap sopan dan tidak membuat keributan, sehingga para tamu penginapan tidak terlalu memperhatikan.
Di dalam mobil Adrian, sekretaris segera melapor.
"Tuan, polisi sudah tiba."
Adrian mengangguk pelan.
"Mereka terlambat beberapa menit."
"Ternyata benar ada yang memberi tahu Arunika lebih dulu."
Sorot matanya berubah tajam.
"Artinya... ada pemain lain yang memiliki akses terhadap informasi kepolisian."
"Itu bukan kabar baik."
Sementara itu, pria berambut perak menutup laptopnya.
"Rencana tahap pertama berhasil."
"Target keluar tanpa menimbulkan keributan."
"Apakah kita jemput sekarang, Tuan?"
Ia menggeleng.
"Belum."
"Biarkan dia belajar bertahan sendiri."
"Orang yang terlalu cepat diselamatkan tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya."
Di ujung gang, Arunika masih berjalan pelan sambil menggenggam amplop itu.
Ia tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata terus mengawasinya.
Seseorang mengenakan topi dan masker berdiri di balik halte bus. Begitu Arunika melewatinya, orang itu mengangkat ponsel dan berbisik pelan,
"Target sudah bergerak."
"Dia sendirian."
Suara di seberang telepon hanya memberikan satu perintah singkat.
"Ikuti."
Orang itu pun mulai berjalan, menjaga jarak beberapa puluh meter di belakang Arunika.
Sementara Arunika sama sekali belum menyadari bahwa... hidup barunya baru saja dimulai.
Arunika terus berjalan menyusuri trotoar dengan langkah tenang. Tas kecilnya dipeluk erat, sementara amplop cokelat itu ia sembunyikan jauh di dalam koper.
Ia memutuskan untuk tidak menggunakan kartu identitas baru yang diberikan orang misterius itu.
"Aku tidak bisa begitu saja mempercayai orang yang bahkan tidak kukenal," gumamnya.
Yang ia inginkan sekarang hanyalah kembali ke penginapan dan menjalani pekerjaannya dengan tenang. Di belakangnya, pria bertopi yang diperintahkan mengikuti Arunika masih menjaga jarak.
Ia berjalan santai, sesekali berhenti melihat etalase toko agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Target bergerak menuju minimarket,"
lapornya pelan melalui earphone.
"Terus awasi. Jangan lakukan kontak," jawab suara di seberang.
"Baik."
Arunika masuk ke sebuah minimarket.
Ia mengambil beberapa kebutuhan yang diminta sang nenek—sabun cuci piring, cairan pembersih lantai, kantong sampah, dan teh celup.
Setelah menghitung uang di dompetnya, ia mengembalikan sebungkus biskuit yang sempat ingin dibelinya.
"Lebih baik hemat," pikirnya.
Uang yang ia miliki tidak boleh dihabiskan untuk keinginan sesaat. Kasir tersenyum ramah saat menerima pembayarannya.
"Totalnya delapan puluh enam ribu rupiah."
Arunika menyerahkan uang dengan hati-hati. Kini isi dompetnya tinggal beberapa lembar uang kecil. Meski begitu, ia tidak menyesal.
Setidaknya, ia memperoleh semua itu dengan cara yang jujur.
Ketika keluar dari minimarket, ponselnya kembali bergetar, Nomor tak dikenal.
Ia ragu sejenak sebelum membacanya.
"Polisi sudah datang ke penginapan."
"Mereka belum menemukanmu."
"Jangan kembali melalui jalan depan."
Arunika menarik napas pelan.
"Siapa sebenarnya orang ini?"
Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak melihat siapa pun yang tampak mencurigakan.
Tanpa disadarinya, pria bertopi yang mengawasinya segera melaporkan sesuatu.
"Target menerima pesan lagi."
"Ekspresinya berubah."
"Teruskan pengamatan."
Di sisi lain kota, Adrian sedang duduk di ruang kerjanya, Layar besar di depannya menampilkan laporan mengenai PT Mahardika Nusantara.
Sekretaris nya masuk sambil membawa sebuah map.
"Tuan, hasil penyelidikan awal sudah keluar."
"Apa isinya?"
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?