( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Kakak
Pagi hari adalah pembuka hari yang seharusnya disambut dengan gembira menghirup udara sejuknya menikmati sinar matahari yang menghangatkan.
Mendengarkan kicauan burung atau sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara yang masih benar-benar bersih dari polusi.
Apa yang dilakukan kita di pagi hari, berpengaruh tentang apa yang kita rasakan sepanjang harinya.
Jadi ada baiknya kita memulai pagi dengan kegiatan dan hal-hal yang baik.
Komplek tempat Rizwan memang terbilang hunian nyaman dan ramah lingkungan.
Selain itu, orang orang yang selalu hangat,dan mudah mengakrabkan diri
satu sama lain.
Rata rata penghuni perumahan sudah berusia lanjut. Rumah yang Rizwan
tempati saat ini adalah pilihan dari ayahnya Taani dulu.
“Selamat pagi.” Rizwan menyapa bapak bapak yang sedang
duduk menunggu yang lain untuk kerja bakti pagi ini.
Tersenyum ramah membungkukkan badannya sopan.
“Ayo duduk sini.” Seorang pria paruh baya menggeser duduknya menepuk tempat kosong untuk Rizwan.
Rizwan menganggukkan kepala tersenyum ramah.
Mendengarkan sesekali menimpali ketika ada yang bertanya padanya.
Pria pendiam itu hanya tersenyum canggung mendengar candaan yang dilontarkan Pria paruh baya di sampingnya.
Kemudian mengalir obrolan obrolan
santai mulai dari pembahasan tentang olahraga sepak bola kebanggaan
mereka, atau menceritakan tentang anak menantu atau sekolah tempat cucu mereka belajar.
Selalu ada hal menarik yang orang tua ceritakan tentang anaknya yang selalu di banggakan.
Obrolan mengalir begitu saja, sinar matahari mulai terlihat, suasana di sana sudah semakin ramai, berkumpulnya warga.
“Yasudah kita mulai saja ya." Pak Adrian mengambil cangkul kemudian perlahan turun
kedalam selokan diikuti Rizwan dan beberapa laki laki yang lain sisanya bertugas mengumpulkan sampah yang diangkut dari bawah selokan.
Semetara tugas ibu ibu menyapu dan membersihkan rumput. Suasana pagi di
komplek itu terlihat ramai ada beberapa anak balita yang ikut meskipun hanya
berlarian ke sana kemari dengan celotehan nya dan ibu ibu paruh baya dengan wajah
wajah ramah terlihat amat menyenangkan.
Semburat sinar matahari mulai menghangatkan kicauan burung burung yang
bertengger di pepohonan semakin menambah keceriaan suasana pagi itu.
“Istrimu tidak ikut, Rizwan?” Pak Adrian yang berjongkok di samping Rizwan bertanya, tangan mereka masih memegang cangkul mengeruk sampah.
Bulir bulir keringat mulai mengucur di pelipis dan dahinya yang mulai keriput.
“Ah, tidak pak.” Mengangkat sampah ke atas selokan.
“Mungkin lain waktu bisa ikut.” Kembali mengeruk tanah, sampah yang membuat
selokan seringkali meluap ketika hujan deras.
Tadi pagi ketika Rizwan hendak keluar rumah, pintu kamar Taani masih
tertutup rapat, Rizwan sudah berdiri hendak mengetuk pintu kamar istrinya, namun ia
urungkan.
“Tidak apa apa, istrimu belum terbiasa." Mengumpulkan sampah yang diangkut
Rizwan dari bawah selokan.
“Tapi kemarin istriku cerita katanya sempat ngobrol dengannya loh.”
“Mereka bertemu ketika belanja sayuran." Imbuh Pak Adrian.
Rizwan hanya tersenyum karena tadi malam Taani tidak bercerita soal ini. Membetulkan letak kacamatanya
Waktu melesat begitu cepat.
Pekerjaan berat sekalipun akan terasa mudah dan cepat selesai bila dilakukan secara bersamaan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya nya, Rizwan naik kemudian berjalan menuju
keran air yang sudah disediakan untuk mencuci tangan.
Melirik sekilas ke arah ibu ibu yang sedang berkumpul mengobrol karena
sudah selesai dengan tugas menyapu.
Deg.
Taani?
Wanita dengan rambut hitam yang di ikat tinggi tersenyum ceria menanggapi
Ibu ibu yang bercerita itu Taani?
Rizwan mengerjap kemudian tersenyum menganggukkan kepala saat wanita yang membuat jantungnya terasa hampir terlepas itu pun menatapnya.
Sejak kapan istrinya disini?
Kemudian bergegas menyelesaikan cuci tangannya kembali bergabung dengan bapak bapak yang tengah duduk untuk
istirahat. Menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
Matanya tak lepas memandangi wajah istrinya.
Ya Tuhan, dari kejauhan saja Taani sudah sangat mencolok
Dia selalu terlihat cantik dilihat darimanapun.
Rizwan merasakan jantungnya kembali berdegup kencang saat Taani berjalan menghampirinya. Tersenyum
menganggukkan kepala ketika melewati orang orang yang berjalan meninggalkan
tempat itu.
Hanya ada beberapa orang saja yang lainnya sudah kembali ke rumah masing
masing.
“Itu istrimu, Rizwan.” Suara pak Adrian yang duduk disampingnya, menunjuk Taani.
Pria itu hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapan pak Adrian
“Rizwan..” Taaani berdiri di hadapannya menyerahkan botol air
mineral kemudian wanita itu mengalihkan pandangan ke samping Rizwan ada pak Adrian dan pria paruh baya yang hampir seumuran dengan nya. Dan seorang bocah perempuan berusia lima tahun di sampingnya.
Taani kembali menundukkan
kepala sopan senyuman tak lepas dari wajah cantiknya. Taani tersenyum ramah
“Kakung, mbak ini siapa?” Suara bocah yang duduk di samping pak Adrian beranjak duduk di pangkuan laki laki paruh baya itu, mendongakkan kepala menghadap Kakung nya.
“Kau Tanya sendiri sana.” Mengusap rambut kriting bocah perempuan
yang begitu terlihat menggemaskan.
Taani hanya tersenyum tangannya terasa gatal ingin sekali mencubit pipi gembil bocah itu.
“Apakah ini Mbak yang tinggal di rumah Om Rizwan?"
"Iya, Dia tinggal di rumah ku, dan mulai sekarang berhenti menjodohkan ku dengan kucing mu itu!" Rizwan menimpali, dia sengaja memasang wajah masam. Benci sekali ketika bayangan bocah kecil ini selalu ingin menikahkannya dengan kucing peliharaan di rumah nya.
Astaga!
"Memang Mbak ini siapa? Adik Om Rizwan kan! Jadi aku masih akan tetap mendukung Ok Rizwan agar menikah dengan Miumiu." Bocah itu mengerling nakal.
Rizwan menelan ludahnya.
Dahinya mengernyit.
Loh, kok adik?
Apa wajahku terliht tua?
Bersambung...
sukses
semangat