NovelToon NovelToon
Revenge Marriage

Revenge Marriage

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:860.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: syitahfadilah

S 1

Menikah dengan laki-laki yang dicintai adalah impian setiap wanita. Tetapi, pernikahan impian yang diharapkan Aruna justru membawanya pada penderitaan lantaran dendam yang dimiliki sang suami pada kakaknya yang Aruna tidak ketahui. Namun, karena cinta, Aruna tetap bertahan dengan segala perlakuan suaminya.

Sebuah fakta akhirnya membuat pertahanan Aruna runtuh. Dengan segala cara Aruna melarikan diri dari rumah yang sudah seperti neraka untuknya. Aruna pergi dengan membawa cinta yang telah berubah menjadi kebencian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RM. BAB 15

"Hadirin sekalian, dari pengajuan penggugat dan penolakan tergugat, serta bukti dan kesaksian dari Dokter Adam. Kami memutuskan bahwa sidang ini ditunda sampai pihak penggugat melahirkan Bayinya atau setelah suci dari masa nifas." Ucap ketua hakim lalu mengetuk palu satu kali sebagai tanda pengesahan keputusan.

Tampak Aruna mengepalkan kedua tangannya atas keputusan sidangnya itu. Tentu saja ia tidak terima, dan orang yang berhak ia salahkan adalah dokter Adam yang sudah tidak menepati janjinya.

'Maaf Aruna, karena aku sudah tidak menepati janjiku untuk membantumu. Apa yang aku lakukan ini adalah untuk menebus rasa bersalahku pada Jane. Asal kau tahu, apa yang sudah kau alami dalam pernikahanmu itu sebenarnya juga karena aku. Andai saja waktu itu aku tidak menurunkan Jane di jalanan, pasti hari ini tidak akan pernah terjadi.' Ucap dokter Adam dalam hati sambil menatap Aruna yang juga sedang menatapnya penuh amarah.

Setelah para majelis hakim meninggalkan ruang sidang, Juna beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah pelan menghampiri Aruna. Tatapannya tak lepas menatap istrinya itu namun, yang ditatap justru mengalihkan perhatiannya kearah lain.

Aruna berdiri dari tempat duduknya saat Juna semakin dekat. Ketika ia akan melangkah, dengan cepat Juna menarik pergelangan tangannya.

"Lepas!" Sentak Aruna menarik tangannya yang digenggam oleh Juna. Ia menatap laki-laki yang masih menjadi suaminya itu dengan tajam.

"Kenapa kau melakukan ini, Aruna?" Tanya Juna, ia membalas tatapan istrinya itu lebih dalam tepat mengenai kedua mata hitam Aruna.

"Apa? Memangnya aku melakukan apa, hem?"

"Kenapa kau menyembunyikan kehamilanmu dariku? Aku berhak tahu, Aruna. Aku Ayahnya!" Ujar Juna dengan nada geram yang tertahan.

"Jika waktu itu aku tidak berhasil melarikan diri. Mungkin saja Bayiku akan lenyap sebelum aku mengetahui keberadaannya. Dan apa yang Kak Juna bilang tadi, Ayah?" Aruna tersenyum sinis dengan satu kata itu. "Yah, seorang Ayah yang tega menyiksa Ibu dari Anaknya sendiri!" Lanjutnya menekankan diakhir kalimatnya, kemudian dengan langkah pelan ia melangkah mundur.

"Untungnya saat itu Janinku kuat. Jika tidak, Kak Juna akan menjadi seorang pembunuh!" Aruna menunjuk tepat kearah wajah suaminya itu sambil terus melangkah mundur.

Sementara Juna hanya dapat mematung ditempatnya berdiri. Setiap kata yang diucapkan Aruna bagaikan sambaran petir yang melumpuhkan tubuhnya.

Pembunuh? Tidak! Juna menggelengkan kepalanya. Semua perbuatannya terhadap Aruna dulu kembali terlintas diingatkannya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika waktu itu terjadi apa-apa dengan kandungan Aruna karena semua perbuatannya itu.

"Aruna..." Ketika tersadar dari lamunannya, nama yang baru saja disebutnya itu sudah tidak berada di ruangan itu lagi. Hanya tinggal tersisa dirinya, Jane dan juga dokter Adam diruang sidang itu.

"Juna, susul Istrimu. Kalau perlu sebaiknya kalian tinggal serumah, karena bagaimanapun juga Aruna itu adalah tanggung jawabmu terlebih saat ini dia sedang mengandung Anakmu." Ujar dokter Adam sambil menepuk pundak Juna.

"Juna, jangan membuang-buang waktu. Ayo cepat pergi susul Aruna. Luluhkan hatinya!" Ucap dokter Adam lagi karena Juna hanya diam saja menatapnya.

Juna pun berpindah menatap adiknya yang berdiri disamping dokter Adam.

"Kakak pergilah," ujar Jane, ia tahu kakaknya itu pasti tidak akan tega meninggalkannya sendirian.

"Tapi bagaimana denganmu, Jane?"

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Jane, dia akan aman bersamaku. Pergilah, Juna." Ujar dokter Adam.

Juna nampak berpikir sebentar sambil menatap adiknya dan dokter Adam bergantian, ada rasa khawatir meninggalkan adiknya bersama orang asing.

"Sudah Juna, jangan banyak berpikir. Percaya padaku, Jane akan bersamaku." Sekali lagi dokter Adam meyakinkan.

"Iya, Kak. Aku mengenal Dokter Adam, dan dia adalah orang yang baik. Jadi Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku." Sahut Jane.

"Baiklah, aku percaya padamu. Tolong jaga Adikku." Ujar Juna sambil memegang kedua pundak dokter Adam.

Dokter Adam mengangguk dengan pasti, dan Juna pun segera pergi dari ruangan sidang itu.

"Semangat, Kak. Aku yakin kakak pasti bisa meluluhkan hati Kak Aruna dan mendapatkan cintanya lagi." Gumam Jane sambil menatap langkah kakaknya hingga hilang dibalik pintu ruangan itu.

Setelah Juna tidak terlihat lagi, dokter Adam pun juga mengajak Jane meninggalkan tempat itu.

"Dok, terimakasih banyak atas bantuannya." Ujar Jane setelah berada didalam mobil dokter Adam.

"Sama-sama, Jane. Tapi sebenarnya kau tidak perlu berterimakasih, karena apa yang aku lakukan ini belum sebanding untuk menebus rasa bersalahku."

Jane tersenyum tipis, ia mengerti rasa bersalah apa yang dimaksud oleh dokter Adam. "Tidak perlu merasa bersalah, Dok. Sudah kubilang aku tidak pernah menyalahkan siapapun."

Dokter Adam pun tersenyum. "Oh ya Jane, sepertinya kau melupakan sesuatu?"

Jane mengerutkan keningnya, "Apa yang aku lupakan, Dok?" Tanyanya.

"Bukankah waktu itu aku memintamu untuk memanggilku dengan sebutan..." Dokter Adam menjeda kalimatnya, ia memberi ruang untuk Jane agar mengingatnya.

"Kak Adam," agak ragu Jane menyebutkannya.

"Yah, benar sekali." Dokter Adam tersenyum dan tanpa sadar mengulurkan tangannya mengusap pucuk kepala Jane. Dan Setelah tersadar dengan apa yang dilakukannya itu, iapun segera menarik tangannya dari atas kepala Jane.

"Maaf," ujarnya, ia merutuki perbuatannya barusan yang sudah begitu lancang mengusap pucuk kepala Jane.

Jane hanya menanggapinya dengan senyuman, iapun tadi merasa terkejut karena tiba-tiba saja dokter Adam mengusap pucuk kepalanya. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh kakaknya sendiri. Dan tadi dokter Adam melakukannya dengan penuh kelembutan.

Tidak ingin membuat Jane merasa tidak nyaman dokter Adam pun segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran pengadilan agama. Ia akan membawa Jane tinggal di rumah orangtua, sementara ia akan tinggal dirumahnya sendiri yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit lamanya, Juna pun akhirnya sampai di rumah Aruna. Melihat kedua mertuanya yang duduk di teras rumah Juna pun segera menghampiri mereka.

Kedua orang tua Aruna itu memang sedang menunggu kedatangan Juna, mereka tahu bahwa menantunya itu pasti akan datang. Dan tebakannya itu ternyata benar.

Juna mencium punggung tangan papa dan mama mertuanya itu dengan takzim, dan ia merasa senang karena kedua orang tua Aruna menyambut kedatangannya dengan baik. Tidak seperti apa yang ia pikirkan diperjalanan tadi, bahwa orang tua Aruna akan mengusirnya.

Setelah mencium kedua tangan mertuanya, Juna pun merendahkan tubuhnya bersimpuh dihadapan kedua paruh baya itu. Ia tahu orang yang paling tersakiti dengan apa yang sudah diperbuatnya terhadap Aruna adalah kedua mertuanya itu.

"Kami memang marah dengan perbuatanmu, tapi kami juga mengerti dengan apa yang kamu lakukan itu. Jadi, jika kamu ingin kami memaafkan mu, maka kamu harus bisa meluluhkan hati Aruna. Karena kami tidak mau cucu kami tumbuh besar tanpa didampingi oleh kedua orangtuanya." Ujar papanya Aruna.

"Aruna sekarang ada di kamarnya. Pergilah." Sahut mamanya Aruna.

Mendapatkan dukungan dari kedua mertuanya, Juna pun kini bertambah semangat untuk mendapatkan kembali cinta istrinya.

"Terimakasih Pa, Ma." Ujar Juna kemudian beranjak. Ia segera menuju kamar Aruna.

Farhan yang memperhatikan dari kamarnya melalui ponselnya yang terhubung dengan kamera cctv, menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis melihat Juna yang begitu bersemangat menuju kamar Aruna.

"Tidak semudah itu, Juna." Gumamnya.

1
My dream
❤️🔥
ayu cantik
suka
ika
hana?
ato aruna?
Nurlinda: Aruna, kak maaf typo
total 1 replies
jenny
klo semuanya pada mau balas dendam ga akan ada habisnya
Dewa Nara
mungkin si Jack pelakunya
Dewa Nara
Makanya yg namanya balas dendam memang tidak baik. Biar saja Tuhan yg menghukum pelakunya.
guntur 1609
apa si Jack pelaku utamanya
guntur 1609
jangan blng laki2 yg nabrak tu adalah adam
guntur 1609
sakit kau kan di gitukan. tu adalah balasan yg kau lakukan sm Aruna dulu
guntur 1609
mampus kau laku2 bodoh
guntur 1609
nanti kau salah org juna. dan itu nantinya nyg membuat kau menyesal. tapi sdh terlambat
Mimi rachmah
Luar biasa
Sri Widjiastuti
dokter2... maunya sih terlibat balas dendamnya aruna, biar jd urusan aruna dong
Lovato Wind
ceritanya menarik, maaf thor ya bukannya mau menjelek2kan, hanya saja minta tlong lebih teliti Ya thor, saya tau merilis cerita bukan perkara mudah apalagi urusan merangkai kata, tapi dicerita ini saya menemukan banyak banget dialog Dan juga narasi yg sama dengan judul rahasia hati 2. cuma sekedar mengingatkan aja, maaf ya thor
Indah Rohmiatun
suatu hubungan itu butuh kejujuran dan keterbukaan atara juna dan aruna
Simba Berry
alasan yg tdk masuk akal.
prima yanary
Luar biasa
Indah Lestari
👍luar biasa
Athallah Linggar
Udahlah juna,kamu tuh laki2 biaa nyari yg lebih dr aruna. Mgkin jodoh kalian mg smpe segitu umurnya . Jgn buang wktmu bwt perempuan yg tak mau mghargai penyesalan dan perjuanganmu bwt mperbaiki diri. Fokus bwt anakmmu nnt
Elfia Yusma
kata ny dr pribadi papa ny,masak no hp dr g ad di ponsel ny,🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!